Roped Fate

Roped Fate
Ch.72 : Tolong Lupakanlah!



Perjalanan pagi ini hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk sampai ke tujuan. Sesampainya di sana, sang ayah kemudian memarkirkan mobilnya.


Untuk bisa sampai ke markas tujuan, mereka masih perlu berjalan kaki sekitar 2km dari tempat parkir.


Meskipun Riko tidak berniat menemui ibu tirinya, tetapi ia cukup menikmati perjalanannya menuju markas besar exorcist. Jalanan yang dipenuh semak-semak serta dikelilingi hutan rindang membuatnya cukup tertantang, selain itu beberapa area juga diapit jurang terjal, tetapi tampaknya ia sudah mulai terbiasa saat berlatih di tengah hutan bersama teman misteriusnya.


Beberapa waktu telah berlalu, mereka pun hampir sampai ke tujuan. Dari kejauhan sudah terlihat gedung yang cukup besar berada di tengah-tengah semak yang luas.


“Akhirnya kita berhasil melewati hutan bersemak tadi, hanya perlu menerobos lapangan semak itu selanjutnya, yosh!” seru Riko yang tampak masih bersemangat.


“Ayo, kita bergegas tapi jangan terlalu terburu-buru ... ini hanyalah perjalanan biasa,” balas sang ayah sembari mengusap-usap kepala Riko.


“Siap!” balas Riko dengan antusias.


Tanpa berkomentar apapun tiba-tiba Rion menarik lengan Riko untuk mendekat ke tempatnya.


Riko pun kebingungan menghadapi tingkah aneh saudara tirinya itu.


“Hei kau ini kenapa sih? aneh sekali,” tanya Riko yang tampak sedikit jengkel.


“Jangan pernah turunkan kewaspadaanmu di mana pun dan dengan siapa pun, bahaya selalu datang tak terduga,” balas Rion dengan ekspresi yang serius tanpa menatap ke arahnya.


“Kau ini ... benar-benar sulit di mengerti, huft!” sahut Riko sembari menghela napas.


Sang ayah hanya tersenyum lembut melihat tingkah Rion yang selalu tidak biasa, karena itu ia mencoba untuk menenangkan hati anak tirinya.


“Tidak perlu begitu khawatir, semuanya akan baik-baik saja, sekalipun ada hal buruk yang terjadi ayah pasti akan melindungi kalian berdua,” lirih sang ayah.


Rion pun hanya terdiam, meskipun sedikit menyebalkan mereka tetap melanjutkan perjalanan.


Pada pertengahan perjalanan sebelum sampai di depan sana. Rion tiba-tiba saja berhenti, sedikit membingungkan karena ia hanya terdiam dan menatap hampa ke arah langit.


“Aku merasa ada yang tidak beres di tempat ini, kalian jangan terlalu bersantai seperti itu,” ujar Rion untuk memperingati mereka berdua.


“Baiklah, sepertinya kita perlu menyiapkan perlengkapan segera,” balas sang ayah dengan sedikit ambigu.


Tak lama berselang, sebuah ledakan besar pun terjadi pada markas tersebut. Mereka berdua seketika mematung dan bergemetar.


“Ayah, itu ledakan apa? mengapa ini terjadi lagi?” tanya Riko dalam kepanikannya.


“Kau tenang dulu, jangan khawatir ayah akan memeriksanya ... sementara itu kau tunggulah di sini bersama kakakmu, dia pasti akan melindungimu,” lirih sang ayah yang berusaha menenangkan Riko.


“Tidak! ayah jangan ke sana ... kalau ayah pergi aku juga akan ikut!” teriak Riko yang semakin panik.


“Dengarkan perintah ayah! jangan jadi anak yang bandel ... tetaplah di sini, ayah akan segera kembali untuk menjemputmu, dan Rion kau jaga Riko di sini ya, ayah akan segera kembali,” tegas sang ayah sebelum  pergi berlari ke markas tadi.


“Baik,” jawab Rion singkat.


Riko yang keras kepala tetaplah tidak bisa diberitahu, ia mencoba keras untuk bisa meraihnya, tetapi pada akhirnya hanya bisa berteriak dan menangis memanggil ayahnya.


“Ayah!!!”


Rion terus berusaha untuk menahan agar Riko tidak pergi ke tempat itu, ia mencoba menarik dan menyeretnya sejauh mungkin dari sana.


“Hei Rion! kenapa kau menyeretku semakin jauh, ayah meminta kita untuk menunggu di sana ... ayah akan segera kembali menjemput kita, tapi kenapa kau?” bentak Riko yang tak terima dengan apa yang dilakukan Rion saat ini.


“Hah, maksudmu dia akan menjemput kita ke neraka, begitu? kau boleh menjadi anak yang bandel tapi jangan menjadi bodoh, jika masih menunggu di tempat itu kita juga akan mati,” tegas Rion dengan tatapan tajamnya.


“Tidak! ayah pasti akan kembali ... kita harus menunggunya,” bantah Riko yang tetap yakin.


“Aku beritahu kau ... tak ada satu pun dari mereka yang akan hidup dan kita tak harus ikut menjadi bagian dari mereka, jika kau diberi kesempatan hidup ... maka hiduplah dengan baik,” balas Rion yang sedikit emosional.


“Tidak! ayah tak akan meninggalkanku ... aku harus segera kembali!” sangkal Riko sembari meronta-ronta berusaha kabur dari saudara tirinya.


Dalam perdebatan mereka, tiba-tiba kembali terjadi ledakan yang lebih besar hingga menyebarkan sekumpulan energi tak wajar ke daerah sekitarnya.


“Kau tahu SANGU exorcist resources adalah markas terbesar dari penelitian exorcist seluruh founder ternama, jika sampai markas tersebut hancur, itu artinya tak ada harapan hidup bagi mereka yang ada di sana,” jelas Rion sebelum kembali mencengkram erat tangan Riko.


Rion ketika serius tidaklah setengah-setengah. Ia menyeret Riko dengan paksa untuk pergi dan menjauh dari tempat itu. Sementara kekuatan Riko yang masih jauh terlalu lemah untuk bisa melawan Rion, ia hanya bisa memberontak tanpa bisa menghentikannya.


Cukup lama dan bersusah payah untuk bisa membawanya kembali, akhirnya mereka berhasil sampai ke parkiran tempat mobil mereka terparkir sebelumnya. Rion langsung bergegas menuju mobil untuk mengambil ponsel yang ada di sana.


“Rion, bagaimana bisa kau?” tanya Riko heran.


“Ini kunci cadangan, tak sulit untuk mendapatkannnya,” balas Rion singkat.


“Tentu saja aku harus menghubungi paman segera untuk mendapatkan bantuan,” balas Rion yang sedang fokus untuk mencari kontak pamannya.


Setelah berhasil menghubungi pamannya, ia pun menjelaskan secara singkat keadaan mereka dan meminta bantuan beberapa team untuk proses pengamanan.


Ketika panggilan itu berakhir, Rion pun hendak meletakkan kembali ponsel tadi ke tempat sebelumnya. Namun, sungguh tidak terduga ketika ia melemahkan genggamannya, Riko pun berhasil kabur kemudian berlari ke rute sebelumnya.


Rion hanya menghela napas sejenak, ia sungguh lelah dengan sikap keras kepala Riko, tetapi ia juga tak bisa mengabaikannya begitu saja. Karena itu ia pun langsung pergi untuk mengejar Riko kembali.


Dalam pengejarannya, Rion sedikit mengalami kesulitan untuk menangkap Riko, beberapa kali ia gagal menyergap anak itu. Selain memang karena Riko yang cukup lincah dan atletis, cidera yang dialaminya juga cukup mempengaruhi kekuatannya.


****


Cukup jauh mereka berlari ke tengah hutan, tanpa diduga Riko pun tergelincir saat berlari di pinggiran jurang dan ia pun terperosok ke dalamnya. Namun, Rion yang sigap dengan cepat meraih tangan Riko sebelum ia benar-benar terjun ke jurang terjal tersebut.


Meskipun begitu, posisi mereka belumlah aman. Karena pada saat meraih tangan Riko, tubuhnya sendiri juga ikut terperosok ke lereng jurang, bahkan ia juga sempat terbentur material sekitarnya. Saat ini tangan kirinya sedang menggenggam tangan Riko sedangkan tangan kanannya digunakan untuk berpengangan pada sebuah batang pohon.


“Kau! tak perlu melakukan hal ini ... cepat lepaskan saja, kalau pun aku mati ... itu adalah kesalahanku sendiri dan kau tak perlu menanggungnya,” teriak Riko sambil berusaha melepaskan genggaman Rion.


“Tidak, kita berdua harus selamat! kau bersabarlah ... aku akan berusaha memanjat ke tepian, jangan khawatir!” pinta Rion sambil berusaha menenangkan Riko dan dirinya sendiri.


“Itu tidak mungkin, hanya ada satu orang yang bisa selamat ... jika kau tak memilih salah satu di antaranya maka kita berdua akan mati, bukankah itu sia-sia saja? kau pikir kau bisa memanjat dengan satu tangan sementara sebelah tanganmu menggenggam beban yang sangat berat, itu mustahil!” bantah Riko yang semakin kesal dengan situasinya saat ini.


“Tidak aku akan berusaha ... kau jangan menyerah dulu,” balasnya opstimis.


“Sudahlah, apa yang perlu kau perjuangkan dari orang sepertiku ... kurasa aku yang sudah tak memiliki siapapun saat ini, mati pun tak masalah bagiku,” jawab Riko dingin.


“Aaaaak!” Rion pun merintih ketika tangan cideranya semakin memburuk. Luka pada lengan kanannya pun kembali mengeluarkan darah yang semakin lama semakin memburuk.


Beban yang begitu berat membuatnya kesulitan untuk bertahan lebih lama lagi. Riko benar-benar sudak tak tahan lagi dengan sikap Rion, ia berusaha memberontak dengan sekuat tenaga agar Rion mau melepaskan genggamannya. Namun, bahkan sampai akhir pun Rion tetap ingin melindunginya.


“Maafkan keegoisanku, tapi meski sendiri ... kau harus tetap hidup, adikku,” pinta Rion sebelum ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk melempar Riko sampai ke tepi jurang.


Riko pun berhasil mendarat dengan aman meskipun sempat terguling dengan kasar di tepian, tetapi ia tak memikirkan rasa sakit apapun. Ia langsung mendekat ke lereng jurang di mana Rion masih bertahan.


“Kau ... masih ada waktu, raihlah tanganku! aku akan menarikmu sampai ke atas,” perintah Riko dengan perasaan panik.


“Maaf  ... aku sudah tak memiliki banyak energi lagi, kau tak akan bisa melakukan hal itu ... jika kau lakukan maka kau dan aku akan benar-benar terjatuh, aku tak ingin itu terjadi ... setidaknya kau masih bisa selamat, pergilah ke tempat paman setelah ini, dia akan mengurusmu dengan baik, jangan bandel lagi ya!” balas Rion dengan senyuman lemah.


“Tidak bisa! aku tak bisa menerima hal ini! aku akan dihantui rasa bersalah seumur hidupku jika sampai terjadi sesuatu, cepat naiklah raih tanganku,” bantah Riko yang tetap tak bisa menerima keputusan Rion.


“Sudah kubilang jangan khawatir, setelah ini hiduplah dengan baik dan lupakan semua tentang dendammu, aku ingin kau hidup lebih bahagia lagi,” balas Rion lembut.


“Tidak! hiks ... aku tak bisa menerimanya, kenapa hanya aku yang dibiarkan hidup?” protes Riko dengan penuh emosi yang berat dalam hatinya.


“Mendekatlah untuk sebentar saja!” seru Rion sembari tersenyum.


Riko yang masih tak bisa berkata sepatah kata pun, ia hanya berusaha menahan tangisannya dan mengikuti apa yang diminta kakak tirinya.


“Hiks, kenapa?” tanya Riko singkat.


“Kau jangan pernah lagi berurusan dengan dunia exorcist, hiduplah seperti manusia biasa dan lupakan semua hal buruk tentang orang tua kita, tentang semua yang telah terjadi, dendammu dan tentang diriku, hiduplah dengan bahagia, selamat tinggal adik ... aku akan selalu merindukanmu,” pesan terakhir Rion dengan senyuman yang tulus.


Ia pun mengaktifkan sebuah segel yang tampak cukup aneh dan tidak biasa, kemudian menggunakan sedikit energi yang masih tersisa untuk menyelesaikan segel yang ia titikkan pada jarinya dengan goresan darahnya.


Untuk langkah terakhir ia pun berusaha meraih Riko dan menyentuh dahinya dengan jari di titik segel tadi.


“Setelah ini lupakanlah semuanya!”


Itu adalah kata terakhir yang ia dengar di telinganya dengan perasaan yang sangat hancur, perlahan kenangan itu memudar.


“Tidak! Riooooonn ....”


FLASHBACK END.


.


.


.


TBC