Roped Fate

Roped Fate
Ch.08 : Kantin Sekolah



Riko pergi meninggalkan ruang klub exorcist tanpa menghiraukan apapun, ia sudah terlanjur kesal sekaligus malu mengingat kejadian tadi.


Di perjalanan ia baru teringat bahwa sebelumnya ia masih belum membayar makanan di kantin, karena itu langsung saja ia meluncur ke sana. Padahal ini sudah jam masuk kelas, tetapi ia masih terlihat begitu santai.


Di perjalannya menuju kantin, tentunya ada beberapa godaan dari orang-orang, beberapa kali ia menghela napas untuk lebih bersabar lagi ketika orang-orang di sekitarnya mulai mencibir dan menyindirnya. Mungkin ia sudah terbiasa dengan hal ini, tetapi perasaan kesal itu tetap tidak bisa dihindarkan.


Ia menyadari ketika para phantom bug terus berdesakan mengerubuti dirinya, seberapa baik pun ia menghela napas acuhnya, akan tetapi yang namanya manusia takkan pernah berhenti mengganggu sampai mereka ditanggapi.


Riko terus mencoba untuk menahan amarahnya.


‘Itu orang-orang kenapa terus mengejar gue sampai ke mana-mana hanya untuk menghina saja, sialan benar,’ pikirnya.


Hendak mengamuk melihat kesumpekan ini, karena bukan hanya manusianya saja, tetapi hantu virus di sekitarnya juga terus mengajaknya berkompromi dan tak henti mencoba untuk mempengaruhi pikirannya.


Tak bisa menahannya lagi, Riko mengambil dan mematahkan gagang sapu di dekatnya. Ia mengamuk begitu saja, orang lain yang melihatnya tampak terheran-heran.


“Apa yang sedang dilakukan orang itu?” bisik murid-murid.


Bukannya mengarahkan pada mereka yang menghinanya, tetapi pada phantom bug di sekitarnya yang membuatnya jauh lebih kesal dibandingkan orang-orang tadi.


“Enyahlah kau ... setan busuk! jangan kerumuni gue terus, bikin pusing saja,” teriak Riko sambil memukul ke segala arah.


Riko menebas setiap hantu kecil yang berkerumunan di dekatnya secara membabi buta. Namun, di mata orang lain, ia hanya terlihat seperti sedang berimajinasi mengibaskan dan menghunus pedang ke segala arah.


Siswa lainnya yang menyaksikan hal itu jadi semakin tercengang, mereka pun saling berbisik dan segera meninggalkannya lalu kembali ke kelas.


“Jangan dekat-dekat ... orang itu sudah gila, nanti kau bisa dipenggalnya,” bisik beberapa siswa di sana.


Walaupun ia masih kesal, tetapi sepertinya ia cukup menikmati aksinya ketika berhasil menebas para phantom bug dan melihat beberapa dari mereka yang tersisa segera menjauh darinya.


Ia tersenyum puas dan kembali bersemangat, walaupun siswa yang lain malah kabur melihatnya seperti orang aneh, tetapi sebenarnya ia malah lebih senang.


“kabur lu semua, tadinya ngikutin gue terus sampe buang-buang jam pelajaran segala buat datangin gue, kenapa sekarang malah kabur, dasar lemah lu semua beraninya keroyokan dan ngehujat orang, hahh ... gitu aja kabur, hahaha.”


Ia kembali berseri sembari berjalan santai sebelum akhirnya sampai di kantin. Riko mendatangi ibu kantin sekaligus meminta maaf karena hal sebelumnya ia kabur tanpa membayar.


Ibu kantin tersenyum ramah padanya. Ia tak begitu mempermasalahkan hal itu, lagipula di hari-hari biasanya Riko juga tak pernah melakukan hal buruk padanya. Walaupun ia dikenal sebagai berandalan sekolah, tetapi ia tidaklah melakukan perbuatan rendah seperti itu.


Jadi, ibu kantin tak pernah khawatir ataupun mempermasalahkan apa yang dilakukannya. Meskipun sebelumnya Riko kabur begitu saja, tetapi ia yakin Riko pasti akan kembali untuk membayarnya.


Bahkan walaupun ia tak membayarnya juga tidak masalah, karena terkadang Riko juga sudah banyak membantunya. Ibu kantin memang sudah berumur, jadi wajar jika kadang-kadang ia membutuhkan bantuan. Dan saat itulah orang yang paling sering membantunya adalah Riko.


Ia memang sering bolos, tetapi beberapa persen dari waktu bolosnya sebenarnya digunakan untuk membantu ibu kantin.


Ibu kantin sangatlah menghargainya, sebenarnya Riko tidaklah seburuk itu, hanya emosinya saja yang buruk hingga orang-orang jadi salah paham terhadapnya.


Namun, di sisi lain Riko memang membenci orang-orang di sekitarnya, ia juga tak pernah bermaksud untuk berteman dengan mereka semua.


Setelah membayar pada ibu kantin ia teringat lagi bahwa temannya si Fuurin juga belum membayar tadi, jadi sekaligus ia juga akan membayarkan makanan temannya.


“Maaf ya bibi, temanku memang agak merepotkan orangnya, jadi ... kalau ia datang lagi sebaiknya jangan dikasi ngutang, suruh bayar dulu baru sediakan makanan untuknya,” ucap Riko dengan ekspresi yang cukup serius.


“Tidak apa-apa nak Riko, aku mengerti perasaannya, sebenarnya tadi ia hanya ingin membantumu saja dan kabur untuk mengalihkan pandanganmu dari tatapan intimidasi tidak menyenangkan murid-murid lain, jadi kamu juga jangan terlalu menyalahkannya,” balas bibi dengan ramah.


“Benarkah seperti itu? aku sungguh tidak menyadarinya, bagaimana bibi bisa mengetahui hal itu?” tanya Riko polos.


“Yahh ... walaupun sudah tua begini, setidaknya bibi pernah muda juga, jadi bibi tahu itu,” balas bibi dengan sedikit tersipu.


Riko kebingungan dengan jawaban ibu kantin, apa maksudnya dengan 'pernah muda' dan apa hubungannya dengan menjadi muda? pikirnya bingung. Ibu kantin pun kembali berpesan padanya.


“Dia gadis yang baik, kamu bisa percaya dengannya, dia termasuk teman yang setia dan bisa dipercaya, jadi kamu juga harus melindunginya,” pinta ibu kantin.


“Baiklah, aku tidak mengerti sih tapi aku pasti akan berusaha melindunginya,” balas Riko dengan percaya diri.


Cukup lama berbincang-bincang dengan ibu kantin, secara tak sengaja ia melirik ke samping, dari kejauhan ... di sana terlihat seorang siswi yang duduk sendiri di meja kantin. Yang lebih membuatnya penasaran adalah sekelompok phantom bug yang mengelilingi dan melekat padanya.


‘Hei, gadis itu auranya benar-benar buruk, apa yang sedang dilakukannya sendiri di jam pelajaran begini, hmm ... dia bolos juga kan?’


Awalnya ia tak menghiraukan kegiatan gadis itu, tetapi setelah melihat beberapa siswa berandal lainnya sedang menggoda gadis itu. Mereka mengancamnya, menakut-nakuti, juga memalak gadis tak bersalah itu.


Riko merasa tak bisa tinggal diam begitu saja, ia berjalan ke sana untuk menghampiri mereka. Di sana terlihat para berandal yang semakin menjadi-jadi berulah karena gadis itu tak mengindahkan mereka.


“Oi ... apa yang kalian lakukan di sini, lihat orang itu sudah tak mau menanggapi kalian jadi pergilah,” ucap Riko dengan intonasi malasnya.


“Kau murid sampah juga, jangan ikut-ikutan! dia ini mangsa kami kau jangan coba-coba merebutnya, dengar! kami tak suka berbagi, kau cari yang lain saja,” balas salah satu berandalan di sana.


“Gue bukanlah rendahan seperti kalian,” sahut Riko dingin.


Tanpa basa-basi lagi Riko langsung mengambil ancang-ancang untuk baku hantam dengan para berandal lainnya, mereka semua berkelahi dengan sengitnya. Namun, sangat aneh mengapa siswi tadi malah diam sembari memasang ekspresi datar.


Bukannya takut ataupun melaporkannya pada guru, gadis itu malah dengan santai menonton mereka berkelahi sembari menunggu siapa yang akan tumbang duluan.


Namun, tak sampai terjadi insiden buruk, ibu kantin sudah memanggil staff dan guru terdekat untuk melerai perkelahian mereka.


Dan hanya dengan mengingat hal itu membuat keraguannya menghilang.


‘Benar juga yang dikatakannya, sekarang aku mengerti bagaimana maksudmu.’


Ia memang terlihat sedang melakukan hal buruk, tetapi ia tak memiliki tujuan buruk karenanya ia takkan pernah menyesal dengan apa yang dilakukanya.


‘Semua tergantung hatimu, lihatlah! setan bug mana yang bisa mempengaruhiku?’


Karena saat ini sepenuhnya ia bisa mengontrol hatinya dengan stabil dan perasaan positif.


Namun, berbeda dengan gadis pasif yang dari tadi duduk di sana.


‘Apa gadis ini memang selalu dikelilingi aura negatif?’


Terlihat sekelompok phantom bug yang begitu lekat dengannya, membuat Riko merasa horor dan jadi penasaran.


Ia mendekati gadis itu dan mengambil salah satu buku di atas meja itu, lalu menggebrak buku tersebut di kepala gadis itu. Tujuannya untuk mengusir phantom bug yang mengelilinginya, tetapi itu malah terlihat seperti ia sedang memukul gadis itu, ia benar-benar kesulitan untuk mengklasifikasi antara dunia manusia dan hantu.


Beberapa orang yang menyaksikan hal itu, segera mendatanginya lalu mendorongnya mundur.


“Apa yang kau lakukan pada teman kami? beraninya memukul perempuan,” bentak salah satu siswi di sana.


“Apaan sih, gue cuma mau membantunya doang, lagi pula apaan maksudnya dengan 'beraninya memukul perempuan' emang lu tadi gak lihat gue lagi baku hantam sama siapa?” sahut Riko dengan intonasi malas dan remeh.


“Ihh ... berandalan! bangga lu.”


“Berisik lu, cabe ungu!”


“Hahh ... bilang apa?”


“Sialan ungu.”


“Awas kau ya! gue balas nanti.”


“Terserah lu, emang gue pikirin ... jelek aja belagu.”


ARGHHH ....


Di tengah perseteruan mereka berdua terdengar samar-samar tawa kecil seseorang.


“Ehhh ... kenapa tertawa, ada yang lucu?” tanya Riko kebingungan.


“Bukan seperti itu, aku hanya berpikir kalian terlihat seperti pasangan yang sedang bertengkar, hihihi,” balas siswi pasif tadi.


“Amit-amit dah.”


Apa ia benar-benar beralasan seperti itu? tapi senyumnya mengerikan, bhatin Riko.


Akhirnya gadis itu mulai angkat bicara.


“Jangan salahkan dia, sebenarnya dialah yang menolongku tadi.”


“Hmm ... kalau begitu, baguslah! oiya ... kamu jangan lupa ya nanti langsung bawakan tugasku ke kelas,” tambah rekan siswi tadi.


“Tentu saja,” jawab gadis itu sambil tersenyum.


Ia tersenyum, tetapi auranya sangat gelap, lihatlah! para phantom bug sialan ini terus menguasainya.


Riko benar-benar bodoh dan tidak bisa berkelakuan lembut pada gadis maupun sebayanya. Ia hanya tahu bagaimana menghormati orang tua, itu saja. Tanpa berpikir panjang ia kembali mengambil buku itu dan kedua kalinya menggebraknya di kepala gadis itu. Gadis itu pun merintih dan kebingungan.


“Hey, apa yang kau lakukan? kenapa terus memukulku seperti itu, niat menolong ga sih?”


“Ehh, sorry-sorry ... bukan begitu, aku hanya ....”


Riko memikirkan berbagai alasan untuk menjelaskannya dengan cara yang baik.


“Ee ... begini loh! aku lihat kamu terus melamun saja, jadi aku mencoba menyadarkanmu, takutnya nanti kerasukan setan karena kelamaan bengong.”


Gadis itu sedikit terkekeh dengan alasan Riko, tetapi ekspresinya terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya.


“Baiklah, aku mengerti ... jadi seperti ini cara murid berandalan saling berinteraksi dengan sesamanya, tidak masalah aku akan memakluminya, jadi kapanpun kau ingin memukulku, aku takkan keberatan kok karena itu adalah tanda pertemanan.”


Ini orang sudah gila apa memang idiot dari lahir sih, bisa-bisanya ia menyimpulkan seperti itu, selain itu kata-katanya pedas pula, siapa juga yang mau berteman.


.


.


.


TBC.