
Sebelum bel berbunyi, Fuurin dan Juan segera kembali ke kelas. Selama perjalanan mereka tetap waspada, walaupun terkadang rasanya sulit ketika senang mengoceh, tapi juga harus waspada.
Langkah mereka pun kembali terhenti oleh barikade dari beberapa orang yang ada di depannya. Di sana sedang berdiri Sheerli dan beberapa orang dari genknya. Juan sedikit mengernyit, tapi ia tak heran lagi, memang seperti itu sifat Sheerli.
Seperti apapun ancamannya, Juan dan Fuurin tak sedikit pun merasa takut, mereka bukanlah orang yang peduli dengan semacam ancaman, malahan merasa tertantang untuk bersenang-senang. Kali ini Juan mengeluarkan ponselnya untuk live di sosial media, ia mulai koar-koar bahwa ia dan Fuurin sedang dibully oleh genknya Sheerli.
Mereka jadi bingung sekaligus canggung, ini benar-benar bukan situasi yang baik, jika berani menyerang maka perbuatan mereka akan langsung terekspos, tapi jika dibiarkan maka Juan akan semakin banyak berbicara. Mereka tak tahan lagi, akhirnya salah satu dari mereka datang menyergap untuk merebut ponsel Juan.
Juan masih tetap dalam fitur livenya, ia sengaja memutar ponselnya saat orang itu mencoba menyergapnya, itu agar proses pengeroyokan mereka terlihat lebih natural. Merasa sudah cukup bukti Juan pun menutup ponselnya dan mulai serius untuk memberi serangan balasan. Tanpa banyak basa-basi lagi Juan langsung membanting salah seorang di antara mereka.
“Heh ... aku memang selalu menghindari mencari masalah dengan orang lain, tapi jika orang lain berani mencari masalah denganku, bukan berarti aku tidak bisa kejam,” ucap Juan sembari memberi seringai pada wajahnya.
“Yosh! kerja bagus Juan, aku di sini belum dapat bagian, kau serahkan sebagian untukku,” timpal Fuurin bersemangat.
“Oke, walaupun kau seorang nona, tapi pukulanmu lumayan juga,” puji Juan.
“Siap ... kalau dengan mereka sih aku pasti berikan yang lebih extra lagi,” sahut Fuurin penuh dengan percaya diri.
“Hehe ... bagaimana kalau kita taruhan saja, siapa yang paling banyak menumbangkan mereka, itu yang menang, dan untuk yang kalah harus bersedia menjadi anjing,” tantang Juan.
“Oke ... siapa takut, aku ini salah satu anggota exorcist, jika hanya menumbangkan manusia ... kurasa itu bukan hal yang sulit,” sahut Fuurin dengan mood yang semakin baik.
Sheerli dan genknya merasa semakin kesal sekaligus bingung dengan kegilaan mereka berdua, ocehan itu terasa seperti sedang meremehkan mereka.
“Sudah, kita abaikan bacotnya! ayo serang saja,” pekik salah satu dari anggota genknya.
“Cepat lakukan!” perintah Sheerli.
Orang-orang Sheerli pun mulai menyerang. Mereka berdua memang cukup tangguh, tapi Fuurin agak kesal karena hanya ada sedikit orang yang mengeroyoknya, sementara sisanya hanya lebih fokus pada Juan.
Karena merasa diabaikan, ia segera menyelesaikan bagiannya dan menghajar mereka sampai babak belur, lalu mencari bagian lainnya di daerah Juan. Fuurin memang selalu tak mau kalah dari Juan, saat ia benar-benar serius maka naluri liarnya bisa sampai di luar batas normal.
“Hah ... jangan remehkan! jika perempuan sudah benar-benar marah, itu adalah hal yang berbahaya untuk kalian.”
Seketika Fuurin pun langsung menjadikan mereka sampah yang berserakan. Namun, Juan juga tak mau kalah, jumlah korban mereka sudah hampir setara dan tinggal menunggu untuk hasil akhir.
“Oii ... Juan! kau sudah dapat berapa?” tanya Fuurin penasaran.
“Aku baru lima, kau berapa?” sahut Juan sembari terengah-engah.
“Sial, gue baru empat orang, tunggu saja! gue pasti akan menghabisi semuanya.”
Mendengar jumlah selisih itu, Fuurin jadi agak jengkel, masih belum menyerah ia tak mau kalah dari Juan. Sampai akhirnya mereka berhasil menyelesaikan pertarungan terakhir.
“Hah ... akhirnya habis juga, hmm ... aku berhasil mengalahkan enam orang, kau berapa?” tanya Juan untuk memastikan.
“Sama! gue juga enam orang, sayang sekali hasilnya seri,” balas Fuurin yang masih belum puas.
“Eh, tapi kayaknya masih ada satu orang yang belum deh,” sahut Juan sembari menyeringai.
Mereka langsung bangkit, lalu menoleh ke arah Sheerli yang sedang sibuk menampar para komplotannya agar segera bangun. Tak lama setelah Sheerli mulai menyadari dan menatap kedua orang di sana, perasaan tak enak pun mulai muncul.
“Heh ....”
“Ini bagianku,” ucap Fuurin.
“Jangan harap, aku pasti mendapatkannya lebih dulu,” timpal Juan.
“Kita lihat saja nanti, aku lebih hebat darimu.”
“Banyak omong, sikat saja!”
Sheerli merasa kesal sekaligus khawatir dengan tingkah gila mereka berdua.
“Hei ... apa yang akan kalian lakukan?” tanya Sheerli khawatir.
“Serbuuuuuuuu ....”
Terakhir ia berlari dan masuk ke gedung belakang sekolah. Juan dan Fuurin mulai kehilangan jejak Sheerli di tempat itu. Mereka sudah mencoba mencarinya tapi masih belum menemukannya. Karena sudah tak ada kemungkinan lagi, akhirnya keduanya menyerah dengan hasil seri dari taruhan sebelumnya. Mereka pun kembali ke kelas dengan penampilan yang sangat berantakan.
Setelah sampai di kelas mereka kembali terperanjat, di sana sedang berdiri guru pembimbing yang sedang menjelaskan materi. Gara-gara pertarungan tadi, mereka tak sadar bahwa bel masuk kelas telah berbunyi sebelumnya dan pelajaran telah dimulai. Karena kekonyolan itu, akhirnya mereka berdua ditahan sejenak untuk berdiri di depan kelas.
Fuurin mulai melirik ke bangku Riko dan malah mendapat tatapan intimidasi, ia bingung bagaimana menjelaskannya, memang ini salah Sheerli, tapi sebenarnya mereka berdua lah yang paling bersenang-senang di sana, ditambah lagi Sheerli yang sampai sekarang bahkan masih belum kembali, mereka mungkin sudah berlebihan, Fuurin pun jadi bingung untuk menjelaskannya.
Fuurin memang cukup payah dalam membuat alasan, karena itu Juan turun tangan untuk menjelaskan semuanya. Ia mulai menjelaskan secara rinci dan terurut, bahkan tentang buktinya juga saat ia live di media sosial.
Kebetulan saat itu ada beberapa siswa lain di kelasnya yang juga sedang menonton siaran langsung Juan. Jadi, sudah dipastikan siapa pelakunya di sini, Riko pun tersenyum puas.
‘Mungkin mereka bisa membully dan memfitnahku saat itu, tapi jangan samakan dengan mereka para murid bermasalah yang selalu memakai otaknya, hahh ... bahkan mereka tak tahu bahwa sebenarnya orang-orang jenius itu adalah termasuk orang yang paling bermasalah,’ bhatin Riko puas.
Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya mereka berdua dibebaskan sementara dan bisa duduk ke bangkunya masing-masing. Namun, setelah itu mereka akan tetap mendapatkan peringatan karena sudah berkelahi di sekolah.
Mereka kembali duduk sembari membenahi penampilan mereka yang acak-acakan. Riko pun menoleh ke arah mereka dengan tatapan mengolok-olok.
“Oii ... kalian jelek sekali, kenapa bisa sekusut itu?” tanya Riko sekaligus memberi ejekan.
“Hmm ... ini gara-gara Juan sih, coba saja jangan bikin pertaruhan semacam tadi,” protes Fuurin.
“Hah ... kok malah salahin aku sih, kau sendiri yang sudah setuju tadi,” sahut Juan kecut.
“Kalau bukan karena taruhan itu, kita gak perlu sampai mengejar-ngejar Sheerli sampai ke sana, dan sekarang dia malah hilang.”
“Oii ... kalian kenapa malah jadi ribut sih! memangnya taruhan apa, dan apa hubungannya dengan Sheerli menghilang?” tanya Riko kebingungan.
“Dia bersembunyi ke gedung belakang sekolah karena ia takut saat kami mengejar-ngejarnya untuk taruhan siapa yang paling banyak menumbangkan genk pembully, kebetulan hasilnya seri dan terakhir hanya dia yang tersisa, karena itu kami berlomba-lomba untuk memburunya,” bisik Juan dengan volume sekecil mungkin.
“Pftt ... sepertinya menyenangkan ya menjadi kalian berdua, haha ... orang itu niatnya membully malah ia yang kena bully, pftt ... oke, sudahlah ... tapi di sisi lain, ini juga bukan masalah yang bisa diabaikan sih, kita harus beritahu ketua,” balas Riko sembari mencoba menahan tawanya.
“Ah, benar juga ... senior ketua pernah mengatakan bahwa tempat itu banyak setannya,” tambah Juan.
“Benar juga sih, tahun ini adalah tahun Kelinci Yin, pastinya iblis akan menjadi lebih agresif, apalagi tempat itu sudah lama tak berpenghuni, itu artinya sekarang Sheerli sedang dalam bahaya,” sambung Fuurin.
“Kau benar, kita harus beritahu ketua sekarang,” ucap Riko.
“Iya benar!”
“Hah ... kalian ini memang orang yang sangat merepotkan, kenapa juga harus membantunya, dia itu orang yang jahat,” protes Juan.
“Ahh ... aku sih tak peduli dengan orangnya, tapi sudah ah ... kau tak mengerti apapun tentang dunia exorcist dan iblis, jadi abaikan saja,” balas Riko agak frustsi.
“Heee ... kok malah ngegas sih!”
Karena mereka terlalu berisik di belakang, guru pun mulai kesal dan melempar spidol ke arah mereka.
“Hei ... kalian yang di belakang kenapa ribut-ribut, jika tak ingin ikut pelajaran saya, silahkan keluar!”
“Maaf pak guru, tiba-tiba perut saya sakit, permisi ke toilet dulu,” ucap Riko secara spontan.
Riko langsung berlari keluar dengan terburu-buru, sempat hening sejenak, lalu Fuurin pun juga ikut-ikutan permisi keluar.
“Maaf pak guru, perut saya juga sakit mau ke toilet, permisi.”
Yang lain hanya tercengang menonton pergerakan mereka yang langsung berlari keluar, sementara Juan hanya menepuk jidat di tempat dan mencoba memaklumi tindakan pembodohan itu.
‘Oke ... jadi, di sini hanya aku saja yang otaknya normal? hmm,’ keluh Juan dalam hati.
.
.
.
TBC