Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Mengigau



Sekar segera masuk ke dalam villanya. Mengunci pintu dan naik ke lantai dua ke kamar anak-anaknya.


Sekar mulai duduk di tepi bed memandangi Boy dan Gadis. Di dalam pikirannya teringat kembali dengan kalimat Raja yang mengatakan kalau laki-laki itu serius ingin menikahinya. Sekar memandangi pergelangan tangannya yang tadi sempat dipegang oleh Raja.


“Kenapa aku melewatkan untuk melihat keseriusan wajahnya? Kenapa aku tidak mampu melihat wajahnya? Huft… Harusnya aku mentap matanya tadi,” bisik Sekar.


Sekar mulai menurunkan kakinya ke lantai. Dia berjalan ke teras depan di lantai dua. Pelan-pelan Sekar membuka pintu untuk mengintip apakah Raja masih berada di sekitar villanya atau tidak.


“Ya ampun… Ngapain dia masih ada di sana…? Padahal anginnya kuat sekali malam ini. Apa dia gak kedinginan?”


Raja yang saat ini tengah duduk di rerumputan depan villa Sekar sebetulnya merasakan kalau Sekar membuka pintu villa bagian atas. Raja membiarkan Sekar melihatnya, agar Sekar tahu kalau dirinya bersungguh-sungguh serius ingin menjalin hubungan lagi dengan Sekar.


Beberapa menit Sekar memperhatikan Raja sambil menggosok tangannya karena dinginnya angin malam.


_____


Keesokan harinya sekitar pukul 5:35, Sekar terbangun dari tidurnya. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan tertidur di sofa terasnya. Sekar mulai memperhatikan kondisi depan villanya. Hanya rumput dan air kolam yang renang yang bergerak-gerak karena angin. Sosok laki-laki yang dia pikir akan menungguinya di depan villa ternyata tidak ada.


“Sudah kuduga… Baru kena dinginnya angin malam aja dah gak kuat! Mending semalem aku tidur di kamar kan?! Hm!” Gerutu Sekar.


Akhirnya Sekar masuk ke dalam villanya. Sekar mulai mencuci muka dan berganti pakaian olahraga untuk berlari di sekitar taman depan villanya.


Berkecimpung di dunia entertainment meski hanya di lingkup resort, Sekar tetap menjaga bentuk tubuhnya.


“Boy… Gadis… mama pergi lari-lari dulu ya… Muach… Muach…” Sekar berpamitan kepada bayi kembarnya.


Di saat Sekar membuka pintu villanya di lantai satu, Sekar dikagetkan dengan keberadaan Raja yang tidur di kursi panjang. Sekar menutup pintu villanya pelan-pelan agar tidak mengganggu Raja yang masih tertidur.


Pagi itu ada perasaan yang menggelitik di dalam hatinya. Sekar berusaha tidak mempedulikan Raja yang sepertinya merasa kedinginan. Sekar melangkahkan kaki untuk pergi dari villanya. Tapi entah kenapa di dalam pikirannya terlintas wajah Raja yang kedinginan. Sekar menghentikan langkah kakinya dan… menoleh di tempat Raja membaringkan tubuhnya.


Entah kenapa rasa benci yang begitu dalam mulai sedikit terkikis lagi. Sekar masuk kembali ke villanya untuk mencari selimut. Dia mulai menyelimuti tubuh Raja. Sekar menarik selimut itu sampai menutupi bahu Raja agar tidurnya lebih nyenyak.


Tiba-tiba saja laki-laki yang masih memejamkan matanya itu mengigau.


 


“Sekar… Sekar…” Sekar yang mendengar itu menjadi bingung. Mimpi apa orang ini terus-terusan memanggil namaku? Sekar berusaha mengusap lengan Raja untuk menenagkannya. “Sekar… Hkzzz… Maafkan aku…” Sekar semakin tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menenagkan Raja. Tangan Sekar mulai menyentuh wajah Raja dan mengusap-usap wajah laki-laki itu. “Sekar…” Raja semakin menggeleng-gelengkan kepalanya. Keringat dingin mulai mengalir dari dahi Raja.


Sekar mengusapa keringat yang bercucuran itu dengan tangannya. Tidak ada rasa jijik, justru rasa cemas menghadapi Raja yang terus mengigau.


“Mas Raja… Mas…” Sekar mengusap-usap kedua telinga Raja agar laki-laki itu terbangun dari mimpi buruknya.


Beberapa detik kemudian Raja mulai tenang kembali. Nafasnya yang terengah-engah sedikit demi sedikit normal kembali. Sekar tetap mengusap-usap sekitar pipi, rambut dan telinga Raja agar laki-laki itu merasa tenang.


Raja yang masih memejamkan matanya itu mulai tersadar kalau dirinya baru saja mengigau. Raja sedikit membuka sudut salah satu matanya untuk mengintip tangan siapa yang berada di wajahnya saat ini.


Jantungnya terasa mau lompat saat mengetahui Sekar yang berada di dekatnya saat ini. Hanya kata bahagia dan senang yang dirasakan Raja.


Usap terus wajahku sayang… Rasanya sangat nyaman mendapat perhatian darimu. Tanganmu sangat halus. Kalau dengan mengigau aku bisa mendapat perhatian darimu, aku akan mengigau setiap malam. Hmmm… Rupanya kamu sangat pintar memberi kenyamanan. Yah… Usap terus dadaku Sekar… Biar aku lebih relax pagi ini… Gumam Raja sambil memegang salah satu pergelangan tangan Sekar.


“Mas… mas Raja…? Mimpi apa lagi sih kok senyam-senyum?” tanya Sekar dengan suara pelannya. Rasanya ingin sekali Raja meraih tubuh Sekar kedalam dekapannya. Tapi Raja tahu itu terlalu cepat. Raja tidak mau membuat Sekar ketakutan.


Perlahan-lahan Raja membuaka matanya. Sekar yang melihat kedua bola mata Raja sudah mengkerjap-kerjap, mulai menarik tangannya menjauhi Raja. Sekar segera beranjak berdiri menjahui Raja.


“Sekar?” Raja berpura-pura kalau dirinya baru menyadari keberadaan Sekar.


“Em… Tadi kamu ngigau. Kamu pakai selimut itu. Tidur aja kalau masih ngantuk,” kata Sekar mulai ketus kembali.


Secepat kilat Sekar meninggalkan Raja. Senyum di bibir Raja mulai merekah melihat sikap Sekar yang menurutnya manis dan lucu. Raja tidak menyangka kalau pagi ini akan dimulai dengan hal yang mendebarkan.


“Semoga ini awal yang baik…” bisik Raja memandangi Sekar yang berlari menuju taman.


_____


Pagi itu setelah berolahraga, Sekar mengajak Boy dan Gadis menuju restaurant untuk sarapan. Disana sudah ada Kasih, Galang dan Putri, anak perempuan Kasih yang usianya lebih tua 2 bulan dari bayi kembar Sekar.


(membludak: banyak)


Galang yang melihat Raja sedang makan sendirian di meja pojok mulai ada ide. Tanpa berdiskusi dengan istrinya, Galang merentangkan tangannya.


“Raja…!” Raja yang mendengar suara Galang mulai melambaikan tangannya. “Sekar, kamu duduk aja sama Raja disana. Meja kita penuh,” kata Galang yang disambut cubitan dari Kasih. Ngeekk! “Aduh? Kenapa sih yank?” Galang tersentak kaget.


“Mas Galang ni gimana sih? Kasihan tahu masa Sekar disuruh duduk sama orang itu?” Kasih mengerucutkan bibirnya.


“Ntar kalau Sekar duduk di sini apa kata karyawanku…? Tuh lihat mata mereka pada jelalatan! Bisa-bisa aku dikira punya 2 istri!” Gerutu Galang mencari alasan yang masuk akal. Kasih dan Sekar mulai memperhatikan para karyawan di restaurant itu.


Memang benar pandangan para karyawan itu sangat mengintimidasi. Beberapa dari meraka pun tidak segan-segan melirik ke arah Sekar sambil berbisik-bisik. Sudah pasti kalau Sekar sampai berani duduk satu meja dengan Galang akan menimbulkan gosip baru.


Tak lama kemudian Raja datang menghampiri Sekar yang berdiri di samping meja Kasih.


“Hai Lang! Apa kabar?” sapa Raja sambil berjabat tangan dengan Galang. Sekar dan Kasih mulai saling bertatapan sambil cemberut memandangi keakraban Galang dan Raja.


“Kabar baik Raj! Long time no see (Lama gak jumpa) Kamu makin fresh,” puji Galang. Sekar menggerakan bola matanya melirik Raja.


“Thanks Lang! Hahaa... Kemarin habis potong di salon resort ini…” sahut Raja.


“Yah yah... Hahaa... Em, gini Raj… Apa boleh Sekar gabung duduk sama kamu? Kebetulan pagi ini banyak tamu, jadi semua meja penuh…”


Tentu saja ini adalah kesempatan yang baik untuk Raja bisa menikmati sarapan pagi bersama Sekar dan kedua anak kembarnya.


“Pasti boleh lah…” Raja tidak peduli dengan wajah masam Sekar. Raja mulai meraih stroller si kembar. “Ikut makan papa ya Boy, Gadis… Silahkan dilanjut makannya, Lang...”


"Thank Raj! Enjoy your breakfast." (Selamat menikmati sarapanmu)


Sekar terpaksa mengikuti Raja. Lagi pula itu adalah perintah Galang, dimana Galang sekarang adalah bosnya.


“Kas, aku makan disana. Permisi, pak,” kata Sekar sebelum beranjak menuju meja Raja.


Kasih sampai keheranan melihat sikap suaminya.


“Kamu ni jahil banget sih, mas!” Kasih mencubit Galang lagi.


“Ya biarin yank… Mereka kelihatan sweet gitu kalau semeja. Udah ah, makan lagi yok!” ajak Galang merangkul istrinya.


Sekar saat ini masih berdiri di samping meja Raja. Sekar memperhatikan Raja merapikan meja untuknya.


“Sekar, sini duduk sini…” Raja menarik kursi untuk Sekar. Mau tidak mau Sekar harus duduk satu meja dengan Raja. Pagi-pagi rasanya tidak etis untuk ribut. Lagi pula saat ini berada di tempat umum. Boy dan Gadis juga terlihat senang melihat ayahnya.


“Kamu mau pesan apa? Ini buku menunya. Biar aku bilang ke waiter nya,” kata Raja menyodorkan buku menu.


Akhirnya pagi itu Sekar menikmati sarapan paginya bersama Raja. Setelah sekian lama mereka tidak makan berdua, pagi ini bagai hari yang baik untuk Raja. Tapi beda halnya dengan sudut pandang Sekar yang mengartikan ini adalah kesialan di pagi hari.


“Gimana omletnya? Enak?” tanya Raja basa-basi.


“Hm…”


Yah, masih untung ada suara hm… dari pada tidak dijawab sama sekali, batin Raja dengan senyumnya.


“Sekar, maaf ya soal mengigau tadi pagi…” Sekar mulai menatap mata Raja. “Sudah sejak lama aku suka mimpi hal yang sama,” kata Raja apa adanya. Karena memang hampir setiap malam dirinya dihantui rasa bersalah karena telah membuat Sekar menderita.


Kalau setiap hari dia mimpi hal yang sama… Apa setiap hari juga dia mengigau manggil namaku? tanya Sekar dalam batinnya.


*****


Bersambung…


*****