Roped Fate

Roped Fate
Ch.76 : Membayar Kembali



Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Andi dan Riko sampai juga di rumah tanpa hambatan.


Riko pun mengajak Andi untuk beristirahat sejenak di ruangannya, sedangkan ia sendiri pergi ke kamar mandi, karena misi pencarian tadi cukup membuatnya gerah dan berkeringat, ia pun segera mandi.


****


Beberapa menit berlalu setelah menyelesaikan kegiatannya, Riko kembali ke kamarnya dan mendapati adiknya sedang duduk di sana.


“Oii Tian! apa yang kau lakukan di sini?” tanya Riko yang tampak kesal.


“Kak Andi tampaknya sedang sakit, aku hanya sedang membantu merawatnya, hehe ...,” jawab Tian yang sedikit tersipu.


Tanpa basa-basi Riko pun langsung menyeretnya keluar.


“Dia hanya perlu istirahat saja ... keberadaanmu tak berguna di sini, lagi pula aku saja sudah cukup membantunya, sekarang keluar dari kamarku!” bentak Riko sebelum menutup dan mengunci pintu kamarnya.


“Kakak sialan! awas saja kau nanti ya ... tchihhh,” teriak Tian dengan penuh kekesalan sebelum pergi dari sana.


Riko yang berhasil menendang Tian pun menyeringai puas.


“Hahh ... makanya jadi bocah jangan suka ikut campur urusan orang,” gerutu Riko sambil berjalan ke tempat tidur.


Andi hanya terkekeh melihat tingkah dua bersaudara yang tak pernah akur itu.


“Hei Riko, kenapa kau selalu mengusir adikmu seperti itu?” tanya Andi penasaran.


“Cihh, dia memang selalu seperti itu sejak kecil ... dia suka ikut campur urusanku dan orang lain, juga suka merebut apa yang seharusnya menjadi milikku, pokoknya dia sangat menyebalkan,” jawab Riko kesal.


“Eh, jadi kau membencinya seperti itu?” tanya Andi dengan sedikit seringai di wajahnya.


“Tentu saja bukan seperti itu, meskipun menyebalkan dia tetap adik sepupuku, lagi pula paman dan bibi juga sangat baik padaku, jadi aku harus sedikit memanjakannya, tapi alhasil si iblis kecil itu malah jadi semena-mena terhadapku, bagaimana tidak kesal!” sahut Riko yang kembali berapi-api.


“Ahahaha ... aku mengerti perasaanmu, hanya saja menyeretnya keluar begitu saja dan bahkan melarangnya untuk kembali sepertinya cukup tidak logis,” ucap Andi ambigu.


“Haah ... apa yang ingin kau katakan, katakan saja dengan jelas,” balas Riko cuek.


“Entahlah, aku hanya merasa kau pasti punya alasan untuk mengusir seseorang yang sedang merawat orang yang sedang sakit, tak mungkin bukan ... jika kau hanya sekedar ingin berdua denganku dalam ruangan ini, ahahaha ...,” terang Andi sembari terkekeh.


“Sudah kuduga kacamatamu itu bukan hanya sekedar pajangan saja, haah ... tentu saja rubah licik sepertimu bisa melihatnya dengan jelas,” sahut Riko dengan kalimat pedasnya.


“Yahh, kejam seperti biasanya ... tapi aku penasaran, hal apa yang membuatmu menjadi begitu serius,” ucap Andi yang terlihat sedikit ambisius.


“Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tapi sebelum itu aku perlu memeriksa keadaanmu terlebih dahulu, ada sesuatu yang ingin aku pastikan,” balas Riko dingin.


Andi hanya mengernyitkan alisnya, ia tak begitu mengerti dengan mood Riko yang semakin tidak stabil akhir-akhir ini.


“Sekarang bisa kau bangun sebentar dan berbalik badan, aku hanya ingin memastikan sesuatu,” pinta Riko sedikit serius.


“Oh tentu,” jawab Andi singkat.


Andi pun langsung bangun dan membalik badan sesuai arahan Riko, sebenarnya ia sedikit penasaran dengan apa yang dipikirkan Riko, tetapi melihat ekspresi serius Riko membuatnya enggan untuk bertanya lagi.


Tak banyak yang ia lakukan, hanya sekedar untuk melihat area sepanjang leher belakang. Ekspresinya tidak terlihat baik, ia pun mencoba mengalirkan energi spiritual di area tadi, meskipun tampaknya ia sedikit kesulitan saat melakukan hal itu, ia terus mencoba sampai ia berhasil.


“Hei, kau sedang apa?” tanya Andi.


“Dulu keluargaku pernah mengajarkan suatu teknik khusus ... tapi entah kenapa sekarang energi spiritualku menjadi sangat surut, aku bahkan kesulitan untuk mengalirkan jumlah energi sesuai yang aku butuhkan sekarang, rasanya sulit sekali,” balas Riko sembari tetap mempertahankan posisinya saat itu.


“Eh, kenapa mengalirkan energi spiritual padaku? memangnya aku sedang sekarat, hei ... hei ... kau tak perlu melakukan hal itu, kau sendiri sudah kelelahan,” pinta Andi yang terlihat tak senang.


“Berisik! bukan seperti itu ... sudah aku bilang ini hanya untuk memastikan sesuatu, kau diam saja dan ikuti perkataanku,” sahut Riko yang sedikit kesal.


“Terserahlah.”


Andi benar-benar bimbang dibuatnya, setelah ingatannya pulih, pikiran Riko benar-benar seperti teka-teki untuknya.


Riko yang terus berusaha keras terlihat sedikit frustasi saat pikirannya dipenuhi oleh hal-hal negatif dalam masa lalunya, ia sedikit khawatir jika yang ia pikirkan memang benar terjadi.


Tiba-tiba Riko berhenti sejenak sebelum menarik napas dalam-dalam dan lebih fokus, kemudian ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengalirkan dengan kuat energi spiritualnya.


Namun, begitu pula Riko yang sedikit terlempar tampak kesakitan dan berusaha menahan badan di bagian dada dan perutnya.


“Riko ... apa yang terjadi, apa kau baik-baik saja?” tanya Andi yang terlihat khawatir.


“Entahlah, tapi daripada itu ... coba lihatlah pada dirimu, bisakah kau buka bajumu sekarang?” pinta Riko lagi.


Andi pun langsung melepaskan pakaiannya dan melihat ke belakang, ia begitu terkejut saat melihat benda asing yang tampak menyerupai benalu telah mengakar pada sepanjang leher dan punggungnya.


“Hei, benda menjijikan macam apa ini! kenapa bisa ada hal seperti ini muncul padaku?” pekik Andi yang tampak begitu terkejut dengan apa yang ia lihat.


“Itu parasite spirit ... mereka menggunakan energi spiritual dari parasite untuk memanipulasi inangnya, sebenarnya ini adalah teknik rahasia dari keluargaku, hanya saat kami mengalirkan energi spiritual benda itu bisa terlihat oleh mata, aku sudah curiga dari awal karena itu aku ingin memastikannya lagi,” jelas Riko dengan ekspresi getir.


“Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? haruskah aku singkirkan dan potong dengan jarum-jarumku?” tanya Andi lagi.


“Jangan! percuma kau lakukan itu ... mereka akan tumbuh lagi, tapi tenang saja ... aku bisa melakukan hal itu, hanya saja perlu usaha yang sangat besar untuk keadaanku sekarang ini,” jawab Riko sembari berusaha berdiri lagi.


“Apa kau yakin dengan keadaanmu? kalau tak bisa sebaiknya jangan paksakan ... aku akan cari cara lain,” balas Andi sambil membantu Riko berdiri.


“Tenang saja, aku hanya perlu mencari pusat akar dan mencabut seluruhnya,” sahut Riko dengan yakin.


“Tidak, kau bisa saja sekarat jika mengeluarkan energi sebanyak itu, tidak aku tak mau,” sahut Andi menolak bantuan Riko.


Tanpa berdebat lagi Riko mencengkram leher Andi dan menyudutkannya di tempat tidur.


“Aku bilang ikuti saja perkataanku! lagi pula kau begini karena jebakan yang ada pada bangunan keluargaku, maka aku harus membayarnya untuk itu,” bisik Riko yang sedikit kasar.


Ia pun langsung melepaskan energi khusus untuk mengecek pusat akar dari parasite tersebut. Setelah berhasil ia temukan, dengan seluruh kekuatannya ia mencabut benda itu sampai tuntas, lalu membakarnya dengan energi spiritualnya.


Setelah berhasil menyelesaikan kegiatannya, Riko pun langsung tumbang dan tampak merintih kesakitan. Melihat hal itu, Andi langsung bangkit dan mengangkat Riko ke tempat tidur.


‘Ini aneh ... seberapa banyak pun seseorang mengeluarkan energi spiritual, seharusnya tak sampai menimbulkan reaksi menyakitkan seperti itu, sudah kuduga ada yang aneh dengan anak ini,’ bhatin Andi yang masih memperhatikan Riko saat ini.


“Maaf ya, mungkin ini sedikit lancang jika membuka pakaian seseorang yang sedang tak berdaya, tapi aku tak punya pilihan lain,” gerutu Andi yang tampak cukup panik.


Perlahan Andi membuka kancing pakaian Riko dan mengamati bahwa memang benar ada suatu segel yang menahan energi spiritual Riko sehingga tak berfungsi dengan baik.


Andi mulai khawatir ketika melihat pola yang ada di dada sampai perutnya, bahkan Riko sendiri baru menyadari itu ketika segel itu muncul badannya benar-benar terasa tersiksa.


“Arghh ... apa yang harus aku lakukan? aku harus menolongnya, dia sudah membantuku tadi dan sekarang giliranku, tapi pola ini ... haruskah aku gunakan cara itu?” gumam Andi dalam kebimbangannya.


Ia masih belum bisa memutuskan, meskipun begitu ia tetap mengeluarkan seri jarum-jarumnya. Ia masih terdiam bahkan saat jarum miliknya sudah selesai membentuk pola yang ia butuhkan. Ia hanya menatap dan kembali merenung.


“Argghh ... sudahlah, kali ini aku benar-benar sudah menyimpang, meskipun ini teknik yang seharusnya tak boleh aku gunakan, tapi melihat anak ini aku merasa tak bisa hanya diam saja, aku hanya perlu menyiapkan diri untuk menahan sakitnya nanti, sial! bajingan mana sih yang tega menanamkan segel iblis pada anak ini,” gumam Andi dengan kemarahannya.


Tak ingin membuang-buang waktu lagi ia langsung menancapkan seri jarum tadi ke salah satu tangannya, ketika darah mulai mengalir, ia menuliskan tanda segel pembuka pada telapak tangannya juga dengan darah itu.


Langsung saja ia menempelkan tangannya pada segel pengekang tadi, kemudian mengoyak serta membakar segel itu dengan agresif, Ia berusaha semaksimal mungkin untuk mempercepat proses pelepasan segel agar Riko tak sampai menahan sakit selama itu.


Setelah segel mulai melemah, ia langsung menarik kuat pola itu keluar dari tubuh Riko lalu menghancurkannya.


Ketika segel pembuka itu telah berakhir, Andi pun langsung terjatuh. Seperti biasa tanda Jiu kembali muncul pada dahi sampai tangannya yang masih terluka untuk menyiksa tubuhnya, tentu saja teknik iblis yang ia gunakan akan berdampak pada tubuhnya, karena ia telah melanggar pantangan itu.


Meski dalam keadaan sakit ia mencoba meraih Riko untuk sekedar melihat keadaannya. Tampaknya Riko masih pingsan akibat shock pelepasan segel yang biasa membelenggunya, tentu tubuhnya masih perlu beradaptasi dengan pelepasan energi yang cukup besar dibanding biasanya.


Andi hanya tersenyum getir, kemudian ia menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh Riko agar tidak masuk angin. Merasa semua sudah membaik, ia pun berjalan ke arah jendela untuk menghirup udara segar.


“Jika seseorang sudah menolongmu, tentu saja kau harus membayar kembali lebih dari yang mereka lakukan, bukankah begitu ... Hita?” gumam Andi sebelum ia tertidur di pinggir jendela.


.


.


.


TBC