Roped Fate

Roped Fate
Ch.28 : Kerjasama Musuh



Sebenarnya Riko agak malas berinteraksi dengan Lisa, tapi karena ia sudah terlanjur datang, mau bagaimana lagi ... ia tak bisa mengabaikannya begitu saja.


Hari ini Riko juga sedang malas belajar, karena pikirannya hanya dipenuhi tentang exorcist dan iblis, ia pun sudah tak peduli lagi dengan phantom bug yang berterbangan di mana-mana, bahkan orang yang ada di dekatnya pun ia tak mau peduli, entah itu menggebrak kepalanya atau semacamnya, ia sudah terbiasa dengan pemandangan itu.


Karena tak ada hal yang penting untuk dibicarakan, Lisa mencoba dengan membahas topik lain seperti hobi, aktifitas sehari-hari, maupun hal-hal yang disukai. Lisa terlihat sangat senang dan bersemangat, berbeda dengan Riko yang selalu suram, ia benar-benar merasa bosan dan muak, tapi ia juga tak bisa terlalu kejam dengannya, karena mungkin itu akan menimbulkan masalah di kemudian hari.


Ketika bel masuk kelas berbunyi, Riko kembali bersyukur, ia merasa terselamatkan oleh hal itu.


“Woah ... bel sudah berbunyi, ayo kembali ke kelas masing-masing,” ucap Riko dengan terburu-buru.


“Oke ... sampai nanti ya!”


“Oh, iya.”


Mereka berdua langsung kembali ke kelas masing-masing, begitu juga dengan kedua penguntit di sana, mereka harus segera kembali sebelum ketahuan.


“Hei, senior ... tampaknya kita harus segera kembali sebelum mereka memergoki kita,” ucap Juan yang langsung bangkit dan bersiap.


“Aku tahu, ayo pergi!”


Andi dan Juan segera meninggalkan tempat itu. Tanpa disadari bahwa Lisa telah mendeteksi keberadaan mereka sebelumnya, ia memang telah menandai keduanya, tapi kali ini ia hanya mengabaikannya.


Selama perjalanan, mereka berdua sedikit berbincang-bincang mengenai tentang klub dan Riko.


“Hei, senior ... tadi Riko kok suram lagi sih? bukannya kalian sudah baikkan,” tanya Juan.


“Dia kesal lagi karena aku menerima misi penyelidikan di daerah blok A selatan,” jawab Andi dengan intonasi yang santai.


“Misi apaan? kenapa bisa sampai kesal begitu?” tanya Juan penasaran.


“Penyelidikan misteri orang hilang yang jumlahnya sudah tidak masuk akal, bahkan penyelidiknya pun ikut menghilang.”


“Haahh ... pantesan saja dia kesal, hmm ....”


“Tapi aku tak menyuruhnya untuk ikut, hanya memperingatkannya untuk berhati-hati saja, lagi pula dia juga bukan tipe orang yang akan khawatir dengan keselamatan orang lain,” sahut Andi santai.


“Jangan terlalu dipikirkan, kau tahu ... orang bisa berubah karena seseorang.”


.


.


Riko berlari cepat menuju kelas agar tak ada orang yang tiba-tiba mencegatnya lagi.


Sampai di kelas ia masih tidak bisa fokus, bahkan sampai pelajaran berakhir pun ia masih terus memikirkan tentang misteri di blok A selatan.


Seharian ini, semua jadi terasa membosankan. Mendengar bel pulang sekolah, sepertinya adalah sesuatu yang berharga. Bahkan sudah keluar kelas pun ia masih datar saja. Dengan perasaan hampa ia berjalan menuju gerbang sekolah, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang memanggilnya.


“Oii ... Riko!” teriak Fuurin bersemangat.


“Haa ... Fuurin? kenapa kau berteriak seperti itu?” balas Riko yang tampak risih.


“Haaah ... kau ini kenapa sih? dari tadi kulihat diam saja,” tanya Fuurin penasaran.


“Aku malas ... capek lagi.”


“Kita pulang bareng yuk!”


“Oke ... ngomong-ngomong, apa kau setuju dengan misi itu?” tanya Riko tiba-tiba.


“Setuju saja sih, hitung-hitung buat pengalaman lah,” balas Fuurin santai.


“Tapi ... itu sangat berbahaya, bagaimana jika kau ikutan hilang juga?” ucap Riko sedikit khawatir.


“Ya tidak lah! kami cuma sekedar membantu saja, bukannya terjun menangkap pelaku,” jelas Fuurin santai.


“Heeeh ... tetap saja tempat itu berbahaya.”


“Kenapa? kau mau ikut?”


“Tidak juga, aku tidak memiliki kemampuan apapun, untuk apa pergi ke sana jika hanya akan menjadi beban,” balas Riko acuh.


“Tenang saja, sudah kubilang tadi cuma sekedar membantu pelaksana, lagi pula sebelum itu kau juga akan mendapat pelatihan dulu dari ketua,” tambah Fuurin.


“Yee ... siapa juga yang mau ikut, kau terlalu berharap.”


“Haaah ... bosan! memangnya kau tak khawatir dengan ketua?”


“Jelas tidak, gue cuma merasa enggak enak aja tentang hal sebelumnya,” sahut Riko yang tampak semakin tak bersemangat.


“Memangnya ada masalah apa kau dan ketua sebelumnya?” tanya Fuurin lagi.


“Masalah apa? hmm ... tanda itu, ternyata pembawa sial.”


Di tengah obrolan mereka berlangsung, tiba-tiba datang seseorang menginterupsi.


“Riko!”


‘Heeeh ... ini apaan lagi ya?’ pikir Riko.


“Lisa?”


“Riko, hari ini apa kau ada acara?” tanya Lisa bersemangat.


“Emm ... bagaimana ya? harusnya tidak sih, tapi kalau dibilang sibuk juga iya sih, biasa ... masalah pekerjaan rumah,” jawab Riko malas.


“Jangan khawatir! nanti aku juga ikut membantu pekerjaan rumahmu.”


Riko kembali canggung sembari menoleh ke arah Fuurin yang tampak sedang memasang ekspresi tidak menyenangkan, ia bingung harus bagaimana? sementara Lisa tampak berseri sedang menunggu jawaban Riko.


“Fuurin, pulang bareng yuk! sopirku sudah datang tuh,” seru Juan bersemangat.


“Hmm ... oke deh, sama Riko juga kan?” tanya Fuurin untuk memastikan lagi.


“Enggak lah! berdua saja dong!” balas Juan bermaksud menggodanya.


“Haah ... apa maksudmu jamur?” tanya Riko agak kesal.


“Kenapa? cemburu ya? hihi,” goda Juan lagi.


“Gak gitu juga sih!”


Lisa kembali menarik sudut bibirnya, ia tampak puas dan yakin.


“Kalau begitu aku pergi dulu dengan nonamu, tidak perlu khawatir ... aku tak akan berbuat macam-macam.”


Juan langsung menarik tangan Fuurin untuk mengajaknya segera pergi dari sana, tak lupa juga dengan kedipan menyebalkan dari sebelah matanya.


Riko kembali menghela napas berat.


‘Jamur sialan! beraninya kau ... kalau sudah begini, bagaimana caraku agar bisa lolos dari orang ini? tak mungkin kan ... kalau bilang tidak, tapi aku juga tak mau orang ini datang ke rumahku, itu seperti teror untukku,’ pikirnya bimbang.


Ia masih belum memberi jawaban apapun, ia terus berpikir dan berpikir. Akhirnya seseorang datang menghampiri dan dengan lancang menautkan lengannya pada bahu Riko.


“Yo! anak nakal, aku ada urusan kali ini denganmu dan juga Tian, kau ikut denganku saja, aku akan mengantarmu pulang,” ucap Andi tiba-tiba.


Riko menatapnya tajam sejenak sembari berunding dengan dirinya sendiri, jika ia tak ikut dengannya berarti ia harus pulang bersama Lisa. Namun, di sisi lain ia juga tidak suka dengan orang itu. Setelah cukup lama memikirkan hal itu, akhirnya ia memilih untuk pulang bersama Andi.


“Hei, Lisa ... lain kali saja ya, aku hari ini ada urusan penting dengan orang ini,” ungkap Riko sedikit serius.


“Hmm ... mau bagaimana lagi, lain kali kau harus meluangkan waktumu, oke,” balas Lisa.


“Oke!”


Mereka berdua langsung pergi meninggalkan Lisa di sana, ia terlihat agak kesal sembari menatapnya lekat.


‘Sial, gara-gara mereka berdua lagi,’ bhatin Lisa kesal.


Andi pergi untuk mengantar Riko pulang. Selama di perjalanan, tentunya Riko memiliki banyak pertanyaan dalam kepalanya, ia juga sudah menduga bahwa ini bukanlah suatu kebetulan.


“Oii ... ketua! kau pasti sengaja kan, berkomplot dengan si jamur beracun,” ucap Riko curiga.


“Entahlah ... menurutmu?”


“Jelas sengaja ....”


“Iya, tapi kau juga sedikit tertolong kan? jangan khawatir, Juan akan mengantarnya dengan selamat,” jelas Andi sembari melirik ke arahnya.


“Huftt ... bukankah sebelumnya kau membenci si Juan, kenapa sekarang malah bekerja sama?” tanya Riko penasaran.


“Itu urusan kami, lagi pula ini untuk kebaikanmu juga.”


“Entah apa yang sedang kau rencanakan, tapi ingat satu hal, dalam keadaan apapun aku takkan pernah mau melihatmu dari bawah, jangan terlalu percaya diri!” sahut Riko ketus.


“Kau sombong sekali, bukannya berterima kasih malah nantangin nih.”


Setengah jam berlalu mereka pun akhirnya sampai. Seperti biasa, di sana ia selalu disambut baik oleh keluarga Riko terutama adiknya.


“Woahh ... kakak Andi datang lagi! senangnya ... hei-hei ... bagaimana dengan masakanku, enak gak?” tanya Tian dengan riang.


“Emm ... cukup pedas,” jawab Andi ragu.


“Adik sialan! masakanmu seperti limbah beracun, membuatku malu saja!” bentak Riko.


“Haah ... enak aja bilang limbah beracun, memangnya masakanmu enak? kau sendiri gak bisa masak,” sahut Tian menantangnya.


“Bukan masalah bisa atau tidak bisanya, tapi gue sendiri punya lidah kali buat menilai,” balas Riko tak mau kalah.


“Haahh ... emang kau sudah pernah cicipi masakanku? emm,” tuntut Tian.


“Enggak sih, tapi dia si empat mata hampir gila cobain masakan lu,” jawab Riko sambil menunjuk ke arah Andi.


“Haah ....”


Tian melirik ke arah Andi untuk memastikan apakah benar yang dikatakannya? Dan Andi pun seketika langsung membuang muka.


“Kakak Andi ... apakah itu benar?” tanya Tian sembari merengek.


“Iya sih, itu memang cukup pedas, tapi jika tingkat kepedasannya agak dikurangi, mungkin akan jadi lebih enak,” balas Andi canggung.


“Percuma, mau dibagaimanakan pun rasanya tetap mengerikan,” sela Riko lagi.


“Diam kau ... kakak berandalan! aku tak meminta pendapatmu.”


Tian pun langsung menonjok kakaknya sampai terkapar di lantai. Namun, Riko sendiri juga merasa tidak terima dengan kelakuan adiknya dan malah berakhir dengan perang saling tonjok.


“Oke ... mereka berdua kelihatannya begitu bersenang-senang, lalu mereka menganggap aku ini apa di sini?” gumam Andi yang mulai kesal.


.


.


.


TBC