
Selang beberapa hari kemudian, terjadi kehebohan di rumah Sekar lagi. Hari ini adalah hari yang bersejarah untuk Sekar dan Raja untuk melangsungkan pernikahan mereka.
Sekar bersiap dengan bangun pagi mengurusi Boy dan Gadis terlebih dahulu. Memandikan anak kembarnya dan mendandani mereka dengan baju batik agar terlihat lebih keren.
Raja menyediakan mobil khusus untuk keluarganya Sekar menuju pelabuhan Semarang. Mereka mengecek barang bawaan masing-masing sebelum mobil berangkat.
“Eh.... mama lupa. Mama mau bungkus kue. Buat bekal di jalan. Tungguin ya…!” Bu Ica segera lari masuk ke rumah lagi. Padahal ini sudah ketiga kalinya bu Ica mondar-mandir mengambil barang bawaan yang tertinggal.
“Haduh, jam tangan ayah lupa. Bentar, tungguin ya…” Sekarang giliran pak Ram yang masuk ke rumah.
“Mbak, ada yang kelupaan ga?” tanya Sekar sambil membopong Gadis. Sedangkan Boy di gendong oleh kakak ipar Sekar.
“Gak ada. Cuma mau bawa suami aja…” Goda Tia kepada Aan.
“Mas, mamanya mas bisa ikut kan?” tanya Sekar ke Aan.
“Iya. Dia udah nyampai di kapal malahan. Kemarin malem berangkat sama suaminya Kasih sekalian dari Bintan. Jadi mereka terbang dulu ke Semarang buat nuju ke pelabuhan Tanjung Emas. Gitu ceritanya…”
“O… Senangnya tante Sarah bisa hadir tuh dek… Nanti adek mau ya dikasih pijit sama oma Sarah? Biar capeknya ilang…” sambung Sekar dengan mengepuk-epuk pantat Gadis.
Setelah drama pengecekan barang selesai, mereka mulai masuk ke mobil. Pak Ram sudah steady dengan gayanya pakai kacamata hitam untuk duduk di samping kursi kemudi. Bu Ica berada di bangku tengah bersama Sekar dan kedua cucunya. Sedangkan Aan dan Tia berada di kursi belakang.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, mobil warna putih yang ditumpangi keluarga Sekar akhirnya sampai di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Pak Ram yang duduk di kursi depan sedikit terkejut karena mobil bisa yang dia tumpangi bisa masuk kawasan dekat dengan dermaga.
“Weh(Loh)…? Weh mas? Ini nanti kita gak kena marah sama pihak keamanan apa? Bukannya harus parkir disana ya?” tanya Pak Ram heran. Sopir itu tersenyum mendengar ucapan pak Ram.
“Mboten (tidak), pak. Pak Raja sudah minta izin dari pihak keamanan disini. Jadi bapak sama keluarga gak usah jalan kaki dan ngantri dengan penumpang yang lain. Kalau tamu-tamu VIP biasanya Pak Raja juga ngetreat (melakukan) tamu kayak gini.” Sopir itu menjelaskan dengan detail.
Lima menit kemudian, mobil itu berhenti di dekat kapal phinisi yang bertuliskan Brigitta Sekar. Nama kapalnya benar-benar Brigitta Sekar.
Pak Ram yang turun lebih dulu, sangat keheranan karena dirinya disambut oleh banyak nahkoda dengan seragam berwarna putih. Salah satu dari nahkoda itu mengkalungkan rangkaian bunga ke leher pak Ram.
“Selamat datang, pak Ram. Semoga pernikahan anaknya lancar,” kata nahkoda perempuan dengan senyum ramahnya.
“Selamat datang, bu Ica. Semoga pernikahan anaknya lancar.” Begitulah ucapan sambutan dari para nahkoda untuk keluarganya Sekar. Masing-masing mendapat kalung bunga mawar asli.
Pak Ram yang masih terheran-heran menggeser kakinya mendekati Sekar.
“Nduk, ini kamu nikah sama pengusaha kapal apa Angkatan Laut tow (sih)?” Sekar yang masih syok dengan acara sambutan dari para nahkoda pun juga berfikir sama dengan ayahnya. “Itu kapal ada cap namamu lagi? Kamu minta dibeliin kapal baru ya sama calonmu?” Pak Ram masih melanjutkan rasa penasarannya. Bagaimana mungkin nama anaknya terpampang nyata di badan kapal? Sudah pasti itu kapal baru. Apalagi masih terihat kinclong bersih dan tidak berkarat.
“Gak lah, yah! Aku aja baru lihat kapal ini,” jawab Sekar menyangkal dugaan ayahnya. Karena kenyataannya memang seperti itu.
Setelah acara sambutan dengan kalung bunga mawar diberikan kepada setiap anggota keluarga Sekar, Shan muncul menyambut kedatangan Sekar dan keluarganya.
“Selamat, pagi pak, bu. Saya Shan. Semoga kalian masih ingat sama saya,” sapa Shan dengan senyum manisnya.
“Ya jelas ingatlah ibuk sama kamu tuh… Masak kue brownies satu loyang gede (besar) habis dimakan sendiri… ck ck…” sahut bu Ica mengingat acara lamaran Sekar.
“Hehee… Maaf buk.”
“Ya gak pa pa lah. Ibuk malah senang kamu suka kue buatan ibuk.”
Mereka pun segera melangkahkan kaki mereka masing-masing menaiki kapal. Sekar yang saat ini menggendong Gadis masih sedikit takut melangkahkan kakinya ke lantai kapal. Dia menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan rasa paniknya.
Raja yang tahu kedatangan Sekar dari pantauan cctv, segera berjalan menuju belakang deck untuk menyambut calon istrinya itu.
“Sekar? Kamu gak pa pa kan dek?” tanya Tia merasa aneh karena Sekar mengkerjapkan matanya cukup lama. “Kamu pusing?” tanya Tia sambil berjalan mendekati dimana Sekar berdiri.
“Huft… A-aku…” Sekar merasakan kepalanya semakin berat. Tangannya terasa tidak kuat menopang tubuh Gadis. Dia terus berusaha untuk berjalan menaiki bagian kapal. Tapi goncangan kecil di kapal itu membuat badannya ter-hu-yung-hu-yung…
“Sekar? Sayang…?” Raja merangkul tubuh Sekar bersama dengan Gadis kedalam pelukannya sebelum perempuan itu jatuh.
“Kamu gak pa pa sayang? Pusing ya?” tanya Raja dengan cemas.
“Haduh? Kamu tadi belom makan ya, dek?” tanya bu Ica sambil menggosok-gosok lengan Sekar.
Pak Ram yang penasaran dengan keadaan anaknya mulai menerka-nerka. Dia berjalan mendekati Raja dan Sekar.
PLAK! Pak Ram memukul punggung Raja.
“Udah kamu hamili lagi ya anak saya?”
Rasanya ingin sekali Sekar tertawa mendengar ucapan ayahnya itu. Tapi dadanya sedikit ngilu saat ingin tertawa.
“Belom, yah… eh, pak… Sekarnya aja gak ngasih ijin,” sahut Raja membuat Sekar menarik telinga Raja. “Aduh sakit, yank…” protes Raja.
“Hla ini kenapa bisa mau pingsan?” tanya pak Ram lagi.
“Haduh ayah…” Kondisi Sekar mulai kembali pulih. Dia merasa lebih baik setelah mendapat pelukan dari Raja. “Kayaknya aku cuma kehausan.”
Mereka yang mendengar ucapan Sekar itu pada berteriak saling pandang.
“Aer…!”
“Mana air putihnya?”
“Mineralnya tolong dong!”
Akhirnya Raja bisa bernafas dengan lega setelah kondisi Sekar semakin baik. Para nahkoda yang berdiri memandangi kejadian barusan ikut merasa lega. Mereka melambaikan tangan untuk para penumpang kapal itu.
Suara speaker yang yang berada di setiap sudut deck mulai mengeluarkan instrument musik. Kapal phinisi dengan design interior modern itu mulai bergerak menjauhi dermaga.
_____
Saat ini para awak kapal yang sudah ditugaskan Ben untuk bertanggungjawab pada bagian masing-masing sedang melakukan briefing di deck tempat nahkoda.
“Mas bartender jangan lupa loncengnya dibunyikan untuk mengawali party nanti malam.”
“Well noted kak Ben!” (Dicatat kak Ben!) Sahut bartender laki-laki.
“Pastikan semua flute gelas champagne harus kinclong tanpa bercak tangan! Tamu kita malam ini semua kategori VVVVIP. Okey…?” Ben mengkerlingkan matanya ke bartender yang berbadan besar itu.
“Ok… Next…” Celetuk Lia bagian dapur, sedikit menyindir Ben agar fokus memimpin briefing.
“Ok…” Ben mulai kembali fokus. “Untuk masakan pastikan semua daging dimasak sampai matang… Mau paha kambing, paha ayam, paha kuda… Dagingnya harus cantik dihidangkan…”
“Well noted kak Ben!... Mmm... Tapi bukannya menu utama kita kali ini seafood ya? Kok jadi ada kambing? ayam? kuda?” tanya Lia mengingat BEO (Banquet Event Order) pada emailnya. (BEO: sejenis rangkuman acara)
“Hihiii… Sorry kakak cantik. Maksud saya lobster, ikan, cumi dan semua seafood harus dimasak sampai matang…” Ben mulai menatap laki-laki yang biasa bertugas untuk dekorasi.
“Selanjutnya untuk bagian dekorasi pastikan tidak ada bunga yang terbang ke laut karena itu akan merusak ekosistem dan biota laut.”
“Alamak… Mana bisa gitu? Kita aja kalau kena badai bisa jatuh ke laut. Ini sebiji bunga pun gak boleh terbang?” protes laki-laki paruh baya yang bertugas pada bagian dekorasi. “Kalau gitu jangan bikin acara di kapal… Di ballroom hotel aja yang tertutup rapat,” bisiknya masih memprotes ucapan Ben.
“Ok… Ok… semua... mari kerjA kerjA kerjA!” Ben menepukan tangannya menandakan briefing sudah selesai. “Kita SukSesKan wedding pak Raja dan nyonya baru kita!” Begitulah briefing yang dipimpin Ben sebelum acara dimulai.
*****
Bersambung…
*****