
Setelah mengajak Juan berkeliling sekolah, Andi langsung mengantarnya pulang. Saat ini hubungan keduanya masih terlihat formal, hanya saja ia tak sekesal seperti sebelumnya, tapi itu pun belum bisa dikatakan berdamai.
Walaupun demikian, itu juga bukanlah masalah yang besar bagi Juan, yang terpenting sekarang adalah agar ia bisa segera sampai di rumah dengan selamat.
.
.
Di sisi lain, Riko merasa begitu kelelahan saat ini. Sepulang sekolah ia langsung berbaring di kamarnya, mengingat banyak kejadian menegangkan yang telah dilewatinya, walaupun dengan mood yang masih belum membaik, Riko kembali dibuat penasaran untuk mencari tahu, lantas ia membuka mesin pencarian google mengenai tentang iblis maupun exorcist.
Sudah cukup lama ia mengunjungi beberapa website, tetapi tak ada satupun artikel yang bisa menjawab rasa ingin tahunya, ia pun berpikir bahwa kegiatan exorcist itu memang dirahasiakan untuk publik.
‘Hmm ... berapa kali pun aku mencari tahu, tapi di sini tak ada yang memuat tentang kegiatan mereka secara akurat, ini malahan muncul yang aneh-aneh, bagaimana sih ini yang nulis.’
Riko terus berpikir hingga mulai putus asa, lalu menutup kembali jendela pencariannya. Niatnya ingin belajar dan mencari tahu bagaimana cara bertarung menjadi exorcist, tetapi tampaknya itu tak semudah yang ia bayangkan, tak ada cara lain selain bergabung dengan klub exorcist di sekolahnya, tapi ia juga tak berharap untuk itu.
Riko masih tetap bersikeras untuk tidak mau bergabung, karenanya ia akan terus mencari cara lain yang lebih efektif tanpa harus melibatkan Andi dan klub exorcist.
Sebenarnya Riko merasa kesal dengan dirinya sendiri, bahkan ia pun belum sempat minta maaf pada seniornya. Namun, karena gengsi lebih tinggi daripada hati, ia terus menunda-nunda kata maafnya.
“Oii ... kakak sialan! mau sampai kapan kau berdiam diri di kamar, makan malam sudah siap ... kalau tak mau makan sisa-sisa, kau cepat datang,” teriak Tian dengan lantang.
“Adik beracun ... berisik! awas saja kalau kau berani habiskan semua, gue gantung lu di pohon toge,” ancam Riko.
“Makanya cepetan dong!”
Riko pun bangkit dan langsung keluar dari kamarnya untuk makan malam bersama.
Malam menjelang tidur Riko sudah tak bisa menahan kantuk lagi, ia langsung terlelap begitu saja.
.
.
Esok pagi, langit yang baru mulai menyambut, Riko bangun masih dengan terpaksa. Ia merasa sedikit mengantuk tapi melihat jam saat ini, mau tak mau ia harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Riko langsung bergegas karena waktu sudah pas-pasan. Namun, sebelum ia berangkat, Tian datang untuk mencegatnya.
“Oii, Tian ... kau ada masalah apa lagi? pagi-pagi sudah mencegatku?” tanya Riko yang mulai jengkel.
“Sebentar saja lah, aku cuma mau titip ini saja kok.”
Tian mulai mengangkat kotak makanannya untuk ditunjukan pada Riko.
“Jangan bilang kau mau titip ini untuk diberikan si jamur Juan itu,” ucap Riko curiga.
“Yup ... tepat sekali! dan yang ini untuk kakak Andi,” balas Tian dengan wajah berseri.
“Sialan, adik durhaka! kau berikan dua orang itu, tapi tak satupun untuk kakakmu,” protes Riko.
“Ini hanya untuk para calon pendampingku di masa depan nanti, kakak ini kan keluarga, jadi tidak dihitung, hmm ...,” balas Tian polos.
“Modar kau adik kurang ajar! sudah gue bilang lu masih bocah, jangan bicara soal masa depan,” bentak Riko yang semakin kesal.
“Memangnya kenapa?”
“Di jalan ... kau jalan lurus saja ke depan, jangan belok sana sini, kalau gak mau keserempet, ngerti kau!”
“Bilang apaan sih? nih, pokoknya bawain aja, oke!”
Walau seheboh apapun ia menentang, pada akhirnya ia akan tetap mengikuti kemauan adiknya itu.
Sebenarnya ini cukup berat untuknya, jika hanya Juan saja sih tidak masalah, tapi jika dengan Andi juga ... ia jadi kembali bingung, bagaimana caranya mengantarkan kotak makanan tersebut tanpa harus bertemu langsung dengannya.
Jika dihabiskan sendiri, rasanya bukan ide yang bagus, bagaimana jika adiknya mengetahui hal itu. Dari berbagai argumentasi yang telah ia rundingkan dengan dirinya sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk menitipkannya saja pada Fuurin, mungkin ini adalah pilihan yang terbaik.
Sampai di sekolah ia langsung bergegas pergi ke kelas untuk memberi titipan itu pada Juan, ia juga berharap bahwa semoga saja di kelas masih belum ramai.
‘Jika sampai yang lainnya melihat, mereka pasti akan berpikir macam-macam, entah itu meracuni orang atau apalah itu pikiran yang buruk,’ pikir Riko rumit.
Ia terus mencoba untuk tidak memikirkan hal itu. Namun, di tengah perjalanan, sialnya ia bertemu dengan ketua klub, ia bingung harus berbuat apa? Seharusnya ini adalah waktu yang tepat untuk memberi titipan Tian tadi, tetapi ia tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya. Andi tentu menyadari rasa canggungnya saat ini.
“Hei, kenapa kau? ada yang ingin kau katakan? katakan saja,” ucap Andi tegas.
“Ini ... ada titipan dari Tian adikku, kau ambil saja dan jangan protes! kalau tidak, dia bisa ngamuk nanti,” sahut Riko acuh sembari menyodorkan kotak makanan tadi.
“Oh ... baiklah, kalau begitu sampaikan terima kasihku padanya,” pinta Andi.
“Oke ... aku pergi dulu.”
“Tunggu sebentar, nanti setelah jam pelajaran pertama berakhir, datanglah ke klub!” seru Andi.
“Bukankah klub exorcist sedang libur dalam beberapa hari, lagi pula aku bukan anggota klub, jadi untuk apa aku pergi ke sana,” balas Riko yang masih saja cuek.
“Bukan sebagai anggota, aku mengundangmu sebagai tamuku.”
“Okelah ... tapi aku akan mengajak Fuurin juga.”
“Tidak masalah, kalau begitu ... sampai nanti ya.”
Riko kembali melanjutkan perjalanannya ke kelas. Dan seperti dugaan, ternyata hari ini sudah ada cukup banyak murid yang hadir di kelas. Ia sangat kesal pada Tian, gara-gara orang itu, ia jadi harus melewati banyak hal yang tidak menyenangkan.
“Oii ... Archea! ini ada titipan dari Tian, kau ambil saja ... jangan banyak protes!” ucap Riko cuek.
“Oh, tumben kau panggil aku seperti itu, santai saja lah! kau bisa panggil namaku seperti biasanya,” balas Juan santai.
Riko mulai memperhatikan orang sekitar. Dan seperti biasa, tatapan tidak menyenangkan dari mereka selalu memancing emosi yang tak karuan.
‘Lihat kan! para sialan itu pasti tak senang melihatku,’ umpatnya dalam hati.
Tak lama kemudian, datang Fuurin dan masuk ke kelas sembari menyapanya heboh.
“Bukan gue yang datang awal, tapi kau saja yang kesiangan, ini sebentar lagi sudah bel masuk kelas tahu,” balas Riko sinis.
“Hehehe ....”
“Oiya, istirahat nanti kau ikut denganku ke klub ya! si empat mata yang nyuruh,” ucap Riko.
“Ehm ... sudah baikkan nih?” tanya Juan bermaksud menggodanya.
“Enggak lah! cuma ada beberapa urusan saja, kami tetap masih musuhan.”
“Aku boleh ikut gak?” tanya Juan lagi.
“Gak! kau cuma figuran, lain kali saja.”
“Haahh ... membosankan sekali sih.”
DING ... DONG ....
Setelah bel berbunyi mereka mulai bersiap untuk menerima pelajaran seperti biasanya. Kali ini Riko memperhatikan pelajaran cukup baik, ia sudah memutuskan untuk mulai berusaha lebih giat agar bisa menaikkan reputasinya kembali.
Fuurin cukup senang melihatnya seperti itu, setidaknya usaha ia tidaklah sia-sia, Riko memang benar-benar ingin menjadi lebih baik lagi, walaupun sikap angkuhnya tetap tidak berubah.
Sebenarnya, malahan alasan ia ingin menjadi lebih hebat salah satunya adalah agar bisa membalas mereka yang selalu menginjak-injaknya selama ini.
Setelah bel berbunyi, mereka berdua langsung pergi ke ruang klub untuk membahas sesuatu dengan ketuanya.
“Hei, Riko ... ketua mau bahas apaan ya?” tanya Fuurin.
“Mana gue tahu, tanya aja nanti.”
“Heeh ... ngomong-ngomong, kemarin ada apa kau dengan ketua? kok gak mau ngomong sih,” tanya Fuurin lagi.
“Dia capek gue abaikan terus, makanya jadi kesal, terus kemarin dia suruh gue tinggal di UKS tapi malahan kabur, dan ya ... begitulah ...,” jelas Riko dengan terpaksa.
“Haah ... kau kok bisa benci banget sih sama dia, padahal dia orangnya baik.”
“Entahlah, mungkin sudah takdir.”
“Hmm ... takdir maksudnya apa ya?”
“Lupakan saja, bodoh! kita fokus ke ruang klub saja.”
Setelah sampai di tujuan, Fuurin dan Riko langsung masuk untuk menemui ketuanya. Mereka mulai memeriksa di setiap ruangan tapi tak menemukan siapapun di sana. Riko pun mulai kesal, mungkinkah ketua hanya sedang mengisenginya?
“Ini apa ya maksudnya si empat mata, mau ngajakin perang nih?” gerutu Riko yang kembali naik darah.
“Jangan berpikir yang buruk dulu, ini masih terlalu awal, bel baru saja berbunyi dan kita sudah langsung pergi ke sini, mungkin saja ketua masih dalam perjalanan,” balas Fuurin dengan positif.
“Kelas dia lebih dekat dengan kelas kita, mana mungkin duluan kita yang sampai,” sahut Riko tak mau percaya.
“Mungkin dia lagi beli makanan di kantin.”
“Gak mungkinlah! adikku sudah menitipkan makanan untuknya tadi, masa iya segitu gak cukup,” balas Riko dengan intonasi yang agak tinggi.
“Terus? kenapa?”
“Tunggu sebentar! jangan-jangan dia ....”
Riko kembali teringat dan membayangkan, bagaimana seandainya jika ada iblis yang menyerang mereka lagi? Ia kembali panik dan langsung melesat keluar tanpa menghiraukan temannya di sana.
“Eh? dia pergi? terus menurutmu aku ini apa? huaa ... tidak dianggap,” ucap Fuurin dengan rengekan manjanya.
Saat Riko membuka pintu klub ia kembali terperanjat, lagi-lagi serangan jantung ringan terjadi.
“Hyaaaa ....”
Andi dan beberapa rekan klubnya sedang berdiri di depan pintu, bermaksud untuk segera masuk. Namun, tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan Riko.
“Eh, kenapa sih teriak-teriak?” tanya Ruri yang juga ikut terkejut.
“Ka-kalian, para setan exorcist ke mana saja? tiba-tiba muncul, bikin kaget saja, kalian pasti sengaja ingin menakutiku kan?” protes Riko kesal.
“Bilang apaan sih, cerewet sekali,” sahut Andi.
“Dari tadi aku sudah datang ke sini, tapi kau malahan gak ada, pasti sengaja kan? mau isengin gue.”
“Kau ini ... negatif terus pikirannya, siapa juga yang mau isengin kau, tadi kami memang baru datang,” balas Ruri kesal.
Tak lama kemudian, Fuurin pun muncul, lalu mengajak mereka ke dalam untuk membicarakannya secara baik-baik. Di dalam klub mereka di persilahkan duduk di ruang utama.
“Kau ... bukankah aku sudah memberi titipan makanan dari adikku, jadi tak ada alasan sarapan untuk hal ini, kau sengaja terlambat, bukan?” tanya Riko lagi.
“Itu dia masalahnya, aku sudah mencicipi masakkan adikmu, tapi ternyata itu tidak layak untuk dikonsumsi, itu seperti makanan setan, tingkat kepedasannya tidak bisa di toleransi lagi, yang lain juga sudah mencoba, dan kami pun segera berlari ke kantin untuk membeli minuman dingin,” jelas Andi yang juga dalam keadaan kesal.
“Oh, jadi gara-gara Tian, ya?”
Riko kembali naik pitam membayangkan kelakuan adiknya yang polos-polos dongo, membuatnya jadi malu sebagai seorang kakak.
‘Awas kau Tian, menyebalkan sekali! arghh ... kau benar-benar membuatku malu di hadapan para hewan buas klub ini.’
.
.
.
TBC