
Raja yang melihat buggy Sekar berjalan menjauhi dirinya, segera mengejar buggy itu. Dia tidak mempedulikan keberadaan Mona lagi.
“Shan, dimana Sekar? Kenapa anak-anak sama kamu? Kemana mamanya?” tanya Raja panik setelah sampai halaman rumah. Pikirannya melayang-layang mengkuatirkan kalau Sekar akan kabur lagi darinya.
“Bu Sekar tadi bilang ke dapur, pak. Mau buatin susu formula buat Boy sama Gadis,” jawab Shan dengan mengajak Boy dan Gadis bermain.
“Kamu jagain anak saya ya. Saya mau susul mamanya.”
Dengan langkah lebarnya, Raja menuju dapur. Dia berniat untuk menjelaskan kejadian di dermaga kepada Sekar.
“Sekar… Sekar…” Raja melihat istrinya itu sedang mengaduk susu di botol. Cepat-cepat dia memeluk tubuh istrinya dari belakang.
“Kamu lagi ngapain, sayang?” pura-pura bertanya meskipun dirinya sudah tahu.
“Lagi buat susu… Udah jangan peluk-peluk gini,” Sekar menggoyangkan tubuhnya agar pelukan Raja terlepas. Alih-alih terlepas, tangan Raja justru semakin erat memeluk tubuhnya. Dilanjut dengan hujan kecuupan di tengkuknya. “Mas?! Kamu ini kenapa sih…? Jangan ganggu-ganggu. Katanya kamu ada partner bisnis baru… Sana urusin partner kamu itu!” Sekar berusaha melonggarkan pelukan Raja, tapi pelukan suaminya itu tetap menguasahi tubuhnya.
“Enggak, yank. Aku gak ada bisnis apa-apa sama dia,” Raja ketakutan karena nada suara Sekar cukup ketus.
“Terus kenapa tadi izinnya buat ketemu orang yang mau nawarin bisnis…? Kamu mau nikah lagi ya sama embak cantik itu?” Rasa takut Raja semakin menjadi mendengar pertanyaan dari Sekar. Dia membalikan tubuhh istrinya agar bisa memandang wajah istrinya itu.
“Jangan pernah kamu berfikir seperti itu sayang… Aku cuma punya kamu,” mulai mengkecup bibir Sekar.
“Terus ngapain tadi izinnya sok bawa-bawa masalah bisnis…? Kenapa sih harus boongin aku?” tanya Sekar masih kesal.
“Aku takut kamu marah… Dia kesini cuma balikin kapal aku. Gak ada yang lain sayang,” sekali lagi Raja mengakhiri ucapannya dengan mengkecup bibir Sekar.
“Haduuhhh… Tahu gak sih aku lagi marah…? Bibirnya jangan nyosor-nyosor terus…! Udah sana urisin dia aja kalau kamu masih suka dia!” Sekar menjauhkan wajahnya menjahui bibir Raja yang ingin mengecupnya lagi.
“Maafin aku ya sayang… Aku gak ada perasaan apapun sama Mona. Aku takut kamu marah kalau aku nemuin dia…” Sekar masih kesal karena dirinya sudah ditipu oleh suaminya. Dia berusaha mendorong tubuh Raja yang terus ingin menempel dengannya. “Jangan marah sayang. Aku janji gak akan nemuin Mona.” Raja masih bersikeukeh memeluk Sekar.
“Bukan masalah nemuin atau gak nemuin, mas! Aku tuh kesel karena kamu udah boong… Kalau udah boong sekali nanti pasti jadi kebiasaan. Terus kalau udah jadi kebiasaan, mau jadi apa rumah tangga kita nanti? Pondasinya aja udah dibumbui kebohongan…” semakin ketus suara Sekar didengar oleh Raja. Tubuh perempuan itu terasa kaku di pelukannya.
“Sayang… beri aku kesempatan untuk menjelaskan,” suara Raja melirih. Berharap agar emosi istrinya itu reda.
“Apa lagi yang mau dijelasin? Mau boong lagi?” Sekar menatap mata suaminya itu dengan rasa kecewa.
“Gak akan… Kamu dengar kan waktu tadi aku ditelpon? Awalnya kan aku nolak buat nemuin Mona… Tapi dia maksa buat ketemu cuma mau ngembaliin salah satu property perusahaan. Cuma itu sayang…” Sekar memastikan sorot mata suaminya. Menelisik, adakah kebohongan disana. “Lagian dia juga bilang mau balikan sama El… El mau Mona berubah menjadi lebih baik… Seperti kamu.”
Setelah beberapa detik mencerna penjelasan suaminya, emosi Sekar kembali stabil. Raja yang merasakan tubuh Sekar tidak kaku lagi ikut merasa lega. Akhirnya dia berhasil mengembalikan kepercayaan istrinya.
Pelan-pelan tangan Raja menarik rok Sekar agar tersingkap naik.
“Mau apa?” tanya Sekar dengan mencekal tangan suaminya.
“Kamu gak akan potong jatah aku kan…?” kembali mengkecuup bibir istrinya.
“Mas! Aku ni lagi marah tahu! Kalau kamu maksa minta sekarang, mulai besok sampai minggu depan kamu puasa.” Sekar membuang muka tidak mau melihat wajah suaminya. Sebetulnya itu adalah gretakan saja. Dia memakai kesempatan ini untuk beristirahat sejenak. Bagi Sekar, stamina suaminya itu benar-benar gila untuk urusan ranjang.
Kasihan sekali sih mukanya ini… Hihiii… Gak pa pa deh. Anggap aja malam ini adalah hari libur ku. Maaf ya mas… Ini juga pelajaran buat kamu biar kedepannya gak boong lagi sama aku, batin Sekar dengan menahan senyumnya. Muka suaminya itu terlihat cukup murung.
Tak lama ketika Sekar memandangi muka murung suaminya, handphonenya yang berada di samping botol susu bergetar. Raja yang berdiri di depan istrinya, ikut memandangi layar handphone itu.
“Siapa yank?” tanya Raja sedikit curiga karena kode nomernya +61XXXXXXX. Dari kode nomornya saja bukan berasal dari Indonesia.
“Hallo, Sekar?” sapa orang yang menelpon. Raja yang merasa penasaran, mulai mengaktifkan loudspeaker handphone itu.
“How are you? Saya Bimo… Apa kamu masih ingat saya?” tanya orang di sebrang sana. Tanpa izin dari suaminya, Sekar menjawab pertanyaan itu.
“Hai mas! Tentu, saya masih ingat. Saya baik-baik di sini. Mas Bimo apa kabar?” tanya Sekar balik. Baru awal percakapan Sekar dan Bimo, emosi Raja merayap naik. Raja masih ingat dengan laki-laki bernama Bimo. Dia adalah teman Kasih yang pernah dijodohkan dengan Sekar.
“Saya baik. Sekarang saya lagi di Ausi. Saya berharap one day (suatu hari nanti) kamu bisa datang ke sini,” balas Bimo dengan nada riangnya.
“Tapi saya…” belum sempat Sekar menyelesaikan ucapannya, Raja menyela pembicaraan mereka.
“Jangan pernah ganggu Sekar lagi! Dia sudah jadi istri saya sekarang! Please give your respect!” ucap Raja dengan kesal. Dia tidak hanya menutup panggilan itu, tapi juga mematikan handphone milik istrinya. “Ikut aku sekarang...” Raja menarik tangan istrinya dengan rasa cemburu yang masih melanda.
“Mau kemana mas?” Sekar mengikuti langkah suaminya.
“Ke kamar…” jawab Raja singkat.
“Hloh mas? Mau ngapain? Enggak ah! Aku gak mau. Aku lagi marah tahu sama kamu…” celetuk Sekar dengan menarik tangannya dari cengkraman suaminya.
“Sekarang aku yang gantian marah. Kenapa laki-laki itu masih nelponin kamu? Sini…” Raja membopong tubuh Sekar di bahunya. Dia melangkah menuju kamar.
“Ish! Kenapa jadi kayak gini sih?! Kan dia yang nelpon… Bukan aku…” Sekar memukul-mukul bahu Raja. Sekar merasa jatah liburnya akan batal.
“Udah jangan mukul-mukulin bahu aku. Kamu jadi istri harus nurut sama suami,” ucap Raja yang kemudian membuka pintu kamar dan mengunci kamar itu.
Haduuhh… Tamat lah riwayat ku malam ini… Kenapa sih mas Bimo pakai nelpon segala…! Kesel Kesel Kesel! Sekarang mas Raja balik marah sama aku, batin Sekar.
Akhirnya jatah kerja ranjang Sekar tercancel alias batal. Kini suaminya sudah mengukungnya dengan tatapan nafsu.
______
Beralih dari pergulatan panas yang baru akan dimulai Raja, kini helikopter pak Ansu sudah mendarat di Tarempa. Dia berlanjut menggunakan mobil untuk menuju rumah sakit miliknya. Sesampainya di rumah sakit, pak Ansu hanya asal memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit. Dia terlihat terburu-buru menuju ruang direktur untuk menjumpai dokter Ucy.
“Pak, selamat malam. Mari silahkan duduk,” sapa direktur itu dengan mengadahkan tangannya ke kursi.
“Dimana Ucy?” Pak Ansu mengamati setiap sudut ruangan.
“Dokter Ucy minta izin untuk mengunjungi setiap ruang praktek. Dia ingin berpamitan kepada setiap dokter dan suster di sini. Padahal saya sudah menolak surat resign-nya. Tapi dia tetap keukeh ingin resign.”
“Sudah sampai ruangan mana dia?” tanya pak Ansu lagi.
“Saya kurang tahu, pak. Mari saya bantu untuk mencari dokter Ucy. Mungkin dia sudah sampai ke lantai 2.”
“Gak usah. Saya akan cari Ucy sendiri. Kamu lanjutkan kerjaan kamu.” Pak Ansu pun berlanjut untuk mengecek ke lantai dua di rumah sakit itu.
*****
Bersambung…
*****