Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Sadar



Sekar POV


Aku sangat menikmati suasana pagi ini. Entah kenapa aku sangat senang melihat mas Raja sibuk mondar-mandir nengokin jalanya. Kasihan sekali sebenarnya dia belum mendapat ikan yang ku mau. Tapi biarlah, aku bisa menghirup aroma parfumnya yang terbawa angin. Hum… harum dan soft masuk ke hidungku.


“Lagi apa sayang?”


“Lagi ngetik aja, mas. Ikan nya udah dapet?”


“Belom. Kamu duduk sini aja. Aku mau jalankan yacht kesana.” Mas Raja kembali ke kursi kemudi.


Ku pandangi tubuhnya yang tegap dari sini. Postur tubuh yang sempurna. Idaman banyak wanita. Tidak bisa ku bayangkan kalau ku ajak dia ke kompleks rumahku… Sudah pasti bakal jadi jejeritan ibu-ibu arisan perempatan jalan. Ah tidak-tidak! Aku gak akan membiarkan mas Raja ku disentuh sama ibu-ibu itu.


Betapa beruntungnya aku memilikinya saat ini. Semoga kita langgeng ya, mas. Karena aku tulus mencintaimu. Aku tidak sanggup kehilanganmu. Hati dan tubuhku membutuhkan mu.


“Hm…” Akhirnya aku sudah menyelesaikan novel sampai bab 30. Isi nya hanya seputar betapa panasnya permainan mas Raja di ranjang. Awalnya aku marah karena mas Raja merenggut hal yang paling berharga di hidupku. Tapi hati ku luluh mendengar kata cinta darinya. Pikiran ini justru mendorong untuk memasrahkan tubuhku kepadanya.


Setiap kali aku melihat keringat yang bercucuran di wajahnya, aku tidak tega karena dia betul-betul menginginkanku. Akhirnya semalam ku beranikan diri untuk membalas permainan panasnya.


Tapi aku masih harus menunggu… Kapan mas Raja akan mengajak ku menikah? Aku tidak sabar ingin menulis judul bab tentang pernikahanku dengan mas Raja.


“Huft… Kenapa aku jadi ngebet gini pingin dinikahin? Sabar… Sabar… Jodoh gak akan lari kemana.”


 


Author POV


Setelah mengetik novelnya, Sekar berjalan mendekati Raja. Aroma parfum Raja membuat Sekar tergoda dan memeluk Raja.


“Hmm… Harumnya…” Puji Sekar sedikit mencuri kesempatan untuk mencium leher Raja. Raja membalas mencium tangan Sekar yang melingkar di dadanya. “Apa nama parfummu, mas. Pasti mahal ya?”


“Kenapa? Gak mahal kok. Biasanya pakai Eclatt. Tapi hari ini gak ada pakai parfum… Suka ya bau badanku?” Pertanyaan itu membuat Sekar malu. “Sini duduk depan sini sayang… Biar kamu bisa bawa yacht nantinya.” Raja menarik tubuh Sekar.


Raja mengajari Sekar membawa yacht. Tangannya menuntun tangan Sekar untuk menggerakan roda kemudi yacht. Menjelaskan setiap tombol dengan fungsinya masing-masing.


“Wah… aku bisa bawa yacht sendiri nih. Hihii…”


Selagi Sekar asyik dengan mainan barunya, tangan Raja mulai bergerilya lagi. Masuk kedalam tshirt dan menurunkan bhra. Meremas-remas dua benda kenyal favoritnya. Sekar mengatur nafasnya yang mulai memburu. Merasakan permainan jari-jari Raja.


Perut masih kosong, tapi Raja melancarkan aksi nya lagi. Menurunkan celana kolor Sekar dan memasukan kejantanannya.


“Ah…”


“Kamu fokus membawa yachtnya,” kata Raja mengusap lengan Sekar. Raja mulai bermain dengan posisi duduk.


Begitulah menu makanan pembuka yang dipilih Raja. Ada sensai tersendiri menjalankan yacht dan mendapat hentakan manja dari Raja.


Setelah 2 jam mengitari Pula Siantan, Akhirnya Raja menyudahi permainannya. Dia mulai mengecek jala yang dia pasang. Sekar masih harus merapikan pakaian yang sudah dilepas oleh Raja.


“Enak kali sih jadi cowok… Bisa telanjang dada gak ribet kaya cewe harus pasang tali bhra… Hm!”


Mereka mulai memasak hasil tangkapan ikan. Menyantap dan menghabiskan semua ikan yang dimasak dengan model sup, sushi dan grilled.


Begitulah hari-hari yang dilewati Sekar dan Raja selama mereka tinggal di dalam yacht. Sudah seminggu Raja mengajak Sekar berkeliling di sekitar perairan Pulau Siantan dan Natuna.


Setiap hari rasanya seperti bulan madu. Raja sangat memanjakan Sekar. Menuruti semua yang diinginkan oleh Sekar.


Sampai pada akhirnya Raja mengajak Sekar untuk singgah di daerah Tarempa yang lokasinya berada di Pulau Siantan. Mereka berjalan ke pasar penduduk yang tidak jauh dari dermaga tempat parkir yacht. Raja mengajak Sekar untuk membeli bahan makanan untuk stok chiller dan freezer yang sudah kosong.


“Mas, agak cepetan yuk! Ini tempatnya bau bawang. Aku gak tahan… Kepala ku dah pusing gak kuat.” Sekar meraih lengan Raja agar segera pergi dari dari tempat itu.


“Tunggu ya sayang, kalau lokasi mall nya dekat pasti aku ajak kamu ke mall.”


“Kamu mau ke yacht duluan?”


“Enggak… maunya sama kamu. Jalan barengan…” Sekar mulai bergelendotan di lengan Raja. Tidak mau jauh-jauh dengan Raja.


Pemandangan yang romantis itu diperhatikan oleh penjual ikan. Ibu itu tersenyum melihat betapa manjanya Sekar ke Raja.


“Istrinya lagi hamil muda ya pak?” Mendengar kata hamil membuat Raja dan sekar menoleh ke ibu itu. “Kalau lagi hamil muda emang gitu, pak. Gak suka bau-bau yang menyengat.”


Sekar yang mendengar kata hamil menjadi sedikit panik. Tapi ada rasa bahagia juga. Paniknya karena belum sah menjadi istri Raja, alias belum nikah. Bahagianya karena ada calon bayi yang tumbuh di perutnya.


Pikiran Raja pun bertanya-tanya. Apakah sudah ada janin tumbuh di perut Sekar? Kalau sudah ada, dia tidak bisa menunda keinginan Sekar untuk segera menikah dengannya. Karena hampir setiap hari Sekar menanyakan masalah nikah dan nikah.


“Ini Bu, uangnya. Ambil aja kembaliannya.” Raja memberikan beberapa lembar uang karena membeli udang dan kerang yang diinginkan Sekar.


“Ow yaa. Makasih ya pak. Sehat terus buat ibu sama calon bayinya…” ibu itu memberi senyum penuh ramah.


“Hehee. Makasih buk. Kami pergi. Mari…” Balas Sekar dengan senyuman.


Mereka mulai keluar dari pasar tradisional di Tarempa. Suasana yang sangat ramai di pagi itu. Mata Sekar berjelalatan mencari apotek untuk membeli test pack di sekitar pasar.


“Mas...” Sekar menghentikan langkahnya.


“Kenapa, sayang?”


“Bisa kita beli test pack? Mungkin ibu itu ada benarnya. Aku mau cek, aku hamil atau enggak.”


“Apotek jauh banget dari sini. Ada di paling ujung sana. Kita naik yacht aja biar cepat sampai.” Disaat Raja menjelaskan, Sekar menangkap papan nama ‘Clinic dr. Ucy Kumala Sari’.


“Mas… ada dokter disana. Mungkin jam segini dia udah buka praktek. Yuk…!” Sekar mendorong lengan Raja untuk menyebrang.


“Tunggu, sayang. Itu… Ucy Kumala Sari. Dia dokter yang ada di Pulau kita. Ku rasa clinicnya juga tutup. Kita pergi ke apotek aja.”


Ow… jadi ini rumah dan clinic yang diceritakan dokter Ucy… Em... sayang banget dia gak disini… Gumam Sekar.


Mereka berjalan menuju yacht. Sekar yang entah kenapa akhir-akhir ini sangat manja, cuma mengganggu Raja menata belanjaan di chiller.


“Mas Rajaa… Kupasin apelnyaa… Aku mau apell…” Sekar memutar-mutar dua apel di pipi Raja.


“Iya… iya… Bentar… Lagi nata nih. Duduk sana, yank. Ntar ngupas apelnya.” Sekar masih tidak mau berjauhan dengan Raja. Dia memeluk punggung Raja dan mengikuti langkah kaki Raja .


Tiba-tiba ada telpon masuk dari dokter Ucy


Tilulit… Tilulit… Tilulit…


Raja mulai mengangkat panggilan itu dan meloud speaker.


“Selamat pagi mas Raja… Saya cuma mau memberi tahu kalau Mona sudah sadar...”


 


*****


Bersambung…


*****