Roped Fate

Roped Fate
Ch.40 : Pertaruhan



Mereka bertiga kembali berkumpul untuk melawan iblis utama. Andi menyiapkan serangan jaring-jaring petir, sementara Fuurin mengalihkan perhatian iblis dengan beberapa serangan elemen anginnya, sedangkan Riko, ia berada pada posisi pertahanan dengan memperhatikan sekitar dan berjaga-jaga, apabila ada gangguan dari luar, ia akan segera menyelesaikannya serta melindungi kedua orang di sana.


Daun-daun iblis kembali berterbangan, walaupun tak sebanyak sebelumnya, tetapi serangan tersebut cukup dapat menghambat penyiapan segel yang sedang dilakukan oleh Andi.


“Segel jaring laba-laba petir, biasanya membutuhkan waktu yang agak lama, jika iblis itu terus mengganggu, kemungkinan proses segel akan gagal,” ucap Andi serius.


“Kaichou fokus saja pada segel itu, biar aku dan Riko yang akan mengatasi serangan iblis itu,” sahut Fuurin.


“Baiklah, tapi aku harus sedikit lebih menjauh darimu, karena formasi segel ini bisa saja hancur oleh dampak serangan anginmu,” tambah Andi lagi.


“Baiklah, kalau begitu kaichou mundur saja, kami yang akan melawannya,” balas Fuurin singkat.


“Oke, hanya 5 menit saja, kalian berjuanglah!”


Andi langsung mengambil langkah untuk mundur dan menyerahkan bagian pertahanan kepada mereka berdua. Namun, sebelum pergi, Andi sempat memberikan sebuah belati khusus kepada Riko sebagai senjata untuk ia bertarung nantinya.


Riko dan Fuurin mulai berpencar ke dua sisi untuk memperluas jangkauan pertahanan. Fuurin mulai melancarkan serangan beruntun yang menebas setiap daun iblis berguguran serta meneruskan serangannya pada iblis utama.


Sedangkan Riko, walaupun ia tak mampu mendaratkan serangan apapun terhadap iblis utama, tapi setidaknya ia sudah ikut ambil bagian dalam menghentikan serangan daun beracun itu. Ia menebas setiap daun yang datang menggunakan belati yang diberikan oleh Andi tadi.


Setelah menyelesaikannya, Andi pun langsung melesatkan segel serangan itu. Dan akhirnya, iblis pun berhasil terjerat ke dalam jaring-jaring petirnya yang kemudian meraung dengan keras akibat sengatan petir segel tersebut.


Andi berlari dengan cepat ke arahnya dan memanggil sebuah buku segel yang kemudian akan menyegel iblis itu ke dalamnya. Namun, sebelum benar-benar berhasil ditaklukkan, Iblis itu pun meledakkan diri dan menyebabkan hujan daun iblis yang begitu runcing dan beracun.


Ketiganya kembali terperanjat dan panik, apa yang harus mereka lakukan dalam jeda waktu yang singkat ini. Fuurin berpikir keras untuk hal itu, mungkin ketua bisa saja mengatasinya untuk sementara, tetapi bagaimana dengan Riko? pastinya ia tak akan bisa menahan ribuan hujan daun iblis.


‘Aku tak bisa membiarkannya dalam bahaya, setidaknya mereka berdua harus kembali dengan selamat,’ batin Fuurin serius.


Akhirnya dengan cepat Fuurin berlari ke tempat Riko, lalu merebut belatinya. Riko begitu tercengang dengan tindakan nekat yang sedang dilakukan Fuurin saat ini.


“Oii ... apa yang kau lakukan? kau benar-benar sudah gila ya,” ucap Riko yang begitu heran.


“Ini adalah jalan satu-satunya, kau jangan protes lagi,” sahut Fuurin dingin.


Fuurin mengambil belati tersebut dan menggoreskan pada tangannya, tanpa basa-basi lagi ia membuat sebuah segel aneh menggunakan darahnya sendiri. Andi berusaha untuk menghentikannya, tapi sayangnya ia gagal, segel pun telah diaktifkan.


Dimension : Demon space ‖ Ilussion


~ Breeze ~


Seketika dunia berubah menjadi ilusi,


semua daun iblis dibekukan di udara, lalu perlahan hancur menjadi partikel kecil dan menghilang begitu saja. Semua yang ada di dalam ilusi tersebut adalah genggaman Fuurin, ia bisa memanipulasi apapun yang ada di sana. Sekuat apapun objek, ia tetap bisa menghancurkan apa yang ada pada wilayahnya.


Teknik ini memang benar-benar hebat, tetapi untuk mengendalikan dimensi itu tentunya tidak semudah yang dibayangkan, bisa saja ia kehilangan dirinya sendiri.


Andi dan Riko segera mendekat ke tempat Fuurin yang masih diam mematung, mungkin ia saat ini tengah berjuang melawan dirinya sendiri agar bisa keluar dari ilusi tersebut, karenanya mereka berdua terus berusaha untuk segera menyadarkan Fuurin, sehingga takkan terjadi hal-hal yang tak diinginkan nantinya.


“Ketua, ada apa dengannya?” tanya Riko.


“Dia masih belum bisa mengendalikannya dengan baik, kita harus segera menyadarkannya, jika tidak ... kita bertiga akan mati di sini,” jawab Andi serius.


“Jadi ini sebuah pertaruhan ya, jika kita yang kalah, maka kepada siapa kita harus membayarnya?” tanya Riko lagi.


“Tentu saja, iblis.”


Riko sempat tertegun sesaat, mendengar jawaban ketua, ia pun kembali menyadari, ada begitu banyak hal yang belum ia ketahui tentang Fuurin.


“Baiklah, aku pasti akan berusaha menyelamatkannya, tapi ... apa yang harus aku lakukan? apa aku perlu menggelitikinya atau apa?” tanya Riko iseng.


“Jelas bukan, itu sih namanya mengambil kesempatan dalam kesempitan, sangat tidak sopan!” bentak Andi sedikit kesal.


“Lalu bagaimana caranya?” tanya Riko lagi.


“Kita coba dengan mengirimnya energi spiritual masing-masing kepadanya,” balas Andi serius sembari menoleh ke arah Riko.


“Tapi bagaimana caranya? aku bahkan belum bisa menggunakannya,” tanya Riko lagi.


“Letakkan kedua telapak tanganmu di atas telapak tangannya, kau hanya perlu berkonsentrasi, dan sisanya biar aku yang mengalirkan energi itu secara bersamaan,” pinta Andi.


“Baiklah, akan kulakukan semaksimal mungkin,” jawab Riko dengan tegas.


Mereka pun memulainya, Riko meletakkan kedua telapak tanganya pada telapak tangan Fuurin seperti yang diperintahkan Andi sebelumnya. Lalu, Andi mulai mengalirkan energi spiritualnya melalui punggung Riko, dan mengirimnya secara bersamaan melalui telapak tangan Riko.


Sudah cukup lama mereka mengalirkan energi spiritualnya, keduanya pun sudah mulai kehabisan tenaga. Namun, Fuurin tetap belum bisa disadarkan.


“Oii ... ketua! apa tak ada cara lain lagi? kalau begini terus, bisa-bisa kita mati konyol di dunia sesat ini,” keluh Riko yang tampak sudah kelelahan.


“Arghh ... kalau begitu, sampai kapan kita harus menunggu di sini, bagaimana jika bantuan tidak akan datang? habislah kita,” keluh Riko dengan ekspresi wajah yang kusut.


“Tentu saja kita harus segera keluar, jika tidak ... dalam 24 jam dimensi ini akan mengambil alih Fuurin dan menelan kita bertiga,” jelas Andi singkat.


“Uwaah ... horror sekali! gak mau ah, kau cepat hubungi yang lain! aku tak mau mati di sini, keluargaku pasti bingung mencariku,” rengek Riko.


“Jika kau benar-benar ditelan dimensi, maka yang hilang itu hanya jiwamu, sedangkan ragamu akan kembali ke dunia nyata, tenang saja ... kau tetap akan dikubur dengan layak,” goda Andi.


“Sialan! mau bagaimanapun caranya, gue tetap gak rela mati dulu, perjalanan hidup gue baru saja dimulai, masa iya mati gitu aja, bosan!” protes Riko yang mulai kebingungan.


“Hahaha ... makanya jangan mengeluh terus!”


Tak lama kemudian, dimensi ilusi kembali bergejolak, tempat itu perlahan terkikis dan mulai runtuh. Mereka berdua bersiap dan waspada sembari memeluk dan menjaga Fuurin yang sedang tak sadarkan diri.


‘Apapun yang terjadi, aku pasti akan melindunginya,’ batin Riko.


Ruang gelap kembali muncul, langit-langit ilusi perlahan memudar. Tak lama kemudian, area tempat mereka berpijak pun ikut runtuh, dan akhirnya mereka terjatuh ke bawah dalam ruang kosong yang gelap tanpa akhir. Mereka hanya bisa pasrah, tak ada yang bisa dilakukannya, hingga perlahan kesadaran mereka telah menghilang.


.


.


Suara berisik yang semakin lama terdengar semakin jelas, Riko pun perlahan mulai membuka matanya dan mendapati rekan-rekan klubnya sedang berkerumunan di sekitarnya.


“Woah ... ini mimpi atau beneran ya? rasanya indah sekali,” ucap Riko masih dalam keadaan setengah sadar.


PLAKKK ....


“Lu sudah sadar bro,” ucap Ruri sambil menampar Riko.


“Senior sialan! apa maksud lu dengan menampar gue seenaknya, arghhh...,” protes Riko geram.


“Wah ... dia sudah kembali normal, syukurlah, aku beritahu ketua dulu.”


Ruri pun langsung pergi dari sana, dan menyerahkan urusan Riko dengan rekan yang lainnya.


“Dasar senior kurang ajar! mentang-mentang senior, malah seenaknya,” protes Riko sembari memegang pipinya yang masih terasa agak sakit akibat tamparan tadi.


“Sudahlah, dia juga mengkhawatirkanmu tadi,” sela Ran.


“Ah, benar juga ... ketua dan Fuurin, sekarang ada di mana?” tanya Riko khawatir.


“Ketua sudah sadar tadi, mungkin sekarang ia sedang menjaga nona Rin yang beristirahat,” jawab Ran tenang.


“Bagaimana keadaan mereka?” tanya Riko lagi.


“Mereka baik-baik saja, mungkin hanya sedikit badmood saja.”


“Oh, syukurlah! aku pikir kita bertiga akan mati, hmm.”


“Ah, ilusi itu ya? sebenarnya tadi di sini juga ada senior Rein yang ikut membantu menghancurkan ilusi itu,” terang Ran.


“Benarkah? lalu, sekarang ia ada di mana?” tanya Riko penasaran.


“Sepertinya sudah pergi, katanya sih ... ada urusan mendadak.”


“Oh, kalau begitu ... lain kali jika bertemu, aku pasti akan berterima kasih padanya.”


“Oke.”


“Ngomong-ngomong, bisakah kau antarkan aku ke tempat Fuurin dan ketua?” pinta Riko.


“Tentu saja! ayo ikut denganku.”


Riko pun mulai bangkit dan perlahan berjalan mengikuti arah seniornya. Ia ingin segera menemui mereka berdua untuk melihat keadaannya secara langsung.


.


.


.


TBC