Roped Fate

Roped Fate
Ch.36 : Irama Gerakan



Setelah Andi meninggalkan tempat itu, yang lainnya pun akhirnya kembali ke kelas masing-masing, termasuk Riko dan Fuurin juga.


Jika dipikir lagi, mereka berdua sudah cukup lama meninggalkan pelajaran. Jadi, rasanya akan canggung untuk kembali ke kelas, tentu saja guru pembimbing akan mengomeli mereka. Karena itu, mereka berdua sekalian membolos saja. Lagi pula, jam pelajaran juga sudah hampir berakhir.


Mereka pun memutuskan untuk pergi ke kantin saja. Seperti biasa, Riko akan membantu ibu kantin untuk beberapa pekerjaan. Fuurin pun juga cukup antusias membantunya.


Tak lama kemudian, seseorang kebetulan datang untuk makan di sana. Orang itu dengan lekat terus memperhatikan mereka berdua.


‘Apa yang dilakukan kedua murid ini, bukankah ini masih jam masuk kelas?’ pikirnya bingung.


Di sisi lain, Riko dan Fuurin pun juga ikut memperhatikan orang itu. Sepertinya mereka belum pernah melihatnya.


Orang itu terlihat agak canggung, mungkin kedua murid di sana memang terlihat sedang bolos, tapi saat melihat mereka berdua yang sedang membantu ibu kantin, ia pun mengurungkan niatnya untuk menegur keduanya.


Fuurin dan Riko mengernyit bingung, mengapa orang itu terlihat begitu canggung, dan itu malahan membuatnya jadi terlihat mencurigakan.


Saat ibu kantin sudah selesai menyiapkan pesanan tadi, Riko berencana untuk membantu mengantarkannya sekaligus untuk menginterogasi orang itu. Riko pun membawakan makanan sedangkan Fuurin yang membawakan minuman.


“Silahkan hidangannya,” ucap Riko dengan santun dan mencoba untuk bersikap formal.


“Pftt ... kau norak sekali bro,” ejek Fuurin.


“Berisik kau kampret.”


“Ahaha ... kalian berdua santai saja ya! haha ...,” sela orang itu dengan perasaan canggung.


Mereka berdua langsung menatap orang itu lagi dan langsung duduk di sebelahnya.


“Ee ... kalian berdua ... sedang bolos ya?” ucapnya ragu.


“Ya benar ... bolos adalah hal yang sangat menyenangkan,” jawab Riko sombong.


“Ah, jangan dengarkan nona yang ini, sebenarnya kami tadi ada urusan mendadak dan karena sudah terlalu lama, sepertinya bel istirahat sebentar lagi akan berbunyi, jadi, ya ... kami cari kegiatan lain sambil menunggu bel berbunyi,” jelas Fuurin ramah.


“Oii ... siapa yang kau sebut nona, hah.” protes Riko.


“Oh ... begitu ya? hahaha ...,” sahut orang itu dengan canggung.


“Lalu, kau sendiri ... sedang ada urusan apa ke sekolah ini, sepertinya aku belum pernah melihatmu,” tanya Riko curiga.


“Saya guru baru di sini, baru saja tiba tadi, ya ... sebelum mulai memperkenalkan diri ke beberapa kelas, saya perlu sarapan dulu,” jawabnya santun.


“Oh ... jadi, anda guru baru ya?” sahut Fuurin ceria.


“Iya, benar.”


“Tapi gerak-gerikmu terlihat mencurigakan, kau seperti punya motif tersembunyi,” tuntut Riko sambil memasang wajah tidak percaya.


“Ahaha ... kamu terlalu berpikir berlebihan, aku hanya guru magang di sini.”


DING ... DONG ....


Bel pun berbunyi, ketegangan di antara mereka langsung mereda.


Karena jam istirahat telah berbunyi, Riko dan Fuurin segera pergi dari sana sebelum bertemu keramaian.


Guru baru itu agak prihatin dengan sifat calon murid didiknya nanti, ia hanya bisa menghela napas panjang, kemudian melanjutkan sarapannya.


‘Bahkan saya belum sempat memperkenalkan diri, tapi mereka sudah pergi saja,’ batinnya.


.


.


Fuurin mengajak Riko pergi ke klub exorcist untuk mengikuti latihan seperti biasa. Sebenarnya Riko tak begitu berminat, tapi karena ada suatu hal yang ingin ia tanyakan di sana, ia pun hanya menerima ajakan Fuurin.


“Hei, Fuurin ... menurutmu ke mana ketua tadi pergi? sepertinya dia terlihat agak khawatir,” tanya Riko dengan santai.


“Dia mungkin ingin menemui senior Rein,” sahut Fuurin.


“Hmm ... aku juga berpikir seperti itu sih, tapi ... kira-kira apa yang sedang mereka lakukan ya? aku jadi penasaran.”


“Kurasa kau benar, itu adalah urusan mereka,” sambung Riko.


Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai juga di depan klub exorcist. Mereka masuk seperti biasa, dan di sana sudah ada beberapa seniornya yang sedang berinteraksi. Karena masih belum melihat keberadaan ketua di sana, mereka langsung menanyakannya pada senior lainnya.


“Hai, senior Ruri ... apa kau melihat di mana ketua?” tanya Fuurin dengan penuh semangat.


“Ah, dia ada di ruangan khusus, kamu langsung masuk saja, sepertinya ketua sedang mengerjakan sesuatu di sana,” jawab Ruri ramah.


“Oke ... kalau begitu aku ke sana sekarang, terima kasih ya!”


“Um, tidak masalah.”


Mereka langsung pergi ke ruangan itu untuk menemui ketua. Di sana tampak Andi yang sedang membuka beberapa buah buku di mejanya.


“Kaichou ... aku datang!” panggil Fuurin sambil melambaikan tangannya.


“Oh, Fuurin ... ayo, silahkan masuk.”


Saat ini Andi masih belum melihat keberadaan Riko karena ia masih berdiam diri di sebelah pintu. Saat setelah ia mulai menampakkan dirinya, Andi sedikit mengernyit melihat tingkah tsundere Riko.


“Hmm ... akhirnya anak nakal muncul juga, kenapa masih di sana? cepat masuk!” ajak Andi dengan nada merendahkan.


“Berisik empat mata, gue cuma lagi gabut aja di kelas, makanya ikut,” sahut Riko kesal.


“Hmm ....”


Saat ini Andi terlihat sangat sibuk, ada banyak hal yang perlu ia kerjakan. Oleh karena itu, Fuurin juga ingin membantu menyelesaikan tugasnya. Beberapa menit berlalu, Andi mulai merasa tak enak hati bila membiarkan kedua orang itu menunggunya terlalu lama. Karenanya, Andi pun menunda tugasnya dan mulai membereskan semua pekerjaannya saat ini.


Andi mengajak mereka pergi ke Emerald Space untuk berlatih di sana bersama anggota lainnya.


Setelah sampai, Fuurin langsung bergabung dengan yang lainnya, sementara Riko, ia masih berdiri di sana bersama Andi. Ia sedikit sebal jika harus menyapa orang itu lebih dulu. Namun, karena ada beberapa hal yang ingin ia bahas, maka dengan terpaksa Riko mencoba untuk memulai pembicaraan itu.


“Oii, ketua ...,” sapa Riko dengan terpaksa.


“Kenapa? apa yang ingin kau tanyakan, hmm,” balas Andi cuek.


“Tidak terlalu penting sih, cuma soal tanda Jiu saja.”


“Huft ... padahal waktu itu kau sudah mengatakan akan latihan, tapi kenapa tak pernah datang lagi, dasar bocah,” balas Andi sembari menghela napas.


“Haah ... siapa yang kau sebut bocah, empat mata sialan! kau tahu ... untuk mencari tempat ini sangat berbahaya, dalam perjalanan banyak terdapat lorong sepi, biasanya banyak iblis yang akan bermunculan,” sahut Riko dengan nada kesal.


“Oke ... untuk selanjutnya kau bisa datang bersama Fuurin, dia cukup kuat dalam pertahanan, sampai kau bisa bertarung melawan iblis, dia pasti akan membantumu.”


“Okelah ....”


“Kalau begitu, untuk selanjutnya ... kuharap kau bisa lebih rajin lagi untuk berlatih,” pinta Andi.


“Iya deh, ngomong-ngomong ada yang mau gue tanyakan lagi.”


“Untuk pertanyaan ... simpan saja nanti, sekarang ayo latihan dulu, aku akan mengajarimu.”


“Ya sudah, tapi nanti lu harus benar-benar menjawab pertanyaan gue, oke.”


“Baiklah.”


Mereka berdua pun memulai latihan tersebut. Berbeda dengan yang lainnya, Riko hanya menerima latihan fisik saja karena ia memang sama sekali belum menguasai teknik apapun, intinya ia harus memulai dari level awal dulu. Latihan kali ini masih sama seperti sebelumnya, yaitu pukulan dan tendangan. Namun, karena ini masih di sekolah, Andi akan lebih mendominasi pada irama gerakan. Dalam hal ini, Riko harus bisa mengontrol emosinya dengan baik.


Setiap gerakan yang ia lakukan semua harus dengan kesabaran yang extra, karena belajar irama gerakan haruslah dengan perasaan yang tenang dan fokus. Sehingga, dalam latihan ia bisa merasakan setiap gerakannya yang menyatu dengan energi tubuhnya serta energi alam di sekitarnya.


Walaupun ini cukup sulit baginya, tapi ia masih belum mau menyerah. Melihat kemampuan Fuurin yang sudah semakin meningkat, ia pun juga tak mau kalah. Lagi pula, ini juga untuk keselamatan ia sendiri, mengingat kejadian aneh belakangan ini, ia benar-benar sudah tak bisa untuk lari lagi.


.


.


.


TBC