
Di keesokan pagi yang cerah, Andi terbangun di kamarnya. Suara kendaraan yang lalu lalang di pagi hari terdengar cukup jelas, tentu saja berbeda dengan suasana tempat tinggalnya di desa.
Ketika mulai bangkit dari tempat tidur, Andi pun langsung mengambil dan memeriksa handphone miliknya, masih sambil mengucek-ucek matanya ia melihat ada sebuah pesan yang belum terbaca.
Setelah membuka isinya, ia mendapat perintah sebuah misi dari organisasinya. Awalnya ia masih bingung mengapa malah mendapat misi ketika ia sedang izin.
Namun, setelah selesai membaca habis pesan di bawahnya, Andi pun kembali mendengus kesal.
“Huft, padahal ini hari libur ... kenapa juga harus ada misi yang tempatnya kebetulan di kota ini, menyebalkan sekali, mau tak mau aku harus menerimanya,” keluh Andi yang mulai jengkel.
Ia pun bergegas untuk bersiap-siap, berharap untuk menyelesaikan misinya dengan segera, agar waktu liburnya tak banyak yang terbuang.
Setelah ia menyelesaikan aktivitas paginya, Andi pun berpamitan untuk pergi jalan-jalan di sekitar kota.
Namun, ketika mendapat izin dari orang tuanya, sang adik malah mencegatnya dan meminta untuk ikut pergi, tentu saja Andi menolak permintaan adiknya. Meskipun misinya kali ini hanya mencari suatu benda, tetapi tetap saja ia tak ingin ada yang ikut campur mengganggu kegiatannya.
Meskipun sang adik merengek, ia tetap tak mengizinkannya pergi.
“Kenapa aku tak boleh ikut pergi?” tanya Ivan kesal.
“Aku sedang ada urusan, bukan untuk sekedar bermain-main, kau tetap di rumah saja, akan aku belikan sesuatu saat pulang nanti,” bujuk Andi yang berusaha menenangkannya.
“Gak mau, ayah dan ibu sebentar lagi akan berangkat kerja, sendirian itu membosankan jadi mau ikut kakak saja,” protes Ivan yang tak mau tau.
“Tidak bisa! kau tetap di rumah saja, aku tak akan lama, jangan jadi anak yang bandel,” balas Andi yang mulai jengkel.
Tanpa basa-basi lagi, Andi pun langsung pergi untuk segera menyelesaikan misinya.
****
Cukup lama berjalan untuk mencari lokasi tujuan, tampaknya ia harus menyeberangi jalan raya yang cukup luas. Tanpa membuang-buang waktu, Andi pun langsung menyeberang dengan cepat dan kembali melangkah ke depan.
Tak lama kemudian terdengar suara yang tak asing sedang memanggil namanya.
“Kak Andi! tunggu aku!” pekiknya kencang.
Seketika Andi menoleh ke belakang. Di saat yang bersamaan pula ia melihat sebuah truk yang melaju kencang dan menabrak Ivan yang sedang berlari tanpa memperharikan sekitar.
Andi sempat terdiam kaku melihat kejadian yang begitu cepat di depan matanya. Kedua tangannya mulai bergetar dan dengan napas yang terengah-engah ia mulai berlari ke arah kerumunan orang-orang.
Di sana ia melihat adiknya yang terbaring bersimbah darah, air matanya mulai mengalir deras, leher pun terasa mencekik hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Suasana hatinya seketika hancur saat itu dan hanya bisa terdiam ketika mobil ambulance membawa keduanya menuju rumah sakit.
Beberapa jam berlalu sang bibi pun datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan mereka berdua. Di sana sang bibi mencoba untuk menenangkan Andi yang tampak sangat shock dengan kecelakaan itu.
Ketika dokter memberi kabar duka tentang kepergian Ivan, Andi pun terlihat semakin stress mendengar kenyataan itu. Ia hanya bisa terdiam sembari menangis.
Beberapa jam kemudian sang ibu dan ayah akhirnya sampai di rumah sakit, tentu saja mereka sangat sedih dengan berita ini, meskipun begitu tak ada yang bisa mereka lakukan selain saling menenangkan.
****
Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, Andi pun hanya mengurung diri di kamar dan terus menyalahkan dirinya.
‘Andai saja aku tak pergi hari itu, ini semua tak akan terjadi.’
‘Tidak, meskipun begitu masih ada hari esok yang memungkinkan hal itu terjadi juga.’
‘Kalau saja tak ada misi itu.’
‘Tapi aku tak akan bisa melindungi siapapun jika aku tak bergabung.’
‘Tetap saja! aku masih tak bisa melindungi orang yang aku sayangi.’
‘Tidak, ini salah mereka ... harusnya tak ada misi seperti itu di tempat ini, misi yang sangat penting untuk mereka tapi akhirnya malah merenggut milikku.’
‘Tak bisa dimaafkan.’
Andi kembali menangis hingga akhirnya teringat dengan gadis kecil yang ia temui beberapa hari yang lalu. Andi pun kembali bangkit dan mengusap air matanya.
“Aku masih ada hari libur beberapa hari lagi, jika benda itu memang berharga bagi mereka yang harus aku lakukan saat ini adalah menemukan benda itu dan menyimpannya di tempat di mana tak seorang pun bisa menemukannya, dengan begitu ... semua yang mereka rencanakan tak akan terwujud selamanya,” gumam Andi yang tampak ambisius.
Andi pun mulai bergegas pergi untuk mencari benda itu sebelum ada yang mengambilnya lebih dulu.
Cukup lama berlarian di jalan, akhirnya ia sampai juga di depan kuil pinggir desa. Di sana ia mulai mencari keberadaan benda misterius itu.
Setelah berjam-jam mencari ia pun menemukan sebuah kotak kecil di belakang prasasti yang ditutup sebuah batu persegi. Andi langsung membuka isinya, ia pun menyeringai puas.
“Akhirnya, akhirnya aku menemukannya ... Ring Compass ... aku tak tahu untuk apa benda ini, tapi selama aku menyimpannya dengan baik maka aku menang.”
Tanpa membuang-buang waktu lagi, ia langsung merapikan semuanya seperti posisi semula sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu lalu kembali pulang.
****
Beberapa hari berlalu sebelum ia akan kembali ke desa, Andi kembali menghubungi pihak organisasi.
“Halo, selamat malam ... saya Andi ingin menyampaikan tentang misi beberapa hari yang lalu, bahwa saya tak bisa menyelesaikannya, sudah mencari benda itu berhari-hari tapi masih belum menemukannya, besok saya akan kembali ke desa, jadi silahkan misi ini diserahkan ke anggota lainnya, lebih banyak orang lebih baik karena ini sangat sulit,” jelas Andi dengan singkat.
“Baiklah kalau begitu,” balasnya singkat.
Andi kembali mengeringai setelah menutup teleponnya.
“Ahaha ... carilah sebanyak mungkin, makin banyak orang makin baik, bahkan jika dunia ini akan segera berakhir tak akan bisa kalian temukan karena benda ini sudah berada di tanganku, selanjutnya aku akan meminta Shin untuk menyembunyikannya,” gumam Andi dengan tatapan yang dingin.
****
Keesokan harinya Andi pun kembali mengemasi barang-barangnya untuk segera kembali ke desa.
“Andi, apa kamu sudah lebih baik? tinggal lah lebih lama di sini, ibu tau kamu pastinya masih memikirkan tentang kepergian Ivan, ibu takut akan terjadi sesuatu padamu juga,” lirih sang ibu yang tampak khawatir.
“Tenang saja, aku sudah lebih baik ... lagi pula aku harus sekolah dan masa izinku sudah habis juga, jadi aku harus kembali ke desa, jangan khawatir ... aku akan baik-baik saja,” sahut Andi tenang.
“Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang, jika perlu sesuatu nanti, kau bisa hubungi ayah dan ibu, kami akan mengusahakan yang terbaik,” sambung sang ayah.
“Baiklah, terima kasih ayah, ibu ... kalau begitu ayo berangkat.”
Andi pun langsung masuk mobil bersama sang ayah dan segera berangkat untuk kembali ke desa.
.
.
.
TBC