
Mereka bertiga akhirnya sampai di depan ruang klub. Seluruh anggota klub yang sudah hadir pun mulai menyambut tamu mereka dengan baik.
Guru Tono sebenarnya agak malu, mereka semua benar-benar memperlakukannya dengan hormat. Ia pun menjadi gugup dan canggung lagi. Hal itu membuat Riko menjadi sangat bosan dan kesal.
“Oii ... kau itu guru, tidak pantas untuk bersikap canggung seperti itu, jika murid sudah mengetahui kebiasaan burukmu itu, mereka akan jadi seenaknya dan berani padamu,” ucap Riko tanpa memperhatikan sopan santun.
“Ahaha ... lalu apa yang harus saya lakukan? ini benar-benar sulit,” jawabnya dengan canggung.
“Harusnya kalau mau jadi guru, jadilah seperti guru killer yang selalu mengikat leher muridnya,” sahut Riko mendominasi.
“Ee ... tapi saya bukan orang yang seperti itu, bagaimana caranya?”
“Makanya kau banyak-banyak baca novel heroic dan misteri 21+ biar kau dapat banyak inspirasi.”
“Mm ... ini '21+' maksudnya apa ya? kok jadi ambigu, haha...,” tanya guru Tono ragu.
“Ada banyak scene kekerasan, penyiksaan, pembunuhan, pembantaian masal, dan sebagainya, kau bisa jadikan itu sebagai referensi,” jawab Riko dengan tekanan suasana yang cukup berat.
“Oh, seperti itu ya, hahaha ... tapi lain kali kamu jangan menyebutnya dengan istilah '21+' karena orang-orang bisa saja salah paham dengan maksudmu,” saran guru Tono yang masih canggung.
“Haah ... lu mau nasehatin gue.”
PLAKKKK ....
Andi pun langsung memukul kepala Riko dengan buku.
“Oii ... murid beracun! kau tak tahu bagaimana cara menghormati gurumu,” ucap Andi sambil menatapnya sinis.
“Empat mata sialan ... awas kau ya!”
Andi kembali mempersilahkan tamunya untuk bergabung ke meja rapat dengan para anggota lainnya. Sedangkan Riko hanya kesal karena Andi sempat memukulnya tadi, ia enggan bergabung dengan mereka, walaupun akhirnya ia tetap diseret paksa untuk bergabung.
Hari ini, mereka akan membahas tentang beberapa pesan yang disampaikan dari organisasi, di antaranya seperti seperti kasus yang baru-baru ini terjadi dan sempat menghebohkan masyarakat setempat, tetapi itu masih belum jelas, karena mereka baru hanya menemukan satu kasus dan di tempat itu saja.
“Kami dari organisasi UE menyampaikan tentang adanya kasus baru yang telah terjadi di jalan Mawar, dua hari yang lalu seorang anak sekolah ditemukan mati mengenaskan dengan beberapa bagian tubuh yang hancur, polisi menduga hal itu disebabkan oleh serangan binatang buas, tapi dari hasil penyelidikan kami, di dalam luka cakaran pada tubuh korban, kami menemukan adanya violet mark yang tidak wajar dan penuh dengan energi negatif,” jelas guru Tono.
“Lalu, bagaimana langkah selanjutnya?” tanya Andi tenang.
“Kami akan menahan sementara jasad korban untuk diselidiki, maka dari itu organisasi UE meminta agar klub exorcist sekolah ini bisa ikut membantu dalam penyelidikan kasus tersebut dan menunda sementara misi blok A selatan sampai kasus di jalan Mawar berhasil terungkap,” tambahnya.
“Baiklah, kami akan mencoba untuk menyelidiki kasus itu,” balas Andi singkat.
****
Setelah cukup lama rapat itu berlangsung, akhirnya mereka mulai mengakhiri dan menutup rapat hari ini. Mereka semua bisa kembali pulang dan segera beristirahat.
Riko dan Fuurin berjalan bersama, mereka berjalan kaki seperti sebelumnya. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan mereka.
“Hei, kalian berdua ... ayo ikut denganku, aku akan mengantar kalian pulang,” teriak Andi mengajak keduanya.
“Kaichouuu ...,” teriak Fuurin.
“Ehh ... si empat mata ya?” timpal Riko.
“Kalian berdua, ayo! cepat masuk ke mobilku!” seru Andi dari dalam mobil.
“Siap ... kaichou!”
“Okelah ....”
“Eh, tumben anak bandel langsung mau,” ucap Andi.
“Emang kenapa? ini sudah cukup sore, gue lagi ada kerjaan di rumah, biar cepat sampai terpaksa deh ikut,” balas Riko cuek.
“Berisik, empat mata sialan! siapa juga yang takut hantu.”
“Sudahlah kalian berdua! ayo segera meluncur!” sela Fuurin dengan penuh semangat.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan itu, meskipun dengan perasaan kesal, Riko tetap ikut dengannya. Beberapa kali Andi dan Fuurin mencoba menggoda dan mengganggu Riko, mereka berdua sangat senang ketika melihatnya menjadi kesal.
Ketika melewati suatu daerah yang terbilang cukup sepi itu, mereka mulai menyadari ada sesuatu yang aneh. Pohon-pohon di pinggir jalan bergemerisik cukup kencang, daun-daun pun seketika berubah menjadi gelap, hingga sampai di ujung jalan, sebuah api hitam melintang di tengah jalan. Andi mulai menghentikan laju mobilnya dan segera memeriksa keanehan yang terjadi.
Riko dan Fuurin pun juga ikut turun dari mobil, tentunya mereka bertiga sudah menyadari bahwa itu adalah tanda kemunculan iblis. Mereka mulai bersiap dan waspada. Pertama, Fuurin menyiapkan segel penghalang yang dipadukan dengan ilusi yang sedang ia pelajari sekarang.
Seketika dinding yang luas menutup kedua ruas jalan dan menciptakan hutan ilusi seakan jalan tersebut telah terputus, sehingga tak ada orang lain yang akan melewati jalan tersebut untuk sementara waktu.
Sedangkan Andi menyiapkan beberapa kertas mantra yang sebagian diberikan pada Riko untuk sekedar berjaga-jaga dan sisanya lagi untuk dipadukan dengan segel serangannya. Ia membuat gelombang cahaya putih yang menyebar ke segala arah untuk memancing iblis tersebut keluar dari persembunyiannya.
Tak lama kemudian, daun-daun berguguran dan menyebar ke arah mereka, tapi yang datang kali ini bukanlah daun biasa. Setiap helai daun yang berhasil mengenai mereka, akan membuat sayatan-sayatan kecil pada permukaan kulit.
“Auhh ... ini sangat tajam dan beracun, sialan mereka membuat tubuhku jadi mati rasa, apa-apaan ini! sial,” umpat Riko sembari berusaha menyingkirkan daun-daun yang berterbangan dengan cara mengibaskan jaketnya.
“Riko ... datanglah dan mendekat ke tempatku, aku pasti akan melindungimu juga,” teriak Fuurin sembari menyingkirkan dedaunan itu dengan kekuatan spiritualnya.
“Tenang saja, aku bisa mengatasi sialan ini, kau urus saja yang di sana,” balas Riko.
“Hei ... kau gunakan saja kertas mantra yang aku berikan tadi!” teriak Andi.
“Ahh ... benar juga! tapi ... bagaimana cara menggunakannya? hmm.”
“Kalau tak bisa pakai kekuatan spiritual, cukup kau bakar saja,” pekik Andi memberi intruksi.
“Hmm ... tapi tidak semudah itu fergusso, lihat! kau saja bahkan tak sempat membuat segel, virus daun ini terlalu cepat dan banyak, sialan!” protes Riko yang tampak kerepotan.
****
Sudah cukup lama menghabiskan waktu, akhirnya mereka berhasil membasmi daun iblis itu. Andi sempat melewatkan waktunya untuk membuat segel pelindung agar daun-daun itu tak bisa menyerangnya lagi, akibatnya beberapa daun itu berhasil mengores kulitnya.
Namun, setelah itu dengan bebas ia bisa membuat segel serangan penghancur di dalam pelindung. Ia pun langsung meledakkan seluruh dedaunan itu sampai hangus dan menjadi debu. Setelah semuanya habis, mereka bertiga kembali berkumpul untuk bersiap menghadapi iblis utama.
“Kaichou ... kau terluka!” ucap Fuurin khawatir.
“Tenang saja, ini hanya luka kecil, kalau tidak dengan begini, mereka akan sulit dibasmi,” jawab Andi.
“Lalu, bagaimana denganmu Riko?” tanya Fuurin lagi.
“Kalau hanya seperti ini ... gue mah udah biasa, luka yang tak ada harganya,” jawab Riko dengan sombong.
“Hmm ... no comment lah,” gumam Fuurin yang tidak heran lagi.
Arah angin kembali berubah, masing-masing dari mereka pun kembali bersiap.
“Dia datang!” seru Andi waspada.
Sosok makhluk mengerikan pun mulai muncul dari arah pepohonan itu. Iblis level 7 yang menghuni daerah hutan pinggir jalan itu, datang dan merobohkan beberapa pohon di sekitarnya. Andi menyiapkan serangan pembuka, sementara Riko dan Fuurin bersiap untuk pertahanan. Begitu juga dengan iblis itu, ia membuat koloni kecil untuk mengepung mereka bertiga.
Namun, sebelum mereka siap menyerbu, Riko mencoba mencari beberapa dahan pohon di sekitarnya sebagai senjata untuk melawan koloni iblis itu nantinya, dan tak lupa juga ia mencarikannya untuk Fuurin.
.
.
.
TBC