
Rion masih terus berusaha menenangkan Riko agar tak berisik. Di sisi lain paman Sen dan yang lainnya masih berjuang melawan iblis sembari menunggu bantuan senjata datang.
Ketika senjata rahasia howitzer telah sampai pada medan pertempuran, mereka mulai bersiap untuk serangan pengalihan. Paman Sen mulai menarik busur kekarnya dan berencana membidik mata dari makhluk yang berkobarkan api ungu itu.
Serangan pertama yang ia luncurkan telah berhasil mengenai sasaran, meskipun serangan itu takkan bisa menghancurkannya, tetapi itu sudah cukup membuatnya teralihkan sejenak karena serangan tersebut berhasil mengenai titik vital iblis, yaitu penglihatannya.
Sang iblis meraung begitu menggelegar sekaligus ia kembali melontarkan api ungu yang semakin menjalar.
Rion dan Riko masih terpaku di tempat. Sebenarnya Rion merasa sedikit ragu, hanya saja ia berusaha tenang, akan tetapi ia tetap mengambil ancang-ancang bersiap.
“Rion ... sepertinya keadaan semakin mencekam, haruskah kita panggil para orang tua untuk segera kabur?” tanya Riko khawatir.
“Sudah kubilang tidak perlu, lihat saja situasinya dulu ... jika memang tak ada harapan maka kita berdua harus langsung kabur,” jawab Rion.
“Tapi bagaimana dengan orang tua kita?” tanya Riko sedih.
“Itu tergantung mereka juga, jika mereka ingin kabur dan mengajak kita, maka kita bisa kabur bersama, tapi jika mereka masih ingin berjuang dan bertarung, jadi kita hanya bisa kabur berdua saja,” balas Rion tegas.
Riko pun langsung melemah dan mengacuhkannya, tetapi ia juga tak punya pilihan lain selain diam.
Akhirnya mereka kembali fokus untuk menyaksikan pertempuran para orang tua. Di depan sana ... terlihat sang iblis yang sedang goyah akibat serangan beruntun dari anak panah paman Sen.
“Ayahmu hebat sekali ya, Riko ...,” ucap Rion tiba-tiba.
“Memang hebat dari dulu tau,” sahut riko agak sombong.
“Karena itu kau tak perlu khawatir, dia pasti akan baik-baik saja.”
“Kuharap begitu.”
Pada serangan berikutnya yaitu dengan senjata rahasia howitzer yang sudah selesai disiapkan dan segera diluncurkan.
BOOM ....
Tembakan yang sangat kuat melesat cepat dan berhasil menghantam iblis dengan sangat keras. Berkali-kali serangan itu diluncurkan, hingga menyebabkan kebisingan yang luar biasa. Rion mencoba membantu untuk menutup telinganya Riko. Namun, tetap saja ia tak bisa tenang.
Beberapa bagian tubuh iblis pun menjadi hancur dengan cairan dan api yang berkobar di mana-mana.
Para ahli segel pun berkumpul dan berunding bersama, diantaranya termasuk ibu dari kedua anak itu.
Riko pun penasaran, sebenarnya pekerjaan macam apa yang selama ini dilakukan oleh kedua orang tuanya, yang sampai harus bertaruh nyawa seperti ini.
“Rion ... sebenarnya pekerjaan mereka itu apa sih, kenapa harus berperang seperti itu?” tanya Riko.
“Itu adalah pekerjaan rahasia yang bisa dibilang mulia ... hanya saja tak ada harganya, percuma saja kan ... mati demi menyelamatkan orang lain yang belum tentu menghargai pengorbanan mereka,” jelas Rion.
“Lalu kenapa mereka mau mengambil resiko yang tak setimpal itu?” tanya Riko lagi.
“Karena itulah, aku mengatakan mereka adalah orang bodoh.”
“Tcihhh.”
“Ya, tapi tetap saja kan ... tujuannya adalah kedamaian, karena itu memang ada yang perlu dikorbankan, sayang sekali kan ... mereka melakukannya atas keputusan mereka sendiri, jadi kau tak bisa mengeluh ataupun menyalahkan siapapun.”
“Hmm.”
.....
Semakin lama kegaduhan di tempat itu kian bertambah parah saja. Suara dentuman, ledakan, tembakan dan lainnya bercampur aduk. Tak berakhir sampai di sana, iblis juga tetap memberi serangan balasan. Akibatnya semakin banyak korban yang terus berjatuhan, anggota yang tersisa pun juga sudah sangat sedikit.
Ketika berbagai material menghujani tempat itu, beberapa di antara mereka pun ada yang tertimpa dan terkena benda-benda dampak dari serangan itu.
Salah satunya adalah Rima, ibu dari Riko. Melihat hal itu Riko pun tak bisa berdiam diri lagi, ia langsung berlari ke tempat ibunya untuk memberi bantuan.
Rion yang gagal menghentikannya pun menjadi kesal dengan sikap keras kepala Riko, tetapi tetap saja ia datang berlari untuk menyusulnya.
“Ibu ... ibu ... aku datang!” seru Riko.
Rima cukup terkejut dengan kemunculan Riko yang tiba-tiba saja mendatanginya.
“Ibu ... ibu terluka, ayo kita pergi dari tempat ini! di sini sangat berbahaya,” ucap Riko dengan mata berkaca-kaca.
“Riko! kenapa kamu kemari, pergilah ke tempat yang aman bersama kakak Rion ... pergilah sejauh-jauhnya, ibu akan menyusulmu nanti setelah masalah ini selesai, oke?” sahut ibunya.
“Tapi ibu ... monster itu sangat berbahaya, bagaimana bisa mengalahkannya,” protes Riko.
“Jangan khawatir, apapun itu ... ini adalah tugas kami, demi kedamaian semua orang ibu harus ikut bertarung,” balas sang ibu dengan teguh.
“Tidak bisa begitu ibu, itu sangat tak adil untukku ... bagaimana jika ibu dan ayah tidak kembali lagi, apa yang harus aku lakukan? aku bisa mati kesepian, ibu kumohon jangan tinggalkan aku sendiri,” pinta Riko.
“Sudahlah nak, ini adalah kewajiban ibu, tenanglah! ibu berjanji pasti akan kembali menyusulmu setelah ini.”
“Tapi ibu ....”
Rion yang masih berdiri dibelakangnya hanya bisa diam berdiri sembari menunggu keputusan mereka berdua, tentu saja ia tak akan bertanya lagi pada ibunya sendiri karena ia sudah paham apa yang harus dilakukannya saat ini.
“Pergilah, kamu jangan jadi anak yang bandel ... ikuti saja apa kata kakak Rion, dia pasti mengusahakan yang terbaik untukmu, ya?” lirih Rima.
“Tidak mau! aku mau semuanya ikut pergi bersama,” sahut Riko yang enggan berpisah.
“Hmm ... kalau begitu tolong ya nak Rion, seret paksa anak bandel ini untuk segera menjauh dari tempat ini,” pinta Rima.
“Baiklah tante.”
“Aku tidak mau! pokoknya tidak mau!” teriak Riko.
“Ayahmu sedang berjuang saat ini, tolong mengertilah ... waktu kami sangat terbatas, pergilah dan jangan menghalangi tugas ibu saat ini,” bentak ibunya.
Tanpa berkomentar lagi, Rion langsung menarik Riko kecil untuk segera menjauh dari ibunya. Namun, sebelum sempat pergi, Rima sempat menitipkan sesuatu untuk Rion agar ia bisa menyimpannya sementara sampai ia kembali nanti.
Sebuah kalung kristal berwarna ungu yang terlihat sangat indah dan penuh kilau. Tentu saja Rion menerimanya dengan senang hati karena ia telah dipercayakan menjaga benda berharga itu padanya.
Tak mau membuang-buang waktu lagi ia pun langsung pergi setelah menyimpan benda titipan tadi.
“Lepaskan aku! hei ... kau lepaskan aku! aku mau pergi bersama orang tuaku,” teriak Riko yang terus memberontak.
“Tidak, ibu ... ayah ... jangan tinggalkan aku!” seru Riko yang semakin lama semakin menjauh dari tempat itu.
Rima hanya bisa tersenyum lemah ketika harus melepaskan pergi anak semata wayangnya itu. Setelah itu ia pun kembali fokus pada tugasnya.
“Maafkan ibu nak, ibu tak bisa pergi bersamamu ... karena ini adalah tugasku sebagai seorang exorcist,” gumam Rima dengan tatapan yang tegas.
Sementara Riko kecil hanya bisa menatap dengan air mata, ia perlahan semakin menjauh. Namun, sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangan, tiba-tiba sebuah ledakan besar yang berkobarkan api ungu pun mendarat dan menghancurkan semua tenda yang ada di sana.
Riko yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa diam mematung, tepat di depannya kobaran api yang sangat besar. Dalam ledakan itu ia melihat berbagai berterbangan dan terombang-ambing.
Dalam waktu yg bersamaan pula ia melihat sebuah tabung kaca yang tak asing lagi untuknya, benda itu pun terlempar di udara dan pecah ... seekor kupu-kupu biru hadiah untuk ibunya itu pun terbang keluar yang kemudian lenyap terbakar.
“TIDAKKK!” teriak Riko histeris.
“Tenangkan dirimu dulu, ayo pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini,” ucap Rion yang terus berusaha menggenggam erat tangan Riko agar tidak kabur.
“Orang tuaku masih di sana, bagaimana bisa pergi setelah melihat kejadian yang baru saja terjadi,” protes Riko.
“Kau sudah gila, mau mati di sana? bahkan mati pun kau tak akan bisa membantu mereka, kau hanya akan menghalangi mereka saja, sudahlah! percayakan saja ... mereka pasti kembali,” sahut Rion dengan intonasi agak tinggi.
“Bagaimana jika mereka tak akan menyusul kita lagi?” tanya Riko yang masih panik.
“Abaikan perasaanmu, yang penting kita pergi dulu ... mereka pasti akan menyusul setelahnya,” balas Rion acuh.
“Kau bohong! aku masih takut ....”
“Tak ada pilihan lain selain percayakan semuanya pada mereka, jika tak ada yang kembali maka relakan saja ... karena semua akan sama saja sekalipun kita kembali,” tegas Rion.
“Tidak ... aku tak bisa menerima itu ....”
Rion cukup geregetan menangani bocah manja itu, akhirnya tanpa basa-basi lagi ia langsung menyeret paksa Riko untuk segera pergi dan melanjutkan perjalanannya.
“TIDAKKK!”
.
.
- Flashback End -
.
.
Dalam cahaya pilar yang semakin meredup Riko tak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir, badannya terasa kaku, ia tak bisa merespon apapun yang ada di kepalanya saat ini ... emosinya benar-benar kacau, bayangan yang ia lihat pada masa itu sungguh mengguncang jiwanya.
Ketika dalam bayangan redup pilar itu masih terlihat samar sebuah serangan susulan yang lagi-lagi mengarah ke tempat orang tuanya itu. Riko kecil dalam bayangan itu berteriak histeris bersamaan pada jiwa Riko pada masa kini, ia mencoba berteriak meskipun tubuhnya tak merespon dengan baik.
“Kumohon, jangan pergi ... ibu, ayah, hei! jawab aku ... di mana kalian? kenapa tinggalkan aku sendiri? apa kalian tidak menyayangiku lagi? hei ... jawab aku!”
Seluruh ingatan di hari itu berkumpul dan menyiksa bhatinnya, ia seakan terlihat menjadi seperti orang yang tak waras, karena sampai kapan pun ia tak akan menerima kejadian pada masa itu.
“HAHAHAHA ... kalian berbohong padaku, kata-kata itu hanya sebuah kebohongan, kenapa perlu menenangkanku? pada akhirnya kalian tetap saja membohongiku, hei!”
Riko terus berdebat dengan kekecewaannya sendiri, ketika cahaya pilar itu menghilang, ia merasa benar-benar ingin menghancurkan semua hal yang ia temui. Namun, sayang sekali saat ini di sekitarnya hanyalah ruang hampa yang gelap, ia tak bisa menemukan apa-apa selain dirinya sendiri.
Di tengah kekacauannya muncul sebuah cahaya, kupu-kupu berwarna biru datang menghampirinya seakan berkata, “Hiduplah dengan tenang, apapun yang terjadi kau tetap lakukan yang terbaik.”
Cahaya kupu-kupu tersebut pun menghilang setelahnya.
“Ibu? kau kah itu?” tanya Riko dalam kesunyian.
Tiba-tiba terdengar suara samar-samar senada dengan hembusan angin pada saat itu.
~ Berbahagialah! ~
“Ibu! di mana kau sekarang? ibu?”
Masih dalam ruang yang sunyi.
“Ibu? ayah? jawablah! aku selalu kesepian.”
Suaranya hanya bergema tanpa ada jawaban.
~ Kau tidak sendirian ~
Suara tak asing yang pernah ia dengar pun kembali terngiang, dan mungkin saja itu hanya halusinasi dari emosi kacaunya saat ini.
“Pergilah! aku hanya ingin sendiri ... jangan menggangguku lagi, semuanya pergi saja, sialan!”
Cahaya ungu pun berkobar dalam bayangannya ia benar-benar dibuat stress oleh ilusi yang tak jelas dari mana datangnya. Tak lama kemudian kupu-kupu biru itu pun kembali muncul dengan jumlah yang lebih banyak lagi. Riko menekan kepalanya sembari menahan seluruh emosi negatif dalam kepalanya.
“DIAMMM!”
.
.
Udara dingin berhembus, Riko perlahan bangun dan melihat sekitarnya. Ia masih tampak tergeletak di lantai dengan jendela yang terbuka.
Dengan perlahan ia mulai bangkit sembari menahan kepalanya yang masih terasa sakit. Ia baru saja terbangun dari mimpi buruknya dan mencoba untuk menutup jendela terlebih dahulu.
‘Sialan, mimpi yang sangat mengerikan ... tapi sudahlah, dengan begini aku pun tahu untuk apa aku berada di dunia ini, orang tuaku dulunya adalah seorang exorcist, dan aku kehilangan mereka karena monster menjijikan itu, jadi berilah aku kesempatan untuk membalaskan dendam itu.’
“Rion, entah kenapa aku mengingat nama sialan itu ... tapi biarlah, hanya saja ada satu kalimat yang perlu aku lengkapi bahwa aku memang tidak sendirian tapi aku hanya kesepian, tentunya kau pun tak bisa menyangkalnya, bukankah kau juga selalu merasakan hal itu ... Rion?” gumam Riko dalam keadaan yang lebih tenang.
.
.
.
TBC