Roped Fate

Roped Fate
Ch.44 : Ulah Riko



Riko langsung pergi menuju tempat orang yang baru saja menghubunginya. Perpustakaan hari ini tampak masih sepi, Riko berjalan dengan santai dan masuk ke dalamnya.


“Oii ... kau! kenapa memanggilku ke sini?” pekik Riko dengan intonasi yang sedikit tinggi dan cuek.


“Ah, anak nakal sudah datang! cepat kemari dan duduk,” balas Andi yang tampak santai.


“Tch ... empat mata sialan! oke gue datang, tapi kau mau bahas apaan sih? tumben tiba-tiba panggil gue seperti ini,” tanya Riko penasaran.


“Tentang yang kemarin,” jawab Andi singkat.


“Oh, benar juga ... yang kemarin itu ....”


“Segel yang digunakan Fuurin itu adalah segel terlarang, Demon Dimension adalah dimensi yang berasal dari kegelapan, pengguna harusnya memiliki ikatan kontrak dengan suatu iblis, biasanya mereka menggunakan darahnya untuk menulis segel tersebut,” jelas Andi perlahan.


“Lalu, apa bedanya dengan segel biasa dengan segel menggunakan darah?” tanya Riko penasaran.


“Segel biasa umumnya menggunakan energi spiritual untuk menulis segel, tapi berbeda dengan mereka yang menggunakan darahnya, dalam hal ini darah dianggap banyak mengandung energi Yin yang berarti membayar iblis dan kegelapan untuk meminjam kekuatan mereka, kecuali dalam beberapa hal ... penggunaan darah untuk segel itu termasuk terlarang,” balas Andi tenang.


“Begitu ya! tapi pengecualian itu ....”


“Contohnya seperti segel Jiu yang aku berikan padamu, sebenarnya itu juga sedikit dipadukan dengan darahku,” sahut Andi santai.


“Eh ... kenapa?” tanya Riko yang sedikit terkejut.


“Pada dasarnya bubuk suci itu sifatnya Yang, jika dipadukan dengan darah manusia akan membuat ikatan kehidupan, karena aku menggunakan darahku sendiri, itu berarti kau bisa menerima kekuatan Jiu dan terhubung denganku,” balas Andi.


“Hah ... pantas saja, takdirku jadi berubah makin mengerikan,” sindir Riko sinis.


“Jangan begitu, bisa saja ini akan bermanfaat untukmu suatu hari nanti.”


“Okelah, tapi aku masih penasaran, bagaimana manusia bisa menggunakan kekuatan iblis?” tanya Riko lagi.


“Tentu saja bisa, dengan catatan bahwa kekuatan spiritualmu harus lebih tinggi dan mengalahkan level kekuatan iblis itu sendiri,” balas Andi singkat.


“Benarkah, tapi itu kenapa si Fuurin malah gak bisa mengendalikan kekuatan iblisnya?”


“Entahlah, dimensi ilusi itu harusnya adalah jurus tingkat tinggi, tidak semua manusia bisa memanggilnya, sekalipun bisa, pastinya mereka akan mati setelahnya, tapi aku sendiri juga penasaran bagaimana bisa ia menggunakan jurus yang bahkan tak bisa ia kendalikan sama sekali,” balas Andi yang juga masih penasaran.


“Emm, itu artinya jika pengguna menggunakan kekuatan iblis, maka harus membuat perjanjian dengan iblis yang berada di bawah level kekuatannya, begitu bukan?” tanya Riko untuk memastikan kembali .


“Memang benar begitu, tapi ingat ... iblis tetaplah iblis, kegelapan tetaplah kegelapan, walaupun kau bisa menggunakannya, tapi sebaiknya kau jangan pernah mencoba untuk melakukan hal itu, walaupun kau menggunakannya untuk kebaikan, tapi tetap saja, apa yang berasal dari kegelapan akan kembali dalam kegelapan, tentunya kau akan menerima dampak buruk itu di masa depan,” jelas Andi sedikit serius.


“Aku mengerti! aku sendiri juga tidak setuju jika bertarung dengan meminjam kekuatan dari kegelapan, selain tidak keren juga kau harus menerima kerugian di masa depan, lalu apa artinya berusaha? bukankah lebih baik mati dari awal daripada menderita di kemudian hari,” tegas Riko yang selalu teguh pada pendiriannya.


“Baguslah kau mengerti, aku hanya ingin memperingatimu saja, karena di tahun ini kita akan banyak kedatangan musuh tak terduga, jadi tetaplah waspada,” tambah Andi sekedar memberi peringatan.


“Jangan khawatir, aku tidak sebodoh itu.”


Andi tersenyum lega mendengar jawaban Riko, ia tak perlu khawatir lagi untuk memberitahunya, syukurlah Riko memiliki keyakinan yang positif, walaupun dengan sifat keras kepalanya, mungkin itu akan menguntungkan dirinya sendiri selama ia memiliki keyakinan yang baik.


Karena penjelasan itu sudah cukup baginya, Andi pun mengakhirinya dengan mengganti topik pembicaraan. Kali ini ia ingin membantu Riko belajar dengan beberapa buku yang ada di sana, mungkin ini langkah yang baik untuk berdamai dengan anak keras kepala seperti Riko. Namun, tentunya itu tak semudah yang ia bayangkan. Mengajari Riko belajar adalah sesuatu yang hampir mustahil, karena memberontak adalah sifat alami dari Riko.


Tak ingin menyerah begitu saja, Andi terus mencoba meyakinkannya untuk fokus dan mau menerima pembelajaran yang ia berikan, tetapi Riko terlihat begitu bosan, ia sangat malas belajar jika dengan orang yang ia tak suka.


Tak lama kemudian, terdengar suara derap kaki menuju perpustakaan. Riko kembali waspada, ia berencana melakukan sesuatu sebelum mereka tiba.


“Oii ketua ... ada yang mau datang tuh! kayaknya sih pengganggu, ayo kita usir saja sebelum mereka sampai, gue gak bisa konsentrasi kalau banyak orang,” ucap Riko malas.


“Eh, tapi ini perpustakaan untuk umum, kau tak bisa mengusir mereka seenaknya,” balas Andi mencoba menasehatinya.


“Makanya jangan terang-terangan usirnya, kita gunakan cara lain,” ucap Riko dengan serius.


“Apaan? kau jangan ngajakin yang aneh-aneh ya! aku ini siswa terhormat,” sahut Andi sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


“Jangan khawatir, mereka tak akan tahu ... wajahmu gak sampai terlihat kok!” bisik Riko yang tampak sudah bersiap-siap.


“Jangan bilang mau jadi hantu lagi, hmm ....”


“Tidak ah, agak mirip sih rencananya, tapi ini tanpa kostum.”


“Sama aja, bocah!”


“Sekarang cepat kau berdiri di balik pintu, jika mereka nanti datang aku akan mengalihkan perhatian, setelah itu kau langsung tutup pintunya, oke!” bisik Riko serius.


“Tapi, aku ....”


Belum sempat melanjutkan kata-katanya, Andi sudah diseret Riko begitu saja, ia dipaksa untuk berdiri di sana, sementara Riko bersembunyi di balik sekitar rak buku. Andi dengan berat hati terpaksa mengikuti permainan junior berandalannya itu, ia hanya berdiri di sana sambil berharap tak akan ada orang yang memergokinya nanti.


Suara orang-orang itu pun mulai terdengar jelas, tampaknya sebentar lagi mereka akan tiba di sana dan masuk. Saat mereka mulai muncul, Riko siap beraksi dengan menjatuhkan beberapa buku sebagai peringatan. Melihat keanehan yang terjadi, mereka sempat terdiam. Namun, mereka tidak terlalu mempermasalahkannya, mungkin saja itu hanya kebetulan.


Kejutan kedua yaitu, dengan menggoyangkan salah satu rak buku yang sudah agak reot agar terkesan horror. Orang-orang masih terdiam saja, Riko merasa agak kesal dengan reaksi pas-pasan itu. Akhirnya ia pun menggoyangkan rak itu lebih keras, hingga menyebabkan beberapa buku mulai berjatuhan.


“Itu di sana ada orang kali, atau enggak ... mungkin hantu juga bisa,” jawab siswa lainnya dengan santai.


“Terus lu kok gak takut?” tanya rekan yang lainnya lagi.


“Hehe ... soalnya gue suka hantu, maksudnya suka menyiksa mereka, bapak gue kan pemburu hantu juga,” sahut siswa tadi.


“Hmm ... terus rencananya sekarang, lu mau cari hantunya gitu?”


“Yeah! maybe.”


Andi yang mendengar percakapan mereka pun mulai khawatir, jika mereka semua tak segera pergi maka ia dan Riko akan ketahuan.


Cukup lama berdebat di luar, mereka semua pun mulai bergerak untuk masuk. Namun, sebelum sempat masuk, rak reot tadi pun mulai mengeluarkan suara nyaring yang cukup mengkhawatirkan.


KRIETTT ....


BRUGHHH ....


Mereka sempat terkejut dengan suara keras dan menggelegar itu. Dengan sigap Andi langsung menutup pintu perpustakaan dan berlari ke tempat Riko, lalu menariknya untuk bersembunyi ke tempat yang lebih aman.


“Huaa ... itu tadi apaan ya, horror sekali! mungkin hantunya marah mendengar kata-katamu tadi,” ucap salah satu siswa di luar.


“Heeh ... ayo kita periksa dulu,” sahut siswa pemberani itu.


“Nanti kalau kita dicekik hantu bagaimana dong?”


“Tenang saja! ada gue di sini.”


“Hmm ....”


Karena sudah sepakat, mereka pun mulai membuka pintu tadi untuk memeriksa ada yang terjadi di dalam. Saat pintu telah berhasil di buka, mereka kembali tercengang.


“Waduh ... ini bagaimana ceritanya yak?”


“Raknya kok jadi hancur, buku-buku berserakan, lu yakin mau masuk?”


“Masalah takut hantu sih enggak, cuma ini ... kalau kita masuk, terus ada yang lihat, pastinya kita yang dikira hancurin itu rak, hmm ... gak mungkinkan kita ganti rugi semuanya,” sahut siswa tadi.


“Benar juga sih, terus ... sekarang bagaimana?”


“Jelas kabur dong!”


“Oke ... ayo kita kabur.”


“Oke.”


“Iya.”


“Siap.”


“KABUURRR ....”


Mereka langsung pergi dari tempat itu, Andi pun mulai menghela napas lega. Namun, belum sempat menenangkan diri, Riko kembali menarik tangan Andi untuk segera pergi.


“Oii ... ketua, ayo cepat! sebelum ada yang lihat, kita kabur dulu,” ucap Riko dengan terburu-buru.


“Tapi, buku-buku ini ....”


“Sudahlah! anggap saja hantu yang melakukannya, kalau hanya merapikan buku sih tidak masalah, tapi ini kalau raknya sudah hancur begini, kita bakalan kena omel dan harus ganti rugi tahu!” sahut Riko yang terus waspada.


“Terus ... kau mau kabur gitu?” tanya Andi lagi.


“Iyalah, emang kau juga mau reputasi baikmu hancur gara-gara ini, hmm,” sindir Riko iseng.


“Jelas tidaklah! tapi ini semua gara-gara kau, kalau mau buat onar jangan ngajakin orang ya!” balas Andi yang tampak semakin geregetan.


“Hehe ... ayo! bicaranya nanti saja, yang penting sekarang kabur dulu, sebelum ada yang lihat.”


“Hmm ... tidak ada pilihan lain, jadi inilah alasan kenapa aku benci sekali dengan bocah bandel, NGESELIN ....”


Mereka pun segera pergi dari sana dan berlari ke tempat yang lebih aman. Di sepanjang perjalanannya Andi terus mengeluh kesal, ia paling benci dengan perbuatan menyimpang, tapi kali ini ia malah jadi ikut terlibat gara-gara ulah junior berandalannya.


.


.


.


TBC