Roped Fate

Roped Fate
Ch.65 : Pencarian Di Selatan Jalan



Setelah pertarungan berakhir mereka bertiga kembali berkumpul untuk membahas tujuan selanjutnya.


“Oii! kalian baik-baik saja kan?” teriak Fuurin bersemangat.


“Ya, seperti yang kau lihat ... kami baik-baik saja, kau sendiri tadi cukup keterlaluan lho!” balas Andi sembari menatap tajam ke arah Fuurin.


“Sudah! sudah! yang penting sekarang sudah aman dan keadaan kita baik, mari abaikan hal lainnya,” sela seseorang yang sebelumnya telah mereka selamatkan.


“Ah iya, kalau begitu kita kembali ke tujuan awal yaitu mencari Riko! tapi ... sebelum itu, ngomong-ngomong kau siapa yah?” tanya Fuurin polos.


“Hmm, dasar nona Fuurin ... jangan ngikut nona Riko deh, mana sopan santunmu,” sindir Andi.


“Hehehe.”


“Sudahlah kalian berdua, kalau begitu aku langsung perkenalkan diri ... namaku Leo, siswa SMP kelas 8, salam kenal ya,” ucap orang tadi dengan ramah.


“Salam kenal juga, aku Andi siswa kelas 9 dan ini nona Fuurin siswa kelas 8,” balas Andi tenang.


“Yosh! salam kenal juga Leo,” tambah Fuurin lagi.


“Baiklah, sekarang bagaimana langkah selanjutnya ... kalian tadi mengatakan sedang mencari seseorang bukan? sebagai ucapan terima kasih, aku juga akan ikut membantu untuk mencarinya,” ucap Leo cukup bersemangat.


“Sebenarnya tidak perlu repot-repot, cuma kurasa kau perlu perawatan dulu sebelum kembali ... jadi kau bisa ikut kami dulu untuk mendapat sedikit perawatan,” balas Andi ramah.


“Wah, aku jadi semakin merepotkan ya,” sahut Leo agak ragu.


“Jangan khawatir! seniorku Ran dan yang lainnya cukup hebat dalam hal pengobatan dan perawatan kok, jangan pikirkan lainnya yang penting ikut kami dulu!” seru Fuurin bersemangat.


“Baiklah, terima kasih sudah membantu dan maaf banyak merepotkan,” jawab Leo lembut.


“Tidak masalah, ini adalah tugas kami,” sahut Andi santai.


Akhirnya, tanpa menunggu lebih lama lagi mereka pun melanjutkan perjalanan.


“Ketua, sekarang kita harus pergi ke mana?” tanya Fuurin yang sedikit kebingungan.


“Karena keadaan yang tak memungkinkan, juga keadaan anak ini yang perlu perawatan segera, jadi sebaiknya kita kembali ke rumah keluarga Riko, hanya tempat itu yang paling dekat jaraknya dengan lokasi kita saat ini,” jawab Andi tenang.


“Baiklah, tapi bagaimana kita akan menjelaskannya pada keluarga Riko saat mereka menanyakan keberadaannya?” tanya Fuurin lagi.


“Kalau masalah itu ... biar aku yang akan menjelaskannya pada mereka, aku yang akan bertanggung jawab untuk itu, sisanya kita serahkan pada rekan-rekan lainnya, kuharap mereka bisa menemukannya segera,” balas Andi tegas.


“Baiklah, kuharap dia baik-baik saja.. setelah selesai menyelesaikan tugas ini aku juga akan kembali mencari Riko dan membawanya pulang, tenang saja aku pasti berusaha keras,” sahut Fuurin yang masih tampak khawatir.


“Ayo kita kembali! nanti juga aku akan kembali mencarinya, kau bantu merawat Leo saja ... aku perlu memulihkan diri beberapa waktu saja, setelah membaik aku akan pergi mencarinya lagi,” tambah Andi.


“Huh! ketua memang egois yahh, padahal kau sendiri perlu perawatan ekstra tapi masih memaksakan diri,” protes Fuurin.


“Jangan khawatir! bahkan kau sendiri juga sama kan? kau pasti sangat mengkhawatirkannya, tenang saja ... aku akan membawanya kembali,” balas Andi masih dengan ekspresi tenangnya.


“Yasudah, ayo kita lanjutkan kembali perjalanan ini, agar tak begitu banyak membuang waktu,” timpal Leo.


“Baiklah, ayo!” seru Andi.


Setelah memutuskan tujuannya, mereka pun segera mempercepat langkahnya. Dalam perjalanan, tak lupa juga Fuurin untuk menghubungi rekan-rekan yang lainnya bahwa mereka kembali lebih dulu untuk beberapa alasan.


Di sisi lain, Ruri yang menerima kabar dari Fuurin pun langsung memberitahukan kepada rekan tim yang lainnya untuk memperluas pencarian mereka dan setelah menyelesaikan pencarian di masing-masing lokasi terbagi, semua tim akan kembali berkumpul untuk mencari ke arah timur, tempat di mana tim Andi dan Fuurin yang sebelumnya telah menunda misi pencarian mereka.


Begitu selesai memberikan info ke tim lain, Ruri dan timnya langsung bergegas melanjutkan pencarian mereka ke arah selatan.


Mereka mencari di setiap sudut tempat, tetapi masih belum menemukan petunjuk sama sekali. Pada pohon rindang yang bergemerisik tiba-tiba mereka melihat seseorang yang sedang duduk santai di atas dahan pohon tersebut.


“Ada seseorang di atas sana!” seru Ruri yang mulai waspada sembari mendekati orang tersebut.


“Siapa orang itu?” gumam Erick yang juga penasaran.


“Entahlah, tampaknya dia sedang bersenandung santai,” bisik Ran dengan nada ragu.


Cukup lama menatap ke arah tiga orang di bawah sana, akhirnya ia pun turun juga dari tempat itu.


Cahaya bulan pun perlahan mulai tampak dan menerangi tempat orang itu berdiri saat ini.


“Yahho! kita bertemu lagi ... wahai para exorcist muda, ahaha!” sapanya dengan sedikit terkekeh.


“Gadis iblis? kenapa muncul lagi, apa dia akan menghalangi kita lagi?” bisik Ruri kepada rekan lainnya.


“Entahlah,” jawab Erick sambil menatapnya curiga.


“Ahahaha, ada apa dengan wajah kalian ... hmm, tenang saja aku tak bermaksud menghalangi, aku hanya sedang bersantai dan kebetulan bertemu kalian,” jawab iblis cantik itu dengan senyuman mencurigakan.


Ruri dan yang lainnya kembali waspada lalu mengambil posisi bersiap.


“Tak ada hal yang bisa dipercaya dari mulut seorang iblis, baik cantik maupun menyeramkan ... kalian sama saja,” balas Ruri dengan tatapan mengintimidasi.


“Huft ... terserahlah, yang pasti masterku saat ini belum memberi perintah untuk penyerangan, jadi aku tak akan melakukannya ... tapi sedikit saran untuk kalian, daripada hanya membuang-buang waktu dan tenaga, sebaiknya kalian segera pergi dari tempat ini ... anak itu tak ada di sini, carilah di tempat lainnya lagi!” pinta iblis itu.


“Hah! kenapa kami harus mengikuti perkataanmu, kau yang seharusnya pergi dan jangan menghalangi lagi iblis jelek!” balas Ruri dengan ucapan pedas.


“Tcihh! sekali aku jadi ingin menonjok wajah menyebalkannya itu,” gumam Ruri dengan expresi kecutnya.


“Ara ... ara ... nona model yang kayak mak lampir, kau pasti iri kan! kalau ada iblis secantik diriku di dunia ini ... ahahaha, jangan begitu ... nanti wajahmu cepat keriput lho!” seru iblis itu dengan puas mengolok-olok Ruri.


Sementara Ruri yang mendengar ocehan iblis itu pun kembali naik pitam, kemudian mengeluarkan senjata khususnya yaitu pisau gerigi yang ia gunakan sebelumnya.


“Berisik kau! siapa juga yang iri dengan iblis jelek seperti kau, arghhhh!” teriak Ruri yang kemudian berlari ke arah iblis itu untuk mendaratkan serangannya.


Erick dan Ran yang melihat tindakan rekannya itu hanya bisa diam sambil memperhatikan pertarungan tersebut.


“Hei Ran! apa cewek itu memang seperti itu ya ... mereka cepat sekali marah kalau sudah menyinggung penampilan fisik,” bisik Erick kepada rekannya Ran.


“Entahlah, tapi Ruri memanglah salah satu ratu di sekolah kita, jika ada yang mengatakannya jelek pastinya ia akan marah, apalagi orang yang mengatakan itu adalah gadis yang cantik pula, dia pasti merasa tersaingi tentunya,” balas Ran dengan volume sekecil mungkin.


“Ya, tapi gak gitu juga kali ... dia malah terlihat seperti kekanak-kanakan saja, kalau sudah begitu kita juga bisa apa ... kalau ikut bantuin juga sepertinya Ruri akan marah,” sahut Erick dengan wajah malasnya.


“Yah, wajar sih ... itu pertarungan pribadinya, lagi pula gadis iblis itu juga tampaknya sedang tidak berbahaya, seperti yang dikatakannya tadi ... dia hanya mengikuti perintah tuannya saja,” ucap Ran sembari menonton pertarungan konyol itu.


“Hmm, kau benar juga sihh ... kalau begitu kita tak perlu mengkhawatirkannya lagi, fyuhh!” sahut Erick lega.


Baru saja mereka berdua akan duduk bersantai, tiba-tiba Ruri kembali berteriak.


“Arghhhh! sialan ... lepasin tangan gue! bisa patah nih gue nanti dipecat, lu harus tanggung jawab, kampret!” teriak Ruri yang berusaha memberontak ketika kedua tangannya berhasil dikunci iblis itu.


“Hehh ... tanggung jawab untuk apa? ahahaha, ngomong-ngomong kau mau tau bagaimana caranya agar menjadi cantik sepertiku? hmm, akan aku beritahu jika kau mau membuat kesepakatan denganku,” bisik iblis itu.


“Ye, siapa juga yang mau ... tanpa lu kasi tau gue juga udah cantik kok!” balas Ruri kecut.


“Pftt, kau yakin tidak mau ... aku ini ajaib lho!” goda iblis itu lagi.


“Jangan harap ya, ucapan iblis itu tak ada yang bisa dipercaya,” tegas Ruri dengan tatapan sinisnya.


“Hmm, dasar keras kepala!” sindir sang iblis.


Di tengah perseteruan dua orang itu, tiba-tiba Erick dan Ran berlari ke tempat mereka untuk melerai pertarungan konyol yang mulai tak sehat lagi.


“Oii! sudahlah Ruri, kau jangan cari perkara lagi! tenaga kita sudah terbatas akibat pertarungan sebelumnya, kau jangan memancing keributan lagi donk! jika iblis itu marah, habislah kita!” teriak Erick yang cukup jengkel dengan tingkah Ruri.


“Benar Ruri, bukankah kita harus segera mencari Riko ... kita jangan membuang-buang waktu di tempat ini,” sambung Ran.


“Hahhh!”


“Pftt ... mereka bahkan lebih bijak darimu nona model, ahahahaha!” sindir iblis itu dengan tawa yang meresahkan.


“Baiklah, nona iblis! tolong lepaskan rekan kami ... setelah itu kau bisa kembali beristirahat dan kami akan pergi mencari di tempat lain,” pinta Erick dengan tatapan serius.


“Pftt, tidak perlu seserius itu ... aku akan melepaskan model cerewet ini, selanjutnya ... selamat mencari!” sahut gadis iblis itu sebelum akhirnya ia melepaskan Ruri yang kemudian melompat ke atas pohon dan berdiri di atasnya.


Tak lama setelah itu, gadis iblis itu pun menghilang dan pergi dari tempat itu. Kemudian Erick dan Ran menghampiri Ruri dan memeriksa keadaannya.


“Ruri, kau baik-baik saja?” tanya Ran yang sedikit khawatir.


“Tenang saja, tak ada masalah serius ... hanya pergelangan tanganku yang sedikit sakit akibat cengkraman iblis gila tadi,” jawab Ruri sembari mengusap-usap pergelangan tangannya.


“Baguslah kalau begitu, tapi tampaknya kita harus segera pergi dari tempat ini ... ada sesuatu yang tak beres di sekitar tempat ini, kita tak punya banyak tenaga untuk bertarung lagi, seperti yang iblis tadi katakan ... sebaiknya kita mencari di tempat lainnya, ayo kita putar balik dan berkumpul di tempat sebelumnya, setelah berkumpul dengan yang lainnya barulah kita akan pergi ke timur jalan,” ungkap Erick dengan tatapan yang serius.


“Baiklah! ayo kita pergi, meskipun makhluk itu tak bisa dipercaya, tapi seperti yang kau katakan ... aku juga sudah kehabisan energi untuk bertarung lagi,” jawab Ruri pasrah.


“Kalau begitu, ayo segera berangkat!” seru Ran dengan tenang.


Setelah ketiganya sudah sepakat, akhirnya mereka pun pergi memutar arah menuju tujuan sebelumnya.


.


.


Ketika Andi, Fuurin, dan Leo hampir sampai di depan pintu masuk rumah keluarga Riko, dari kejauhan mereka melihat sesuatu di bawah pohon pada halaman samping rumahnya. Tampak seperti seseorang yang sedang mengenakan jubah hitam yang mungkin tak asing lagi bagi mereka yang kini duduk di bawah pohon tersebut.


“Ketua! di sana ...,” seru Fuurin.


“Ya aku tahu, ayo kita pergi dan lihat, jangan lupa untuk waspada ... kau juga Leo, berhati-hatilah!” perintah Andi dengan wajah yang serius.


“Baik!” jawab keduanya serentak.


Mereka pun segera pergi untuk memeriksa dan berjalan dengan langkah yang sangat berhati-hati, sesampainya di sana ... dengan langkah yang berani, Fuurin pun mendekat ke arah orang itu untuk memastikan siapa orang berjubah hitam yang duduk dibawah pohon itu, saat menyadari sesuatu Fuurin pun kembali menunjukkan ekspresi yang cukup mengejutkan.


“Orang ini ....”


.


.


.


TBC