Roped Fate

Roped Fate
Ch.50 : Pertemuan Takdir



Dalam sebuah perjalanan di tempat agak gelap, di sana hanya ada cahaya lilin yang redup. Terlihat Riko berjalan menyusuri tempat itu tanpa arah yang pasti.


Ia hanya melihat bayangan pada pilar yang berpijar, di sana terlihat seorang anak kecil yang berusia sekitar 7 tahun memiliki wajah yang sangat mirip dengan wajahnya. Anak itu tampak sedang berlari dan tertawa dengan lepas sembari membawa sebuah tabung kecil di sebuah taman.


“Ayah! ayah! aku berhasil menangkap seekor kupu-kupu berwarna biru, lihatlah ini!” seru anak itu sambil menunjukan dan mengangkat tabung kaca kecil berisikan kupu-kupu.


“Wah, hebat sekali! kebetulan juga ayah kemarin berhasil mendapatkan buruan yang besar lho!” timpal ayahnya.


“Benarkah? seperti apa buruan ayah itu?” tanya anak itu dengan polos.


“Itu adalah sesuatu yang sangat kuat, ia berada pada level yang tinggi,” jawab ayahnya.


“Apakah itu semacam harimau atau apa?” tanya anak itu lagi sembari memiringkan kepalanya.


“Sudahlah nak ... untuk sekarang kau masih kecil, jadi belum mengerti apa-apa, tapi suatu saat nanti kau pasti mengerti,” jawab ayahnya dengan senyuman hangat.


“Baiklah! kalau begitu aku juga ingin seperti ayah, ayo ... ajarkan aku bagaimana caranya menggunakan panah,” pinta anak itu dengan wajah berseri dan penuh semangat.


“Nanti saja kalau kau sudah besar, ya?”


“Huhh ... bosan!”


“Hahaha .... kau belajar saja dulu yang giat dan jadilah anak yang baik, nanti ibumu juga pasti akan membantu,” tambah ayahnya.


“Ah ... benar juga, ibu sekarang ada di mana?”


“Ibumu sedang ada urusan dengan tante Diana, tunggu saja ya.”


“Iya ayah!”


Tak lama kemudian, seseorang datang menghampiri mereka berdua. Anak itu terlihat sangat gembira, lalu ia berlari dan datang padanya.


“Ibu!” seru anak itu.


Wanita paruh baya itu pun berjalan mendekatinya, ia tersenyum sembari membawa sesuatu di tangannya.


“Lihatlah! ibu membawakan sesuatu untukmu ....”


“Wahh, asik! hadiah dari ibu,” ucapnya sembari melompat-lompat kegirangan.


“Hahaha ... kalau begitu ayo kita pulang sekarang,” ajak ibunya.


“Baik bu ... oiya, aku juga ada sesuatu lho!”


“Apa itu? ibu ingin lihat,” ucap ibunya.


“Lihatlah! aku menangkap kupu-kupu biru ... indah bukan?” tanya anak itu sembari menyodorkan tabung kaca itu pada ibunya.


“Wah, indah sekali ... kamu hebat! apakah ini untuk ibu?”


“Iya, itu khusus untuk ibu,” jawabnya bersemangat.


“Kalau begitu terima kasih ya nak, ini sangat indah.”


Setelah cukup lama berbincang-bincang di sana, mereka bertiga pun mulai berhanjak dan segera kembali ke rumah mereka.


.


.


Riko masih terus mengikuti perjalanan ke mana pilar tersebut menuntunnya. Hingga pada suatu ketika, keluarga kecil itu tengah berkemah di hutan untuk beberapa urusan.


Bukan hanya mereka bertiga saja, di sana tampak cukup ramai. Sang ibu juga terlihat sedang asik berbicara dengan rekan kerjanya yaitu Diana.


Sang ibu mencoba memperkenalkan keluarganya pada rekannya itu, sebenarnya mereka sudah saling mengenal sebelumnya, hanya saja belum terlalu akrab. Jadi, dalam pertemuan kemah hari itu sang ibu ingin lebih mempererat hubungan pertemanan mereka.


Anak itu masih terlihat malu-malu dan agak cuek, ibunya terus berusaha membujuknya agar mau berbaur dengan keluarga temannya itu, terutama dengan anaknya.


Anak dari Diana itu juga terlihat cukup pendiam dan misterius.  Kebetulan usia mereka berdua juga tak terpaut jauh, hanya selisih dua tahun. Mereka berdua sama-sama tak ingin menyapa lebih dulu, membuat kedua ibu itu agak kerepotan.


“Maaf Diana, anakku memang agak pemalu, tapi kalau sudah terbiasa ... nanti juga akan akrab kok,” ucap ibunya agak canggung.


“Ah tidak masalah, anakku juga agak pendiam, tapi dia anak yang baik,” timpal Diana.


“Ah kalau begitu ayo kita siapkan makanan untuk mereka,” ajak sang Ibu.


“Baiklah.”


Setelah kedua ibu itu pergi ke belakang, sang ayah mengajak kedua anak-anak itu untuk menunggu bersama di sekitar tenda dekat api unggun.


Sang ayah mencoba untuk mendekatinya dan berharap bisa lebih akrab dengan anak itu. Ia mengajaknya berbicara serta memperkenalkan anaknya juga agar mereka bisa berteman baik.


“Hai nak, siapa nama kamu?” tanya sang ayah.


“Aku Rion, senang bertemu dengan anda,” jawab anak itu dingin.


“Oh, senang juga bertemu Rion, kamu sangat sopan dan tenang ya, paman yakin kamu pasti anak yang rajin dan pandai,” sahut sang ayah dengan bersemangat.


“Terima kasih, tapi tak sehebat itu ... aku hanya untuk membantu ibu saja,” jawab Rion masih dengan ekspresi dinginnya.


“Ah, bukankah bagus, itu artinya kamu berbakti dengan orang tuamu,” jawab sang ayah lembut.


“Mungkin saja ....”


Selama sang ayah asik berbincang-bincang dengan Rion, tampak anak kecil itu mulai bosan dan kesal karena ayahnya terlihat lebih memperhatikan Rion.


Sang ayah mulai merasa tak enak, karena anaknya semakin merengek dan menjadi kesal. Ia pun mencoba mendinginkan suasana dan meminta agar keduanya bisa membuat pertemanan.


“Hei ... kamu gak boleh begitu ya, Rion itu adalah tamu kita, selain itu kamu juga bisa berteman baik dengannya,” bujuk sang ayah.


“Ayah membosankan, nanti aku adukan pada ibu ... huhh,” balas anak itu sambil membuang mukanya.


“Hmm ... kamu ini jangan bandel, hargailah tamu kita,” balas sang ayah.


“Sudahlah paman, tidak masalah ... itu wajar saja, dia hanya anak-anak,” sahut Rion.


“Hah ... kau itu juga sama anak-anak, tcihh! oops ....”


Anak itu merasa sedikit keceplosan, tak seharusnya ia membentak orang asing, karena itu ia malah jadi semakin malu dan akhirnya menangis.


Ayahnya benar-benar kerepotan menangani anak itu, sementara Rion hanya tersenyum menganggap bahwa itu adalah sesuatu yang lucu dan menggemaskan.


“Ah, abaikan ya nak Rion, dia hanya tak terbiasa dengan orang asing, oiya hampir lupa ... perkenalkan dulu, kamu bisa panggil aku paman Sen, dan ini anakku ....”


Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, sang ayah tiba-tiba di panggil oleh rekan lainnya, ia pun langsung bangkit dan bersiap-siap pergi. Sang ayah pun menitipkan sementara dan mempercayakan anakknya pada Rion untuk menjaganya sampai ia ataupun ibunya kembali.


Anak itu sempat menolak dan merengek pada ayahnya, tetapi sang ayah tetap meyakinkannya agar tetap di sana bersama Rion karena ia ada urusan mendadak yang terlihat penting.


“Ayah pergi lagi?” tanya anak itu sambil menangis.


“Hanya sebentar saja nak, nanti ibumu juga akan segera kembali ... sekarang bermainlah dulu dengan kakak Rion ya,” pinta ayahnya.


“Tidak mau, aku maunya bersama ayah saja,” rengek anak itu lagi.


“Ayah ada kepentingan mendadak, kamu mengertilah sedikit, sekarang tinggal bersamanya dulu, ayah tak akan lama kok.”


“Huaaaaaa ....”


Anak itu malah menangis semakin menjadi-jadi dan membuat ayahnya semakin kebingungan harus bagaimana.


“Tenang saja paman, aku akan menjaganya sampai para ibu kembali,” sela Rion.


“Baiklah, kalau begitu tolong ya nak Rion,” pinta sang ayah.


“Tentu, jangan khawatir.”


Sang ayah pun langsung pergi dan bergabung dengan rekan-rekannya di sana. Setelah cukup lama berdiam diri di sana akhirnya anak itu mulai tenang dan berhenti menangis.


Rion hanya tersenyum ke arahnya, tetapi anak itu tetap membalasnya cuek. Ia sebenarnya agak heran, bagaimana bisa anak di depannya itu begitu polos dan menggemaskan.


“Hai adik manis, kau masih kesal denganku?” tanya Rion dengan lembut.


“Huhh.”


“Baiklah, itu tidak masalah ... kau cukup diam saja di sini sampai orang tuamu kembali dan jangan bandel, aku berusaha menjagamu, ya ... walaupun saat ini masih aman-aman saja,” sahut Rion dengan intonasi yang datar.


“Emm ... kau, kenapa sendiri? apa ayahmu tidak datang?” tanya anak itu polos.


“Oh ayah? tentu saja dia tak akan pernah datang,” jawab Rion tenang.


“Kenapa?”


“Dia sudah meninggal setahun yang lalu dalam sebuah pertarungan,” jawabnya masih dengan ekspresi datar.


“Tapi kenapa kau tidak menangis ataupun terlihat bersedih?” tanya anak itu lagi.


“Apakah itu akan mengubah kenyataan? lagi pula itu sudah setahun, tak ada waktu untuk bersedih lagi,” ungkap Rion.


“Begitu ya, oiya aku ... emm ... perkenalkan namaku ....”


“Riko kan?” sela Rion.


“Kau sudah tahu?”


“Ibumu pernah memberitahuku.”


“Oh, begitu ya ... argghhh, membosankan! ibu cerita apa saja padamu?” tanya Riko kecil.


“Tidak ada kok, hanya sekedar memberitahu bahwa ibumu punya seorang anak laki-laki yang sangat menggemaskan, hahaha.”


“Arghh ... tuh kan ibu bilang yang aneh-aneh, hmm.”


Rion hanya tersenyum sembari memperhatikan anak cerewet di depannya.


“Kau polos sekali ya, tampaknya kau sangat bersenang-senang di sini, bahkan kau tidak tahu seberapa menyedihkan nasib kita yang berada di tempat seperti ini dan dengan orang-orang seperti mereka,” ucap Rion tiba-tiba.


“Ah, maksudmu?”


Angin malam berhembus, sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya Rion membalas jawabannya dengan senyuman palsu.


.


.


.


TBC