Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Luxus Resort Bintan



Selagi Raja berjalan menjumpai bu Meimei, Raja mendengar suara helikopter yang melintas. Ketinggian helikopter yang belum cukup tinggi itu meimbulkan suara yang cukup bising. Raja mendongakkan kepalanya untuk melihat helikopter siapa yang melintas itu. Di bagian ekor helikopter terdapat tulisan ‘Raja Phinisi H10’, yang artinya itu adalah salah satu helikopter perusahaannya. Pikirannya tertuju mungkin saja ayahnya akan melakukan perjalanan bisnis.


“Woi bang!” panggil bu Meimei lagi setelah helikopter terbang agak jauhan.


“Ya bu…” Raja mulai mendekati bu Meimei yang tengah melakukan transaksi jual beli ikan selar.


“Apa kabar, bu? Masih ingat saya?” tanya Raja dengan wajah ramahnya.


“Baek… baek… Tentu masih ingat lah…” PLAK! Bu Meimei memukul lengan Raja cukup keras.


“Macem mana lah kau ni bang? Kenapa kau tinggalin cik Cello sampai brojoool…?” Raja hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan itu. “Jadi… Kerja dimana kau kemarin? Cik Cello bilang tempat kerja mu jauh… Kerja di luar negeri ya?” tanya bu Meimei penasaran.


Pertanyaan itu membuat Raja sangat malu sebagai laki-laki. Seharusnya dia bisa mendampingi Sekar dimasa kehamilan Sekar dulu.


“Lain kali kalau istri hamil itu jangan ditinggal lama-lama…! Kasihan tahu… Lebih-lebih lahiran baby twins hanya sama saya dan pakcik.” Sekali lagi bu Meimei memukul lengan Raja. PLAK!


“Terimakasih ya bu udah jagain istri saya,” kata Raja mencoba mengikuti jalan pembicaran ibu Meimei. Rasanya sangat senang sekali karena bisa menyebut Sekar sebagai istrinya.


“Terus ngapain bediri di sana?”


“Saya nungguin istri saya bukain gerbang.” Jawaban Raja itu sedikit membingungkan ibu Meimei.


“Hloh...? Tadi pagi cik Cello pamit buat pergi ke Bintan… Emang tak dibagi tahu ya?” Bu Meimei memperhatikan wajah Raja yang sedikit kebingungan juga. Menerka-nerka sepertinya rumah tangga cik Cello dengan laki-laki di depannya itu tidak baik. “Cik Cello pergi ke Luxus Resort... Dia bawa 2 koper besar. Tadi pagi keluar lewat pintu belakang rumah dokter Ucy... Seingat ibu, keretanya (mobilnya) warna hitam lah…”


Kali ini Raja harus menghela nafas lagi. Sekar benar-benar berusaha menjauhinya.


“Ow, gitu ya buk.” Sahut Raja berusaha menutupi masalahnya.


“Kalian berantem ya?” tebak bu Meimei.


“Enggak lah buk… Kami baik-baik aja. Kalau gitu saya permisi dulu. Mau nyusul istri saya.”


“Ya ya ya… Susul istrimu. Jangan berantem-berantem.” Raja hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu itu.


Raja mulai mengendarai mobil dan menuju lapangan helikopternya. Raja juga berusaha menghubungi ayahnya. Panggilannya itu tidak ada jawaban. Dugaan Raja semakin kuat kalau Sekar diantar oleh ayahnya menggunakan helikopter. Secara Raja sudah tahu kalau Sekar mengidap ketakutan naik kapal.


Sesampainya di lapangan helikopternya, Raja mulai mengecek bahan bakar helikopter dan mesin. Barulah dia menerbangkannya.


Mau sampai kapan kamu lari dariku Sekar…? Mau sampai kapan kamu membenciku…? Apa kamu gak bisa lihat ketulusanku saat ini? Batin Raja dengan rasa sedihnya.


_____


Sementara itu, Sekar yang terbang lebih dulu menuju Bintan, sudah sampai. Dia dijemput oleh Kasih bersama asisten Kasih yang bernama Jun menggunakan 2 buggy. Pak Ansu ikut mengantar cucunya menuju villa yang sudah disiapkan Kasih.


Sebetulnya pak Ansu sudah cukup lelah mengikuti jalan pikiran Sekar. Tapi pak Ansu sadar kalau anaknya sudah menyakiti Sekar terlalu dalam. Dia hanya bisa mengiyakan keinginan Sekar.


Sesampainya di villa, Sekar meminta Kasih untuk menemani Boy dan Gadis terlebih dahulu di kamar. Sedangkan Sekar mengajak pak Ansu untuk berbicara.


“Pak, boleh kita bicara sebentar di luar?” tanya Sekar. Merekapun keluar dari bangunan villa.


Sekar merogoh kantong sakunya dan mengambil 2 kartu atm yang pernah diberikan pak Ansu ke dokter Ucy.


“Ini saya kembalikan, pak…” Sekar menyerahkan kartu itu.


“Gak usah, nak. Kamu pakai aja…” Pak Ansu mendorong kartu itu agar Sekar mau menerimanya kembali. “Kalau kamu gak mau pakai, pakailah untuk membeli kebutuhan cucu saya… Jangan buat saya malu. Saya sudah cukup malu dengan perlakuan Raja ke kamu… Saya gak akan ikut campur urusan kamu dengan Raja. Kamu berhak memutuskan jalan mana yang mau kamu pilih. Saya akan mendukungmu… Em... Tapi saya boleh kan kalau mau nengok cucu saya lagi?” tanya pak Ansu yang kemudian meremas bahu Sekar. Mengokohkan kondisi fisik dan kejiwaan Sekar untuk menjalani setiap keputusan yang diambil. Sekar mulai lega dengan ucapan pak Ansu itu.


Entah kenapa ucapan pak Ansu itu juga membuat Sekar meneteskan air matanya. Rasanya Sekar menjadi wanita yang sangat egois mempersulit pak Ansu menjenguk Boy dan Gadis.


“Boleh pak… Kapan pun bapak mau pasti saya akan mengizinkan. Boy sama Gadis adalah cucu bapak. Saya gak akan menghalangi,” kata Sekar sambil mengusap air matanya. Pak Ansu tersenyum mendengar ucapan Sekar itu. Setelah sekian lama, ini adalah pertama kalinya Sekar mengatakan secara langsung kalau Boy dan Gadis adalah cucunya.


“Terimakasih, nak… Saya akan sering berkunjung ke sini,” kata pak Ansu dengan penuh kelegaan. Semoga suatu hari nanti kamu juga bisa menerima Raja sebagai ayah dari anak-anakmu... Saya masih berharap kamu bisa mencintai Raja lagi, batin pak Ansu.


_____


Raja yang dulu pernah melakukan pendaratan di lapangan udara milik Luxus Resort Bintan, mulai mendaratkan helikopternya. Beberapa karyawan itu mendekati Raja karena Raja tidak memiliki izin mendarat di resort itu. Tapi karena Raja berdalih sebagai rekan bisnis si pemilik resort, dia diizinkan untuk memasuki kawasan resort.


Raja mulai menelpon ayahnya lagi untuk mencari tahu nomor kamar Sekar. Tapi panggilannya itu masih tidak dijawab oleh ayahnya. Raja mulai melangkahkan kakinya menuju lobby resort untuk mencari tahu nomor kamar Sekar.


“Good morning, pak! Bisa dibantu?” sapa seorang resepsionis perempuan.


“Good morning… Bisa dicek nomor kamar atas nama Brigitta Sekar?”


“Maaf pak. Kami tidak diizinkan untuk memberi tahu informasi tentang tamu kami,” jawab respsionis itu membuat Raja kesal. Sebetulnya Raja sudah menebak kalau pertanyaannya itu akan dijawab demikian. Tidak mungkin juga dia mengatakan Sekar adalah istrinya, karena pasti perempuan resepsionis itu meminta bukti kartu nikah Raja.


Raja mulai melangkahkan kakinya meninggalkan konter resepsionis itu dengan muka masam. Tapi Raja tidak putus asa untuk mencari keberadaan Sekar dan anak-anaknya. Dia mulai menelpon Galang.


Panggilan pertama tidak terhubung, begitupun panggilang yang kedua juga tidak diangkat oleh Galang. Raja terus menerus mencoba menelpon Galang. Sampai akhirnya Galang mengangkat.


“Hallo?” sapa Galang dengan suara serak. “Kenapa?” tanya Galang sambil melihat jam di sampingnya yang menunjukkan pukul 3:20 pagi. Saat ini posisi Galang tengah berada di Jerman. Perbedaan waktu di Jerman dan Indonesia Barat adalah 5 jam lebih lambat.


Raja yang tidak tahu kalau Galang tengah terbangun dari tidur, mulai meminta Galang untuk mengecek nomor kamar Sekar.


“Lang, bisa minta tolong untuk mengecek nomor kamar Sekar di resortmu di Bintan?” tanya Raja sambil melirik mata resepsionis perempuan tadi penuh tidak suka.


Galang yang masih mengantuk mulai menghela nafasnya. Galang teringat dengan cerita Kasih istrinya semalam tentang Sekar. Sebagai seorang suami dari Kasih, Galang sebetulnya mendukung istrinya untuk melindungi Sekar dari Raja. Tapi sebagi seorang laki-laki, Galang cukup mengerti perasaan Raja yang bersungguh-sungguh ingin rujuk dengan Sekar. Secara Raja pernah menanyakan kebaradan Sekar puluhan kali kepadanya.


“Lang… Saya sudah dengar cerita tentang kamu dengan Sekar dari istri saya. Sepertinya saya punya ide yang lebih baik, untuk membuat Sekar agar mau balik lagi sama kamu.”


Galang mulai menceritakan idenya itu kepada Raja. Raja mencoba mendengarkan masukan-masukan dari Galang.


 


“Jadi kamu lebih sabar lagi... Beri waktu untuk Sekar agar lebih tenang. Jangan kamu gempur terus menerus. Kasihan Sekar. Lagian dia belom jadi istri kamu. Nanti dia mikirnya salah kaprah. Pelampiasan lah… Pemerkosan lah… Padahal kan cinta sama kebutuhan batin saling terikat. Pokoknya kamu tunggu saya balik dari Jerman dulu lah... Dua hari lagi saya pulang. Kamu nginap aja di salah satu villa saya. Complimetary (Gratisan) buat kamu,” kata Galang.


Akhirnya Raja menuruti saran Galang itu. Dia menunggu kedatangan Galang dari Jerman.


*****


Galang is back…


Pak Bos Galang datang kembali…


Bersambung…


*****