
Di dalam sebuah ruangan yang cukup luas terlihat dua orang anak yang sedang giat berlatih panahan. Tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya yang kemudian menginterupsi kegiatan dua anak kecil tadi.
“Riko ... Rion ... kemari sebentar! ibu ada berita untuk kalian berdua,” ucapnya bersemangat memanggil dua anak tersebut.
“Iya ibu,” jawab Rion patuh.
Rion pun langsung menghentikan aktivitasnya dan pergi ke tempat ibunya berada. Begitu pula dengan Riko, meskipun tak menjawab panggilan wanita itu tetapi ia tetap datang mengikuti langkah Rion.
Sampai di hadapan wanita yang biasa dipanggil Diana itu, keduanya pun mulai bertanya penasaran, kira-kira hal apa yang akan di sampaikan wanita tersebut.
“Berita apa yang ingin kau sampaikan ibu?” tanya Rion.
“Ini tentang kontes pertandingan panahan, masih ada waktu seminggu untuk kalian berdua berlatih ... karena itu, menangkan kontes itu dan jangan kecewakan ibu,” jelasnya dengan tegas.
“Baik ... aku mengerti ibu,” jawab Rion dengan ekspresi yang datar.
“Bagus, kalau begitu berlatihlah yang giat! dan ... kamu juga Riko, jangan hanya diam saja jika ibu sedang memberitahumu,” tambah Diana dengan nada yang kurang menyenangkan.
“Sudah tahu, kau tak perlu memberitahuku lagi ... aku jelas akan bertarung karena aku ingin menang, itu saja dan tak ada hubungannya denganmu,” balas Riko sinis.
“Aku sekarang adalah ibumu, tentu saja itu ada hubungannya denganku ... aku mendidikmu dengan ketat agar kau berhasil, jangan membangkang lagi!” bentaknya dengan sedikit emosi.
Riko pun kembali mengambil busur dan anak panahnya. Tanpa basa-basi lagi ia langsung mengambil langkah untuk pergi keluar dan membalas pernyataan Diana sebelumnya dengan kata-kata yang tajam.
“Kau bukan ibuku, jadi berhenti bertingkah seakan kau adalah orang yang melahirkanku,” ucap Riko sebelum meninggalkan dua orang di sana.
“Pembangkang kecil! beraninya kau berkata kurang ajar seperti itu,” teriak Diana penuh dengan kekesalan.
“Sudahlah ibu, dia masih anak-anak yang belum bisa menerima kepergian ibu kandungnya, juga ... belum bisa menerima kita sebagai keluarganya, tapi ibu jangan khawatir .... aku pasti akan berusaha membujuknya,” sela Rion untuk meredam kemarahan ibunya.
“Tcih, anak keras kepala! awas saja jika berandalan kecil itu sampai mempermalukanku di kontes nanti,” gerutu Diana yang masih kesal.
“Tenang saja ibu ... dia sangat berbakat, jika terus berlatih pasti keterampilan memanahnya akan semakin membaik lagi, dia pasti bisa memenangkan kontes itu ... ibu tak perlu khawatir, aku akan selalu mengawasinya,” jelas Rion masih dengan ekspresi dinginnya.
“Baiklah, ibu menyerahkan semuanya padamu, kau harus bisa mengendalikan anak pembangkang itu dengan baik,” pinta Diana dengan tegas.
“Baik ibu,” jawab Rion singkat.
Sementara itu Riko yang masih kesal terus menggerutu dalam perjalanannya. Karena latihan sebelumnya sempat terganggu, akhirnya ia memutuskan untuk mencari tempat latihan lainnya lagi.
Sudah cukup lama berkeliling-keliling di wilayah itu, ia pun mulai kebingungan. Karena terus mengoceh sebelumnya, ia malah tersasar ke tengah-tengah hutan.
“Sialan! sekarang aku berada di mana? gara-gara nenek sihir itu ... hampir tak pernah ada ketenangan setiap hari, huh ... sudahlah! sudah terlanjur, sekarang aku latihan di sini saja, kelihatannya cukup tenang dan sejuk,” gumam Riko sembari menghela napas lelah.
Sempat diam sejenak sebelum akhirnya kembali menarik napas panjang dan mulai mengangkat busurnya, ia pun menarik anak panah dan mengarahkan pada batang pohon di sana.
Anak panah melesat cepat mengenai sasaran dan membuat daun-daun bergemerisik. Sekelompok burung yang sebelumnya bertengger di pohon itu pun terbang berhamburan.
Tak lama setelah itu, pohon tadi kembali bergoyang dan di saat yang bersamaan pula muncul seseorang yang turun dari atas dahan pohon.
“Hei kau! kenapa mengganggu tidur siangku?” teriak seseorang itu.
“Hah, siapa kau?” tanya Riko cuek.
“Huft ... dasar bocah! sudahlah ... ngomong-ngomong bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini? tanya orang itu lagi.
“Aku sedang tersesat ... kau sendiri juga bocah, kenapa bisa tiduran di atas pohon?” balas Riko ketus.
“Aku memang selalu berada di tempat ini untuk beristirahat, kadang datang bersama teman dan sendiri juga tak masalah,” jawabnya santai.
“Jadi rumahmu ada di tengah-tengah hutan? mengejutkan sekali ...,” gumam Riko yang sedikit terkejut.
“Gak gitu juga kali! kalau rumah orang tuaku cukup jauh dan di seberang hutan ini adalah tempat tinggal nenekku, jaraknya cukup jauh sih dari sini,” jelasnya singkat.
“Oh, lalu bagaimana bisa kau berkeliaran setiap hari di tengah hutan yang cukup jauh? jangan bilang kau suka bermain dengan setan hutan ini,” ucap Riko dengan ekspresi sedikit tegang.
“Bodoh! kau bocah jangan sembarangan kalau bicara, lagi pula kenapa masih berdiri di sana ... jika masih ingin berdebat sebaiknya bicara sambil duduk bersama di bawah pohon!” seru bocah misterius itu.
Riko hanya terdiam sembari mengamati sekitar, ia masih ragu untuk mendekati orang asing yang mencurigakan.
Di sisi lain, karena tak ada respon apapun dari lawan bicaranya, bocah tadi pun mulai kesal dan mendatangi Riko secara langsung.
“Kalau tak mau datang, biar aku yang akan mendatangimu ...,” ucapnya sembari berjalan ke tempat Riko berdiri sekarang.
Riko meneguk ludahnya dan kembali waspada, meskipun ragu ia pun mencoba untuk bersosialisasi dengan orang lain.
“Hei, tak perlu setegang itu kali! aku tak akan memakanmu ... hum, aneh sekali anak ini,” gumam bocah tadi dengan tatapan heran.
“Tcih, kali aja kan ... ada iblis yang sedang menyamar,” jawab Riko cuek.
“Pftt ... mana ada iblis semanis diriku, hahaha,” goda anak tadi.
“Bisa saja kan ... dan satu hal lagi bahwa kau tidak manis sama sekali,” balas Riko kecut.
“Okelah, okelah.. sekarang aku percaya bahwa kau memang anak yang kurang ajar, lagi pula kau ngapain sih bisa sampai kesasar?” tanya anak itu lagi.
“Aku sedang berdebat dengan ibu tiri lalu kabur, rencananya mau mencari tempat latihan eh malah nyasar ke tengah hutan, yaudah ... sekalian aja langsung latihan di sini,” jelas Riko singkat.
“Ah begitu ya, pantas saja ekspresimu terlihat begitu kusut dari tadi, ah iya ... aku baru teringat! kau sedang latihan panahan bukan!” seru anak itu tiba-tiba bersemangat.
“Iya, ini anak panahku masih tertancap di batang pohon,” ucap Riko sembari mengambil kembali anak panahnya.
“Wah keren sekali! tapi jika benar-benar ingin latihan di sini, tampaknya kau perlu membuat gambar pola titik sasaran di pohon ini, dengan begitu kau bisa latihan lebih fokus,” saran anak itu sambil menunjuk pada batang pohon.
“Iya aku tahu, tapi bagaimana caranya?” tanya Riko polos.
Anak tadi kembali speachless mendengar pertanyaan Riko saat itu.
“Ternyata anak ini tak hanya menyebalkan tapi juga merepotkan, huft ... okelah, biar aku yang buatkan polanya,” ucap anak itu dengan intonasi yang sedikit gregetan dengan tingkah Riko.
Karena anak yang dijumpainya itu terlihat cukup kesulitan menyiapkan perlengkapan latihan, akhirnya ia mencoba untuk membantu persiapan dan proses latihan itu. Tak hanya itu, ia juga mengajari Riko beberapa teknik-teknik khusus yang tentunya berguna untuk ia pelajari.
Beberapa jam berlalu, mereka pun kembali duduk dan beristirahat.
“Huh, akhirnya persiapan awal sudah selesai ... untuk hari berikutnya kau tinggal datang ke tempat ini dan bisa langsung latihan,” ucap anak itu dengan santai.
“Terima kasih!” ucap Riko tanpa bertatap muka dengan anak yang sudah membantunya itu.
“Eh, iya ... entah kenapa rasanya aneh ya kalau frasa itu keluar dari mulut berandalan tengik seperti kau,” sindir anak itu.
“Berisik! aku juga tak tahu kenapa, tapi orang itu mengatakan demikian padaku, jadi aku mencoba untuk mempercayai kata-kata itu setidaknya ... peraturannya memang harus seperti itu,” sahut Riko dengan ekspresi yang sedikit murung.
“Hum, tampaknya kau sangat menyayangi orang itu ya?” tanya anak itu lagi.
“Tentu saja aku juga membencinya,” jawab Riko singkat.
“Baiklah, aku cukup mengerti.”
Sempat terdiam sejenak, angin bertiup sepoi-sepoi kembali menggoyangkan pepohonan di sekitar, beberapa helai daun mulai berjatuhan pada rumput hijau di sekitar mereka.
“Dua tahun yang lalu, ibu kandungku meninggal akibat serangan iblis, kedua orang tuaku adalah angota exorcist ... setelah kepergian ibu, ayahku menikah lagi dengan teman exorcistnya untuk membantu dalam hal mengurus anak-anak dan juga untuk kepentingan urusan organisasi mereka, tentu saja aku tak bisa menerima hal itu ... ibu tiri sangatlah kejam dan ambisius, dia selalu memaksaku untuk memenuhi keinginannya agar selalu menjadi yang terpandang,” jelas Riko tiba-tiba dengan emosi yang sedikit lebih tenang.
“Jangan terlalu dipikirkan, aku yakin kau akan bisa melewati hari-harimu ... karena itu jangan cepat menyerah dulu ya,” jawab anak itu sembari menyemangati Riko.
“Pastinya, aku juga berlatih saat ini adalah untuk membalas dendam atas ibuku dan keluarga bahagiaku yang telah hancur, bukan untuk si nenek sihir itu ... aku akan tetap memenangkan kontes pertandingan tingkat exorcist minggu depan,” tegas Riko dengan penuh keyakinan.
“Aku mengerti, berjuanglah ... dan kalau mau berlatih bersama, aku akan menunggumu di sini setiap hari, ya ... walaupun tak banyak yang bisa kulakukan, yahh ... setidaknya kau tak sendirian saat berlatih di tempat seperti ini,” sahut anak itu dengan senyum hangat pada wajahnya.
Riko pun kembali berdiri dan mengambil busur serta anak panahnya untuk memulai latihan.
“Hei kau, tak mau mencoba membidik sekali?” tanya Riko.
“Tidak, tidak ... kau sajalah, aku tak ahli bermain panahan, aku hanya menonton saja dari sini...,” jawabnya lantang.
Setelah mendengar pertanyaan tersebut, Riko pun kembali melanjutkan latihannya.
.
.
.
TBC