Roped Fate

Roped Fate
Ch.75 : Bangunan Tua Yang Dikelilingi Tanaman Merambat



Andi dan Riko pun mulai mengobrak-abrik isi ruangan untuk menemukan petunjuk. Namun, sayangnya tak ada satupun benda penting yang bisa mereka dapatkan. Andi sempat terdiam sambil memperhatikan sekitar, ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Sepertinya memang ada orang yang sengaja menghancurkan tempat ini dan menghilangkan semua petunjuk yang ada, entah apa tujuannya ... selain itu, segel pintu tadi juga sepertinya bukanlah segel permanen, sudah kuduga dari awal ini memang mencurigakan,” gumam Andi sembari terpaku di tempat itu.


Di sisi lain, Riko yang masih sibuk mencari di sudut tempat tiba-tiba terhenti, ada sesuatu yang membuatnya sedikit penasaran. Ia pun mengambil sesuatu yang ada di tumpukan kertas usang dan menatapnya dengan lekat.


Ia sempat terdiam sembari tersenyum getir, tampaknya penemuannya itu sedikit mengganggu suasana hatinya saat itu.


“Hei Riko! kenapa tiba-tiba terdiam, apa kau menemukan sesuatu?” tanya Andi penasaran.


“Oh, bukan sesuatu yang penting, ini hanya ... foto lama,” jawab Riko datar.


“Ahh, bolehkah aku melihatnya juga?” tanya Andi lagi.


“Tentu, silahkan saja ... ini juga bukan sesuatu yang penting,” jawabnya dingin.


“Ahahaha ... tentu saja itu sangatlah tidak penting bagiku, tapi untukmu itu pasti sesuatu yang sangat berharga, kan!” seru Andi dengan yakin.


“Tidak, sama sekali tidak ... aku hanya penasaran saja, ini juga bukan hal yang sulit untuk disimpan,” balas Riko sembari mengalihkan wajahnya.


“Pftt ... dasar tsundere, aku tahu kau pasti sangat merindukannya saat ini, ahahaha,” goda Andi.


“Sudah aku bilang tidak ya tidak, dongo! sudahlah ... ayo kita cari petunjuk lainnya,” sangkal Riko yang mulai kesal.


“Hmm ... ya okelah, kalau begitu kita cari di tempat lain lagi sepertinya di sini tak ada petunjuk apapun,” balas Andi yang kembali fokus.


“Baiklah, tapi setelah ini kurasa kita perlu berpencar untuk mempersingkat waktu, kalau memang tak ada yang bisa ditemukan kita langsung pulang saja,” tegas Riko.


“Baiklah kalau begitu,” jawab Andi singkat.


Mereka akhirnya melanjutkan kembali pencarian tadi, tak satu pun dari mereka yang berhasil menemukan petunjuk.


Beberapa waktu berlalu dan mereka belum juga menemukan apapun, Riko yang sudah mulai putus asa akhirnya menghentikan pencariannya dan memutuskan untuk bergabung ke tempat Andi.


“Sialan, perampok mana yang berani mengobrak-abrik rumahku sampai tak tersisa satupun benda berharga di sini, huft ... aku bahkan sudah merepotkan orang lain juga, sebaiknya aku hentikan saja, kita harus segera pulang,” gumam Riko sembari berjalan mencari tempat Andi berada saat ini.


Sedangkan Andi yang masih sibuk mencari petunjuk di ruangan lain pun sudah mulai kelelahan dan sedikit ngantuk, ia beristirahat sejenak di atas tumpukan berkas dokumen yang cukup tebal.


Tanpa sadar ia pun malah tertidur di tempat itu, sehingga Riko jadi agak kesulitan untuk menemukannya. Berapa kali pun berteriak memanggil namanya tetapi Andi tak memberi jawaban.


Riko sempat khawatir karena dilihat dari awal tempat itu memang sudah tidak wajar lagi, ia takut jika ini hanyalah jebakan.


Selain material dan kompenen bangunan yang menghalangi pandangan, di sana juga terdapat tumbuhan liar yang melilit di sekitarnya.


Setelah memeriksa satu persatu dari ruangan di sana akhirnya ia berhasil menemukan Andi yang masih tertidur di tumpukan berkas dokumen yang sudah usang itu. Perlahan Riko pun mencoba membangunkan Andi dengan menepuk-nepuk bahu sambil memanggil namanya dengan suara yang sengaja agak dipelankan agar Andi tak langsung terkejut.


“Hei ketua! mau sampai kapan kau molor di sini, cepat bangun!” seru Riko dengan pelan.


Tak lama kemudian Andi pun terbangun sembari mengucek-ucek matanya.


“Ah maaf, aku ketiduran kah? tadi lelah sekali dan aku sedikit ngantuk, oahm ...,” balas Andi yang masih duduk sembari mengumpulkan energi.


“Sekarang bagaimana, apa kau merasa sudah lebih baik?” tanya Riko dingin.


“Entahlah, sepertinya tambah pusing ... apa aku terlalu lama tidur di siang hari?” tanya Andi yang sedikit binggung.


“Arghhh ... kau ini!” Riko yang mulai kesal pun langsung memeriksa keadaan Andi dan suhu tubuhnya. Tanpa berdebat lagi ia meletakkan telapak tangannya pada dahi Andi untuk sekedar memastikan.


“Sudah kuduga, kau ... ayo kita segera pulang, suhu tubuhmu agak tinggi, selain itu tampaknya di ruangan ini sangat minim oksigen, kondisimu akan semakin memburuk jika terlalu lama di tempat ini,” ucap Riko yang tampaknya agak sinis.


“Okelah, sepertinya aku masih kurang istirahat ... kalau begitu ayo kita keluar dari tempat ini,” balas Andi yang cukup bersemangat.


Tanpa menjawab lagi Riko langsung berjalan keluar dari ruangan itu yang kemudian disusul oleh Andi. Belum berakhir di ruangan tadi tiba-tiba Andi tertegun dengan sesuatu yang menarik perhatiannya.


Riko yang menyadari itu pun kembali memanggil Andi.


“Kau duluan saja, tali sepatuku agak bermasalah, aku perlu perbaiki ini dulu ... kau bisa tunggu aku di depan,” balas Andi yang seketika memeriksa tali sepatunya.


“Haah! menyebalkan sekali ... yasudah aku tunggu di depan, kau jangan lama-lama ya,” balas Riko yang terlihat masih kesal.


“Hmm ... dia bahkan lebih cerewet dari biasanya,” gumam Andi sambil menghela napas.


Setelah Riko benar-benar pergi, masih dengan posisi berjongkok, Andi pun memeriksa salah satu ubin yang sedang ia pijaki sekarang. Karena terlihat cukup mencurigakan ia menyentuh beberapa bagian ubin untuk memastikan sesuatu.


‘Ini sangatlah aneh, bukankah ini terlalu mencolok ... mungkinkah ada orang yang sengaja melakukan hal ini selama aku tertidur tadi, tapi untuk apa?’ bhatin Andi yang semakin bingung.


Tak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi akhirnya ia menanggalkan salah satu ubin tadi. Tak mengejutkan lagi, di sana memang terdapat suatu dokumen penting yang mungkin bisa menjadi petunjuk.


Setelah berhasil mengambil dokumen tadi ia pun langsung membuka dan membacanya. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang ia lihat saat itu, akhirnya dengan langkah cepat ia kembali menutup dokumen tadi, kemudian mengaktifkan segel buku penyimpanan.


Setelah menyelesaikan segel tadi, ia pun segera pergi dari tempat itu agar Riko tak sampai mencurigainya.


‘Huhh ... ini benar-benar sulit diterima, benda seperti ini jangan sampai diketahui Riko, aku harus mencari tahu terlebih dahulu ... lagi pula ini terlalu mencurigakan untuk menempatkan benda penting semudah itu, benar-benar membingungkan,’ bhatin Andi dalam perjalanannya.


Beberapa menit berlalu akhirnya Andi berhasil keluar dari tempat itu, kemudian ia mencoba untuk menemui Riko, tetapi tampaknya ia tak ada di sana.


Andi masih bertanya-tanya dalam hatinya, tak mungkin jika Riko langsung kembali ke mobil tanpa menunggunya, lagi pula ia sudah mengatakan untuk menunggunya di luar.


Andi sedikit khawatir tetapi ia tetap tenang dan mulai mencari Riko di sekitar. Karena masih belum bisa menemukannya, akhirnya Andi mencari lebih jauh ke dalam semak-semak.


Tak lama kemudian ia merasa tampaknya ada sesuatu yang membuat semak-semak disekitarnya bergemerisik.


Ia pun mencoba mendekati tempat itu dan mencari tahu apa yang ada dibaliknya. Tanpa ragu lagi ia pun langsung membuka hamparan semak yang mengerumuni.


Sungguh mengejutkan ia pun berteriak dengan refleknya.


“Uwaaaaaa....”


“Kyaaaaaaa....”


Karena itu terlalu tiba-tiba, akhirnya Andi terkena geplak lagi dari juniornya.


“Ka-kau ... empat mata sialan apa yang kau lakukan di tempat ini?” bentak Riko sambil menunjuk ke wajah Andi.


“Sudah jelas mencarimu, kau tiba-tiba saja menghilang ... dan tak bisa aku temukan di sekitar, akhirnya aku mencarimu lebih jauh lagi ke tengah-tengah semak,” jelas Andi yang juga ikut kesal.


“Bodoh! gara-gara kau yang terlalu lama di dalam sana, aku jadi tak bisa segera pulang atau pun mencari toilet dalam perjalanan, bangunan di sana juga tampak menyeramkan jadi aku terpaksa ke tempat ini, semua gara-gara kau ... arghhh!” bentak Riko dengan penuh kekesalan.


“Eh, buang air?” tanya Andi lagi.


Tanpa menjawab lagi Riko pun langsung menonjok Andi dengan seluruh kemarahannya.


“Cepat! bawa aku pulang ... kau benar-benar sialan hari ini, jangan membuang-buang banyak waktu lagi,” perintah Riko yang masih berapi-api.


“Ahahaha ... baiklah, kalau begitu ayo kita pulang,” sahut Andi patuh.


Sampai di lokasi sebelumnya, mereka kembali menatap sejenak ke arah bangunan lama yang dipenuhi semak dan tumbuhan merambat itu, keduanya tampak sedang memikirkan sesuatu.


Akhirnya tanpa berkomentar lagi mereka berdua pun langsung meninggalkan tempat itu dan menuju ke parkiran mobilnya untuk segera kembali pulang.


.


.


.


TBC