Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Semakin Gila



“Raja...” Mendengar suara ayahnya itu, Raja menghentikan aktifitas kerjanya mengecek laporan dari tiap kapal phinisi. Pak Ansu berjalan mendekati meja kerja Raja.


“Ayah mau balik ke Makassar. Semoga kamu bahagia dengan keputusan yang kamu pilih untuk menikahi Mona.” Ucapan pak Ansu itu bagai angin lewat di telinga Raja. “Dan… ayah akan mendidik El agar menjadi laki-laki yang kelak akan membahagiakan Sekar.” Mendengar nama Sekar disebut, Raja melempar kertas laporan yang ada di tangannya ke meja. Dia berdiri menatap mata ayahnya.


“Aku gak peduli lagi sama Sekar. Perempuan murahan yang hamil diluar nikah. Apa yang mau dibanggakan?”


“Jaga ucapan kamu Raja! Sekar hamil anak kamu…!” Suara pak Ansu yang menggelegar itu membuat keduanya semakin naik darah.


“Jangan ikut campur, ayah. Dia hamil dengan laki-laki lain. Bukan dengan aku.” Pak Ansu sudah tidak tahu harus memakai bahasa apa agar Raja sadar kalau Sekar mengandung darah daging Raja.


“Raja… Ayah tidak tahu kapan mata dan hati mu terbuka untuk Sekar. Ayah harap bila hari itu tiba, kamu tidak terlambat. Semoga kamu tidak menyesal pada akhirnya nanti kalau anak yang dikandung Sekar terbukti adalah anak mu. Ayah harap kisah masa lalu ayah dengan ibunya El dan ibumu tidak terulang kembali kepadamu. Cepatlah sadar nak…” Pak Ansu sudah lelah berdebat dengan Raja, yang sebetulnya karakter Raja diturunkan dari dirinya sendiri.


Pak Ansu mengusap mulutnya karena lelah bercekcok dengan Raja. Dia berlalu pergi meninggalkan ruang kerja Raja.


Raja mematung dengan amarahnya. Dia memikirkan setiap kalimat yang keluar dari mulut ayahnya. Jauh di lubuk hati yang terdalam, Raja mengharapkan Sekar mengandung anaknya. Tapi keinginan itu pupus setelah melihat Sekar dipeluk dan perutnya diusap-usap oleh seorang laki-lak. Itu sudah menjadi bukti kuat kalau anak di rahim Sekar bukan anaknya.


Berkali-kali Raja menggebrak meja kerja karena mengingat Sekar bersama laki-laki lain. Kesal, kecewa dan marah hanya itu yang dia rasakan saat mengingat kejadian di salah satu resort Utara Tarempa.


_____


Akhirnya hari pernikahan Raja dan Mona datang juga. Rasa haru dan bahagia sedang dirasakan Mona yang berdiri di pelaminan saat ini. Ada beberapa teman akrab Raja dan Mona yang ikut hadir. Kedua keluarga mempelai tidak ada yang terlibat dalam acara pernikahan bergaya Eropa itu. Karena Mona berasal dari keluarga broken home. Hanya ada salah satu adik tiri perempuan Mona yang hadir.


Kedua orang tua Mona sudah memiliki kehidupan mereka sendiri-sendiri. Hanya uang yang mereka transfer ke rekening Mona setiap bulannya. Tapi itu tidak cukup karena kebutuhan dan gaya hidupnya yang terlalu gelamor membuat Mona mencari asupan dana. Dia bertemu dengan Raja saat Raja menghadiri suatu festival pameran kapal di Singapore.


Begitulah awal pertemuan Raja dan Mona. Tapi gaya pacaran yang masuk kategori vulgar membuat dirinya tidak puas karena Raja selalu sibuk dengan urusan bisnis. Saat batin dan raganya membutuhkan Raja, Raja sedang sibuk di belahan laut Indonesia lain. Itulah mengapa Mona yang selalu curhat ke El mulai berpaling hatinya ke El. Karena El mampu memberikan apa yang dia butuhkan. Termasuk modal bisnis El dari pak Ansu.


“Happy wedding Mona… Congratulation for you baby… Wish you all the best for your future,” kata salah satu teman Mona memberi ucapan setelah sesi pemotretan selesai.


Senyum Mona selalu merekah dari awal acara hingga akhir acara. Tapi berbeda dengan Raja. Perasaannya semakin kacau karena kata-kata terakhir sebelum ayahnya balik ke Makassar terus menghantuinya… ‘SEKAR HAMIL ANAK MU’… Tapi hati Raja yang masih buta itu menepis terus. Lalu bagaimana dengan perempuan yang sudah kunikahi ini? Bagaimana dengan Mona? Hatinya pasti hancur bila dia berpaling ke Sekar. Lalu jika statement ayahnya itu benar… Hati Sekar pasti lebih hancur karena Sekar harus berjuang membesarkan darah dagingnya seorang diri.


Kalimat itulah yang terus menghantui pikiran Raja sepanjang pernikahannya dengan Mona. Setiap kali Mona menyentuhnya, bayangan wajah Sekar terus menghantuinya. Wajah manis yang pernah membuatnya tergila-gila itu, terus hadir mengikuti halusinasi Raja. Terlebih saat Raja berada di yacht kesayangannya. ‘Mas Rajaa… Kupasin apelnyaa… Aku mau apell…’ Begitulah kalimat terakhir yang Sekar katakan sebelum dia menerima telpon dari Ben kalau Mona sudah sadar. Setelah itu… ‘Au… Mas, kakiku kram. Kamu duluan aja…’ Rintihan Sekar saat dirinya kesakitan justru ia tinggalkan demi Mona yang sudah sadar. Raja mengalami galau tingkat akut.


 


Pernikahan yang Raja bayangkan dengan Mona benar-benar berantakan karena dirinya sendiri. Kehidupan rumah tangganya tidak bahagia. Raja tidak sanggup memberi kepuasan batin untuk Mona. Berkali-kali dia mencoba tapi selalu gagal karena hasrat seksS itu tidak tumbuh. Wajah cantik Mona itu tidak membuatnya bergairah.


Mona sebagai perempuan merasa ada yang salah dengan dirinya. Dia memandangi wajahnya di depan cermin. Kulit wajah masih kencang. Kadar lemak dalam tubuhnya selalu terkontrol. Dia bahkan melakukan tanning agar kulitnya terlihat seksi kecoklatan. Tapi Raja selalu mengatakan sibuk kalau diajak berhubungan.


Ini membuat Mona frustasi. Mona mencurigai Raja memiliki hubungan gelap dengan wanita lain. Mona berfikir Raja sedang melakukan balas dendam karena dirinya dulu berselingkuh dengan El.


Di bulan keempat pernikahan mereka mulai terjadi percekcokan. Mona yang menginginkan anak dari Raja belum juga merasakan tanda-tanda hamil.


Setiap dia terbangun dari tidur… Wajah Sekar selalu menemaninya. Setiap dia memejamkan mata, kalimat-kalimat manja dari bibir mungil Sekar terngiang. Raja hanya mampu meluapkan emosinya di tengah lautan bersama yachtnya.


“SEKARRRRR!!!” Berteriak dengan air mata yang membasahi pipinya.


Raja tidak tahu kalau di dalam yachtnya itu Ben memasang alat perekam suara. Ben sengaja meletakan beberapa alat perekam suara di dalam yachtnya Raja untuk mengetahui segala pembicaraan Raja.


Begitulah cara kerja Ben memberi laporan kepada pak Ansu setiap harinya.


 


Ben


(Mas Raja semakin gila. Dalam 1 jam dia bisa ratusan kali manggil nama Sekar. Apa harus dibawa ke rumah sakit jiwa atau psikiater?)


Pak Ansu


(Biarkan saja dia gila)


Ben


(…? Baik pak)


“Huft… Lama-lama gue bisa gila kerja disini...” kata Ben sambil membaca pesan whatsappnya dengan pak Ansu.


Akhirnya di bulan kelima, Mona melayangkan gugatan cerainya kepada Raja. Mona tidak menyangka kalau surat gugatan cerainya akan direspon baik oleh Raja. Raja menyerahkan kasus perceraiannya kepada pengacara. Semua hal yang diinginkan Mona dituruti Raja agar sidang perceraian itu bisa segera terlaksana dan pernikahan mereka cepat berakhir.


Ini membuat hati Mona hancur. Dia menyesal karena telah melayangkan gugatan cerai kepada Raja. Tapi mau bagaimana lagi. Setiap perkara yang masuk ke ranah persidangan tidak bisa mundur lagi. Apa lagi Raja menginginkan perpisahan itu juga.


 


*****


Bersambung…


*****