
Riko pergi ke gudang belakang untuk menemui Fuurin. Sebenarnya ia cukup kesal namun tetap berusaha agar terlihat sabar dan cool. Ia berjalan cukup santai dan sesekali sengaja ia duduk beristirahat di pinggiran untuk memperlambat perjalanannya, mungkin ini akan membuat Fuurin menjadi kesal karena kelamaan menunggu. Namun, sudahlah! ia memang ingin sedikit membalas kekesalannya pada teman seberandalannya itu.
Sesampainya di sana, tampak wajah Fuurin yang sedang duduk di atas meja.
“Akhirnya kau sampai juga, aku sudah menunggumu sampai lumutan,” ucap Fuurin yang sedikit jengkel karena menunggunya cukup lama.
“Salah sendiri! siapa suruh lari-larian, aku aja jalan santuy ... sampai juga kan,” sahut Riko santai.
“Karena terlalu lama, nanti duitmu dipotong pajak titik,” balas Fuurin tanpa ampun.
“Hahh ... makhluk macam apa kau ini! bertingkah seenaknya, ini sih pemerasan namanya,” protes Riko.
“Kau mau dompetmu kembali atau tidak, hmm?”
“Huhh ... okelah.”
Riko tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan temannya ini.
“Sekarang jelaskan apa yang ingin kau lakukan dengan club sastra itu?” tanya Riko penasaran.
“Mmm ... ayo kita kerjain mereka! seperti ... menakut-nakuti mereka dengan cosplay jadi hantu,” balas Fuurin dengan wajah berseri.
“Pftt ... huahahaha ... gue pikir apaan dah, ternyata permainan anak kecil, nyesel gue tadi udah serius banget lagi, kirain mau obrak-abrik itu ruangan, ehh ... tau-taunya pftt ....” Seketika Riko langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ide konyol temannya itu.
“Emang kau mau obrak-abrik beneran? aku sih oke-oke aja,” tanya Fuurin agak kesal.
“Ya enggak lah, bisa-bisa aku dikeluarkan dari sekolah,” sangkal Riko.
“Terus?”
“Yahh ... aku ikuti permainan konyolmu sajalah yang penting bisa balas dendam, kalau mereka ketakutan kayaknya bakalan seru nih,” balas Riko yang akhirnya setuju dengan ide Fuurin tadi.
“Yeah ... gitu dong!”
“Let's go!”
....
Mereka mulai mengumpulkan benda-benda yang bisa dipakai untuk melancarkan aksi mereka. Dalam gudang banyak terdapat benda-benda yang masih berguna, biasanya barang benda yang disimpan di sana adalah barang bekas club-club yang sudah tidak terpakai ataupun bagi mereka yang clubnya sudah bubar. Tentu saja mereka berdua dengan mudahnya mendapatkan kostum hantu serta peralatan lainnya.
Begitu selesai dengan dandanannya, mereka langsung melesat ke club sastra.
Pertama, mereka melihat situasi dan keadaan terlebih dahulu, dirasa cukup memungkinkan kemudian dilanjutkan kembali dengan sedikit salam pembuka, seperti ... tiba-tiba melemparkan benda di tengah diskusi para anggota club, awalnya mereka tidak menghiraukan hal itu dan berpikir mungkin itu hanya kucing atau hewan lainnya. Namun, setelah dilempari benda berkali-kali kesabaran mereka pun mulai habis. Salah satu dari mereka langsung memeriksa dan memastikan hal apa yang telah mengganggu aktivitas mereka.
Mencari-cari di setiap sudut ruangan tetapi tak menemukan apapun, ia sedikit deg-degan ketika mencoba membuka pintu lemari dekat rak buku. Hampir saja sampai tangannya menyentuh gagang lemari, tiba-tiba saja buku di sampingnya terjatuh begitu saja. Ia langsung memungut buku itu dan meletakkannya kembali.
Masih penasaran dengan buku tadi, akhirnya ia mencoba mengecek kembali ke rak tempat ia meletakkannya, masih dengan perasaan was-was ia meraih sembari melihat di belakang rak.
Atmosfernya mulai berubah bengan aura gelap di sekitarnya, lantas sepasang tangan keluar dari sela-sela buku itu. Ia begitu terkejut sekaligus takut, dengan langkah perlahan ia mencoba berjalan mundur. Namun, tak disangka usahanya untuk melarikan diri dengan tenang kembali ambyar setelah tangan yang terbilang dingin dan kuat tiba-tiba mencengkram kakinya.
Tanpa bisa ditahan lagi, akhirnya ia berteriak ketakutan dan lari terbirit-birit, bahkan ia tak menghiraukan teman-temannya yang sedang berdiskusi di meja depan.
Ia pergi keluar ruangan sambil berteriak
“Hantu ...,” teriaknya ketakutan.
Tanpa tempo yang lama, mereka semua sudah berhamburan pergi entah ke mana. Namun, teriakkan mereka yang menggelegar sebenarnya cukup mengkhawatirkan bagi kedua hantu dadakan ini.
Hendak segera kabur, tetapi sayang nasib mereka kurang beruntung hari ini. Di depan ruang klub ternyata sekelompok siswa dari klub exorcist sudah bersiap-siap menangkap mereka berdua.
“Hei! yang benar saja ... padahal ini cuma bercanda, niatnya mau langsung kembali eh ... udah ditungguin aja sama para predator hantu,” gerutu Riko yang kembali waspada.
“Wajar sih, belakangan ini mereka kekurangan project dan object untuk mencari jejak para hantu, yah seketika aja waktu dengar kata hantu mereka langsung teleportasi macam pakai pintu kemana-mana doraemon,” bisik Fuurin sembari mengamati sekitarnya.
“Ya ampun ... bahkan mereka lebih menyeramkan daripada hantu, sampai segitunya mereka terobsesi, malah gue yang jadi merinding,” gumam Riko tanpa menurunkan kewaspadaannya.
“Oke ... dan ternyata aura predator mereka jauh lebih ganas dari yang aku kira, sebaiknya langsung kabur saja jangan melawan mereka, gawat jika sampai tertangkap, ketahuan dong kalau lagi isengin murid sastra,” ucap Fuurin yang sedikit khawatir dengan keadaan mereka saat ini.
“Dan ini salah siapa ... hmm! kalau bukan karena ide konyol mu ini, kita takkan terjebak seperti ini,” balas Riko yang mulai menyalahkan Fuurin.
“Ye ... kau sendiri sudah setuju tadi, ngapain malah nyalahin gue sih,” bantah Fuurin.
“Kalau bukan karena dompet sebagai jaminannya, gue mah ogah ikutan ide bodohmu ini, cihh.”
“Cihhh.”
Terlalu banyak berdebat dan grasa-grusu, mereka berdua malah menarik perhatian para exorcist junior di sana yang sedang berjalan perlahan sembari mendeteksi keberadaan kedua hantu itu.
Sudah begitu mencolok mereka berdua juga sudah menyadari bahwa keberadaannya sudah ditandai. Tanpa tempo yang panjang mereka berdua langsung keluar dari tempat persembunyian sembari menghambur-hamburkan buku sebagai pengalih perhatian para exorcist. Dengan kencang mereka berlari entah kemana kabur sejauh-jauhnya agar tak tertangkap.
Merasa sudah sedikit aman mereka bergabung kembali ke gudang belakang, menghela napas pendek yang terengah-engah akibat serangan jantung ringan tadi. Riko mulai ngomel-ngomel terhadap rekan konyolnya itu sekaligus meminta dompetnya kembali.
“Kau benar-benar gila, bagaimana jika tadi kita tertangkap? urusannya akan malah jadi rumit, sekolah mungkin akan memberimu peringatan ringan, tapi denganku ... mereka akan langsung mengeluarkanku dari sekolah,” protes Riko dengan seluruh kekesalannya.
“Hehehe ... maaf ... maaf, nih! dompetmu aku kembalikan, jangan marah-marah gitu dong! yang penting misi kita menakut-nakuti klub sastra berhasil bukan,” balas Fuurin yang mencoba mencairkan situasi berat akibat kejadian menegangkan tadi.
“Berhasil sih berhasil, tapi lihat juga kondisinya pikirkan baik-baik resikonya, bikin orang jantungan saja,” sahut Riko yang masih saja kesal.
Fuurin kembali menetralkan suasana dengan menepuk-nepuk pundak dan lengan Riko yang masih tampak kesal.
“Sudahlah, misi kita sudah berhasil dan semua aman-aman saja kan! ngapain masih cemberut aja sih.”
Fuurin masih tertawa garing dan terlihat konyol sebelum mereka berdua akhirnya menyadari tangan yang kuat sedang mengait dan bersandar di kedua pundak dan leher mereka. Perasaan merinding kembali muncul di tengah keheningan tersebut. Suara yang terdengar jelas di telinga mereka kali ini jauh lebih mematikan dari berlari-larian tadi.
“Ehh ... selamat yahh! misi kalian sukses besar, tapi tahukah ... kalian juga harus memberikan selamat atas keberhasilanku menangkap kedua nona hantu yang sedang berkeliaran.”
Mereka berdua langsung speechless akibat serangan jantung kali ini, dengan terbata-bata Riko mencoba menyapa senior exorcist yang sedang menggenggam mereka saat ini.
“Se...se-nior ketua club exorcist!?”
.
.
.
TBC