
Akhirnya Riko dan Andi pergi ke ruang klub untuk membicarakan rencana mereka selanjutnya. Di ruang khusus ketua, Andi mulai menunjukkan beberapa data-data tentang iblis dan level kekuatannya, dalam dokumen tersebut juga dimuat tentang penjelasan dari beberapa elemen dasar, segel, dimensi, ilusi, Taichi, dan masih banyak yang lainnya.
Riko mencoba untuk memahami isi dari buku dokumentasi tersebut, mungkin ia sedikit mengerti, hanya saja untuk mempelajari semua itu pastinya akan menjadi hal yang cukup sulit, karena Riko bukanlah orang yang sepandai itu.
“Oii ketua, kau dapat dari mana semua buku-buku ini?” tanya Riko penasaran.
“Itu semua adalah hasil dokumentasi dari keseluruhan kegiatan klub selama tiga tahun ini, semua yang kami pelajari selama ini telah ditulis ke dalam buku-buku ini, dan aku sendiri yang menulis semua itu juga dibantu oleh beberapa anggota lainnya,” jelas Andi.
“Oh, aku ingin belajar sih semuanya, tapi masih bingung bagaimana harus memulainya.”
“Sudah aku katakan, kau harus belajar dasar dulu, orang yang belum bisa mengolah energi spiritualnya, tidak mungkin bisa langsung menguasai ataupun berlatih spiritual, memangnya kau pikir ini dongeng anak-anak, tentu saja tidak semudah itu, kau hanya manusia biasa,” sindir Andi.
“Okelah, aku pikir akan ada jalan pintas untuk segera bisa menguasainya tapi tampaknya susah juga ya,” keluh Riko.
“Maka dari itu kau harus terus berlatih jika tak ingin menjadi lemah, dan jangan pernah berpikir setiap tujuan besar akan ada jalan pintas, kau harus berusaha dengan kekuatanmu sendiri, tentunya aku juga akan membantumu berlatih.”
“Aku mengerti, aku juga tak berniat menjadi kuat jika itu pinjaman dari orang lain.”
“Baguslah! Oke ... kalau begitu, aku ingin memberitahumu bahwa besok misi di jalan mawar akan dijalankan, apa kau ingin ikut dalam misi ini?” tanya Andi lagi.
“Iya ... boleh saja sih, mungkin bisa buat sekedar pengalaman,” jawab Riko singkat.
“Baik, kalau begitu .... pulang sekolah nanti aku akan memberimu sedikit pelatihan.”
“Ya ... terserahlah.”
Mereka pun kembali melanjutkan pembahasan tentang isi buku tersebut. Andi menjelaskan setiap halaman secara rinci dan agar mudah dimengerti. Cukup lama dalam pembahasan itu, Riko kembali teringat dengan Fuurin.
“Ngomong-ngomong ketua, si Fuurin bagaimana keadaannya, apakah sudah benar-benar membaik? hmm ... aku belum sempat menyapanya sebelumnya, jadi gak enak nih.”
“Tenang saja, dia baik-baik saja, lagi pula ia sekarang sedang bersama guru Tono dan Juan, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan,” balas Andi santai.
“Okelah, sekarang mereka jadi rekan sekomplotan dan gue dilupakan, hmm.”
“Haha ... ini masalah serius, berhentilah bersikap seperti nona, kau harus fokus dan jangan terlalu baper, selain bersosialisasi masih banyak hal yang perlu kau utamakan, jadi kesampingkan dulu egomu, hmm,” sindir Andi.
“Berisik empat mata, gue juga bisa fokus masalah ini, jadi berhentilah meremehkan terus,” sahut Riko kesal.
“Hahaha ... oke deh, lupakan saja! lagi pula mereka bertiga itu termasuk team yang kuat, jadi kau jangan terlalu memikirkannya.”
“Oke ... ngomong-ngomong tentang mereka bertiga, kira-kira apa yang sedang dilakukannya sekarang?” tanya Riko penasaran.
“Entahlah.”
.
.
Di kantin, terlihat beberapa karakter penting pun sudah mulai berkemas untuk meninggalkan lokasi. Beberapa dari mereka sudah ada yang pergi dan juga ada yang masih sedang membayar.
Fuurin bersama kedua rekannya nongkrongnya pun segera membayar dan meninggalkan barang-barang mereka masih pada tempat duduk mereka tadi.
Setelah ketiganya selesai membayar, mereka pun kembali ke meja untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal, di sana terlihat minuman milik Fuurin yang masih lumayan banyak, akan sangat disayangkan jika ia membuangnya. Oleh karena itu, ia mengambilnya untuk diminum lagi nantinya.
Mereka mulai berkemas dan segera pergi. Tak lama kemudian tiba-tiba Rein datang dan merampas minuman milik Fuurin, lalu menumpahkannya dengan sengaja.
“Hei ... apa yang senior lakukan?” ucap Fuurin bingung.
“Apa kau tidak terima?” balas Rein sinis.
“Bukan begitu, tapi kenapa tiba-tiba ....”
Fuurin merasa bingung dan kehabisan kata-kata, padahal sebelumnya ia tak memiliki masalah apapun dengannya, entah kenapa Rein jadi begitu dingin dengannya.
Tak lama kemudian tiba-tiba saja Rein menarik tangan Fuurin untuk mendekat padanya, lalu tampak ia seperti sedang membisikkan sesuatu.
“Maksud senior?” tanya Fuurin bingung.
“Apa kau benar-benar ingin mati? maka tetaplah menjadi orang yang bodoh,” sahut Rein sambil melempar wadah minuman tadi.
Ia pun langsung pergi dari tempat itu tanpa berkompromi lagi. Mereka yang di sana terlihat kebingungan, sebenarnya apa maksud dari sikap orang itu. Juan mencoba mencerna semua kejadian dan menarik kesimpulan. Namun, tampaknya ia masih belum mengetahui apapun tentang Rein.
“Hmm ... dia itu kenapa sih aneh sekali,” ucap Juan.
Fuurin sempat terdiam, kemudian ia mulai merasakan sesuatu yang tak asing lagi, perasaan itu kembali muncul dan memenuhi kepalanya, ia benar-benar merasa muak dengan terror ini. Perlahan ia mencoba menenangkan dirinya dan mulai mengurutkan semua kejanggalan yang terjadi.
“Heh ... jadi begitu rupanya, terima kasihku pada senior Rein yang sudah mengingatkan, tampaknya aku sudah tak bisa berdiam diri lagi ya,” gumam Fuurin serius dengan sedikit seringai di wajahnya.
“Eh ... kenapa?” tanya Juan heran.
“Sepertinya kita harus bertindak lebih cepat lagi mengenai hal itu ... Juan,” bisik Fuurin dengan tatapan tegas sembari memberi kode.
“Oh, jadi begitu ya ... aku mengerti sekarang, oke ... mari kita selesaikan permainan ini segera,” jawab Juan sambil memberi seringai pada wajahnya.
Guru Tono hanya bisa terdiam dan bingung, ia hanya bertanya-tanya dalam hati tentang hal apa yang sedang mereka berdua rencanakan.
“Emm ... kalian berdua sebenarnya sedang merencanakan apa sih? saya agak khawatir soalnya,” ucap guru Tono ragu.
“Tenang saja, kami tak akan melakukan hal kriminal apapun,” jawab Juan santai.
“Lagi pula ini hanya urusan anak muda, pak guru pasti akan sulit mengerti,” tambah Fuurin.
“Eh, apakah saya sudah setua itu ya, hmm.”
Menunggu bel masuk kelas berbunyi, mereka bertiga berencana untuk pergi ke klub exorcist. Di sana mereka bisa membicarakan lebih banyak hal serta membahas rencana selanjutnya.
Seharusnya latihan sudah bisa dimulai, tetapi karena sedang ada beberapa hambatan, klub exorcist masih menutup sementara aktifitas klub. Oleh karena itu, mungkin sekarang klub exorcist sedang sepi, dan hanya ada beberapa anggota inti saja.
Walaupun demikian, Juan sebenarnya agak kurang setuju jika harus pergi ke klub exorcist.
“Hei ... Fuurin, kenapa harus klub exorcist lagi sih? ketuamu kan gak suka banget lihat aku di sana,” keluh Juan.
“Abaikan saja, di sana jauh lebih aman ngobrolnya daripada di sini, lagi pula klub kami juga sedang ada misi untuk besok, jadi aku ingin membahasnya dengan ketua,” sahut Fuurin.
“Hmm ... okelah, tapi aku kan gak ikut misi tuh, kenapa juga harus ikut ke sana?”
“Kita ini teman sekomplotan, harus bekerjasama dong!”
“Jangan khawatir, di sana ada banyak ruangan, jadi kamu tidak harus terus berhadapan dengan ketua klub,” tambah guru Tono.
“Hmm ... okelah, tapi ngomong-ngomong si Riko pergi kemana ya?” tanya Juan penasaran.
“Entahlah, mungkin ia sedang di kelas, atau mungkin menyendiri di suatu tempat?” balas Fuurin sambil mengira-ngira.
“Haah ... padahal aku sedang ingin mengganggunya,” ucap Juan iseng.
“Sudahlah, ayo bergegas! kita sudah hampir sampai di tujuan,” sela guru Tono.
Mereka mempercepat langkah agar segera sampai di tujuan. Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka pun sampai, lalu masuk seperti biasa. Suasana masih agak sepi, hanya saja mereka agak penasaran dengan keributan yang ada di ruang ketua klub.
Ketiganya berjalan dan menghampiri ruangan tersebut untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana. Saat mereka sampai di depan pintu, ketiganya langsung terdiam melihat apa yang ada di depannya.
“Ini ... kenapa ya?” tanya Juan terheran-heran.
“Berantakan sekali!” gumam Fuurin dengan muka masamnya.
“Ah ... tenangkan diri kalian dahulu!” sela guru Tono.
“Ada Riko juga ternyata,” ucap Juan yang sedikit terkejut.
“Riko dan kaichou? apa ini sebuah latihan?” tanya Fuurin penasaran.
“Atau mungkin perang kali ya?” tambah Juan.
“Hei ... sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan?” tanya guru Tono kebingungan.
Mereka sudah cukup tercengang dengan ruangan yang terlihat sangat berantakan, tetapi yang jauh lebih mengejutkan lagi adalah tindakan aneh yang sedang mereka berdua lakukan. Mungkin itukah yang disebut dengan latihan dalam permusuhan?
.
.
.
TBC