
Hari yang cerah pagi ini udara terasa lebih dingin dari biasanya, Juan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Namun, sebelum melanjutkan aktifitasnya, tak lupa ia untuk memeriksa email terlebih dahulu.
Saat setelah ia memeriksa semua email yang masuk, di sana terdapat sebuah spam yang berisikan banyak morse yang mengarah ke makna negatif, ditambah lagi dengan sisipan gambar lilin kematian di lembar terakhir, Juan memang agak sedikit terkejut, tapi juga tak begitu heran dengan pesan email semacam ini.
“Hee ... kau pikir aku akan takut dengan permainan bocah seperti ini, hmm ... tentu saja aku tak akan tinggal diam, bukan kau tapi akulah yang akan lebih dulu menghancurkanmu,” gumam Juan.
Juan pun kembali menutup emailnya dan siap berangkat ke sekolah.
.
.
Di sisi lain Riko mengalami sedikit kendala saat ia akan berangkat ke sekolah, di depan gerbang rumahnya ia masih berdebat saja dengan adiknya, Riko tetap menolak mengantar titipan kotak makanan kali ini.
“Oii ... kakak Riko! aku gak mau tahu, pokoknya kau harus antarkan kotak makanan ini, titik,” rengek Tian.
“Enak aja ... kau tak bisa masak, sebaiknya tak usah masak, bikin malu saja!” bentak Riko yang masih enggan.
“Waktu itu gue kan gak tahu kalau kak Andi gak suka pedas, tapi kali ini gue buatkan cookies gak mungkin pedas dong,” sahut Tian yakin.
“Gak ah ... nanti bikin malu lagi, nanti di sana gue dijadikan bahan ejekan, gak mau ah.”
“Jangan banyak bacot lagi!! ini cookies enak, kalau gak percaya ... kau bisa cobain nanti bareng kak Andi.”
Tanpa berkompromi lagi Tian langsung menyodorkan kotak makanannya untuk dibawa Riko. Jadi, seberapa keras pun menolak ia tetap tak bisa membantah keinginan adiknya.
Meskipun sedang tak ada konflik saat ini, tapi tetap saja Riko merasa enggan jika bertemu dengan ketua Andi.
.
.
Di sekolah, suasana pagi ini masih tampak tidak terlalu ramai, Fuurin datang dan berlari ke kelas, ia terlihat sangat bersemangat. Dengan wajah berseri ia berlari-larian sembari membawa sebuah buku, sampai di kelas ia tak sengaja menabrak seseorang.
BRUGHHH ....
“Auhhh ... sialan! kau ... arghhh ...,” umpat seorang siswi.
“Maaf, maaf ... aku tidak sengaja,” balas Fuurin sopan.
“Hei ... kau perempuan aneh! kalau mau lewat jangan sembarangan, dasar sampah! kau sama saja seperti teman berandalanmu itu,” sahut siswi itu dengan angkuhnya.
“Aku memang salah, tapi kau tak perlu bawa-bawa temanku,” protes Fuurin yang tak terima.
“Memangnya kenapa, kenyataannya memang seperti itu.”
Fuurin masih tidak terima jika orang itu terus mengatai temannya, mereka malah berlanjut beradu mulut hingga saling mendorong satu sama lain, ketika orang itu mendorong Fuurin cukup keras, buku yang tadinya ia pegang jadi terlempar keluar. Lisa yang tiba-tiba muncul, tidak menyadari hal itu dan membuat kotak makanan yang sedang ia bawa pun jadi terjatuh akibat lemparan buku tadi yang mengarah ke arahnya.
Sempat terdiam sejenak, sebelum mereka kembali beradu mulut.
“Hei... beraninya! gara-gara kalian berdua ...,” ucap Lisa dengan aura yang buruk.
“Maaf, Lisa ... ini salah Sheerli yang sudah mendorongku dengan keras,” balas Fuurin sambil menunjuk ke arah siswi tadi.
“Haah ... kenapa jadi salahin gue, lagi pula itu hanya kotak makanan sampah, apa yang harus dipermasalahkan, kalau mau ganti rugi bilang saja lu mau berapa, nanti gue bayar,” sahut Sheerli dengan tatapan remeh.
“Hahh ... jadi kau rupanya, gara-gara kau ... perempuan busuk! kau harus membayar semua ini.”
Mereka pun kembali bertengkar, saling memukul, mendorong, menjambak dan lain sebagainya, semua orang di kelas pun jadi kerepotan menangani tiga siswi ini.
Dengan langkah yang malas, Juan datang menuju kelas, kemudian ia dibuat penasaran oleh keributan yang sedang terjadi di sana.
“Hei ... ini ada apaan sih ribut-ribut?”
Mereka hanya mengabaikan Juan dan tetap fokus melanjutkan pertarungannya, Juan pun kembali bingung dengan tingkah kekanak-kanakan mereka yang sangat tidak praktis itu.
“Hei ... nona-nona, sebaiknya hentikan pertarungan konyol kalian jika tidak ingin berurusan dengan guru BK,” sela Juan.
Mereka bertiga seketika menatap tajam ke arah Juan sebelum melanjutkan kembali kegiatan baku hantam mereka. Juan menghela napas lelah, ia mencoba menyela dan melerai pertengkaran itu. Namun, ia sendiri malahan ikut terlempar ke belakang. Ia sangat kesal, sembari ngomel-ngomel.
“Auhh ... dasar! cewek-cewek iblis ... niatnya membantu malah dihempas seenaknya.”
Juan masih bertahan dengan posisi jatuhnya tadi sembari merintih dan menggerutu kesal menyuarakan protesnya. Tak lama kemudian, datang seseorang yang sudah berdiri di sampingnya, Juan menatap orang itu dari bawah sampai atas.
“Woah ... hiu legend sudah datang, saatnya bereskan ketiga anak piranha di sana,” pekik Juan yang langsung bersemangat.
Riko datang sembari membawa dua kotak makanan, dengan tatapan dingin tampaknya hari ini moodnya agak buruk. Ia membantu Juan untuk berdiri lalu memintanya untuk membawakan kotak makanannya, lantas ia mulai mendatangi para siswi yang saat ini sudah berhasil di skip pertarungannya.
“Oii ... kalian hanya menghalangi pandangan dan langkahku, bubar kalian! aku sedang malas berdebat,” ucap Riko dengan tatapan sinis.
“Haah ... kau pikir kau siapa, hanya berandalan saja, sudah bertingkah,” sindir Sheerli.
“AHAHAHA ... orang-orang memuakkan seperti kaulah yang seharusnya disingkirkan! hahh ... bisa-bisanya kau, bukankah kau sendiri yang lebih pantas disebut berandalan, padahal aku sudah tidak mempermasalahkan fitnahmu terhadapku, tapi kau masih mengganggu orang-orangku, kau pikir kau siapa, hahh ... aku bisa saja memberitahu semua orang bahwa kaulah berandalan yang telah menjebakku,” sahut Riko dengan intonasi yang kurang menyenangkan.
Mereka yang di sana cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Riko, mereka hanya bertanya-tanya tanpa memikirkan hal itu terlalu jauh, berbeda dengan Juan yang selalu merasa tertarik dan kagum akan suatu hal, ia pun membuat beberapa spekulasi yang logis dari beberapa kesimpulan.
‘Jadi seperti itu rupanya, pantas saja aku merasa ada yang aneh mengenai kasus itu, hahh ... ini malah jadi semakin menarik, jadi ternyata orang itulah yang ada di balik semua ini, sungguh aku baru menyadarinya.’
Juan pun kembali menanyakan hal itu untuk memperjelas semuanya sekaligus untuk mengekspos kebusukan teman sekelasnya itu.
“Hei Riko ... bisakah kau beritahu semuanya?” tanya Juan penasaran.
“Hahh ... aku akan memberitahu serta memperingatimu saja bahwa orang ini berbahaya, hanya karena memiliki masalah pribadi denganku, ia menjebakku dan menyebar fitnah bahwa aku telah membuat kekacauan besar di sekolah ini, padahal kenyataannya dia sendirilah yang membuat kekacauan itu bersama genknya,” jelas Andi yang masih berapi-api.
“Kau... beraninya mengada-ngada! kau ingin membalikkan fakta atas kejahatanmu,” balas Sheerli yang terlihat sangat geram dengannya.
“Terserah! gue gak peduli ya, cuma sekedar memperingati yang lainnya, mau percaya atau tidak ... juga tidak masalah,” sahut Riko cuek.
“Argghhhh ... kau! kau tahu ... tak akan ada yang mempercayai kebohonganmu itu,” pekik Sheerli sembari menunjuk ke arah Riko.
“Hmm ... terserah! gue gak urus.”
Sheerli sudah tidak tahan lagi, ia sangat kesal dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana. Murid yang lain hanya berbisik atau terdiam saja, mereka semua tidak begitu tertarik dengan penjelasan Riko. Namun, berkebalikan dengan Juan, sekarang ia pun jadi semakin yakin bahwa karakter Riko di sini hanyalah misunderstand villain.
“Riko ... tadi aku ingin membawakanmu sesuatu tapi mereka menjatuhkannya, orang itu juga ...,” ucap Lisa agak sedih.
“Sudahlah ... tidak masalah, lagi pula aku juga sudah membawa bekal, kau tak perlu khawatir, lain kali sajalah,” balas Riko malas.
“Hmm ... sayang sekali.”
“Okelah ... sampai jumpa nanti.”
Lisa pun segera membereskan makanan yang berserakan tadi, sebelum akhirnya pergi dan kembali ke kelasnya.
“Hmm ... oke, sekarang semuanya sudah beres, dan kau sekarang bisa jelaskan? hmm,” tuntut Riko.
“Emm ... aku tak sengaja menabraknya tadi, sudah minta maaf sih, tapi dia malah bawa-bawa namamu dan menghina, ya ... aku tidak terima saja, hmm,” jelas Fuurin.
“Hee ... nona remora, apakah menabrak orang adalah hobimu?” sela Juan.
“Diam kau! jamur.”
“Oke ... jadi keributan itu gara-gara kau ya, hmm ... lain kali kau tak perlu mencari masalah dengan orang itu hanya karena aku,” sahut Riko dingin.
“Jelas perlu dong! aku ini temanmu tau.”
“Huhh ... bosan!”
Riko tak bertanya lagi, ia hanya kembali ke bangkunya dan mulai membuka ponselnya. Juan pun baru teringat, ternyata ia masih memegang kotak makanan milik Riko.
“Hei ... Riko! ini kotak makanan mu.”
Juan berjalan ke bangku Riko dan meletakkan kotak itu di atas meja.
“Oiya ... Juan, ini satu untukmu, tadi pagi Tian menitipkannya padaku,” ucap Riko sambil menyodorkan satu kotak untuknya.
“Oh, haruskah aku memakannya?” tanya Juan ragu.
“Iya, sampai habis,” balas Riko acuh.
“Aku bisa mati karena makanan,” gumam Juan sambil menatap kotak makanan tadi.
“Tenang saja, sudah aku beritahu setan kecil itu agar tidak membuat sesuatu yang berbahaya,” balas Riko mencoba meyakinkannya.
“Kuharap begitu,” balas Juan dengan perasaan yang masih ragu.
“Dia bilang itu cuma cookies, jadi tenang saja ... itu tidak akan pedas.”
“Baguslah kalau begitu.”
Juan akhirnya menerima kotak makanan itu, saat ini satu misi telah sukses. Riko masih menunggu jam istirahat pertama untuk memberikannya pada Andi.
DING ... DONG ....
Setelah jam istirahat berbunyi, Riko bergegas mengantarkan titipan kedua untuk Andi. Saat Riko tak menemukan Andi di klub, ia pun langsung mendatangi orangnya ke kelas 9A.
Sampai di tujuan, orang-orang merasa aneh melihatnya di sana, mereka mendatangi Riko dan bertanya, apa yang sedang ia lakukan di sana, apakah ia ingin mencari seseorang?
“Wahh ... lucunya, mungkin dia sedang mencari kakaknya,” seru mereka.
Tak lama kemudian, datang Andi menghampirinya.
“Ah, Riko ... tadi aku sedang sibuk, apa kau tadi mencariku ke klub?” tanya Andi dengan intonasi lembut bermaksud menggodanya.
“Iya, sekarang kau cepat ke sana, aku sudah bosan di sini,” balas Riko cuek.
“Okelah.”
“Wahh ... apakah itu adiknya ketua kelas? lucu sekali ya, tsundere lagi ... hahaha ...,” ucap para siswi di kelas 9A menggodanya.
Riko merasa sedikit kesal dengan ocehan kakak kelasnya, selain itu ia pun juga tak habis pikir dengan Andi yang memegang begitu banyak jabatan di antaranya, sebagai ketua klub, ketua kelas, dan ketua OSIS, dan mungkin saja masih ada banyak hal lain lagi yang ia belum ketahui.
****
Sampai di klub, Riko langsung menyerahkan titipan dari Tian. Namun, mengingat hal sebelumnya, Andi pun jadi waspada terhadap makanan yang dibuat oleh Tian.
“Ketua, ini ada titipan lagi dari Tian,” ucap Riko sambil menyodorkan kotak makanan itu.
“Hahh ... lagi?” tanya Andi khawatir.
“Kenapa ekspresimu seperti itu, tenang saja ... ini bukan makanan pedas seperti sebelumnya, jadi tak perlu khawatir,” ucap Riko santai.
“Tapi kemarin dia juga memberiku puding, setelah dicoba ... aku langsung muntah-muntah, rasa manisnya keterlaluan,” balas Andi dengan ekspresi yang gelap.
“Hmm ... lagi-lagi bocah kurang ajar itu, sudah gak bisa masak masih ngotot pula, memangnya sebelum membungkus ia tak cicipi dulu, hahh ...,” gumam Riko kesal.
“Yah ... begitulah, ngomong-ngomong sekarang dia buatkan makanan apa lagi?” tanya Andi penasaran.
“Cookies, sepertinya tidak berbahaya, kau coba saja dulu, siapa tahu rasanya normal,” balas Riko yang juga penasaran.
“Okelah, aku coba sekarang.”
Andi pun mencoba untuk mencicipinya dan setelah gigitan pertama, ia pun langsung memberi komentar.
“Aakh ... hei Riko ... sepertinya, setiap masakan apapun yang dibuat oleh adikmu itu berpotensi untuk membunuh orang,” ucap Andi canggung.
“Haah ... kenapa lagi nih?”
Riko pun langsung turun tangan untuk mencoba seberapa bahaya masakan adiknya, ia mengambil salah satu cookie dan mencobanya.
KRIEKKKK ....
“Aaaauuhh ... gigi gue! Tian sialan ... dia ini sedang masak cookies, apa bikin beton sih, kerasnya tak bisa diampuni.”
Dengan mencobanya sendiri Riko sudah mengerti, betapa memalukannya masakan Tian.
‘Pantas saja mereka berdua jadi waspada dengan masakan Tian,’ bhatin Riko kesal.
.
.
.
TBC