
Belajar kelompok hari ini cukup melelahkan, lagi pula Riko juga jarang belajar sebelumnya, jadi wajar saja jika ia akan jadi begitu kelelahan. Teman-temannya mulai berpamitan pulang, ia hanya mengantar mereka sampai depan rumahnya saja, menunggu hingga akhirnya mereka berdua pulang bersama dan diantar oleh sopirnya Juan.
Setelah mobilnya sudah jauh dari radar, Riko langsung melesat ke dalam untuk segera meluncur ke tempat tidurnya. Tak lama berselang, Riko yang sedang asik berbaring di sana kemudian dibuat terkesiap oleh adiknya yang tiba-tiba datang menarik selimutnya lalu menggulingkannya sampai terjungkal di lantai.
“Oii ... adik kurang ajar, apa maksudmu ini? hahh!” protes Riko yang kembali naik pitam.
“Aku mau tidur di sini aja ahh ...,” ucap Tian dengan riang.
“Eh! eh ... emang tempat tidur lu ke mana? ngapain tidur di sini?” protes Riko yang tentunya keberatan dengan permintaan adiknyq.
“Tadi ada kecoa di sana, tapi sekarang hilang entah ke mana ... bagaimana jika nanti tengah malam tiba-tiba muncul lagi, kan horor,” balas Tian yang tampak serius.
“Sama kecoa aja lebay ... bukan urusan gue ya! lu cepat keluar dari kamar ini, besok gue harus bangun pagi, jangan ganggu lagi!” bentak Riko.
“Gak mau, kakak tidur di sofa aja! untuk hari ini saja, ya!” pinta Tian.
“Enak aja, lu aja yang tidur di sofa! gampang kan.”
“Enggak lah! aku ini kan adik perempuan, yah ... yang jadi kakak harus ngalah dong!” sahut Tian memaksa.
Riko kembali berdiri dan membalas kelakuan adiknya dengan menarik bed cover sembari menggulingkan adiknya ke lantai.
“Uwahh ... sialan kau kak, kejam sekali.”
“Siapa yang duluan?”
Akhirnya semua kembali berakhir dengan perang bantal. Tak ada yang mau mengalah, bahkan sampai malam pun pertarungan mereka malah tambah semakin sengit saja.
Setelah benar-benar kehabisan tenaga, akhirnya kedua orang itu tergeletak begitu saja di lantai.
“Haaahh ... capek nih!” seru Tian.
“Gara-gara elu sih, hmm ... padahal besok gue harus bangun pagi karena ada ulangan, huhh ... percuma dong belajarnya,” keluh Riko.
“Ahh ... benar juga! teman kakak yang tadi itu ... siapa namanya?” tanya Tian penasaran.
“Teman yang mana? yang cewek namanya Fuurin, yang cowok Juan, hmm ... kenapa memangnya? jangan bilang kau serius suka dengan si Juan itu, ngaku lu!” tuntut Riko.
“Emm ... entahlah, kulihat dia sangat keren dan menawan,” jawab Tian sambil tersipu membayangkan sesuatu dalam imajinasinya.
“Kampret! makanya gue bilangin, lu masih bocah jangan berpikir yang aneh-aneh.”
“Cuma beda setahun aja, berasa orang tua.”
“Haahh ... dikasi tahu malah ngelawan, minta tempe lu?”
Tanpa membalas ocehan Riko tadi, Tian pun memikirkan ide lainnya mengenai hal sebelumnya.
“Ee ... boleh minta nomor telepon atau akun sosial medianya kak Juan?” tanya Tian bersemangat.
“Ga punya, lu tidur aja sana! bikin pusing, gue tidurnya di sofa aja deh, stress berdebat sama lu,” ucap Riko frustasi.
“Hmm ... pelit!”
Riko tak ingin berdebat lebih lama lagi karena waktu tidurnya sudah terbuang-buang cukup banyak, ia harus segera beristirahat.
****
Keesokan paginya, Riko terbangun dengan posisi yang mengenaskan. Ia tak terbiasa tidur di sofa karena itu lebih sempit, mengingat kebiasaan tidurnya yang suka berputar-putar searah jarum jam, jadi wajar saja ketika terbangun ia sudah terjungkal di lantai dengan kaki yang masih di atas, sementara posisi kepala ada di lantai.
Ia sedikit merintih karena leher dan bahunya terasa kaku, ditambah lagi kepala yang terasa agak sakit, mungkin saja ia telah terjatuh cukup keras. Namun, anehnya ia masih tidak terbangun juga pada saat itu, sampai menunggu pagi hari akhirnya datang.
Melihat jam di dinding, Riko langsung berdiri kemudian berjalan perlahan ke kamar mandi.
“Untung belum siang-siang amat, jadi gue ga perlu terlalu buru-buru, hmm ... gara-gara si bocah kurang ajar itu, badan gue jadi pegel-pegel semua,” gerutu Riko.
Cuaca pagi ini memang agak mendung, Riko bergegas berangkat ke sekolah sebelum hujan mulai turun, memang ini masih cukup pagi, tetapi setidaknya waktu bisa ia manfaatkan untuk belajar tambahan sebelum ulangan di mulai.
Riko berjalan di koridor sekolah sembari membaca buku selama di perjalanannya, suasana sekolah masih cukup sepi. Ketika langit yang semakin gelap, beberapa kali Riko dibuat terkejut oleh suara guntur di langit.
Suasana sekitar yang semakin gelap dan sunyi, kemudian mulai terdengar suara titik-titik hujan yang makin lama kian menderas.
Riko masih berusaha bersikap tenang, ia hanya mengabaikan phantom bug yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Jika hujan sudah deras begini, para murid tak akan bisa segera datang, ia hanya berharap akan bertemu seseorang di tengah perjalanannya, tak peduli siapapun itu, bahkan ketua Andi pun juga tak masalah.
Ia sedikit khawatir sekaligus merinding jika terus dipelototi hantu-hantu kecil itu, walaupun mereka tak akan langsung menyergapnya, akan tetapi bukan tidak mungkin jika di depan sana masih ada iblis yang sedang menanti.
Kakinya terasa begitu berat ketika semakin melangkah ke depan. Ia pun mulai kesal, kenapa juga ruang kelasnya harus berada jauh dari gerbang depan sekolah.
Ketika mulai menaiki anak tangga, perasaan itu kembali muncul. Ia terus waspada untuk selalu memperhatikan sekitarnya, tetapi suara ultrasonik transparan yang terdengar cukup aneh itu terus saja terngiang di telinganya.
Ia mulai mengabaikan semua hal dan langsung mempercepat langkahnya. Sampai di tangga atas ia hendak langsung berlari, tetapi tiba-tiba saja ia malah terciprat aliran air hujan yang entah dari mana datangnya. Riko mulai mendengus kesal.
“Oii ... oii ... jangan bilang ini atap sama plaffon langsung bocor sekaligus, kenapa juga harus pas gue lewat sih, hmm.”
Perlahan untaian air yang membentuk tali seakan mengikatnya erat, ia tak bisa berteriak sama sekali, aura berat dari monster air itu benar-benar kuat. Riko hanya manusia biasa, ia sama sekali belum pernah melawan ataupun mengalahkan monster, iblis, atau semacamnya.
‘Ini lebih kuat dibandingkan iblis yang pernah aku temui sebelumnya, apa aku akan mati di sini? jika memang begitu, aku minta maaf lagi Fuurin ... aku tak bisa menepati janjiku.’
Ketika monster air itu semakin mendekat, ia hanya bisa pasrah sembari memejamkan kedua matanya.
SRAAKKK ....
Segel Dewa Api 'Pelita Kegelapan' : Hancurkan!
Mendengar suara redam yang sedang merapalkan suatu mantra, Riko kembali membuka matanya.
Tampak seseorang laki-laki bertubuh kurus dan terlihat lemah sedang berdiri di depannya, ia membawa semacam suar di tangannya, lalu memunculkan api yang besar, di antaranya ada yang berubah menjadi tali api hitam yang mengoyak iblis air tersebut dan kembali disusul oleh api hijau yang ia kendalikan dengan kedua tangannya.
Akhirnya Iblis itu berhasil dilemahkan kemudian dijerat menggunakan tali api berduri. Orang itu masih fokus pada kegiatannya tanpa menoleh ke belakang, Riko pun jadi penasaran siapa sebenarnya orang yang sedang berdiri di hadapannya?
Hendak memanggil orang itu, tetapi lagi-lagi ia terperanjat, karena tiba-tiba saja orang itu mengeluarkan semacam pena khusus dari sakunya, yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika pena jarum yang tiba-tiba ia tusukkan pada salah satu jarinya sendiri. Kemudian digunakan untuk menulis segel pada suar itu dengan menggunakan darahnya sendiri, ia begitu tercengang antara takut dan penasaran.
‘Apakah orang ini benar-benar orang baik? apakah ia memang berniat akan menolongku?' tanya Riko dalam hati.
Kemudian orang tadi membuat segel khusus yang akan menyegel iblis itu ke dalam suarnya. Setelah proses segel selesai, barulah ia melirik ke belakang.
Tatapan menusuk dari orang itu benar-benar menyakitkan mata, sembari meneguk ludah dengan perasaan setengah ragu, Riko mencoba untuk menyapanya.
“Ha-hai ... aku Riko.”
Orang itu berjalan mendekati Riko, membuat jantungnya semakin memburu.
‘Sepertinya orang ini berbahaya ... sepertinya orang ini berbahaya ....’
Berulang kali Riko terus mengucapkan kalimat tersebut dalam hatinya.
“Mm ... apa kau terluka?” tanya siswa itu.
“Ti-tidak ada, aku cuma agak shock saja,” balas Riko canggung.
“Syukurlah kalau begitu, tadi kebetulan aku lewat di sini dan melihat iblis air itu, syukurlah aku tepat waktu,” balasnya dengan ramah.
‘Huftt ... untung saja orang baik, aku benar-benar tertolong hari ini, tapi siapa orang ini? apakah dia exorcist? kenapa memakai seragam sekolah ini? tapi aku belum pernah melihat orang ini sebelumnya,’ bhatin Riko penasaran.
“Hei ... kenapa melamun, kamu Riko kan? kita bertemu lagi, senang bisa mengenalmu,” ucap siswa tadi mencoba menyadarkan lamunan Riko.
Riko masih bertanya-tanya, siapa orang itu? di mana ia pernah bertemu dengannya? tak lama kemudian ia kembali teringat.
‘*Ah ... benar juga, aku bertemu orang ini kemarin di klub exorcis*t.’
“Oh iya, kamu yang kemarin di klub exorcist kan?” tanya Riko untuk memastikan kembali.
“Iya, itu aku ... aku juga anggota klub exorcist, namaku Rein, aku adalah seniormu dan teman sekelas Andi,” balasnya santai.
“Oh begitu, tapi kenapa aku tak pernah melihatmu sebelumnya?” tanya Riko lagi.
“Oh itu ... aku jarang pergi ke sekolah karena aku sudah sakit-sakitan sejak lama dan kondisi keluargaku yang sangat miskin, jadi aku hanya akan hadir di waktu tertentu saja,” jelas Rein dengan singkat.
“Begitu ya, maaf sudah menanyakan hal itu.”
“Tidak masalah, walaupun demikian aku tetap belajar di rumah.”
“Kau benar-benar hebat senior! tak seperti diriku ini, hmm ... sudahlah, ngomong-ngomong terima kasih untuk yang tadi, aku benar-benar berhutang padamu,” ucap Riko ramah.
“Tidak masalah, aku hanya kebetulan lewat, jika kau memang ingin membalas budi, maka jadilah juniorku yang baik,” balas Rein sedikit ambigu.
“Ah ... haha, iya-iya ... aku akan mengusahakan yang terbaik,” jawab Riko agak canggung.
‘Hmm ... lagi-lagi aku bertemu dengan orang yang cara bicaranya aneh, sama seperti ketua sialan itu.’
“Kau ....”
Orang itu menyentuh dahi Riko, yang kemudian membuat tanda itu kembali muncul pada dahi dan kelopak mata Riko.
“Bodoh sekali! Jiu.”
.
.
.
TBC