Roped Fate

Roped Fate
Ch.71 : Kembali Pulang



Setelah menyelesaikan aktifitas mandinya, Riko pun langsung kembali ke tempat Rion beristirahat.


“Yosh! akhirnya selesai juga, hei Rion apa kau sudah tidur?” tanya Riko sambil berjalan santai ke tempat tidur Rion.


“Eh, Riko ... emm, tadi aku sudah tertidur sih tapi mendengar kau teriak dan bertanya aku jadi terbangun lagi,” jawab Rion yang mulai bangkit dari tidurnya.


“Hee ... harusnya kau tak perlu menjawabku, huft ... eh, ngomong-ngomong kau tidur kenapa masih belum pakai bajumu? tidak etis sekali hmm,” sindir Riko sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Bukan begitu, biasanya aku selalu memakainya ... tapi sekarang, perban ini terlalu tebal dan tidak beraturan ... pastinya akan tidak nyaman jika memakai baju luaran, makanya sampai besok aku biarkan seperti ini,” balas Rion agak canggung.


“Oh, salahku lagi ... hmm, yasudah kau lanjutkan saja tidurmu, kalau mau makan atau butuh sesuatu bilang saja, aku akan beristirahat di sana sambil menunggu ayah kembali,” sahut Riko sambil berpindah ke sofa di sebelahnya.


“Baiklah, kalau sudah ngantuk dan ayah belum kembali, kau bisa langsung tidur di sini ... jika urusannya sudah selesai dia mungkin akan kembali tengah malam,” balas Rion.


“Aku akan menunggu sampai ayah kembali, aku masih ingin bermain dengannya ... kau tidur saja lebih dulu,” jawab Riko dengan cukup bersemangat.


“Okelah, terserah kau saja ... tapi jangan sampai ketiduran di sana ya, nanti kau bisa nyungsep ke lantai,” sindir Rion sebelum menarik kembali selimutnya.


“Tcih! tak perlu memberitahuku,” balas Riko acuh.


****


Keesokan paginya, Riko pun terbangun di tempat tidur yang lapang. Kemudian mulai melihat sekitarnya sembari mengucek-ngucek matanya.


“Riko, kau sudah bangun? mandi dulu sana, setelah itu kita sarapan bersama sebelum berangkat pulang,” ucap Rion yang sedang berdiri sambil membereskan barang-barang mereka.


“Eh, kenapa aku bisa tidur di sini? di mana ayah?” tanya Riko kebingungan.


“Mungkin sedang ada urusan, jangan khawatir ... tadi malam kau ketiduran, mungkin ayah yang memindahkanmu ke sini, jadi ayo bergegas! kau siap-siap dulu, nanti kita pergi ke aula depan, di sana ada paman dan sepupumu ... kemarin mereka menonton pertandingan tapi belum sempat menemuimu, jadi hari ini mereka akan menunggu di depan untuk sarapan bersama,” jelas Rion sembari tersenyum tipis.


“Oh, baiklah ... kalau begitu aku mandi dulu, kau duluan saja!” jawab Riko yang langsung bergegas ke kamar mandi.


“Umm.”


Setelah selesai mengemas barang-barangnya, Rion pun membuka pintu untuk menghirup udara pagi. Namun, di saat yang bersamaan ia pun dibuat terkejut oleh kedatangan seseorang.


“Kau ... Tian bukan?” tanya Rion penasaran.


“Iya kak, aku Tian salam kenal ya ... oiya, kak Riko ada di sini?” tanya Tian ramah.


“Iya, salam kenal juga ... aku Rion, dan yahh saat ini Riko sedang mandi, mari tunggu di depan saja ... aku sudah memberitahunya tadi,” jawab Rion dengan lembut.


“Baik kak Rion, ayo kita ke depan dulu! sambil menunggu kak Riko, kita ngobrol-ngobrol bareng,” balas Tian bersemangat.


“Oke kalau begitu, ayo berangkat!” jawab Rion yang cukup antusias.


Akhirnya mereka pun langsung bergegas pergi ke ruang depan untuk menemui sang paman.


****


Dalam perjalanan, Tian merasa masih ada yang mengganjal dalam pikirannya. Ia selalu ingin menanyakan tentang Riko yang selalu bersikap dingin dan acuh.


“Hei kak Rion, menurutmu bagaimana keseharian kak Riko? kulihat dia tak begitu bergaul dengan orang lain, apa dia memang secuek itu?” tanya Tian penasaran.


Rion sedikit mengernyit, ia sendiri juga cukup penasaran mengapa Tian bisa menanyakan hal itu.


“Yah, sebenarnya Riko tak secuek atau dingin seperti yang kau lihat, mungkin dengan orang yang tak dikenalnya ia memang sedikit acuh, tapi jika sudah mengenal seseorang dengan baik, dia benar-benar anak yang cerewet dan banyak tingkah, ahahaha ... dia memang selalu seperti itu, ngomong-ngomong kenapa kau menanyakan hal itu?” tanya Rion lagi.


“Ya, aku hanya penasaran ... kenapa kak Riko begitu cuek padaku, padahal aku tak pernah mengganggu ataupun menyakitinya, tapi sulit sekali untuk bisa berbaur dengannya,” jelas Tian dengan muka masamnya.


“Ahahaha, kau sering-seringlah bermain dengannya ... ia pasti akan mulai terbiasa dan meresponmu,” jawab Rion dengan senyuman ramah di wajahnya.


“Begitu ya, berarti aku harus selalu mengganggunya agar dia lebih memperhatikanku, begitu?” tanya Tian untuk memastikan lagi.


“Ya, kurang lebih seperti itulah,” balas Rion canggung.


Sempat terdiam sejenak sebelum Tian mulai mengajukan pertanyaan lainnya.


“Hmm, saat di rumah apakah kak Riko selalu kesepian? mengingat paman Sen yang selalu sibuk, bahkan semalam saja kulihat dia masih sibuk dengan urusannya sampai-sampai tak sempat mengurus ataupun menemui kak Riko, rasanya agak kasihan melihatnya seperti itu,” ucap Tian agak sedih.


“Memang benar, dia selalu kesepian meskipun hari-harinya hanya diisi dengan latihan, tentunya dia juga pasti pernah merasa jenuh dengan kehidupan monotonnya, tapi mau bagaimana lagi ... dia juga masih belum bisa menerimaku dan ibu untuk menjadi bagian keluarganya, karena itu ia cukup dendam akan keberadaan kami, meski begitu aku tahu sebenarnya dia anak yang baik, yah ... terkadang dia juga bisa perhatian saat aku sedang kesulitan,” jelas Rion dengan lembut.


“Begitu rupanya, sayang sekali ... satu-satunya orang yang paling ia percaya malah tak selalu ada menemaninya, kalau seperti itu ... lebih baik kak Riko tinggal di rumah kami saja, kak Rion juga biar rame,” usul Tian yang terlihat bersemangat.


“Tidak semudah itu, masing-masing dari kami pastinya memiliki misi hidup tersendiri dan untuk mencapai hal itu tentunya tak ada kata bersantai setiap harinya,” balas Rion dengan senyuman elegannya.


“Hmm, merepotkan sekali ... memangnya kakak bahagia hidup seperti itu?” tanya Tian lagi.


“Tentu saja tidak, tapi aku lebih tak bahagia lagi jika tidak melakukan semuanya dengan baik, dunia akan menghancurkanmu jika kau menunjukkan sisi lemahmu,” jawab Rion dengan lembut.


“Kalau begitu aku juga akan ikut membantu yosh! mulai sekarang kita bekerjasama untuk saling membantu dan mendukung, dengan begitu kakak dan kak Riko tidak perlu kesulitan lagi,” ucap Tian bersemangat.


Sambil tersenyum Rion kemudian mengusap-usap kepala Tian dengan lembut.


“Baiklah, dan satu hal lagi ... tolong kau jangan katakan pada Riko bahwa ayahnya tidak kembali tadi malam,” pinta Rion.


“Siap!” seru Tian patuh.


Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka berdua sampai di aula depan, kemudian bergabung di salah satu meja tempat kerabatnya berkumpul.


“Selamat pagi nak Rion, silahkan duduk dulu ... Tian juga,” sapa sang paman dengan ramah.


“Baik paman ... terima kasih,” jawab Rion sembari mengambil tempat duduknya.


“Bagaimana pagimu, apakah sudah lebih baik? kemarin bibi lihat kamu begitu kelelahan,” tanya bibi dengan penuh perhatian.


“Sudah lebih baik kok, sebentar lagi hanya menunggu ayah dan Riko, kami akan segera kembali pulang,” jawab Rion santai.


“Ah begitu, ngomong-ngomong bibi belum melihat Riko pagi ini ... apakah dia masih tertidur?” tanya bibi lagi.


“Dia sedang bersiap-siap, mungkin sebentar lagi akan kemari, aku sudah memberitahunya tadi,” balas Rion singkat.


“Baiklah, kita akan menunggunya bergabung nanti,” sahut bibi yang cukup bersemangat menunggu bergabungnya Riko.


“Ngomong-ngomong ayahmu belum kembali juga, kulihat dia begitu sibuk ... apakah ada misi mendadak dari organisasi?” tanya sang paman yang cukup penasaran.


“Entahlah, beliau tak memberitahu apapun ... hanya memintaku untuk menjaga Riko, tentu saja aku tak memberitahu hal ini pada Riko, dia pastinya akan kecewa jika mengetahui itu,” jelas Rion yang juga bimbang dengan kesibukan kedua orang tuanya.


“Ya sudah, kalau begitu kalian berdua sering-seringlah bermain ke rumah kami, Tian juga pasti akan senang dengan kehadiran kalian berdua,” ajak pamannya dengan hangat.


“Terima kasih atas ajakan kalian, mungkin lain kali jika ada waktu luang kami akan mengunjungi paman sekeluarga,” jawab Rion dengan ramah.


Di tengah asyiknya perbincangan mereka, tiba-tiba Riko muncul sembari berlari kecil menghampiri mereka di sana.


“Yo! pagi semuanya ... maaf agak telat, tadi ada sedikit urusan,” sapa Riko sambil membawa tas dan perlengkapannya.


“Silahkan duduk nak Riko,” ucap bibi sambil tersenyum ramah.


“Ah terima kasih bibi,” balas Riko singkat.


Sang bibi pun kemudian menuangkan teh dan menghidangkan beberapa cemilan untuk Riko dan yang lainnya.


“Nak Riko, setelah ini apa kamu ada acara lain?” tanya bibinya lembut.


“Aku hanya sedang menunggu ayah agar segera pulang untuk bisa latihan secepatnya,” jawab Riko dengan sedikit ambisius.


“Jangan terlalu memaksakan diri, kamu juga perlu istirahat lho!” seru sang paman.


“Iya kak Riko, sesekali mampir dan bermain ke rumah kami ... aku juga ingin bermain bersama kak Riko dan kak Rion,” sambung Tian yang cukup bersemangat dan berharap Riko menyetujuinya.


“Maaf, tapi aku tak berniat untuk bermain ... aku bukan bocah sepertimu,” balas Riko dengan kalimat pedasnya.


Rion pun seketika menepuk jidat, adik tirinya benar-benar tidak tahu etika dan sopan santun. Ia sedikit khawatir itu akan menyakiti perasaan Tian.


Riko hanya mengernyit sedikit bingung melihat reaksi yang lainnya tiba-tiba terdiam, dalam hatinya ia hanya berpikir mungkin saja Tian akan menangis karena jawabannya tadi.


Tian sempat menatap Riko sejenak kemudian mengkerucutkan mulutnya sembari menggerutu.


“Baiklah kalau tak mau bermain denganku ...,” ucap Tian dengan sepotong kalimat yang tak lengkap.


Tanpa menunggu jeda yang lama Tian pun mengambil tas Riko, lalu mengeluarkan seluruh isinya yang kemudian menginjak-injak benda-benda berharga milik Riko di hadapannya.


“Aku akan hancurkan semua mainanmu agar kau tak bisa bermain sendirian lagi, hahah!” lanjut Tian dengan emosi yang berapi-api.


“Oi ...  kau benar-benar sudah gila ya! beraninya menginjak-injak benda berhargaku, awas saja kau ya!” bentak Riko yang semakin kesal.


Karena sudah terlanjur kesal, Riko pun mengambil sebilah penggaris untuk menyerang Tian, tetapi tak semudah yang ia bayangkan. Tian cukup lincah dan penuh energi untuk menghindari serangan Riko.


“Hei kalian ini, pagi-pagi sudah ribut begini ... malu dilihat orang-orang,” lerai pamannya.


Namun, meskipun begitu mereka berdua tetap tak mengindahkan arahan sang paman.


“Huft, mereka berdua benar-benar ... kalau sudah begini aku akan kerepotan mengurus mereka kedepannya,” gumam Rion yang sedikit kesal sambil menghela napas.


Mereka berdua terus saja berlarian ke sana ke mari dan tak ada yang mau mengalah sama sekali. Tian yang berlari dengan cepat ke arah Rion kemudian melompat ke arahnya.


“Kak Rion! selamatkan aku ...,” rengek Tian sembari memeluk erat sepupunya itu.


“Hei sudahlah, kalian sebaiknya berhenti dan lanjutkan sarapannya, jangan membuang-buang waktu dan tenaga ... hari ini masih ada perjalanan lagi, jadi simpan saja kegaduhan hari ini untuk di lain hari,” tegas Rion sembari mencoba menurunkun Tian yang tengah menjerat lehernya dengan kuat.


“Aku gak mau turunlah, mau digendong kakak Rion dulu,” ucap Tian yang tiba-tiba menjadi manja.


“Oi, minggir kau iblis kecil! menjauh dari Rion dia bukan kakakmu atau siapapun ... berhenti bermanja-manjaan seperti itu, tidak cocok sama sekali!” bentak Riko sembari berusaha menarik Tian agar menjauh dari Rion.


Cukup lama bergulat akhirnya Tian pun melepaskan Rion dan kembali menjauh. Cukup merasa lega akhirnya Rion bisa kembali berdiri dengan tegak.


Riko yang masih tak terima kemudian berlari untuk memeluk kakaknya.


“Kau jangan berani dekat-dekat lagi, awas kau nanti!” teriak Riko mendeklarasikan perang persaingan terhadap adik sepupunya.


Rion yang melihat kelakuan overprotective dari adiknya hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala.


“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan ... luka kemarin tidak berpengaruh besar terhadap aktifitasku saat ini, jadi jangan khawatirkan soal itu,” lirih Rion sembari mengusap-usap kepala adiknya.


“Tidak bisa begitu, seorang pemanah tak boleh memiliki luka apapun pada tubuh mereka, karena itu akan seperti cacat yang tidak dilihat orang lain, berhenti berdalih lagi ... meskipun kau menyebalkan, aku juga ingin melindungimu,” balas Riko dengan sedikit terbawa suasana.


Sebenarnya Rion sedikit terkejut dengan pernyataan adiknya, karena biasanya ia memang sangat sulit menerima keberadaan kakaknya. Namun, ia tahu kalau Riko memanglah seperti itu. Meskipun selalu bersikap tidak sopan, tapi dalam hatinya adalah orang yang baik hanya saja karena kebenciannya ia pun menutup hatinya hingga menghancurkan emosi dan moralnya saat ini.


'Tidak perlu khawatir, aku cukup lega kali ini ... setidaknya dia tidaklah begitu membenciku,' bhatin Rion tenang.


Setelah perseteruan berakhir, mereka pun kembali melanjutkan sarapan yang sempat tertunda sebelumnya.


Tak lama berselang ketika mereka tengah bersantai, sang ayah pun tiba di sana kemudian memanggil kedua putranya mengajak untuk segera berangkat.


Dengan wajah berseri Riko pun berlari menemui ayahnya, sementara Rion yang masih terdiam hanya tersenyum lega, di saat yang bersamaan pula, Tian mendatangi Rion dengan mood yang cukup baik.


“Kak Rion! ternyata saran kakak benar-benar berhasil ... kak Riko akan lebih memperhatikanku kalau aku mengganggunya hehe,” ucap Tian dengan perasaan bangga.


“Iya sih, tapi gak gitu juga konsepnya ... dia bisa saja membencimu jika kau sudah keterlaluan,” balas Rion yang cukup geregetan dengan adik sepupunya itu.


“Jangan khawatir, aku sudah mulai paham dengan situasinya ... jadi serahkan saja urusan itu padaku,” sahut Tian dengan penuh percaya diri.


“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa lagi di lain kesempatan dan terima kasih atas sarapan yang sudah dihidangkan bibi dan paman,” balas Rion sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.


Karena tak ada lagi kegiatan yang perlu diselesaikan di sana, mereka pun bersiap untuk segera berangkat pulang.


Tian beserta kedua orang tuanya juga ikut mengantar sampai gerbang depan.


Setelah mobil mereka melaju dan meninggalkan tempat itu, Tian sekeluarga pun juga mulai berhanjak pergi dan kembali ke gedung kontes.


Sedangkan Riko dalam perjalanannya cukup bersemangat menatap ke arah jendela mobil, pemandangan yang hijau dan sejuk membuat moodnya tetap terjaga, kemudian ia mencoba mengajukan pertanyaaan kepada sang ayah mengenai tujuan mereka setelah ini.


“Ayah, apakah kita akan langsung pulang setelah ini?” tanya Riko penasaran.


“Benar, tapi sebelum itu kita akan menjemput ibu Diana terlebih dahulu ke SANGU exorcist resources,” jawab sang ayah dengan lembut.


“Oh, memangnya dia tak bisa pulang sendiri? harusnya orang dewasa bisa lebih mandiri,” sahut Riko ketus.


“Sekarang kita adalah keluarga jadi tak boleh terlalu berhitungan, jangan khawatir tidak akan lama kok, jalannya masih searah,” jelas sang ayah yang mencoba untuk menasehati Riko.


“Huh, okelah ... terserah ayah saja yang penting jangan berlama-lamaan lagi,” balas Riko dengan cueknya.


Setelah perdebatan kecil mereka berakhir, mobil pun melesat ke tujuan dengan cepat. Namun, bahkan setelah perdebatan itu Rion hanya terdiam menatap keluar, meskipun pagi yang cerah itu terlihat baik-baik saja, ekspresinya tidak menunjukan emosi yang bahagia. Ia tampak sedikit gelisah, tetapi juga dingin.


Melihat hal itu Riko hanya mengernyitkan alis dan mengabaikannya. Ia hanya ingin segera pulang dan menyelesaikan tugas-tugasnya agar segera bisa berlatih.


.


.


.


TBC