
Riko pun jadi semakin yakin ia akan terlibat lagi dengan orang-orang aneh, terutama dengan seseorang siswi yang baru saja ia tolong, rasanya ada sesuatu yang tidak beres dengan orang itu.
“Oiya, kamu sekarang kan sudah aman jadi aku pergi dulu ya, aku masih ada urusan lain,” ucap Riko yang tampak tak tenang.
“Ehh ... tunggu sebentar! kenapa terburu-buru, hehe ... perkenalan dululah,” balas siswi itu dengan wajah berseri.
“Hahh ....”
“Perkenalkan, namaku Lisa dari kelas 8A, senang berteman denganmu.”
“Hahh ....”
“Kok 'hahh' terus sih, namamu siapa?” tanya Lisa yang tampak bersemangat.
“Aku Riko, masa ga tau sih! memangnya kau tak pernah mendengar para penggosip di sekolah ini, semua orang tahu siapa aku,” pekik Riko yang semakin kesal.
“Tidak kok, sepertinya kamu tidak seterkenal itu, aku aja ga tahu.”
“Kau saja yang kurang update.”
“Apa kamu selebriti atau semacamnya?” tanya Lisa kebingungan.
“Bukanlah! aku ini berandalan yang dibenci semua orang, masa ga tau mereka suka menyebutku psycho playboy,” balas Riko dengan mood yang langsung menurun.
“Ohh ... aku pernah dengar sih, tapi aku ga tau kalau itu kamu, hmm.”
“Ya sudah kalau sudah tahu, aku pergi dulu ... kau juga takkan berurusan dengan orang sepertiku,” balas Riko acuh.
“Kita sudah menjadi teman, jangan begitu dong! apapun yang kau lakukan aku tetap di pihakmu,” sahut Lisa penuh obsesi.
“Maaf ya, sekarang aku sudah malas bermain kucing-kucingan dengan para siswi sekolah ini, aku punya masalah yang lebih penting, kau kembali saja seperti biasa, aku hanya kebetulan lewat dan membantumu, jadi aku pun tak berniat mencari teman,” ucap Riko acuh.
Aura Gelap gadis itu semakin terpancar jelas, Riko jadi semakin kebingungan. Ini memang bukan urusannya, tetapi melihat gadis itu menjadi suram seperti itu juga sepertinya bukan hal yang baik, bagaimana jika gadis itu diambil alih oleh iblis kemudian balas dendam padanya, benar-benar tidak lucu bukan.
Riko mencoba untuk menenangkan gadis itu, walau tampaknya dari luar gadis itu berekspresi biasa saja, tetapi aura gelapnya tidak bisa berbohong.
‘Para hantu kecil ini akan semakin mempengaruhinya jika tak segera aku hentikan, mereka akan benar-benar menyatu dan merasuki orang ini, apa yang harus aku lakukan?’ pikirnya bimbang.
Ia merasa kesal melihat para phantom bug itu semakin leluasa berekspolorasi dalam pikiran gadis itu, mereka seakan mengolok-olok Riko yang begitu payah menangani seorang gadis. Ia kembali naik pitam dan ketiga kalinya menggebrak buku diatas kepala gadis itu.
Riko pun kembali menepuk jidat.
‘Apa yang sedang aku lakukan? bodoh sekali sih, dia pasti jadi semakin membenciku.’
“Ahahaha ... kau memang teman yang unik ya,” ucap lisa sambil terkekeh.
‘Ehh... kenapa? kok dia tertawa? wajah suramnya tadi bisa langsung berseri, eh ... memangnya ada apa? aku tadi melakukan apa? kok dia langsung ceria lagi sih?’ bhatin Riko kebingungan.
“Hei ... kok bengong sih, apa ada yang salah?” tanya Lisa penasaran.
“Ah, tidak kok! aku minta maaf sudah memukulmu tadi.”
“Oahh ... tidak masalah, aku mengerti kok! kau pasti melakukannya secara refleks, bisa diterima sih ... kebiasaan preman saling memukul untuk berinteraksi dengan temannya itu hal biasa,” sahut Lisa bersemangat.
‘Ehh ... siapa juga yang mau berteman, GR banget ini orang! tapi, okelah ... walaupun cuma salah paham setidaknya itu bisa menyelamatkanku.’
“Hei Riko ... kalau sesama teman saling memukul berarti aku juga boleh memukulmu, benar bukan?” tanya Lisa dengan antusias.
“Ehh .. iya, silahkan.”
Tanpa ragu Lisa mendaratkan pukulan keras di wajah Riko, ia tampak bersemangat dan merasa puas.
‘Apaan ... ini sih balas dendam namanya, sialan!’
“Bagaimana temanku, pukulanku cukup bagus bukan?” tanya Lisa lagi.
“Ahh ... iya-iya, kau sangat hebat ... ahahaha.”
“Ngomong-ngomong aku ingin tahu bagaimana sejarahnya kau bisa jadi berandalan terkenal?” tanya Lisa penasaran.
“Haah ... itu bukanlah hal menyenangkan yang begitu gampangnya bisa diceritakan.”
“Kita sudah berteman, aku mungkin bisa memikirkan solusi yang bagus.”
Ia terus menatap ke arah Riko dengan mata berbinar yang penuh harap.
“Baiklah, aku akan memberitahumu tapi setelah ini kau jangan menggangguku lagi, aku punya banyak urusan dan kau juga silahkan lanjutkan saja kegiatanmu,” balas Riko cuek.
“Baiklah, tapi kau beritahu aku dulu.”
“Akan aku ceritakan secara singkatnya saja, waktu itu hari pertama aku menjadi siswa SMP, semuanya masih baik-baik saja, sampai hari itu terjadi ....”
Flashback :
Waktu itu adalah tahun pertama Riko bersekolah di sana, seorang siswi menyatakan perasaan padanya, akan tetapi Riko menolaknya. Namun, walaupun demikian ia tetap bersikeras mengejarnya, rasanya ia pun terpaksa harus menerimanya.
Dia sangat baik padanya, tetapi Riko selalu mengacuhkannya. Hingga suatu saat Riko ingin segera mengakhiri hubungan palsu itu, tetapi sayangnya gadis itu sudah terlanjur kecewa saat itu.
Ia dan teman genknya mencoba terus menjatuhkannya, tetapi tak selalu berakhir baik, dan akhirnya mereka sudah benar-benar muak padanya, lalu memutuskan untuk mengeroyok Riko beramai-ramai, tentu saja ia juga tak bisa diam begitu saja.
Dan saat itulah Riko terlibat perkelahian besar hingga menjatuhkan reputasinya dengan sangat buruk, saat itu ia tidak memiliki sekutu maupun bukti yang kuat, jadi mereka semua menuduhkan kekacauan itu semua disebabkan oleh Riko.
Hari-hari berikutnya semua orang menjauhinya, dan saat itulah ia benar-benar telah menerima status penjahat, setelah itu ia sudah tak peduli lagi tentang reputasinya yang sudah hancur dan akhirnya aku hanya membalas semua itu dengan menjadi berandalan sungguhan.
Kurang lebih seperti itulah pengalaman Riko sebelum ia menerima gelar berandalannya.
“Di sini aku hanya di jebak oleh orang-orang sialan itu, mereka menuduhku dengan begitu kejamnya,” jelas Riko yang tampak kembali emosional.
“Jadi seperti itu ya, tapi kenapa kau tak membalas perempuan brengsek itu?” tanya Lisa yang juga ikut merasa kesal.
“Biarkan sajalah, yang lalu itu sudah berlalu, anggap saja ini adalah karma dari dosa-dosaku.”
“Tidak bisa begitu, kau tidak bersalah mengapa harus menerimanya.”
“Ahh ... lupakan saja, sekarang aku masih punya harapan kok, tenang saja! aku akan lebih memperhatikan sikapku lagi agar tidak sampai dikeluarkan dari sekolah, untungnya kepala sekolah masih peduli denganku.”
“Tapi kenapa kau tiba-tiba ingin bertahan, kau sendiri mengatakan tidak peduli jika dikeluarkan.”
“Iya, memang waktu itu aku sudah tidak peduli lagi, tapi kurasa sekarang aku berubah pikiran, setidaknya aku akan membuktikan pada mereka semua, bahwa aku itu orang yang pantas dan setara dengan mereka.”
“Baguslah kalau begitu, aku hanya penasaran apa yang membuatmu berubah pikiran.”
“Aku ....”
Riko kembali membayangkan di mana harinya mulai bangkit untuk bertaruh pada seseorang. Ini cukup baik untuknya, ketika mengingat saat pertama bertemu dengan orang itu dan menaruh harapannya sekali lagi padanya. Ia tersenyum tulus saat membayangkan wajah orang itu.
Lisa menatapnya cukup serius penuh dengan rasa penasaran. Namun, saat melirik kembali pada buku yang masih dipegang Riko, ia kembali tersadar untuk menanyakan sesuatu lagi padanya.
“Hei Riko ... sebenarnya aku masih penasaran, emm ... bisakah kau beritahu aku siapa nama gadis itu?” tanya Lisa ambisius.
“Haahh ... gadis yang mana?”
“Dia orang yang sudah menjebakmu dulu.”
“Kenapa kau menanyakan hal itu, jangan bilang kau akan melakukan sesuatu padanya, aku sarankan kau abaikan saja cerita tak pentingku tadi, lagi pula aku sendiri sudah melupakannya, masalah dulu biarkan berlalu dan masalah sekarang aku akan menyelesaikannya sekarang,” balas Riko yang sedikit lebih tenang.
“Bukan begitu, aku hanya penasaran saja ... aku akan membiarkanmu pergi setelah ini, jadi kau katakan dulu siapa orang itu?”
“Lupakan saja, aku masih ada urusan lain, kau belajar saja yang giat.”
“Hahh ... kau tak percaya padaku?”
Aura gelapnya menyebar lagi, gadis itu memang orang yang ambisius. Jika menghendaki sesuatu maka ia harus mendapatkannya. Riko merasa lelah dengan penglihatan level hantunya. Jika begini terus ia jadi tak enak hati.
Sebenarnya ia bukan takut jika ia dibenci, tetapi setelah mengetahui banyak hal, ia jadi sedikit paranoid, bagaimana jika iblis benar-benar akan menelannya, terlebih lagi ia masih memiliki janji yang belum dipenuhi. Akhirnya setelah menarik napas yang cukup panjang ia pun mau menjawab pertanyaan Lisa.
“Oke, aku akan mengatakannya, tapi ingat! kau harus berjanji dan memastikan untuk tidak mempermasalahkannya lagi pada orang itu dan kau jangan coba-coba berurusan dengannya, dia cukup berbahaya, jika kau tak mau berakhir sepertiku maka dengarkan kata-kataku, oke.”
“Baiklah, aku hanya penasaran saja kok!”
“Oke ... dia teman sekelasku Sheerli, dia anak orang kaya yang berkuasa, banyak pengikut, selalu dikelilingi orang penting, dijaga banyak bodyguard dan masih banyak lainnya, menyebutkannya saja sudah bikin mual, ingat kau jangan berurusan dengannya.”
“Aku mengerti!”
“Oke, sudah ya ... aku pergi dulu! sampai jumpa lagi.”
“Siap.”
Riko akhirnya bisa menghirup udara segar kembali, dan terbebas dari jeratan teman anehnya tadi. Ia menghela napas lega, mengingat atmosfernya tadi, bisa-bisa ia stress karena begitu berat dan mencekam.
Ia mulai memelankan langkahnya. Namun, tak lama kemudian ia kembali dibuat terkejut oleh seseorang yang tiba-tiba menubruknya dari samping.
“Oii ... apa yang kau lakukan, kampret!” bentak Riko
“Kau ke mana aja sih, dari tadi gue cariin ... di kelas ga ada dan ternyata kau bolos lagi, pake berantem segala, curang banget nih! ga ngajak-ngajak gue,” protes Fuurin yang selalu heboh seperti biasanya.
“Kau kan sudah lagi nyaman-nyamannya sama si empat mata, ngapain cariin gue?” sahut Riko cuek.
“Yaelah ... namanya aja baru bergabung klub masa langsung kabur, hmm ... kenapa emang kalau sama dia, kau cemburu ya?” goda Fuurin.
“Bukannya gitu, habisnya sih kau baru saja berteman denganku sudah mulai melirik yang lain.”
“Hehe, sorry-sorry ... kau tahu sendiri kan, siapa aku dan bagaimana latar belakangku, harusnya kau mengerti mengapa aku memilih bergabung.”
“Iya, tahu sih ... tapi aku eneg aja lihat si ketua itu, dan kau malah bersekongkol dengannya,” protes Riko sembari mengepalkan tangannya.
“Yah, abaikan saja ... lagi pula aku ini kan teman sekelasmu, jadi aku pasti lebih sering berinteraksi denganmu ... jangan khawatir, aku tahu kau pasti jadi kesepian jika tanpa aku kan ...,” goda Fuurin.
“GR ... siapa juga yang kesepian, huhh.”
Riko mulai mengangkat senyumnya, kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Walaupun Fuurin orangnya menyebalkan, tetapi ia memang selalu bisa menghangatkan hati orang lain.
Mereka pun berjalan bersama untuk kembali ke kelas, tetapi di sepanjang perjalanannya terasa ada sesuatu yang aneh. Dari balik pintu terasa terus mendekat, Fuurin langsung refleks melihat ke belakang, tetapi sepertinya tak ada apapun.
Mungkin hanya perasaannya saja mengingat kejadian sebelumnya. Riko tidaklah heran dengan kewaspadaan Fuurin, wajar saja dia ini sekarang anggota klub exorcist selain itu tentang keluarganya juga, dia tahu akan hal itu tetapi untuk sekarang yang terpenting adalah kembali ke kelas dulu.
.
.
.
TBC