
Riko begitu tercengang melihat aktivitas yang sedang terjadi di hadapannya. Apa yang sedang mereka lakukan? pikirnya. Di tengah kegelisahan, tiba-tiba seseorang menyadarkan lamunannya.
“Riko, kau baik-baik saja kan?” tanya Fuurin khawatir.
“Ah iya ... aku baik, kau sendiri ... bagaimana bisa ada di sini dan dia juga?” tanya Riko agak canggung.
“Kau tidak lupa bukan? mereka dari klub exorcist, dan senior Andi adalah ketua klubnya, kau pikir gelar exorcist hanya sekedar nama saja,” balas Fuurin dengan intonasi yang sedikit serius.
“Jadi, makhluk aneh tadi memang benar-benar nyata?” tanya Riko lagi.
“Iya, dan mereka semua sedang menetralkannya, tetapi jika tidak bisa ... mereka hanya akan menyegelnya,” jelas Fuurin dengan singkat.
“Kau tahu banyak tentang hal mistis dan mereka juga.”
“Tentu saja, aku sekarang sudah menjadi anggota klub, wajar saja tahu banyak ... kau juga akan menjadi anggota klub, aku sudah mempromosikanmu lho!”
“Kampret ... seenaknya saja, siapa juga yang mau bergabung.”
“Ahh ... tak usah malu-malu gitu.”
Kegiatan mereka hampir selesai, Riko terus memperhatikan ketua klub yang sedang berjuang memusnahkan mahluk menyeramkan tadi. Ia cukup terpukau dengan aksi mereka, terutama ketua klub.
“Keren sekali ....”
Dengan mata yang berbinar, ia tak sadar apa yang baru saja telah ia katakan. Namun, melihatnya seperti itu membuat Fuurin tersenyum lega.
Beberapa waktu telah berlalu dan akhirnya makhluk itu berhasil dinetralkan, semuanya menghela napas lega. Perlahan mereka kembali keluar menuju tempat Fuurin dan Riko. Andi tersenyum sinis melihatnya, tetapi ia tetap mengulurkan tangannya.
“Bagaimana keadaanmu? ayo ikut dengan kami, kami akan membantu merawat beberapa luka ringanmu.”
Sembari memalingkan wajah akhirnya Riko meraih tangan ketua. Ia membantu Riko berdiri sebelum melanjutkan perjalanan ke ruang klub
“Kenapa masih cuek begitu nona, bilang saja kau sudah jatuh cinta padaku kan,” goda Andi dengan senyum rubahnya.
“GR! kau menjauh dariku.”
Ia langsung menghempas seniornya dan berpindah ke arah Fuurin.
“Yahh sudahlah ... nanti akan aku jelaskan mengenai makhluk tadi dan beberapa hal lainnya, jika tak mau berurusan dengan mereka lagi sebaiknya kau dengarkan saja dan jangan protes ataupun main kabur seenaknya seperti sebelum-sebelumnya,” ucap Andi kembali serius.
“Oke deh ... gue minta maaf tentang hal itu.”
Mereka bertiga langsung kembali ke ruang klub, sedangkan beberapa anggota lainnya masih di sana untuk membereskan sisa-sisa kekacauan akibat pertarungan tadi.
Sesampainya di ruang klub, Fuurin langsung membawakan Riko kotak obat sekaligus membantu untuk merawat luka-lukanya. Untuk sekedar formalisasi, Andi menyiapkan minuman hangat untuk Riko, sekaligus untuk menenangkannya akibat kejutan shock ringan tadi.
“Terima kasih, sekarang kau bisa jelaskan ... sebenarnya makhluk apa yang tiba-tiba menyerangku tadi?” tanya Riko dengan tatapan tajam.
“Itu adalah iblis hana atau biasa kami sebut Deserted Demon, mereka muncul dan mengganggu manusia yang hatinya lemah dalam kesepian, mereka akan menanggapi keluh kesah hati manusia dan mengabulkan keinginan dari manusia itu sendiri, kau bisa meminta apa saja, tetapi sebagai gantinya mereka akan menelan jiwamu lalu mengambil alih tubuhmu sebagai wadah sebelum mereka berpindah untuk mendapatkan tubuh korban barunya lagi.”
“Wehh ... serem juga tuh, untung gue masih selamat.”
“Selamat pala kau! kalau kami tak segera datang, mungkin sekarang kau sudah jadi makanan setan,” sindir Andi dengan tatapan sinis.
“Kau yang datang sendiri kan! aku tak ingat pernah memanggilmu,” sahut Riko tanpa rasa bersalah.
“Bocah kurang ajar, kau pikir aku tak tahu apa permintaanmu dari iblis itu.”
“kalau soal itu sih, hehehe ....”
"Kampret! kau tahu, waktu menetralkannya tadi, iblis itu terus menyerukan 'hancurkan ketua' berulang kali dan seperti itu, bukankah itu terlalu jelas, hmm.”
“Hehehe ... kebetulan aja sih gue ga sengaja cuma lagi menggerutu sendiri, eh tiba-tiba saja makhluk itu muncul dengan sendirinya dan seenaknya mengklaim gue ke wilayahnya, ini sih gue dijebak namanya,” balas Riko yang mencoba meloloskan diri dari tuntutan seniornya.
“Banyak alasan! kalau kau tak berpikiran negatif, tak mungkin makhluk itu bisa mendatangimu.”
“Yahhh ... sudah ah, gue minta maaf aja lagi ... salah sendiri bikin orang kesal.”
ARGHHH ....
Di tengah perseteruan kedua orang itu, Fuurin mencoba melerai dan kembali mendinginkan suasana.
“Ah, benar juga ... sebenarnya ada yang masih membuatku penasaran, karena sebelumnya aku pernah mengunjungi tempat itu sesekali, tapi tak menjumpai makhluk tadi walaupun saat itu aku sedang kesepian juga,” ungkap Riko yang kembali teringat.
“Tentang hal itu, tentu saja kesepianmu waktu itu berbeda dari sekarang ini, aku belum memastikan hal itu, karenanya aku harus menyelidiki tentangmu terlebih dahulu,” balas Andi dengan yakin.
“Beraninya kau mengatakan hal itu di depanku,” sahut Riko kesal.
“Satu hal lagi, hari ini adalah awal pergantian menuju tahun Kelinci, biasanya pada tahun inilah para iblis mulai bermunculan, aku sarankan agar kau lebih berhati-hati nantinya karena ternyata kau sudah ditetapkan dalam wilayah mereka,” tambah Andi sambil melirik tajam ke arah Riko.
“Apaan! seenaknya saja mengklaim orang, memangnya mereka siapa.”
“Jelas setan lah! siapa lagi ... hhhh.”
“Kau ... hentikan omong kosongmu itu!”
“Tak ada gunanya protes padaku, kalau mau protes ... ya protes aja setannya, gitu aja kok ribet, lagi pula itu semua bukan aku yang menetapkan, aku hanya memberitahumu saja, kalau tak percaya, yasudah ... bukan urusanku juga,” sahut Andi dengan memandang remeh Riko.
“Terus ... apa yang harus gue lakukan sekarang?” tanya Riko acuh.
“Kalau mau tau lebih banyak lagi tentang mereka, kau bisa bergabung di klub ini, tenang saja aku takkan mengancammu lagi, soal sebelumnya kau abaikan saja, aku hanya bercanda, selain itu kau juga akan kami ajarkan bagaimana cara menghadapi mereka dan kau bisa bertarung sebagai exorcist,” balas Andi masih dengan penawarannya.
“Ogah ah ... siapa juga yang mau bergabung ke klub ini, bosan!”
“Dasar kau bocah tidak tahu diri! sudah mau dikasihani malah ngeyel.”
“Serah luu ... gue ga perlu dikasihani.”
“Ee ... Riko, jangan gitu dong! walau bagaimana pun juga dia tetap ketua yang sudah menolong kita, kau harus menghormatinya juga,” sela Fuurin.
Riko tak menanggapi perkataan Fuurin, suasana pun berubah menjadi hening. Lalu Andi bangkit untuk mengambil sesuatu dari meja pribadinya, tanpa mengatakan apapun ia langsung menghampiri Riko sembari membawa sesuatu yang kemudian dipoleskan pada dahi Riko, semacam tinta khusus berwarna merah. Tak lama kemudian mereka memudar perlahan lalu memunculkan sebuah tanda baru di dahi dan kelopak matanya.
Riko sangat terkejut dengan reaksi pertama yang muncul terasa mencengkram dan menekan kepalanya, ia juga tak bisa membuka matanya dan itu pun terasa sakit.
“Rubah sialan, apa yang kau lakukan terhadapku?”
“Jangan khawatir, itu hanya reaksi dari tanda, sebentar saja kau akan kembali normal,” balas Andi dengan tenang.
Fuurin sedikit khawatir melihat temannya yang over react kesakitan, tetapi ia tahu itu bukanlah sesuatu berbahaya ataupun mengancamnya.
Beberapa waktu telah berlalu, Riko mulai sadar dan kembali normal.
“Sudah kukatakan tadi, itu takkan berlangsung lama, jadi sekarang aku tak menerima protes apapun darimu,” ucap Andi dengan santai.
“Memang siapa yang mengizinkanmu seenaknya, kalian orang-orang aneh! siapa juga yang membutuhkanmu,” bentak Riko yang kembali emosional.
“Aku sih tak peduli denganmu, tapi karena temanmu ini begitu bersimpati denganmu jadi kurasa aku perlu membantumu sedikit untuknya,” balas Andi dingin.
“Kau tak perlu membantuku, aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri,” sahut Riko yang tak juga mau mengalah.
“Baiklah kalau kau berkata begitu nona hantu, kau yakin takkan datang padaku lagi?” tanya Andi dengan seringai yang sedikit mencurigakan di wajahnya.
“100% yakin, kau jangan menggangguku lagi!”
Tanpa basa-basi lagi, Riko langsung pergi keluar, ia tampak kesal. Dengan tenaga penuh ia mengentakan pintu sebelum melihat pemandangan baru di luar sana. Dan ia pun kembali terkejut.
“Uwahhh ... kelinci terbang! eh, bukan ... itu rusa mungkin, tapi kayaknya mirip tikus juga tapi kok berterbangan di mana-mana?” gumam Riko yang semakin gelisah.
Ia kembali teringat dengan kata-kata ketua, jangan-jangan benar ini adalah iblis berjenis lain yang mulai bergerombol menampakkan diri untuk menyerang manusia.
Ia benar-benar kebingungan kali ini, jika benar itu iblis lagi, ia takut jika mereka akan mencoba menelannya.
Dengan perasaan was-was ia mulai meneguk ludahnya, akhirnya dengan terpaksa kembali masuk ke ruang klub. Ia mempercepat langkahnya ingin segera menabok si ketua dan protes habis-habisan.
.
.
.
TBC