
Hari pun sudah semakin sore, Riko bahkan melewatkan makan siangnya. Beberapa kali Tian menggedor-gedor pintu kamarnya tetapi tak ada jawaban sama sekali.
Mengingat sifat Tian yang penuh curigaan, tak heran jika beberapa kali ia mengintip dari lubang ventilasi. Di sana ia melihat keduanya sedang tertidur pulas di masing-masing tempat yang berbeda. Ia hanya mendengus kesal karena tak seorang pun dari mereka yang merespon panggilannya.
“Dasar kebo! gue bawain nuklir kali ya biar pada bangun, sudah berapa jam mereka tidur tapi belum ada yang mau bangun juga, haah ... seberat apa sih latihan hari ini, bisa molor sampe sesore ini, huh!” omel Tian dari depan pintu.
Kira-kira sekitar pukul 4 sore Riko pun mulai terbangun, ia menatap di sekitarnya yang tampak hening. Terlihat di pinggir jendela ada seniornya yang masih tertidur, kemudian ia perlahan bangkit dan menyingkirkan selimut yang menutupinya.
Dengan langkah yang masih belum stabil, Riko berjalan ke tempat Andi sembari menautkan kancing pakaiannya yang masih terlepas.
“Chuyan? kenapa masih di sana ... apa masih terasa sakit?” gerutu Riko yang belum sepenuhnya sadar.
Ia pun menghampiri Andi yang tidak menjawab, kemudian menepuk-nepuk pundaknya agar ia segera bangun. Karena masih belum ada respon apapun dari seniornya, akhirnya ia mencoba untuk memindahkannya ke tempat tidur.
“Senior empat mata ini berat sekali ... untung saja masih di dalam kamar, kalau tidak ... tulang-tulangku bakal cepat keropos,” gerutu Riko sambil memapah Andi.
Setelah sampai di tempat tidur, ia langsung membaringkannya di sana.
‘Aku baru sadar dia bahkan tidak memakai bajunya, haruskah aku cuci dulu sampai ia sadar nanti hmm...,’ bhatin Riko yang sedikit bingung.
Karena tak ada pilihan lain, akhirnya ia tetap melakukannya. Namun, sebelum itu ia meminjamkan piyama miliknya yang kebetulan ukurannya lebih besar, ia memakaikannya dengan penuh hati-hati.
Setelah menyelesaikan tugasnya ia langsung pergi mencuci pakaiannya.
****
Beberapa menit berlalu, setelah selesai mencuci ia pun langsung mengeringkan baju dan menjemurnya.
“Akhirnya ... dan sekarang aku benar-benar lapar astaga ... aku bahkan melewatkan makan siang hmm, harus segera tancap gas dengan mode penyamaran,” gumam Riko yang mulai mengendap-endap ke dapur.
Tak lama berselang ia pun datang dan dikejutkan oleh seseorang.
“Huaa ... ketahuan kau koala kutub, pasti mau comot makanan kan? bilang sajalah tak perlu mengendap-endap seperti itu,” sergap Tian menginterupsi aksi Riko.
“Sial, lu pasti sengaja kan? huhh ... lagi pula gue sebenarnya tadi cuma sedang bosan dan perlu tambahan energi, jadi mungkin ada sedikit snack atau semacamnya, bukan seperti sedang mencuri makanan,” bentak Riko kesal.
“Elah, ngeles lagi ... gue juga tau lu dari tadi molor berjam-jam sama kak Andi, huhuhu ... ahh atau jangan-jangan lu ada sesuatu gitu ya sama kak Andi? semacam hubungan terlarang, tehee,” goda Tian sambil terkekeh.
“Anak setan! enyah kau dari sini ... bikin sakit mata dan telinga saja!” bentak Riko yang semakin kesal.
Tian pun langsung kabur sembari tertawa mengolok-olok Riko.
‘Huhh ... bocah tengil itu tak mengerti apapun, mana mungkin aku membiarkan orang yang sudah menolongku sekarat di depanku begitu, aku sudah berhutang banyak padanya jadi aku harus bersikap lebih baik lagi, apalagi dia terluka karenaku, huhh ... aku tak bisa berdiam diri lagi, sekarang aku bisa melihat bahwa semua hal dari awal sudah tak ada yang beres, aku perlu menyelidiki hal itu,’ bhatin Riko.
Karena Tian sudah pergi, ia pun melanjutkan kegiatan makannya dengan sedikit terburu-buru.
Perasaannya tetap tak tenang saat ini, setelah menyelesaikan makanannya ia segera mencuci piring, kemudian kembali ke kamar.
****
Ketika sampai di depan kamar ia kembali tertegun saat melihat Tian ada di sana. Dengan langkah cepat ia langsung menarik Tian untuk keluar kamar.
“Hei kau! apa yang sudah kau lakukan padanya ... dan untuk apa kau menyimpan darah ini?” tanya Riko dengan intonasi dingin dan marah.
“Apa maksudmu, kau tak lihat tangannya sedang terluka ... aku hanya mencoba untuk membersihkannya, tapi lukanya tampak parah dan terus mengeluarkan darah jadi aku gunakan ini agar tak mengotori tempat tidurmu,” sahut Tian dengan intonasi yang tinggi juga.
‘Aku baru ingat ... bahkan aku belum sempat membalut luka di tangannya, tapi anak ini ... dia tak perlu mencampuri apapun urusanku saat ini,’ bhatin Riko.
Tanpa ragu Riko langsung merampas saput tangan yang penuh darah dari tangan Tian, selain itu kotak kecil tempat ia menyimpan darah sebelumnya juga terjatuh dan pecah, sehingga darahnya berserakan di lantai.
“Maaf, tapi ini bukan urusanmu ... aku akan membereskannya nanti, tapi kau sebaiknya kembali saja ke kamarmu,” perintah Riko dingin.
“Terserah saja, tapi aku kecewa ...,” balas Tian sebelum pergi dari sana.
Setelah Tian pergi, Riko langsung menutup dan mengunci kamarnya.
‘Arghh ... aku pasti sudah menyakitinya sekarang, apa yang terjadi padaku? setelah mendapatkan kembali ingatanku, aku jadi lebih waspada hingga tak bisa mempercayai siapapun, bahkan keluargaku sendiri ... orang di depanku ini mungkin bukan siapa-siapaku, tapi dia telah menyelamatkan hidupku beberapa kali, bahkan saat pertama kali kita bertemu ... aku hanya menyadari betapa pentingnya orang ini bagiku dan aku bisa mempercayainya,’ bhatin Riko yang penuh konflik.
“Hei Riko! apa yang kau lakukan di sana? dan kekacauan macam apa disekitarmu itu, apa kau sedang frustasi lagi?” tanya Andi yang cukup kebingungan.
Riko pun tersadar dan mengangkat kepalanya.
“Ehh, kau sudah bangun rupanya ... ah iya aku bahkan belum membereskan kekacauan ini, hufft ...,” balas Riko agak canggung.
“Apakah sesuatu telah terjadi?” tanya Andi penasaran.
“Aku sudah menyakiti hati Tian, mungkin setelah ini dia tak mau berbicara lagi denganku,” balas Riko lemah.
“Jadi kau bertengkar dengan Tian, apa ada yang membebankan pikiranmu?” tanya Andi lagi.
“Lupakan saja, dia terlalu mencampuri urusanku ... aku hanya tak suka hal itu,” balas Riko cuek.
“Ahh, apa dia tadi membantu merawat lukaku lagi? ahahaha ... kau tak perlu securiga itu pada adikmu sendiri, lihat aku masih baik-baik saja kan,” balas Andi yang coba menenangkan suasana hatinya.
“Baiklah, kau tetap berbaring di sana aku akan membalut lukamu terlebih dahulu,” balasnya agak dingin.
Riko pun langsung mengambil kotak obat dan membersihkan lukanya, ia sempat memperhatikan luka yang ada di tangan Andi sebelumnya.
“Aku tahu kau hanya menggunakan jarummu untuk membuat pola segel bukan, harusnya tidak sampai separah itu,” gumam Riko dengan wajah yang murung.
“Eh, apa yang kau katakan?” tanya Andi yang sedikit terkejut.
“Bukan apa-apa, aku hampir selesai membersihkan lukamu, selanjutnya aplikasikan obat sebelum membalutnya,” balas Riko tenang.
Andi hanya mengernyitkan alisnya, ia sedikit bingung dengan tingkah Riko belakangan ini. Namun, meskipun begitu ia hanya percaya bahwa apapun yang ada dipikirannnya, ia pasti menginginkan sesuatu untuk kebaikan semua orang.
Setelah menyelesaikan kegiatannya ia langsung membersihkan lantai yang berserakan darah juga pecahan kaca di sekitarnya.
“Aku mau mandi dulu, kau jangan ke mana-mana ya dan ini ada sedikit makanan ringan, aku akan membawakanmu makanan lagi setelahnya, mengerti!” seru Riko yang semakin dingin.
“Ah baiklah, terima kasih kalau begitu,” balas Andi canggung.
Riko pun langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dalam pikirannya ia masih dipenuhi oleh kecurigaan dan tanda tanya, ia mencoba mengingat dan mencerna semua hal yang telah terjadi sebelumnya.
Setelah selesai mandi, ia langsung pergi keluar untuk membeli makanan.
****
Di sisi lain Andi mencoba memulihkan diri dengan energi spiritual khususnya, dalam keadaan yang tenang ia dapat mengumpulkan lebih banyak energi dari alam immortal.
Tak berselang lama Riko pun sampai di rumah sembari membawa makanan, ia sedikit terkejut saat melihat tanda Jiu kembali muncul di wajah Andi.
“Hei, apa telah terjadi sesuatu? tanda kutukanmu menyebar lagi,” tanya Riko agak khawatir.
“Tenang saja aku sedang memulihkan diri, saat ini aku sedang menyerap energi alam dari immortal menggunakan tanda ini,” jelas Andi.
“Ah begitu rupanya ... oiya ini makananmu, kau habiskan semuanya setelah itu kau bisa mandi dulu sebelum beristirahat, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu,” balas Riko.
“Baiklah, kau juga ikut makan!” seru Andi.
“Aku sudah makan tadi, kalau pun nanti lapar lagi aku masih punya banyak stok makanan jadi kau habiskan itu sendiri,” balas Riko santai.
“Okedeh kalau begitu, selamat makan!” seru Andi yang tampak cukup bersemangat.
.
.
.
TBC