
“Jadi gimana, pak? Pak Ansu mau ya nemenin saya pergi ke Maldives?” Pak Ansu yang sudah beberapa kali mendengar ajakan dokter Ucy itu masih tidak percaya dengan ucapan perempuan di sampingnya itu.
Pak Ansu memandangi wajah dokter Ucy. Dia menjadi nervous sampai keluar keringat di dahinya. Pak Ansu tidak tahu harus memberi jawaban apa kepada perempuan yang sudah dia anggap sebagai anak itu.
“Cy, kamu tadi dengar kan apa yang diucapkan Ben?... Itu voucher untuk pasangan. Itu artinya dari pihak panitia cuma menyediakan satu kamar. Kalau kamu mau ajak saya…” Pak Ansu merasa gemas harus menjelaskan perkara yang menurutnya sangat konyol itu.
“Emang kalau saya ajak bapak salah?” Pak Ansu semakin mendelik tidak percaya dengan apa yang barusan dokter Ucy ucapkan.
“Kamu ini… Bukannya kamu bilang sudah punya gebetan…? Kalau udah punya gebetan ngapain mau ajak saya? Kamu ajak gebetan kamu itu. Saya tadi bantuin kamu lomba mancing kan biar kamu bisa dapetin salah satu voucher, jadi kamu bisa ajak gebetan kamu itu. Ini kok malah ajak saya… Hm… Kita kan bukan pasangan.” Ucapan terakhir pak Ansu itu sedikit mengendorkan semangat dokter Ucy.
Saya ajak bapak ke Maldives kan biar kita bisa jadi pasangan! Ini baru aku ajak berlibur hlo… Belom aku ajak pacaran, apalagi nikah… Huft… Ini kenapa aroma-aromanya aku ditolak ya? Batin dokter Ucy semakin merasa kecewa.
“Kamu ajak tuh gebetan kamu, saya mau ke kamar istirahat,” kata pak Ansu yang kemudian beranjak berdiri berjalan menuju deck lantai dua.
Dokter Ucy semakin kendor semangatnya karena pak Ansu menghindarinya saat ini. Raut wajah kecewa itu membuat Sekar mendekati dokter Ucy.
“Calon mama mertua…” sapa Sekar dekat ke telinga dokter Ucy. “Hihii… Gimana? Pak Ansu gak nolak ajakan kakak kan buat liburan ke Maldives?” tanya Sekar dengan wajah cerinya. Berharap tebakannya tepat. Tapi wajah dokter Ucy yang semakin tertekuk-tekuk itu membuat senyum ceria di wajah Sekar pudar dan berubah iba.
“Calon mama mertua apaan? Orangnya gak mau ku ajak ke Maldives. Alamat jadi jomblo abadi aku, dek. Mungkin aku bukan kriteria pak Ansu. Mungkin juga wajah ku ini terlalu jelek buat dia.”
“Kok gitu sih ngomongnya…? Gak baik tahu rendahin diri sendiri. Menurutku kakak cantik kok. Gak kalah dari bu Lily. Tuh lihat…” Sekar mengalihkan pandangannya ke arah Raja dan El yang sedang memperhatikan dirinya dan dokter Ucy berdiri. Mereka berdua melambaikan tangan kepada dokter Ucy memberi gerakan semangat. “Kedua anak pak Ansu udah dukung kakak tuh… Jadi jangan mudah menyerah. Anggap aja ini baru permulaan. Kak Ucy harus bujuk pak Ansu lagi. Kalau perlu kak Ucy bilang langsung ke bapak itu, nyatain perasaan kakak ke dia… Ditolak atau enggaknya itu urusan belakang. Yang penting kak Ucy harus ungkapin perasaan ke pak Ansu.”
“Tapi kalau hasilnya aku tetap di tolak gimana?” Dokter Ucy masih tetap pesimis tidak mampu memghadapi kalau pak Ansu sampai menolak dirinya.
“Hm… Kalau ditolak sekarang… Kan masih ada hari berikutnya buat nyatain lagi. para pelamar CPNS aja kalau gagal tahun ini masih semangat buat ikut tes tahun berikutnya… Ya gak?” semangat dokter Ucy mulai kembali lagi mendengar ucapan Sekar.
“Iya juga sih dek…” dokter Ucy mulai bisa tersenyum kembali sambil melirik ke arah Raja dan El yang sedang duduk bersampingan minum soft drink.
“Kalau gitu sana susul pak Ansu nya. Pokoknya harus semangat!”
“Iya! Semangat!”
Setelah mendapat energi dukungan dari Sekar, Raja dan El..., dokter Ucy melangkah menuju deck lantai dua. Dia berniat untuk menemui pak Ansu kembali.
“Huft…” Dokter Ucy mengatur nafasnya setelah sampai di depan kamar pak Ansu. Rasanya lebih gugup dibandingkan saat menghampiri pak Ansu di meja makan. “Biarlah dikira gak punya harga diri. Pokoknya aku harus maju terus pantang mundur. Ini adalah bagian emansipasi wanita,” dokter Ucy menyemangati dirinya sendiri sebelum mengetuk pintu kamar pak Ansu.
TOK TOK TOK…
_____
Pak Ansu yang merasa badannya kotor karena bau amis ikan, tengah melepaskan bajunya. Dia berniat untuk mandi dan setelah mandi bisa tidur siang sebentar. Tapi karena mendengar suara ketukan pintu, cepat-cepat dia meraih bathrobe dan memakainya untuk menghampiri siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
Ceklek…
“Pak…” sapa dokter Ucy dengan melihat wajah pak Ansu. Mata dokter Ucy mulai terganggu, beralih melihat bulu rambut di dada pak Ansu yang sedikit nampak dari celah bathrobe yang tidak tertutup rapat.
Huft… Seksii banget sih, pak… batin dokter Ucy sambil berusaha menguatkan imannya.
“Ada apa, Cy?”
“Em… saya boleh masuk, pak? Boleh ya…” dokter Ucy segera menerjang menyelinap masuk kamar pak Ansu. Padahal belum diberi izin untuk masuk.
Pak Ansu mulai memijit kepalanya. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi tingkah laku dokter Ucy. Rasanya masih tidak percaya kalau perempuan muda itu mengajaknya berlibur bersama.
“Mau ngapain nyari saya?” tanya pak Ansu sambil berjalan ke arah dokter Ucy.
“Ya… mari duduk,” sambung pak Ansu dengan sikapp tenangnya.
Perempuan ini… Makin lama makin berani saja dengan ku. Apa jangan-jangan pengusaha di bidang kelautan yang dia bicarakan itu… Aku? Kalau pria yang dia maksud itu aku, apa dia gak ngerasa aneh menyukai pria tua seperti aku ini? Pikiran pak Ansu semakin menerka-nerka memecahkan teka-teki yang bermunculan setelah ajakan berlibur bersama dari dokter Ucy.
“Pak, em…” lagi-lagi rasa malu dan canggung menghampiri dokter Ucy. Dia meremas-remas tangannya sambil mencuri-curi kesempatan melihat dada berbulu yang menurutnya menggooda itu.
“Masih mau ajak saya berlibur ke Maldives?” tebak pak Ansu dengan sorot mata tajamnya.
Aku jadi penasaran… apa benar dia menyukaiku? Pak Ansu mulai membetulkan bathrobenya yang sedikit terbuka pada bagian dada.
“Iya pak…” menjawab dengan mengangguk penuh malu. Suasana kali ini semakin membuat tubuh dokter panas dingin.
“Emang kalau kita nanti satu kamar disana, kamu gak pa pa…? Masalahnya saya lagi gak mau ngeluarin budget untuk liburan ke Maldives. Jadi kalau kamu ajak saya… ya kita harus sekamar,” pak Ansu semakin tertantang dengan ajakan dokter Ucy.
“…Em… Saya gak masalah kok pak sekamar sama bapak,” sambung dokter Ucy secepat kilat sebelum pikiran pak Ansu berubah lagi.
“Tapi saya gak mau sekamar sama kamu tuh.”
GLEK! Rasanya seperti dihempas ditendang ke perut bumi. Tapi dokter Ucy tidak putus asa.
“Kalau bapak gak mau sekamar sama saya, ya nanti saya bisa booking kamar lain untuk bapak. Yang penting pak Ansu mau pergi ke Maldives sama saya,” sambung dokter Ucy dengan harapan berlibur bersama terus berkobar.
Pak Ansu yang melihat kegigihan dokter Ucy itu semakin yakin kalau perempuan itu menaruh hati kepadanya.
Perempuan ini… Rasanya aku ingin tertawa terpingkal-pingkal mendengar ajakannya yang terus mendesak ku. Hahaaa. Lucu sekali kalau melihatnya sedang grogi gini. Hihiii… Kalau dilihat-lihat wajahnya cukup menarik. Tapi kenapa masih single aja dari dulu? Udah hampir kepala empat lagi? Hm… Aku jadi penasaran apa dia pernah melakukan seperti itu… Hahaaa! Batin pak Ansu dengan memperhatikan dokter Ucy dari ujung rambut ke ujung kaki.
“Pak… Jadi gimana? Mau ya liburan ke Maldives sama saya?” dokter Ucy memberanikan diri untuk membujuk terus.
“E’hem… Em… Gimana ya… Emang si Ben beliin tiket pesawat tanggal berapa?” tanya pak Ansu balik
“Minggu depan, pak. Mau ya…”
“Kalau minggu depan saya gak sibuk, saya akan sempatkan.”
“Betul ya pak! Hihiii. Makasih ya, pak,” dokter Ucy tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya kali ini. Senyum di bibirnya terus merekah.
“Jangan senang dulu. Kan saya bilang kalau tidak sibuk… Jadi kalau sibuk ya saya nggak janji bisa nemenin kamu ke sana.”
*****
Othor berharap pak Ansu gak sibuk hihii
Biar ada 2 honeymoon di Maldives
Eh...! Nikah dulu dong ya masa honeymoon dulu? Atau mencicil dulu nih macam si Raja?
Bersambung…
*****