
Sore itu Riko dan Andi akan memulai pembaruan segel pelindung. Namun, belum sempat menyelesaikan kegiatan mereka, tiba-tiba saja rekan anggota lainnya sudah tiba di depan rumah Riko.
“Oii ... Riko! aku datang ...,” teriak Fuurin dengan penuh semangat.
Dari kejauhan terlihat Fuurin yang sedang melambaikan tangannya sebelum akhirnya masuk bersama yang lainnya.
“Heh, selalu saja ... kenapa orang-orang suka sekali datang di waktu yang tidak tepat? arghhh,” keluh Riko kesal.
“Wah, mereka datangnya kompakan ya ... mungkin sudah janjian?” gumam Andi.
“Apapun itu, yang pasti keberadaan mereka sangat mengganggu ... segelnya belum juga selesai, sudah datang aja ... gimana dong?” tanya Riko kebingungan.
“Ya, lanjutkan saja dan suruh mereka untuk duduk menunggu sampai segel selesai,” jawab Andi dengan nada santai.
“Ya enggaklah! gengsi dong kalau mereka tau bahwa gue minta bantuan sama elu,” protes Riko.
“Terus maunya apa, dibatalkan? kalau nanti misi sudah jalan, ga akan ada waktu tambahan lagi untuk ini lho!” seru Andi.
“Huh ... tak ada pilihan lain okelah, lanjutkan saja!” seru Riko dengan napas berat.
Ketika mereka tiba dan berkumpul di sana, tampak Fuurin cukup penasaran dengan aktivitas dua orang itu.
“Oii kalian berdua, pada ngapain sih? serius amat dah,” tanya Fuurin penasaran.
“Oh ini lagi buat segel pelindung untuk pekarangan rumah Riko, aku baru saja menyelesaikan polanya, sekarang tinggal mengikat dan mengaktifkan segelnya,” jelas Andi.
“Oh begitu ya, tapi ketua ... sebaiknya kau tunda dulu pengaktifan segelnya, lagi pula kita ada misi hari ini, jadi lakukan itu setelah misi selesai,” saran Fuurin dengan intonasi dingin.
“Ah maaf aku hampir lupa, baiklah ... kalau begitu prioritaskan misi dulu,” ucap Andi agak canggung.
“Arghhh ... curang sekali ketua! kenapa harus mengikuti perkataan Fuurin sih, kau sendiri yang bilang bersedia kenapa sekarang malah dibatalkan sih!” protes Riko kesal.
“Memangnya kapan aku mengatakan batal, cuma tunda sementara sampai misi selesai ... dasar kau ini tak sabaran sekali,” sahut Andi santai.
“Sama aja kampret, gue paling benci menunda-nunda pekerjaan ... itu sangat merepotkan,” jawab Riko ketus.
“Huh, dasar nona ... bikin pusing saja, yasudah, ayo kita masuk dulu ... mari bicarakan di dalam,” ajak Andi dengan tenang.
“Heh ... tuan rumah siapa, tamunya siapa? jangan berlagak seperti ini rumahmu sendiri, sialan!” sahut Riko yang masih tak terima.
Meskipun Riko terus protes, tetapi mereka semua hanya mengabaikannya begitu saja. Tian yang sudah memperhatikan mereka sejak awal pun langsung bergegas datang untuk menyambut rombongan kakak sepupunya itu.
“Hai kakak-kakak sekalian, aku adiknya kak Riko, mari silahkan masuk,” sambut Tian dengan hangat.
“Dih, si anak setan juga ikut-ikutan lagi ... bikin eneg liatnya, lagian kenapa juga malah kumpulnya di tempat gue, ngeselin banget dah,” gerutu Riko sambil berjalan dengan berat hati.
“Itu wajar sih, ketua ada di rumahmu jadi mereka hanya mengikuti di mana ketua mereka berada sekarang,” sahut Fuurin yang tiba-tiba mendekat ke sisi Riko.
“Iya sih, tapi ngomong-ngomong kenapa kau meminta ketua menunda segel tadi?” tanya Riko.
“Kenapa? tentu saja itu akan mempengaruhi kinerja kami, sementara sebentar lagi misi akan dilaksanakan, tak mungkinkan ... kalau kita harus bertarung dengan tenaga yang pas-pasan,” jelas Fuurin.
“Oh, begitu ya ... ah iya, ngomong-ngomong bagaimana harimu? sepertinya sudah cukup lama tak bertemu, jadi rasanya agak canggung,” tanya Riko sembari membuang muka menahan gengsi.
“Baik, tidak ada masalah besar ... kau sendiri bagaimana?” tanya Fuurin.
“Yah, cukup buruk ... tapi tak ada luka fisik kok, aku hanya di rumah seharian jadi tak mungkin terlibat perkelahian atau semacamnya,” jawab Riko dengan sembarangan.
“Heleh, jawaban macam apa itu ... huft, jadi intinya kau tidak sedang sakit kan?” tanya Fuurin lagi.
“Tenang saja, aku sehat kok.”
Mereka pun masuk dan bertamu seperti biasa. Tian menyiapkan minuman, sementara ibunya membuatkan beberapa cemilan.
Sembari menunggu, Andi dan yang lainnya mulai membahas strategi misi. Melihat kerumunan itu membuat Tian jadi semakin penasaran, dengan antusias ia pun segera mengantarkan minuman.
“Terima kasih Tian, dan seperti biasa kami hanya membahas soal klub dan aktivitas sekolah,” sahut Andi.
Yang lainnya pun ikut berterima kasih dan memberi respon yang ramah juga.
****
Setelah jam menunjukkan tepat pukul 23:00, mereka semua mulai bersiap berangkat menuju lokasi tujuan, yaitu jln.Mawar selatan. Di mana ditemukannya korban pembunuhan yang tak wajar.
“Kalian bersiaplah, kita akan pergi ke tempat yang berbahaya ... tetaplah waspada dan selalu perhatikan sekitar,” pinta Andi.
“Hmm ... ngomong-ngomong bagaimana kau tahu bahwa akan ada musuh yang menyerang kita nantinya?” tanya Riko malas.
“Tentang surat yang sebelumnya kita terima, bukankah sudah jelas bahwa itu adalah sebuah tantangan dari seseorang,” jawab Andi dingin.
“Oh tentang kode angka itu yah? aku tahu itu memang tantangan, cuma aku tak begitu mengerti maksud dan isi dari secarik kertas itu,” sahut Riko sembari mengira-ngira.
“Maksud isi dari surat itu adalah ‘datanglah pukul 00:00 di jln.Mawar kau akan mati dipenuhi dengan violet mark pada tubuhmu,’ karena itu berhati-hatilah,” jelas Andi.
“Heh ... begitu ya, berani sekali sialan itu, lihat saja nanti siapa yang akan mati lebih dulu,” ucap Riko geram.
“Fyuhh, dasar bocah! jangan sombong dulu ... di sini kemampuan kaulah yang paling menyedihkan, musuh kita sulit untuk dipastikan ... kekuatan mereka masih belum tampak tapi sudah menyebabkan masalah yang cukup serius, bagaimana jika mereka menunjukkan kekuatan mereka dengan sungguh-sungguh, pastinya akan ada banyak hal tak terduga yang bisa terjadi ... karena itu berhentilah bersikap seperti bocah,” bentak Andi.
“Cih, sudah tau kali! cuma gue kesel aja gitu,” balas Riko cuek.
Mereka berdua memang selalu saja beragumentasi seperti itu, rekan yang lain juga sudah mengerti dan selalu memaklumi tentang ketidakharmonisan mereka.
Ketika perjalanan mereka hampir sampai, udara dingin pun mulai berhembuh menusuk kulit. Malam ini terasa lebih tenang dan sunyi, di saat yang bersamaan pula ada perasaan tidak enak dalam benak Riko, ia cukup penasaran dengan hal itu.
‘Sial, sebenarnya perasaan macam apa ini? rasanya aku seperti ingin membunuh seseorang, apakah sedang ada iblis bertengger di dekat sini?’ bhatin Riko kesal.
“Kalian semua berhati-hatilah ... kita hampir akan sampai, tapi musuh sudah mengintai kita dari tadi, bersiaplah sampai dia benar-benar muncul,” ucap Fuurin dengan ekspresi yang gelisah.
‘Perasaan ini hampir mirip dengan sebelumnya, tapi sepertinya ada yang sedikit berbeda ... siapa orang itu? rasanya aku pernah bertemu dengan aura ini entah di mana,’ bhatin Fuurin.
Saat mereka sampai tepat di persimpangan jln.Mawar, kegelapan pun mulai muncul dan cahaya ungu menyebar di udara. Dengan spontan mereka langsung mengambil senjatanya masing-masing.
Saat ini memang belum terlihat tanda-tanda kemunculan musuh, wajar saja karena ketika melihat pada arloji saat itu masih menunjukkan pukul 23:50. Mereka perlu menunggu dan mempersiapkan diri selama 10 menit sebelum musuh menyerang.
Semakin lama kabut asap serta cahaya ungu semakin bertambah dan kian menebal. Pandangan pun mulai terganggu, akhirnya beberapa diantara mereka mulai memberi perlawanan.
Seorang pengguna elemen api dan angin akan sangat dibutuhkan untuk menyingkirkan kabut asap tersebut, karena itu Ruri dan Nana berada di sisi luar sementara yang lainnya ikut membantu di dalam.
Sepuluh menit telah berlalu, ketika asap telah mulai memudar tampak sesuatu muncul dari balik beberapa area, mereka memang belum terlihat jelas. Namun, gumpalan asap dan cahaya ungu perlahan keluar dari persembunyian mereka dan mendekat.
Saat mereka menyadari kemunculan makhluk yang diselimuti cahaya ungu itu, Mereka pun mengerti bahwa surat itu bukanlah sekedar omong kosong saja.
Tak membutuhkan waktu lama sekumpulan makhluk aneh telah mengelilingi sekitar mereka.
“Sial, ini jebakan ... bagaimana bisa, violet mark mulai terlihat, mereka berdiri dan bergerak, sangat hampa tanpa emosi dengan bau yang begitu menjijikan,” gerutu Andi kesal.
“Ketua, jangan bilang bahwa mereka itu ...,” sela Fuurin dengan keraguan.
“Ya, kau benar ... mereka adalah zombie yang dikendalikan oleh violet mark,” sambung Andi dengan tatapan tajam.
Dilihat dari jumlah, mereka benar-benar telah terpojokkan, karena jumlah zombie yang mengelilingi mereka sungguh di luar dugaan.
.
.
.
TBC