
Ketika hari sudah menjelang malam, Tian sekeluarga berkumpul seperti biasa di ruang makan untuk menghidangkan makan malam.
Setelah beberapa kali mengamati, bibi pun jadi penasaran karena belum melihat Riko sejak siang tadi.
“Hei Tian, di mana kakakmu? ibu belum melihatnya dari tadi siang, apa dia sudah makan?” tanya bibi lembut.
“Dia lagi ngambek tuh di kamar ga mau keluar, dia marah banget karena aku dekati pacar laki-lakinya,” sahut Tian dengan nada yang kesal.
“Uhuk ... uhuk ... tidak boleh begitu nak, walau bagaimana pun dia tetap kakak sepupumu, kalian sudah bersama sejak kecil, jangan bertengkar seperti itu,” balas bibi menasehati Tian.
“Habisnya sih setiap aku dekat dengan kak Andi dia selalu mengusirku dan marah-marah huhh, aku kan cuma mau membantu doank,” sahut Tian kecut.
“Sudahlah, kita lanjutkan makan malamnya, kakakmu mungkin sedang banyak masalah jadi dia sedikit lebih sensitif, bukankah dari dulu dia memang seperti itu,” lerai sang paman.
“Yasudah, kita lanjutkan makan malam saja, males bahas kak Riko huhh,” jawab Tian cuek.
****
Di sisi lain, Riko yang tampak menatap kosong keluar jendela entah memikirkan hal apa, ia tetap masih terlihat gelisah.
‘Aku sudah menerima bantuan dari banyak orang dan sudah merepotkan mereka semua, ayah, ibu, Rion, bibi, paman, Tian, ketua, Fuurin dan senior lainnya, bukankah aku terlalu menutup mata selama ini? apa yang bisa aku lakukan untuk mereka?’ bhatin Riko bimbang.
“Apa yang sedang kau pikirkan, hingga membuatmu berdiri selama itu di depan jendela?” tanya Andi menginterupsi.
“Bukan apa-apa, ini hanya pemikiran normal untuk seseorang yang kembali mengingat tujuannya,” balas Riko dingin.
“Apa kau masih ingin balas dendam?” tanya Andi lagi.
“Entahlah, mungkin perasaan itu sudah memudar ... lagi pula aku juga tak tahu harus kepada siapa aku membalasnya, iblis cahaya Ungu itu juga entah bagaimana sekarang, apakah sudah lenyap atau belum aku tak tahu lagi ... tapi untuk sekarang aku hanya ingin menjadi lebih kuat untuk membasmi semua iblis yang telah mengacaukan dunia ini,” balas Riko yang terlihat serius.
“Kau yakin hanya seperti itu, tidakkah ada kecurigaanmu terhadap sesuatu?” tanya Andi yang tampak memiliki maksud tersembunyi.
“Haah, apa maksudmu?” tanya Riko bingung.
“Cepat kemari! aku beritahu kau,” balas Andi dengan sedikit seringai di wajahnya.
Riko sedikit curiga dengan sikap Andi yang selalu sulit diprediksi, meskipun begitu ia tetap penasaran. Riko pun berjalan ke pinggiran tempat tidur di mana Andi sedang duduk saat ini dengan langkah yang sedikit ragu-ragu.
Sampai di depan seniornya ia hendak bertanya lagi. Namun, belum sempat menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Andi menariknya untuk lebih mendekat dan membisikkan sesuatu padanya.
Riko tertegun sesaat mendengar apa yang telah dibisikkan oleh Andi saat itu, tampak suasana hatinya kembali berubah. Ia terlihat tidak senang hingga memasang ekspresi yang dingin.
Meskipun hal itu membuat suasana menjadi berat, tetapi hal tak terduga kembali mencairkan keadaan.
Tian yang tampak masih berdiri diatas tumpukan kursi dan ketahuan sedang mengintip dari lubang ventilasi, membuat Riko kembali tersadar bahwa posisi mereka berdua bisa saja membuat orang lain salah paham.
Mengetahui dirinya telah terciduk, Tian pun langsung melarikan diri.
“Aaa ... tidak!!! si kutu kupret itu pasti sudah berpikir yang aneh-aneh saat ini, arghhh ... ini semua gara-gara kau iblis empat mata, pasti kau sengaja kan haah ... kenapa kau senang sekali melihatku terjebak dalam masalah dan situasi basi seperti ini, arghh ... aku jadi ingin menyiksamu sampai semaput,” ucap Riko dengan emosi yang berapi-api.
“Ahahaha ... coba saja kalau bisa,” goda Andi lagi.
“Ah sudahlah ... ternyata kau memang terlalu sialan dari bawaanmu harusnya aku mengingat hal itu lebih baik, sekarang berhenti dengan leluconmu itu dan cepat jelaskan padaku,” balas Riko kecut.
“Ahahaha ... baiklah, aku memang sengaja membuatnya salah paham, bukankah sebaiknya anak-anak tidak usah ikut campur dengan urusan kita, selain itu sesuatu yang akan kita bicarakan adalah hal yang menyimpang dari masalah manusia biasa, mereka tak perlu tahu tentang itu ... apa kau akan membiarkan anak itu terus menguping pembicaraan kita? akan lebih baik jika membuatnya lebih cepat pergi dari balik pintu kamarmu itu,” jelas Andi dengan santai.
“Kau jangan terlalu memanjakannya, dia itu lebih licik dari yang kau bayangkan, kau pikir dia tak mengerti tentang dunia exorcist, sejak kecil aku tumbuh bersamanya juga dengan Rion ... tentunya dia tahu banyak mengenai dunia exorcist, hanya saja karena ingatanku sebelumnya masih terkunci jadi aku tak pernah membayangkan kalau anak itu ternyata bagian dari kami juga,” terang Riko yang perlahan duduk dengan rileks.
“Ah begitu rupanya, maka dari itu kita harus lebih berhati-hati lagi, jangan sampai dia ikut campur dengan masalah ini,” balas Andi sembari tersenyum misterius.
“Baiklah, pertama aku ingin bertanya mengenai namamu ... kenapa kau dulu memperkenalkan dirimu sebagai Chuyan, apa kau begitu tak percaya padaku waktu itu?” tanya Riko dingin.
“Jangan salah paham dulu, itu juga namaku lho ... dulu seorang temanku yang memberi nama itu termasuk dua teman lainnya, kami biasa menggunakan nama khusus ... karena kau juga seorang exorcist kurasa bukan hal yang buruk jika kau mengenalku dengan nama itu, lagi pula aku berpikir akan bertemu lagi di hari berikutnya untuk memberitahumu, tapi entah kenapa kau tak pernah datang lagi, ahaha ... aku tak menduga hal buruk akan menimpamu dan kita tak pernah terhubung kembali,” jelas Andi tenang.
“Jadi kau masih menungguku di sana?” tanya Riko yang sedikit terkejut.
“Tentu saja, sampai waktu liburku berakhir ... aku selalu datang ke tempat itu, selain menunggumu aku juga berlatih bersama temanku di sana, dan di hari itu juga aku kehilangan salah satu teman baikku dan juga seorang teman immortal, aku kehilangan mereka berdua dengan begitu mudahnya... hanya aku dan Rein yang masih tersisa, aku sempat berpikir dia akan lebih membenciku lagi, tapi dia hanya diam dan terus menyakiti dirinya sendiri ... aku tak mengerti dengan jalan pikirkannya, yang kutahu Rein sangat menyukai Hita,” terang Andi yang mulai merenung.
“Aku juga bisa melihat kesedihan dan kekosongan dalam diri senior Rein, jadi tak heran jika dia selalu bersikap seperti itu,” sambung Riko.
“Biasanya dia selalu terlihat kesal dan cemburu saat Hita lebih banyak bermain denganku, tentu saja dia menganggapku sebagai rivalnya, hanya sampai saat itu terjadi dia tak pernah memarahiku lagi ataupun kesal terhadapku, aku tak tahu lagi ... semakin hari pertemanan kita semakin renggang saja, mungkin dalam hatinya juga menyalahkanku yang terlalu lemah hingga membiarkan Hita pergi begitu saja, tetapi aku tak mengerti ... mengapa dia hanya diam seakan tak pernah terjadi apapun,” tambah Andi.
“Maaf, mungkin ini bukan urusanku ... tapi bisakah kau ceritakan apa yang terjadi saat itu?” tanya Riko agak canggung.
“Baiklah, tapi sebelum itu akan aku beritahu bagaimana awal cerita kami jadi tertarik pada dunia immortal dan exorcist,” ucap Andi sembari melirik ke arah Riko untuk meyakinkannya.
“Baiklah akan aku dengarkan semua ceritamu,” balas Riko singkat.
Flashback :
Berawal dari masa kecil Andi, Rein, dan Hita yang selalu menyukai tantangan, mereka bertiga tumbuh bersama di daerah yang terpencil dan hijau. Suatu hari mereka sepakat untuk pergi mengunjungi kuil tersembunyi di tengah hutan, tempat itu sangatlah jarang dikunjungi manusia sehingga kesan sakral tempat itu tampak jelas, saat mulai memasuki tempat itu, tak disangka mereka pun bertemu dengan Deity kecil yang berasal dari dunia immortal.
Mungkin jika orang lain akan langsung lari terbirit-birit, tetapi mereka bertiga malah tertarik dan bersemangat, langsung saja Andi menghampiri Deity kecil itu, meskipun awalnya ia terlihat sedikit panik, tetapi melihat respon positif dari ketiga anak di depannya itu membuat sang Deity menjadi sedikit lega.
“Hei, kamu bukan manusia? kenapa bisa berada di tempat ini?” tanya Andi penasaran.
“Benar, aku bukan manusia dan aku berasal dari alam immortal ... aku hanya selalu penasaran dengan kehidupan manusia dan memutuskan untuk pergi dan melihatnya secara langsung, meskipun tak langsung muncul dalam keramaian karena itu cukup berbahaya untukku, aku hanya mencari tempat sepi seperti ini ... tak di sangka malah bertemu kalian bertiga,” jawab Deity kecil dengan lembut
“Emm ... apa ada yang membuatmu khawatir?” tanya Hita agak canggung.
“Tentu, meskipun aku bisa pergi ke mana saja tapi aku tetap tak boleh terekspos oleh siapapun, bisa-bisa aku dihukum oleh para Deity lainnya, karena itu bisakah kalian menjaga rahasiaku ini? aku tak ingin orang lain menemukanku,” pinta Deity itu.
“Tentu saja! serahkan pada kami!” seru mereka bertiga secara serempak.
“Baiklah, pertama perkenalkan dulu namaku Andi, ini temanku Rein, dan di sana Hita, bagaimana denganmu?” tanya Andi dengan antusias.
“Panggil saja aku Shin, senang bertemu dengan kalian bertiga,” balasnya ramah.
Sejak saat itu Andi dan yang lainnya lebih sering mengunjungi kuil tersebut untuk bertemu dengan teman immortalnya. Beberapa kali Shin menunjukkan hal menakjubkan di hadapan mereka bertiga hingga tak sadar perlahan membuat mereka benar-benar tertarik dengan dunia immortal.
****
Hingga suatu hari terjadi kejadian tak terduga yang menimpa desa mereka. Seekor iblis menyeramkan menyerang dengan brutal tempat kelahiran mereka. Warga desa mencoba menyelamatkan diri sebisa mungkin sampai bantuan tiba.
Andi dan yang lainnya pun sangat panik saat itu, Rein dan Hita juga tak bisa menemukan orang tua mereka. Meski begitu mereka harus tetap berlari sejauh mungkin agar tak sampai tertangkap.
Mereka bertiga berlari ke tengah hutan dengan sekuat tenaga, sayangnya pergerakan itu disadari oleh makhluk yang sedang mengamuk tersebut. Beberapa kali mereka hampir terkena serangan, tetapi mereka hanya terus berlari dan berlari.
.
.
.
TBC