Roped Fate

Roped Fate
Ch.33 : Kontroversi Murid Bermasalah



Fuurin dan Juan berjalan bersama menuju klub. Saat ini mereka memiliki masing-masing hal yang sedang dipikirkan, tentunya itu juga memuat tentang senior yang baru saja muncul dan diam-diam telah menolong mereka.


‘Orang itu, apakah dia yang telah menyingkirkan iblis tadi?’ tanya Fuurin dalam hati.


.


.


Andi dan para anggota senior lainnya, saat ini tengah membahas tentang strategi yang akan digunakan untuk misi di blok A selatan. Mereka mungkin tak akan langsung menangkap pelaku, tapi mereka berencana untuk membuat suatu perangkap khusus yang bisa menjerat, baik itu manusia maupun iblis.


Di tengah diskusi mereka, tiba-tiba Fuurin datang dan masuk bersama teman sekelasnya.


“Halo, semuanya ...,” sapa Fuurin ceria.


“Oh, Fuurin ... silahkan masuk,” ajak Ruri.


“Aku juga ikut nih?” tanya Juan.


“Masuk saja kalau tak mau jadi makanan setan di luar,” sahut Andi dingin.


“Tcihh ... seperti biasa ya? sadis.”


Diskusi pun menjadi bubar karena ada orang asing di sana. Namun, walaupun demikian mereka tetap memperlakukannya dengan cukup baik, kecuali Andi yang dari sebelumnya memang sudah terlanjur dingin terhadapnya.


“Hei ... kalian lagi membahas apaan sih?” tanya Juan antusias.


“Strategi untuk misi,” balas Andi singkat.


“Hmm ... jadi kau benar-benar akan melakukannya, lalu bagaimana dengan Riko?” tanya Juan penasaran.


“Pastinya ia tidak ikut, sekalipun ia memintanya, aku tak akan mengizinkannya,” tegas Andi.


“Kau yakin dia akan mau mengikuti perintahmu,” sindir Erick.


“Bagaimanapun itu, ia tetap tak berhak untuk memaksa.”


“Jika nona remora ikut dalam misi itu, sudah dipastikan Riko juga pasti takkan tinggal diam kan,” sela Juan.


“Hmm ... ngomong-ngomong ‘nona remora’ itu maksudnya apa ya?” tanya Andi penasaran.


“Ya ... itu karena dia seperti ikan remora yang selalu buntutin ikan hiu ke mana-mana,” balas Juan yang tampak puas.


“Ahh ... jadi ikan hiunya berarti Riko ya?” tanya Andi untuk sekedar memastikan.


“Ya, benar sekali, heheh ....”


“Hmm ... iya juga sih, kadang-kadang kau bisa masuk akal juga ya, pftt ...,” sahut Andi dengan sedikit terkekeh hingga akhirnya tertawa lepas bersama Juan.


“AHAHAHAHA.”


LOL


“Oii ... kalian gibahin gue terang-terangan, hmm,” ucap Fuurin yang langsung mendekat dengan aura membunuhnya.


“Hehe ....”


“Kabuuuuurrr ....”


Mereka malah bermain kucing-kucingan di sana, Fuurin mengejar kedua orang itu dan bersiap untuk menghajarnya ketika tertangkap. Para anggota lainnya hanya menjadi pajangan di sana, mereka menarik napas dalam dan menghembuskan dengan terpaksa, mencoba untuk memaklumi tingkah childish mereka bertiga.


Beberapa saat kemudian, ketika sudah mulai kelelahan, Fuurin berhasil memojokkan keduanya.


Fuurin menakuti mereka dengan memasang ancang-ancang siap menyergap. Andi menghembus napas ringan, ia berjalan ke depan mendatangi Fuurin, lantas menepuk pelan kepala dan mengacak-acaknya lembut, ia pun mulai mengeluarkan jurus andalannya dalam menaklukan anak gadis.


“Fuurin, kau anak yang baik dan pintar, tetaplah yakin dan lakukan apa yang menurutmu benar,” lirih Andi mencoba memenangkan hati Fuurin.


“Siap, kaichou ... hehehe ....”


“Haah ... semudah itukah? malah jadi anak anjing,” protes Juan.


“Heeeeh ....”


Fuurin akhirnya kembali fokus pada sasarannya tadi dan langsung menyergap korbannya, ia menghajar Juan habis-habisan dan bersenang-senang dengannya. Andi tersenyum puas, perangkapnya berhasil mengenai sasaran.


“Ketua apa dia akan baik-baik saja?” tanya Miki.


“Jangan khawatir! dia bukan orang yang berbahaya, tapi hanya menyebalkan, jadi perlu diwaspadai,” jawab Andi dengan wajah yang berseri.


“Ee ... jadi ini kesimpulannya bagaimana ya, ahahaha ...,” balas Miki canggung.


“Kita abaikan saja dulu, aku hanya ingin lihat apa saja yang bisa ia rencanakan lagi untuk selanjutnya,” ucap Andi sambil menyeringai.


“Begitu ya, tapi kau juga jangan terlalu berlebihan terhadapnya,” sahut Ruri.


“Tenang saja, walau bagaimanapun, aku tetap seorang manusia.”


Setelah urusan mereka selesai, mode serius pun akhirnya kembali diaktifkan. Fuurin ingin menyampaikan sesuatu sekaligus bertanya pada ketua.


“Kaichou ... aku ingin bertanya sesuatu.”


“Apa yang mau kau tanyakan? katakan saja,” balas Andi santai.


“Tadi aku bertemu senior Rein, apa ia datang untuk menemuimu?” tanya Fuurin penasaran.


“Oh, iya ... tadi dia sempat membahas soal misi itu dengan kami, dia mengatakan akan ikut membantu,” jelas Andi singkat.


“Begitu ya, ngomong-ngomong ... senior Rein itu, orangnya seperti apa? aku sedikit penasaran, soalnya aku juga tak begitu akrab dengannya,” tanya Fuurin agak canggung.


“Dia temanku sejak kecil, orangnya baik walaupun agak misterius,” balas Andi sembari tersenyum canggung.


“Oh ... begitu ya, aku hanya merasa agak aneh saja sih, hahaha.”


.


.


Beberapa menit berlalu saat ia membaca, tak lama kemudian seseorang datang untuk menemuinya. Ia pun kembali mengeluh, padahal niatnya ingin belajar serius, tapi selalu ada gangguan. Orang itu masih menunggu Riko di luar sembari membawa beberapa buah buku.


“Lisa?”


“Ah, Riko ... apa kamu sibuk hari ini? kalau tidak, ayo kita belajar bersama,” ajak Lisa dengan ramah.


“Hmm ... bagaimana ya?”


Riko masih ragu jika menerima ajakan Lisa sekarang, karena ia masih ingin membaca buku material exorcist yang diberi Fuurin sebelumnya.


Tak lama kemudian, datang seseorang lagi dan menyapanya.


“Yo! Riko.”


“Senior Rein! kau di sini? bagaimana keadaanmu?” tanya Riko yang langsung bangkit dan menemui seniornya.


“Aku baik, istirahat dalam beberapa hari sudah cukup membantuku,” balas Rein ramah.


“Begitu ya, syukurlah! sepertinya tahun ini senior sudah semakin rajin dibandingkan sebelumnya ya,” balas Riko dengan mood yang cukup baik.


“Iya, wajar saja ... aku siswa kelas 9, sebentar lagi akan menghadapi ujian kelulusan, aku harus lebih optimal lagi,” sahut Rein santai.


“Baguslah, kuharap kesehatanmu akan semakin membaik lagi,” ucap Riko perhatian.


“Yang terpenting aku masih bisa sekolah.”


Karena mereka terlalu asyik ngobrol bersama, di sana Lisa jadi merasa terabaikan. Aura gelap kembali menyebar di sekitarnya, tampaknya ia memang benar-benar marah saat ini.


Rein memiringkan kepalanya, ia sedikit heran sekaligus merasa terganggu, atas dasar apa orang itu jadi begitu kesal dengannya.


“Ehm ... rupanya ada nona di belakangmu, aku hampir tidak menyadarinya,” ucap Rein yang tampak tidak senang.


“Oh, ini Lisa dari kelas 8A,” balas Riko singkat.


“Iya, aku sudah tahu sebelumnya.”


“Oh, lalu?” tanya Riko lagi.


“Kau bisa ikut denganku hari ini?” ajak Rein tiba-tiba.


“Ee ... bagaimana ya?”


Riko agak canggung, ia merasa tidak enak hati jika mengabaikan Lisa lagi. Namun, ia juga tak bisa mengabaikan seniornya, jika Rein sampai meminta sesuatu, itu artinya ada sesuatu yang penting.


Orang itu memang tak suka bertele-tele, ia hanya akan memberi kesempatan menjawab satu kali saja, jika kali ini menolak, Riko yakin Rein pasti tak akan datang lagi padanya.


Mengingat kegentingan saat ini, tentu saja Riko akan lebih memilih untuk mengutamakan masalah keamanan daripada sosial, karena itu ia memilih untuk menerima undangan Rein.


“Lisa, maaf lagi ya ... kali ini ada urusan mendadak, kau belajar saja dengan yang lain,” ucap Riko sedikit menyesal.


“Oh, begitu ya? mau bagaimana lagi,” balas Lisa dingin.


Aura keputusasaannya kembali terpancar, tentu saja ini bukan hal yang baik. Riko mencoba memikirkan berbagai cara untuk meredam emosi berlebih gadis itu.


Rein mulai mendekat ke tempat Lisa, ia hanya menatapnya dengan ekspresi datar. Melihat hal tersebut Riko kembali panik, jangan sampai ada pertarungan yang konyol lagi di sana.


Ketika sudah cukup bosan memperhatikannya, kemudian Rein menarik lengan baju Lisa dan menyeretnya untuk lebih mendekat.


“Hehh ... kau tidak senang dengan keberadaanku?” tanya Rein dingin.


“Apa yang kau lakukan, cepat lepaskan!” bentak Lisa kesal.


“Oke, iblis kecil ... bagaimana jika aku menghabisimu sekarang?” sahut Rein yang tampak marah.


“Uwah ... sudahlah sudah ... kalian berdua kenapa malah jadi tegang begini sih, selesaikan dengan kepala dingin oke!” lerai Riko yang mencoba mendinginkan suasana.


Riko pun kembali menyadari bahwa bukan hanya dirinya saja, tapi Rein sendiri juga memiliki tanda yang sama, tentu saja ia juga bisa melihat aura gelap seseorang.


Karena itu ia langsung tahu bahwa Rein adalah orang yang sangat benci dengan tatapan tinggi orang lain, pastinya ia tak terima jika orang lain berani menampakkan aura gelap yang ditujukan kepadanya.


Masih bingung bagaimana mengatasi kedua orang yang sama-sama keras kepala itu, ia terus mengeluh dalam hati.


‘Kenapa sih aku selalu ditempatkan pada situasi basi seperti ini.’


Jika ia memilih salah satu, yang satunya pasti akan marah. Namun, berhubung jam masuk kelas sudah hampir datang, Riko langsung mengeksekusi tindakan dengan cepat.


“Hei, kalian berdua sudahlah! ini sudah hampir jam masuk kelas, sebaiknya bubarkan dulu perangnya.”


Riko mulai membebaskan jarak di antara mereka berdua. Ia pun berpikir bahwa selain dirinya ternyata masih ada murid lain yang bahkan lebih bermasalah lagi.


“Hufft ... okelah, ayo Riko! sebentar saja, sampai bel masuk kelas berbunyi,” ucap Rein sembari menghela napas.


“Oke, dan kau Lisa ... lain kali masih ada waktu, tidak perlu terburu-buru ya,” pinta Riko lebih tenang.


“Baiklah, sampai jumpa nanti ya.”


“Oke.”


Lisa langsung pergi dari tempat itu, begitu juga Rein dan Riko, mereka perlu membicarakan sesuatu di tempat lain.


.


.


.


TBC