
Selagi Sekar mengemasi barang-barangnya, Sekar mencoba menghubungi pak Ansu lewat handphone. Meskipun pak Ansu adalah ayah Raja, tapi selama ini pak Ansu selalu baik dengannya. Termasuk memberi perhatian kepada Boy dan Gadis. Sekar menceritakan niatnya untuk pergi ke Bintan dengan membawa anak kembarnya itu.
“Hallo, selamat malam pak,” sapa Sekar.
“Hallo nak? E’hem… Ada apa jam segini telpon?”
“Maaf, saya pasti sangat mengganggu istirahat bapak… Saya mau menyampaikan kalau saya akan pergi ke Luxus Resort Bintan. Ada salah satu sahabat saya yang tinggal di villa resort itu. Saya merasa tidak aman tinggal disini. Mas Raja… Em… Dia tadi menemui saya.” Pak Ansu cukup syok mendengar ucapan Sekar itu.
Pak Ansu memang sudah dapat info dari sopirnya Sekar kalau Raja membawa Sekar dengan mobil. Tapi pak Ansu tidak menyangka kalau dampaknya akan sampai seperti ini.
“Sekar… Tapi… Gimana kalau saya mau nengok cucu saya…? Apa sebaiknya kamu tidak rujuk kembali dengan anak saya…? Raja sudah becerai dengan Mona, nak…” Ini adalah pertama kalinya Sekar mendengar berita kalau Raja sudah bercerai. Sepintas ada pertanyaan yang lewat dalam benaknya ‘Haruskah aku kembali dengannya?’ Sekar memejamkan matanya beberapa detik. Perasaannya menjadi galau.
Tapi Sekar teringat kembali dengan foto pernikahan Raja dan Mona yang pernah dia lihat di koran lokal Kepulauan Anambas. Sekar teringat dengan hati dan pikiran Raja yang plin plan tanpa pendirian.
Aku ingin sekali melihat anak-anakku bahagia memiliki sosok ayah… Tapi aku takut suatu hari nanti dia berpaling lagi dariku. Aku takut sifat plin-plan nya itu kambuh. Aku gak akan sanggup lagi menghadapi kejadian seperti dulu. Aku sudah cukup bahagia dengan Boy sama Gadis. Aku gak mau mas Raja mengusik hidupku lagi, batin Sekar sambil memandangi buah hatinya yang tertidur.
“Maaf pak… Keputusan saya ini gak ada hubungannya dengan mas Raja bercerai atau tidak bercerai dengan mbak Mona. Saya hanya ingin hidup tenang tanpanya. Saya takut suatu hari nanti pendirian mas Raja goyah lagi.”
Pak Ansu hanya bisa mneghela nafas. Jawaban Sekar itu memang masuk akal. Hati perempuan mana yang tidak sakit saat dia hamil justru ditinggal menikah dengan perempuan lain. Pak Ansu bisa memahami itu. Mengingat ibunya El dulu juga dia tinggal menikah dengan ibunya Raja. Pak Ansu seperti melihat masa lalunya terulang kembali kepada Raja. Tapi untungnya mantan istri Raja, si Mona tidak sampai hamil.
“Kapan kamu akan pergi kesana, nak?” tanya pak Ansu.
“Em… Rencananya mungkin besok pagi…” Jawab Sekar sambil melihat kondisi luar rumah itu dari jendela. Ada Raja yang tengah merokok di samping mobil. “Saya akan lewat pintu belakang. Soalnya mas Raja ada di depan gerbang terus…”
“Mau naik apa kamu ke Bintan?” tanya pak Ansu.
Sekar sebetulnya juga bingung harus naik apa pergi ke Bintan. Ini adalah kepulauan, tidak ada kereta api yang menghubungkan antar pulau. Kalau pesawat adanya menuju Batam, sehingga dia harus naik kapal buat menyebarang ke Pulau Bintan. Sedangkan sekarang dia memiliki phobia naik kapal. Biaya buat menyewa helikopter juga mahal. Di Pulau Bintan sendiri ada bandara di daerah Tanjung Pinang, tapi jam penerbangannya tidak cocok dengan yang diinginkan Sekar. Sekar mulai pusing menjawab pertanyaan pak Ansu itu.
“Saya akan naik kapal pak,” jawab Sekar setelah mengambil kesimpulan dari pemikirannya. Jelas saja pak Ansu sangat kaget. Itu tidak boleh terjadi.
“Ha…? Gimana kalau kamu pingsan di tengah laut? Apalagi kamu membawa cucu saya… Jangan pakai kapal! Udah gini aja… Saya antar kamu pakai helikopter besok pagi. Jangan bawa banyak barang. Biar barangmu dikirim Ucy,” kata pak Ansu memberi saran. “Udah gitu aja. Jangan nolak. Saya takut kamu sama cucu saya kenapa-napa.”
“Baik, pak. Terimakasih.”
“Mau jam berapa besok? Biar saya cek sama pilotnya.”
“Pagi-pagi aja pak jam 5 dari sini, kalau boleh,” jawab Sekar.
“Ya udah sekarang kamu istrirahat… Sambil pikirkan keputusanmu itu, nak. Saya masih berharap kamu mau balik lagi sama Raja,” kata pak Ansu.
Akhirnya malam itu Sekar benar-benar memikirkan keputusannya itu. Dilihatnya Raja dari jendela kamarnya. Laki-laki itu benar-benar tidak ada lelah menungguinya sampai tengah malam. Tapi Sekar sudah membulatkan keputusannya. Dia tidak mau ditipu Raja lagi.
Sepanjang malam itu Sekar juga tidak tidur. Dia hanya memandangi antara Raja dan anak kembarnya.
“Aku gak boleh rapuh… Aku yakin ini hanya akal-akalan mas Raja buat mendapatkan hak asuh Boy sama Gadis. Itu gak boleh terjadi,” bisik Sekar menguatkan hatinya.
Akhirnya keesokan harinya sekitar pukul 04:40, dokter Ucy mengetuk kamar Sekar. Sekar yang mendnegar suara dokter Ucy itu segera membuka pintu.
“Dek, kata pak Ansu kamu mau pergi ke Luxus Bintan ya?”
“Iya gak pa-pa. Lagi pula pak Ansu cerita, mau mindahin aku kerja di klinik resort yang mau kamu tujuh itu.”
“Kok bisa?” tanya Sekar keheranan.
“Ya bisalah… Para pemilik bisnis pariwisata daerah sini kan saling mengenal. Aku dulu juga pernah tugas di klink Resort itu. Kalau gak salah nama owner (pemilik) hotelnya… Pak Galang yang nikah lagi sama orang Jogja kan?” tanya dokter Ucy memastikan.
“Hloh? Kakak kenal sama Kasih?” tanya Sekar balik.
“Iya aku kenal. Dulu aku sempat ngobatin luka di kakinya… Eh, aku jadi lupa. Kamu dah ditungguin sama pak Ansu di belakang rumah. Yuk aku ikut anterin kamu juga…” Dokter Ucy mulai berjalan ke bed dan meraih Boy dalam gendongannya. “Tante pasti kangen nanti sama kamu… Tunggu seminggu lagi ya… Pasti tante akan susul kamu kesana,” kata dokter Ucy sambil mencium Boy.
Akhirnya Sekar dibantu dokter Ucy menuju pintu belakang rumah. Sementara itu sopir pribadi pak Ansu itu diminta untuk mengambil koper Sekar yang ada di kamar atas. Selagi menunggu sopir itu mengambil koper. Sekar berdiri di dapan mobil sambil menimang-nimang Gadis yang terbangun. Sementara itu dokter Ucy sudah berada di dalam mobil bersama Boy dan pak Ansu.
“Oh? Anak mama udah bangun ya sayang… Bobok lagi yuk…” kata Sekar sambil mengepuk-epuk pantat Gadis.
Dari tempat Sekar bediri itu tiba-tiba ada pakcik, bu Susi dan bu Meimei yang berjalan lewat jalan itu. Tentu saja meraka akan menyapa Sekar.
“Cik Cello… Tumben pagi-pagi gini dah di sini? Kenapa ada kereta (mobil) disini juga? Nak pergi mana?” tanya pakcik dengan logat Melayunya.
“Hehee… Pakcik, bu Sus sama bu Mei… Saya mau pamit.” Ucapan Sekar itu membuat mereka berempat saling pandang. “Em… saya mau pergi ke Bintan. Ke Luxus Resort. Saya berhenti kerja disini,” kata Sekar sambil meraih tangan orang tua itu satu persatu.
“Ow… ke Luxus Resort… Resort yang tebesar di Bintan itu ya, nak? Saya, bu Susi sama pakcik sering kesana lah seminggu sekali buat pasok ikan-ikan segar ke resort itu… Tak jauh lah… Kita masih bisa ketemu…” Kata bu Meimei sambil mentoel pipi Gadis, begitu juga bu Susi.
“Bisalah nanti kalau kita kesana kabari cik Cello buat ketemu. Paling cuma sejam dari sini naik kapal,” sahut bu Susi. Sekar tersenyum menanggapi ucapan mereka semua. Dirinya seakan lupa kalau orang-orang itu bisa menggunakan transportasi laut. Tidak seperti dirinya saat ini.
Tak lama kemudian sopir pribadi itu muncul membawa 2 koper Sekar. Pakcik ikut menaikan koper Sekar ke dalam bagasi mobil.
“Makasih ya pakcik sama buat ibuk-ibuk juga. Saya pamit dulu… Terimakasih buat pasokan ikan segarnya sama es jusnya selama ini… Saya gak akan lupa,” kata Sekar mulai mencium tangan orang-orang itu satu persatu karena mereka lebih tua dari Sekar.
“Hati-hati ya… Sampai jumpa lagi. Kalau ada waktu main kemari lagi…” kata bu Susi. Sekar menganggukan kepalanya dan beranjak masuk ke dalam mobil. Mobil yang dinaiki Sekar itu mulai melaju ke lapangan helikopter.
Sementar itu pakcik, bu Susi dan bu Meimei berjalan melanjutkan tujuannya menuju pasar. Pakcik mulai ikut nimbrung dengan pedagang ikan napoleon. Bu Susi berjalan mencari sarapan pagi. Dan bu Meimei menerima pemasok ikan selar di depan pasar yang berhadapan dengan klinik dokter Ucy.
Bu Meimei seperti tidak asing ketika melihat laki-laki bertubuh tegap, berbadan atletis kekar dan berambut gondrong. Raja pun yang memandangi bu Meimei seperti masih mengingat saat wanita paruh baya itu, dulu menebak Sekar sedang hamil.
Bu Meimei yang tidak tahu latar belakang Raja mulai melambaikan tangannya ke Raja. Raja pun tidak merasa masalah dengan lambaian tangan ibu-ibu itu.
“Wooii…! Suami cik Cello ya…?!” kata bu Meimei dengan suara lantangnya. Raja mulai berjalan menghampiri wanita paruh baya itu mendengar nama cik Cello disebut. Karena Raja tahu sebutan itu adalah untuk Sekar.
*****
Bersambung…
*****