
Latihan Riko hari ini menjadi cukup menyenangkan karena ada seseorang yang ikut menemaninya ketika berlatih.
Riko menarik busurnya dengan rentang, tatapannya pun sangat fokus sehingga ia selalu mendarat di sasaran dengan baik.
“Woah, ternyata kau hebat sekali ya meskipun masih bocah,” puji anak itu.
“Aku masih harus terus berlatih, lagipula anak panahku tidak semua bisa mengenai titik paling tengah, jadi ... aku harus berusaha untuk membuatnya sempurna,” sahut Riko yg sedikit terengah-engah.
“Iya, memang benar sih kalau kau tak boleh lengah dengan nilaimu saat ini, meskipun sudah bagus tentu saja sempurna adalah tujuan utama,” tambahnya dengan ekspresi yang tegas.
“Ya ... aku tau itu,” balas Riko singkat.
Setelah cukup lama berlatih, mereka berdua kembali beristirahat sembari duduk di bawah pohon rindang di sekitarnya.
“Huft, tidak mengecewakan ... latihan hari ini cukup memuaskan, setidaknya pikiranku jauh lebih tenang dari biasanya, ternyata berlatih di tempat seperti ini cukup berguna untuk mengontrol emosi lebih baik,” gumam Riko sembari menghela napas.
“Hahaha, pasti karena ada aku kan!” goda anak tadi.
“Geer amat sih, di sini gak ada mak lampir ... ya jelas aman lah,” sahut Riko cuek menyangkal pernyataan teman latihannya itu.
“Dasar, ini bocah tsundere amat sih! heran deh,” balasnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Terserahlah!” sahut Riko singkat.
“Hmm, sepertinya aku harus belajar bagaimana cara mengatasi bocah-bocah bandel di dunia ini,” sindir anak itu.
“Sudah kubilang ... kau sendiri juga bocah, kampret!” balas Riko tak mau kalah.
“Bedanya aku mandiri dan selalu berpikir dewasa, bedalah sama bocah macam kau,” balasnya lagi.
“Arghhh ... berisik sekali, padahal kau sama saja, cihh!” bentak Riko yang cukup geram dengan teman latihannya itu.
“Ahahaha, sudahlah! sekarang kita sudah berteman, jadi tak perlu banyak ribut ... kembali ke topik, kita bahas soal panahan saja,” jawab anak tadi mengakhiri debat kecil mereka.
“Huft, okelah ... kalau terlalu banyak obrol juga, perutku malah jadi lapar deh,” ucap Riko polos.
Anak itu tertegun sesaat, sebelum akhirnya ia mulai mengamati pepohonan di sekitarnya.
“Eh, apa-apaan sorotan mata kau itu ... jangan bilang kalau kau mau nyolong buah-buahan di hutan ini?” tanya Riko curiga.
“Ya, gak apa ... tumbuhan di sini liar semua kok! tak ada pemiliknya, jadi bebas donk ... siapa saja boleh petik,” jawabnya santai.
“Tetap saja gak boleh! hutan ini banyak setannya, kalau terlalu lengah kau bisa dijebak nanti, jangan terlalu percaya dengan sekitar ... kau bodoh!” seru anak itu sedikit emosional.
“Hmm ... kau ini benar-benar anak yang merepotkan ya, hahh ... sudahlah, kalau kau tak mau ya gak jadi deh nyolongnya,” sahut anak itu dengan intonasi yang cukup santai.
Meskipun baru mengenal Riko, tetapi anak itu terlihat sudah cukup terbiasa menanggapi tingkah menyebalkan Riko seperti sekarang ini.
“Ngomong-ngomong kau itu cukup menarik juga ya, maksudku ... energi spiritualmu itu cukup unik dan langka, aku yakin jika kau rajin berlatih, suatu hari nanti kau pasti bisa menjadi exorcist yang kuat,” tambah anak itu dengan tatapan khusus.
“Haah! apa maksudnya itu? bocah seperti kau tau apa tentang exorcist, lagipula bagaimana manusia biasa bisa mengetahui energi spiritual seseorang begitu saja, sangat mustahil!” protes Riko menanggapi pernyataan aneh teman barunya.
“Ya, jelas taulah! aku ini seorang exorcist yang hebat lho!” seru anak itu penuh percaya diri.
“Dih, mana ada yang percaya bualanmu itu, aku tak sebodoh yang kau pikirkan,” sahut Riko kesal.
“Yaudah kalau gak percaya, aku juga tak memaksa kau untuk percaya ... yah, anggap saja itu sebagai salam pertemanan, kau sudah bercerita tentang dirimu dan aku juga sudah memberitahu rahasiaku, jadi mulai sekarang kita sudah sah berteman baik,” jelas anak itu dengan senyuman sembari mengulurkan tangannya.
“Ya ... ya ... terserah deh! kau sudah membantuku sebelumnya, jadi aku cukup mempercayaimu sebagai teman,” sahut Riko yang merasa agak risih.
“Ahahaha ... okelah kalau begitu kita lanjutkan saja pembahasan sebelumnya,” balasnya bersemangat.
Mereka pun kembali melanjutkan perbincangan sebelumnya mengenai latihan dan kontes. Sampai hari mulai menampakkan teduh mereka hanya menghabiskan waktu dengan latihan dan ngobrol bersama.
“Ah, tampaknya hari sudah mulai sore ... aku harus segera kembali sebelum petang, oiya ... kau sudah biasa main di hutan, harusnya tahulah jalan menuju pinggir jalan utama? kau antarkan aku sampai ke sana ya, sisanya aku bisa mencari jalan sendiri,” pinta Riko tanpa sopan santun.
“Okelah anak bandel, aku antarkan kau sampai tujuan, kalau begitu ayo ikuti aku!” serunya tenang.
Tanpa menunda waktu lagi akhirnya mereka mulai pergi mencari jalan pulang.
Di sisi lain, Rion terus menunggu Riko di taman dekat rumahnya ... ia terlihat cukup khawatir juga merasa kebingungan, ibunya pasti akan marah besar jika pulang tanpa saudara tirinya, karena itu akhirnya ia memutuskan untuk mencari keberadaan Riko di dekat sana.
Cukup lama mencari, akhirnya di pertengahan jalan ia pun bertemu dengan Riko yang terlihat sedang berjalan sendiri dengan santainya.
“Riko! ke mana saja kau tadi? aku terus menunggumu tapi tak muncul di mana pun, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Rion tiba-tiba.
“Bukan urusanmu, aku sudah pulang sekarang ... jadi tak perlu khawatir jika si nenek sihir itu akan memarahimu, tenang saja aku masih punya ambisi jadi tak akan kalah begitu saja,” sahut Riko dingin.
“Aku juga mengkhawatirkan keadaanmu saat ini, kau bisa tidak jangan terlalu curiga denganku ... aku sungguh peduli denganmu,” ucap Rion mencoba meyakinkan Riko.
“Berisik!” balas Riko singkat.
Tak menunggu lebih lama lagi, Riko pun berpindah melewati Rion. Ia berjalan begitu saja tanpa menghiraukan Rion di depannya. Meskipun begitu, Rion selalu memaklumi sikap acuh saudaranya itu. Sembari menghela napas, ia pun kembali menyusul dan berjalan di belakang Riko.
Sampai di rumah terlihat sang ibu berdiri sedang menunggu di depan pintu. Rion sudah menduga hal itu sebelumnya, jadi tak aneh lagi jika ia sudah menyiapkan berbagai alasan untuk dijelaskan kepada ibunya saat ini.
“Kalian berdua terlambat pulang, ke mana saja sampai sesore ini?” tanya Diana.
“Tcih!” umpat Riko sebelum masuk ke dalam rumah dan mengabaikan ibu tirinya.
“Hei, setan kecil! kau benar-benar tak punya sopan santun ... cepat kembali dan minta maaf!” bentak Diana dengan kemarahannya.
“Tcih! benar-benar anak yang tak bisa diatur, sudahlah! ibu maafkan kali ini ... tapi lain kali kalian harus tepat waktu sesuai jadwal!” perintah Diana dengan tegas.
“Baik ibu, lain kali kami akan tepat waktu,” sahut Rion patuh.
Pada hari-hari berikutnya Riko kembali pergi menemui temannya di hutan tempat latihan seperti biasanya. Namun, kali ini ia akan pulang lebih awal agar tak sampai terlambat seperti sebelumnya. Riko memang membenci ibu tirinya, tetapi ia juga tak ingin memberatkan ataupun membebankan saudara tirinya. Ia hanya ingin menjadi lebih kuat dan mandiri.
Meskipun Riko selalu pergi ke tempat-tempat misterius, tetapi Rion tak pernah melaporkan hal tersebut pada ibunya, karenanya Riko pun cukup menghargai kerjasama tanpa pernyataan itu. Ia pun merasa juga harus mengikuti instruksi saudaranya itu, setidaknya agar si ibu tiri tak memarahi saudara tirinya lagi.
Hari terus berganti, kontes pun sudah sangat dekat. Terakhir ini Riko terlihat sedikit lebih bersemangat, latihan bersama teman barunya itu benar-benar membantu, ia tak perlu bersitegang lagi dengan ibu tirinya. Rion pun tak begitu mengganggu aktivitasnya selama ia mengikuti jadwal harian mereka.
.....
Ketika malam hari berganti, Riko terbaring di kamarnya sembari terpikir.
'Hmm ... berkat anak itu latihanku bisa lebih fokus, aku tak perlu lagi ribut dengan si nenek sihir, tapi rasanya masih ada sesuatu yang mengganjal, aku sedikit penasaran sebenarnya apa yang sedang direncanakan Rion, mengapa ia berlatih sampai larut malam begini? apa ia sebegitu inginnya memenangkan peringkat pertama di kontes atau hanya untuk perintah si nenek sihir? rasanya aneh sekali, arghhh!’
Riko merasa sedikit kesal memikirkan hal itu, tetapi ia tak bisa untuk tidak curiga dengan orang-orang sekitarnya. Cukup lama terlentang di tempat tidur, ia tetap tak bisa tidur dengan tenang. Karena rasa penasarannya, ia pun pergi keluar menuju ruang latihan.
Dengan langkah berhati-hati, Riko menguntit saudara tirinya yang sedang latihan. Ia melihat dengan saksama seperti apa ketika Rion berlatih sendiri.
Cukup lama memperhatikan di luar, Riko pun merasa sedikit tergerak. Ia melihat dan menyadari betapa sulitnya posisi saudara tirinya selama ini, ia berlatih begitu keras dan terlalu disiplin terhadap dirinya sendiri. Sebenarnya Riko sedikit bersimpati pada Rion, tetapi ia juga tak bisa menerima semua hal yang berkaitan dengan hancurnya kesatuan keluarganya.
Masih dalam keadaan melamun, Riko yang terbawa suasana pun tak sengaja memukul dinding hingga membuat Rion menoleh dan menyadari keberadaannya.
“Riko? kenapa berdiri di sana, kau masih belum tidur?” tanya Rion dari kejauhan.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Riko langsung pergi dari tempat itu. Melihat hal itu, Rion hanya tersenyum lemah. Ia sudah cukup terbiasa dengan tingkah tsundere adik tirinya itu. Meskipun demikian, ia tak pernah berpikir untuk membenci Riko, malahan dalam beberapa alasan ia merasa cukup bersalah padanya.
Karena Riko sudah pergi, kemudian Rion kembali melanjutkan latihannya yang sempat tertunda tadi. Meskipun sebenarnya sudah kelelahan, tetapi ia terus berlatih dengan giat.
Tak lama kemudian terlihat Riko yang kembali datang ke tempat itu, tetapi kali ini ia terlihat seperti sedang membawa sesuatu.
“Hei kau Rion! tak perlu berlatih sampai selarut ini untuk mengalahkanku, bagaimana pun itu ... aku pasti akan memenangkan rank 1 kontes itu, kau istirahat saja sana! rank 2 untukmu tak masalah, nenek sihir itu tak akan bisa menyalahkanmu karena hanya ada satu orang untuk posisi pertama, aku pasti akan mendapatkan posisi itu, kau tahu!” seru Riko dengan seluruh keberaniannya untuk menantang kakak tirinya.
“Tidak masalah, aku juga akan senang jika kau memenangkannya ... tapi aku juga harus berusaha untuk diriku sendiri agar tak sampai kalah, bisa gawat jika aku tak mendapatkan posisi mana pun, jadi tenang saja ... aku selalu mendukungmu,” balas Rion dengan lembut.
“Kau sudah cukup hebat tak mungkin jika sampai kalah, karena itu berhenti berlatih sampai selarut ini tiap hari ... kalau sampai sakit kau juga tak bisa bertanding dan aku juga tak ada lawan saat itu tiba, tcih! sebenarnya apa yang sedang kau perjuangkan sih sampai jadi sebodoh ini!” bentak Riko yang merasa sedikit kesal.
“Sudah pasti untukmu,” jawab Rion sembari tersenyum lemah.
“Arghhh ... kau ini menyebalkan sekali, yasudah! aku kembali ke kamarku dan ini aku bawakan minuman ... kau habiskan segera lalu tidur! bye,” sahut Riko cuek.
Ia pun langsung pergi setelah meletakkan segelas susu di meja sekitar tempat Rion berlatih. Sebenarnya Rion sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan adik tirinya itu, tetapi di saat yang bersamaan hal itu juga membuat ia menjadi sedikit lega dan merasa senang, mungkin kebencian Riko tak sebesar apa yang ia pikirkan sebelumnya.
.
.
Beberapa hari berlalu, acara kontes tersisa tinggal dua hari lagi, keadaan Rion terlihat kurang baik dan Riko pun menyadari hal itu, sebenarnya ia ingin membantunya tetapi tak tahu harus melakukan apa.
Di pagi hari, Riko datang ke kamar Rion untuk sekedar melihat keadaannya.
“Rion?” sapa Riko agak canggung.
“Riko? tumben kamu datang pagi-pagi begini ... ada apa?” tanya Rion lembut.
“Bukan apa-apa, hanya sekedar melihat keadaanmu ... kau sedang sakit bukan, kenapa masih beraktivitas berat?” sahut Riko agak jengkel.
“Tidak masalah, aku hanya kurang enak badan ... nanti juga sembuh kok,” balas Rion santai.
“Huft, aku harus melakukan apa agar kau tak beraktivitas berat?” tanya Riko sembari menghela napas.
“Baiklah, kalau begitu bisa tidak kau hari ini jangan pergi ke mana-mana?” pinta Rion dengan penuh harap.
“Emm ... oke, aku tak akan pergi hari ini tapi jangan geer dulu, aku mau membantumu hanya karena bersimpati bahwa kau juga korban dari keserakahan si nenek sihir itu, kalau sampai kalah di kontes nanti ... kau pasti akan dihukum berat,” balas Riko kecut.
“Terima kasih kalau begitu, hari ini aku akan beristirahat dengan tenang, tak perlu khawatir, aku pasti akan memenangkan kontes itu ... setidaknya rank 2 sudah cukup untukku,” balas Rion dengan senyuman hangat di wajahnya.
“Huhh.”
Meskipun hubungannya dengan Rion terbilang tidak baik, Riko juga bukanlah tipe orang yang akan membiarkan orang lain sakit ataupun terluka di depannya, jadi sebisa mungkin ia akan membantunya sampai sembuh total.
“Baiklah, saat kau sakit aku adalah saudaramu ... tapi jika sudah sembuh, maka kita musuhan lagi, oke:'v”
“Heeeeh, langka sekali yah:'D”
Meskipun biasanya Riko adalah orang yang cuek, tetapi ia juga terkadang peduli. Selama masih sakit, Riko selalu menemani Rion dan membantu mengurus kebutuhannya. Karena acara kontes tinggal dua hari lagi, pastinya Diana akan sedikit lebih sibuk sehingga tak bisa mengawasi aktivitas kedua anak itu dengan baik.
Namun, hal itu membuat keduanya sedikit lega karena tak akan ada orang yang mengomeli mereka saat sedang bersantai dan beristirahat.
.
.
.
TBC