Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Akhirnya Aku Laku Juga



Dokter Ucy mencoba memikirkan apakah dirinya harus mengikuti kemauan pak Ansu untuk nikah-nikahan atau tidak.


“Mikirnya jangan kelamaan…” ucap pak Ansu dengan mendaratkan ciuman di dahi dokter Ucy. “Pokoknya kita nikah di sini dulu. Selesai liburan dari sini, saya akan bilang ke orang tuamu,” ucap pak Ansu dengan mengumbar senyuman manisnya. Tentu saja ini membuat hati dokter Ucy meleleh.


“Ya udah mas, saya setuju kita nikah di sini dulu,” ucap dokter Ucy dengan malu-malu.


Akhirnya perdebatan di pagi hari tentang rencana nikah-nikahan disetujui oleh keduanya. Mereka berlanjut dengan saling berpelukan.


“Mas…”


“Apa?”


“Selimutnya jangan ditarik-tarik… Aku belum siap skin to skin kalau lagi sadar begini…”


Semakin menggemaskan saja tingkah laku perempuan muda di hadapan pak Ansu itu. Dia mengkecupi pucuk kepala… dahi… dan…


TOK TOK TOK…


Tiba-tiba suara pintu kamar villa mereka berbunyi. Dokter Ucy yang sebenarnya sudah mempersiapkan dirinya untuk mendapatkan ciuman di bibir menjadi malu karena pergerakan bibir pak Ansu terhenti oleh suara pintu.


“Siap sih pagi-pagi gangguin aja?” gerutu pak Ansu diikuti dengan senyuman dokter Ucy.


“Kamu buka dulu lah sana, mas. Aku juga mau ke toilet. Udah kebelet dari tadi.”


“Kenapa? Lengket ya?” tanya pak Ansu membuat pipi dokter Ucy merah merona.


“Ish! Gitu amat sih nebaknya?! Gak lengket… Cuma gatel.”


“Mau ku garukin?” pertanyaan pak Ansu semakin membuat dokter Ucy salah tingkah.


“Udah sana cepet bukain pintunya…!” Mendorong tubuh pak Ansu sampai tersungkur.


"Aduh Ucyyy… Dorongnya jangan keras-keras! Nanti encok kambuh lagi. Bisa gagal ngegoyang kamu," ucap pak Ansu sambil mengintip dokter Ucy yang berlari ke kamar mandi. Selanjutnya pak Ansu cepat-cepat memakai baju untuk segera membuka pintu villa.


TOK… TOK… TOK…


“Coming…!” teriak pak Ansu. (Datang…)


Ternyata setelah dibuka, yang mengetuk pintu itu adalah room service yang datang dengan membawa makanan.


“Good morning, sir! We like to serve your breakfast. May I come in to put your breakfast inside?” tanya laki-laki yang membawa tray besar berisi makanan. (Selamat pagi, pak! Kami senang untuk melayani sarapan anda. Bolehkah saya masuk ke dalam untuk meletakkan sarapan anda di dalam?)


“Sure… Please come in. You can arrange it in our terrace,” jawab pak Ansu dengan membukakan pintu lebih lebar untuk pelayan room service. (Tentu… Silahkan masuk. Kamu bisa menatanya di teras kami)


Pelayan room service itu tidak sengaja melihat piyama dokter Ucy yang tergeletak di lantai. Setelah langkah ke empat, dia melihat celan4 renda ikut tergeletak di lantai. Hm… Mainnya agak kasar ni si bapak. Pasti lempar sana lempar sini semalam, batin pelayan itu.


“Suhendri…” ucap pak Ansu dengan memperhatikan tag nama yang menggantung di baju pelayan room service. “Where are you from?” (Dari mana asalmu?)


“Surabaya Indonesia sir,” menjawab dengan senyuman ramah.


“Pantas bahasa Inggrisnya kental dengan logat Indonesia. Ternyata arek Surabaya. Sudah berapa lama kerja disini?”


“Heheee. Lumayan pak. Sudah mau 8 tahun.”


“Mm… Bukan lumayan lagi… Itu udah kelewat lama. Pasti besar ya bonus uang service charge disini?” tanya pak Ansu sambil meminum orange jus yang dibawa pelayan itu. (Service charge: uang bonus bulanan di hotel)


“Ya lumayan pak kalau lagi rame pas musim rame seperti ini,” menjawab dengan penuh kerendahan hati.


“Bukan lumayan. Saya tahu kalau service charge disini setara gaji GM atau Direktur kalau di Indonesia,” celetuk pak Ansu.


“Heheee… Mari pak silahkan sarapannya. Atau ada yang mau dipesan lagi? Tadi soalnya pak Raja cuma pesan ini untuk diantar kesini. Barang kali bapak mau menambah pesanan.”


“Package wedding? Em… Untuk package wedding hari ini sepertinya masih bisa. Memang siapa yang akan menikah?”


“Ya pasti saya sama calon saya,” pak Ansu menjawab dengan bangga karena akan menikah di usianya yang sudah kepala lima.


“Ow…” memandangi wajah dan perawakan pak Ansu lebih teliti. “Nanti saya akan kirim macam-macam package wedding yang terupdate ke email bapak. Jadi bapak bisa pilih lokasi yang bagus di resort ini.”


“Ide bagus… Tolong diatur.”


“Siap pak,” jawab pelayan itu dengan memandangi dokter Ucy yang berjalan menuju teras. Astaga… Jadi ini calonnya…. Mending nikah aja sama aku. Aku juga masih single. Dari segi usia juga lebih muda aku ketimbang laki-laki ini. Hm… Beginilah nasib kerja di kepulauan. Gaji gede tapi belom nikah-nikah. Terkurung terpenjara di pulau kecil. Batin pelayan room service yang kagum melihat kecantikan dokter Ucy. “Kalau gitu saya permisi dulu, pak. Selamat makan. Mari buk…” ucap pelayan itu memandangi dokter Ucy sebelum pergi.


Pagi itu pak Ansu dan dokter Ucy berlanjut untuk sarapan. Beberapa menit kemudian di sela-sela mereka menikmati makanan, pak Ansu disibukan dengan membalas pesan email lewat handphonenya. Tentu saja pesan itu berasal dari tim wedding ‘One & Only Reethi Rah’ Resort tempat mereka menginap saat ini.


Pikiran pak Ansu sudah bertravelling membayangkan bagaimana moment honeymoonnya akan berlangsung. Hal itu dikarenakan dari package wedding yang dia pilih memfasilitasi ‘Blue Ocean Water Villa’ untuk honeymoon. Dimana villa yang akan dia pakai berada di tengah laut lepas. Ini adalah kesempatan yang baik untuknya hanya berduan dengan dokter Ucy tanpa diganggu oleh cucu-cucunya.


“Mas…”


“Ya?”


“Kok senyam-senyum lihat handphone? Dari bu Lily ya…?” tebak dokter Ucy dengan rasa cemburu.


“Kamu ini suka asal nuduh. Aku lagi balas email untuk mengurus wedding kita sore ini,” jawab pak Ansu membuat dokter Ucy kaget.


“Sore ini?”


“Iya… Sore ini kita akan nikah. Nih…” pak Ansu menyodorkan handphonenya. “Aku udah booking tempat di tepi pantai. Nanti siang ada tim MUA dari sini yang akan membantu kamu untuk urusan make up. Untuk cincin pernikahan kita bisa pergi ke Jewelry Shop yang ada di lobby.”


Dokter Ucy tidak menyangka kalau dirinya akan menikah hari ini. Apalagi orang yang akan menikahinya adalah pak Ansu. Laki-laki yang dia sukai, tapi belum sempat dia pacari. Rasa bahagianya sudah tidak bisa diungkapakan dengan kata-kata lagi.


Akhirnya aku laku juga… batin dokter Ucy dengan merasakan tangan pak Ansu yang mengusap-usap telapak tangannya.


_____


Siang itu dokter Ucy diantar oleh Sekar menuju salon untuk melakukan tacap wajah. Di salon itu juga menyediakan baju-baju pengantin untuk disewa. Tapi karena tidak ada gaun yang cocok, akhirnya dia hanya memakai gaun warna putih yang dia bawa dari Indonesia.


“Waauu… Oma cantik ya dek…” puji Sekar dengan sibuk mengitari calon mertua perempuannya.


“Iyah… Tante Ucy tantik…” celetuk Gadis ikut memegangi gaun yang dipakai calon oma nya.


“Adis sekarang panggil oma ke tante Ucy. O-M-A… Oma… Ok?”


“Ok mama…” sahut Gadis.


“Selamat ya kak… akhirnya aku bisa panggil mama ke kak Ucy… Hihiii. Mama muda. Sekali nikah dapet 2 anak dan 2 cucu. Paket komplit deh.”


“Ish! Kamu ni…! Kemana si Boy?” tanya dokter Ucy ketika tataan rambutnya masih diperbaiki.


“Sama ayahnya. Mereka udah nunggu di tepi pantai… Ya udah yuk kita langsung ke sana. Pak Ansu udah misscall misscoll dari tadi,” ajak Sekar dengan meraih tubuh Gadis ke dalam pelukannya.


“Yuk… Aku juga udah gak sabar buat nikahan…”


 


*****


Bersambung…


*****