
Rion pun langsung berjalan menuju arena. Memberi salam hormat seperti biasa sebelum memulai, Rion berusaha lebih tenang dan berhati-hati agar bidikan anak panah pertamanya tidak sampai mengecewakan.
Riko yang sedang menonton pun merasa sedikit tak tenang. Meskipun beberapa tembakan permulaannya terbilang sukses, tetapi untuk bisa bersaing merebut posisi kedua masih belum cukup untuknya.
Pada anak panah berikutnya, akurasi tembakan Rion pun mulai menurun, meskipun sudah berusaha keras tampaknya ia sedang mengalami sedikit kesulitan, selain itu ia juga terlihat cukup kelelahan.
'Aku harus tenang ... masih ada beberapa anak panah lagi untuk bisa merebut posisi rank kedua, tapi untuk itu aku tak boleh meleset sama sekali.’
Rion menarik napas dan mencoba menenangkan dirinya sendiri, ia berusaha untuk tidak terpengaruh keadaan sekitar. Dalam hiruk pikuk sorakan penonton, tiba-tiba ia mendengar suara Riko yang berteriak menyemangatinya.
“Rion! berjuanglah ... kau pasti bisa!” teriak Riko dengan lantang.
Rion yang mendengar teriakan itu pun tersenyum dan mengangkat wajahnya dengan perasaan lega.
“Tentu saja adik bandel, aku juga tak ingin kalah begitu saja,” gumam Rion yang kembali berekspresi serius.
Dengan fokus dan langkah berhati-hati, Rion memulai ritme tembakan harmonis yang lebih baik. Saat ini anak panah yang ia lepaskan masih bisa stabil untuk mengenai titik sasaran.
Namun, ketika mulai mengambil deretan anak panah terakhir ia kembali goyah, akibatnya score pun semakin menipis. Pada anak panah terakhir ia harus bertaruh pada satu bidikan sempurna. Jika ia berhasil mendapatkan score sempurna maka posisi rank kedua telah berhasil direbutnya, begitu pula sebaliknya jika ia gagal mendapat score bidikan yang sempurna maka ia juga akan gagal mendapatkan posisi kedua.
'Baiklah, ini adalah pertaruhan terakhir ... apapun hasilnya nanti, aku harus bisa menerimanya,' bhatin Rion yang mencoba untuk tetap tenang.
Riko yang menyaksikan perjuangan terakhir saudara tirinya itu pun ikut merasa deg-degan, akankah Rion bisa menyelesaikan tantangannya?
Setelah menarik napas panjang, Rion mulai menarik busurnya dengan rentang. Ia terlihat lebih tenang dan rileks, ancang-ancangnya yang begitu indah membuat penonton terkagum-kagum, bahkan Riko pun bisa melihat hal itu.
'Sangat indah dan sempurna, sebenarnya hal yang ingin aku kejar itu, yang membuatku menjadi iri hanya dengan melihatnya saja ... bahkan meskipun saat ini dunia melihatku berada selangkah di depannya, tapi rasanya ... aku masih tertinggal jauh dibelakangnya, apa yang membuatnya menjadi begitu berbeda, hingga orang-orang terpenting pun bisa melupakanku hanya untuk melihatnya?' pikir Riko dengan perasaan yang bimbang.
Sebelum Rion melepas anak panah terakhirnya, sekali lagi Riko berteriak lantang memberi sorakan penyemangat untuk kakak tirinya.
“Rion! berjuanglah ... apapun hasilnya nanti aku selalu mendukungmu,” teriak Riko dengan tegas.
Mendengar hal itu membuatnya sedikit lebih lega dan tenang.
“Baiklah, ini yang terakhir.”
Saat anak panah akan dilepaskan, Riko menatap saudaranya dengan intens. Dalam ancang-ancang yang sempurna ia melihat ada sesuatu yang tak beres ketika Rion melepas anak panahnya.
Whurrr ....
Rion pun melepaskan anak panah terakhirnya.
“Aww, sial ... kenapa harus sekarang,” umpat Rion sembari menahan tubuhnya untuk tetap berdiri tegak.
Saat hasil akhir telah ditentukan, penonton pun kembali bersorak. Namun, sayang bidikan terakhir Rion gagal untuk mencapai nilai sempurna, karena itu masih ada selisih kurang pada score terakhir Rion yang membuatnya gagal untuk meraih rank kedua pada kontes kali ini.
Walaupun demikian, setidaknya ia masih mendapat peringkat ketiga. Riko hanya menghela napas sambil menatap ke arah Rion.
'Hmm, sepertinya dia akan merasa kecewa dan sedih saat ini ... mungkin aku perlu menghiburnya sejenak,' bhatin Riko yang sedikit iba melihat saudaranya tirinya merasakan kekalahan.
Setelah semua persiapan selesai, bagi peserta peringkat 1-3 pun dipersilakan untuk menaiki arena, kemudian masing-masing dari mereka akan menerima penghargaan yang sangat penting dari organisasi besar exorcist, tak hanya itu ... di sana masih terdapat banyak hadiah-hadiah khusus yang telah disiapkan para panitia.
Riko merasa senang bisa berdiri di sana sebagai peringkat pertama. Namun, di saat yang bersamaan pula ia merasa sedih untuk saudaranya.
Tepuk tangan yang meriah terasa hampa saat Riko dengan jelas menatap ke arah Rion.
'Hei, apa ini? apa hanya perasaanku saja atau bagaimana? dia Rion ... meskipun selalu memasang ekspresi yang tenang, tapi entah kenapa rasanya dia begitu menderita ketika aku benar-benar memperhatikannya,' pikir Riko dengan perasaan sedikit bersalah.
Karena terlalu banyak melamun, Riko pun tak menyadari bahwa Rion sedang menatap ke arahnya.
“Hei Riko ... kenapa melihatku seperti itu? apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Rion ramah.
“Eh, bukan apa-apa kok!” sahut Riko yang kembali tersadar dan memalingkan wajahnya.
'Arrghh ... bodoh sekali kau! malu-maluin aja,' bhatin Riko yang merasa kesal karena kecerobohannya sendiri.
“Jangan khawatir, aku baik-baik saja ... posisi ketiga juga tidak begitu buruk, setidaknya kau berhasil meraih yang pertama ... itu sudah cukup membuatku lega, selamat ya atas keberhasilanmu,” ucap Rion dengan senyuman ramah kepada saudaranya.
“Terima kasih, tapi bukan itu ... kau, apa keadaanmu benar-benar baik? kulihat kau tak seperti biasanya,” balas Riko agak ragu.
“Tak perlu khawatir, aku hanya sedikit kelelahan karena kondisi yang belum stabil ... hanya butuh istirahat sebentar, nanti juga normal lagi,” balas Rion tenang.
“Bukan khawatir, aku hanya penasaran saja kok ... yasudah, kalau begitu setelah ini istirahatlah yang banyak, kau menyebalkan sekali,” ucap Riko dengan acuh.
“Um, jangan lupakan kau juga kelelahan,” jawab Rion sembari tersenyum.
Setelah acara penyerahan penghargaan selesai dilakukan, mereka semua diizinkan untuk bubar dan kembali turun dari arena. Untuk selanjutnya ada berbagai macam acara-acara hiburan yang dipertunjukkan serta dengan berbagai hidangan yang telah di siapkan di sana.
Riko dan Rion pun segera turun kemudian berjalan menuju tempat ayah mereka menunggu.
“Ayah! aku berhasil, yay!” teriak Riko dengan bersemangat.
“Riko, kamu benar-benar hebat ... ayah sangat bangga, juga Rion ... kalian berdua sama-sama hebat, dua bersaudara dengan pencapaian yang hebat, mari kita rayakan bersama!” seru sang ayah.
“Hore! ayo rayakan bersama, kita makan-makan sampai puas,” balas Riko yang terlihat kegirangan.
“Aku masih gagal hari ini ... tak ada yang perlu dirayakan, kalian saja yang makan malam ini ... aku cukup lelah dan akan beristirahat di sini semalam, besok pagi baru aku akan kembali,” sela Rion dengan emosi yang dingin.
“Baiklah, kalau begitu kamu istirahatlah lebih dulu, nanti kami akan menyusulmu dan jika membutuhkan sesuatu katakan saja, ayah akan menyiapkan semua kebutuhanmu,” balas sang ayah dengan lembut.
“Baiklah, terima kasih ... aku pergi dulu, kalian bersenang-senanglah di sini,” ucap Rion sebelum pergi mencari ruang untuk beristirahat.
Riko dan sang ayah pun mulai mengambil beberapa hidangan untuk mereka sajikan bersama. Sambil berbincang-bincang Riko menunjukkan berbagai keahliannya pada sang ayah, karena biasanya ia sangat jarang bisa bermain bersamanya.
Saat sedang asyik bercerita, tiba-tiba datang seseorang yang menginterupsi kegiatan mereka.
“Oi anak bandel!” seru anak itu pada Riko.
“Eh, si curut tengik ... hampir lupa dengan keberadaanmu, dari mana saja? ayo ikut makan bersama kami!” seru Riko dengan mood yang cukup baik.
“Baiklah, hari ini saudaraku sedang kelelahan dan memutuskan beristirahat semalam di sini, karena itu aku dan ayah juga akan ikut menginap di sini, jadi kemungkinan besok aku akan sedikit terlambat,” balas Riko.
“Tidak masalah, kau beristirahatlah yang cukup ... ah iya, aku ada sesuatu untukmu, ini bukanlah hadiah yang besar tapi terimalah!” jawab anak itu sambil menyodorkan sesuatu pada Riko.
“Woah, lonceng kecil! lucu sekali ... akan aku simpan baik-baik, mungkin aku perlu membeli kalung untuk menggantung benda ini, yeah sangat keren ... terima kasih ya! aku suka,” seru Riko yang begitu bersemangat memainkan serta melihat setiap sisi dari lonceng tersebut.
“Syukurlah kalau kau suka, oiya ... aku belum bertemu saudaramu, jadi kau sampaikan saja salamku dan jangan terlalu memaksakan diri, itu saja sih ... kalau begitu aku pergi dulu ya sampai jumpa,” balasnya sebelum membalikkan badannya.
Ketika anak itu akan mulai melangkah, Riko pun kembali berteriak memanggilnya.
“Oi curut, aku hampir lupa ... ngomong-ngomong siapa namamu?” tanya Riko sambil melambaikan tangannya.
“Chuyan, kau boleh memanggilku seperti itu,” jawabnya dengan terburu-buru.
Setelah benar-benar pergi, Riko pun kembali menatap pemberiannya tadi, ia sangatlah senang menerima hadiah dari seorang teman, ia pun langsung menyimpan benda tersebut dalam sakunya.
Sampai acara tersebut hampir berakhir, Riko pun mulai membereskan barang-barang bawaannya sebelum akhirnya pergi mencari tempat di mana Rion beristirahat.
“Ayah, aku pergi istirahat dulu ... ayah nanti menyusul ya!” pinta Riko sembari membawa barang-barang miliknya.
“Baiklah, kamu datang saja ke ruangan kakakmu ... nanti ayah menyusul,” balas sang ayah sembari menepuk-nepuk pundak Riko.
“Iya ayah! tapi di mana ruangan Rion berada?” tanya Riko polos.
Sang ayah pun mengambil sesuatu dari sakunya lalu diberikan pada Riko.
“Ini kartu ruangan kakakmu, kau sesuaikan saja nomor ruangannya dengan nomor kartu ini,” jawab sang ayah sambil menyerahkan benda tersebut.
“Baik ayah, terima kasih!” jawab Riko sebelum pergi dari sana.
Riko pun mulai mencari nomor ruangan yang diberikan ayahnya. Tak membutuhkan banyak waktu ia pun sampai di depan ruangan istirahat saudara tirinya.
'Tempat ini cukup dekat dengan aula, bukan hal sulit untuk bisa menemukannya,' bhatin Riko yang hendak memasuki ruangan.
Tanpa mengetuk pintu ataupun mengucapkan permisi, Riko pun langsung masuk begitu saja, selain itu kamarnya juga tidak dikunci jadi ia bisa masuk dengan bebas.
Karena tidak menyadari keberadaan Riko sebelumnya, Rion pun jadi terkejut dibuatnya. Meskipun sedikit kesal dengan kelakuan Riko, tetapi ia mencoba untuk memakluminya.
“Riko, biasakan untuk mengetuk pintu atau mengucapkan permisi dulu sebelum kau masuk ke kamar orang,” ucap Rion dengan nada yang agak tinggi sembari mengambil pakaian untuk menutupi dirinya yang masih setengah telanjang.
“Maaf, tapi Rion kau ...,” balas Riko yang langsung berjalan cepat mendatangi saudara tirinya.
Riko sedikit khawatir dengan apa yang ia lihat, kemudian ia mencoba untuk memastikannya kembali.
“Rion, kenapa tubuhmu penuh dengan luka dan lebam, apa yang telah terjadi?” tanya Riko sembari menarik salah satu lengan pakaian milik Rion.
“Yah, sebenarnya ini kecerobohanku sendiri karena tak berhati-hati hingga terjatuh saat sedang latihan,” balasnya canggung sambil berusaha meyakinkan Riko.
“Jadi kau gagal hari ini karena luka lebam di lenganmu yang cukup parah, kenapa tak memberitahuku sebelumnya?” protes Riko yang mencoba menahan emosinya.
“Ini hanya luka biasa, jangan sampai mengganggu konsentrasimu saat kontes berlangsung hanya karena memikirkan hal tak penting seperti ini,” balas Rion tenang.
“Tapi ... bagaimanapun itu, aku tak bisa mengabaikan orang yang sedang terluka, kenapa kau begitu tak jujur denganku ... jika sudah begini, bagaimana kau nanti menghadapi ibumu, bagaimana jika ia menghukummu yang sedang terluka?” bentak Riko yang semakin emosional.
“Tenang saja, aku bisa menghadapinya ... dia adalah ibuku, jadi sudah mengerti apa yang perlu dilakukan untuk memberinya penjelasan,” balas Rion sembari mengusap-usap kepala adiknya.
“Kenapa kau bisa sekejam ini pada dirimu sendiri? aku benar-benar membenci itu, tak bisakah kau lebih memperhatikan dirimu sendiri, sedikit saja untuk tak perlu memikirkan orang lain,” ucap Riko yang mulai meneteskan air matanya.
Dengan lembut Rion meraih adiknya lalu memeluknya dengan kasih sayang. Ia sebenarnya masih bingung, memikirkan bagaimana cara untuk mengatasi semua masalah yang ada saat ini, terlebih lagi ia masih memikirkan orang yang ia ingin lindungi. Terkadang merasa ingin kabur dari takdirnya, tetapi ia juga berpikir jika lari hari ini, mungkin suatu hari ia akan menyesal saat waktu tak bisa kembali lagi.
“Jangan bersedih, jika kau lemah ... dunia akan menghancurkanmu, mereka tak akan pernah memberi kesempatan, karena itu jadilah kuat untuk mengatasi semua masalah dan ketidakadilan di dunia ini,” lirih Rion yang mencoba menenangkan Riko.
“Kenapa mengatakan hal itu? memangnya kau mau ke mana?” tanya Rion dengan suaranya yang parau.
“Tidak ke mana-mana, aku hanya ingin memberitahumu ... kau harus bisa menjadi lebih dewasa ketika tak memiliki seseorang yang bisa diandalkan, lagi pula aku juga tak bisa selalu berada di sisimu ... jadi kau jangan terlalu cengeng, jadilah lebih kuat!” pinta Rion.
“Aku akan, sudah jelas aku harus menjadi kuat, untuk ibuku dan semua hal yang sudah terjadi ... aku akan membalasnya suatu hari nanti,” jawab Riko yang kembali teringat.
“Baguslah, kalau begitu jangan menangis lagi dan segeralah beristirahat,” pinta Rion ramah.
“Nanti saja, aku bantu obati lukamu dulu,” jawab Riko yang langsung bangkit untuk mengambil kotak obat dan perban.
Dengan penuh hati-hati Riko pun mulai membantu mengaplikasikan obat untuk luka memar dan lebam lalu membalutnya dengan perban. Meskipun keterampilan Riko masih belum bisa dikatakan cukup, tetapi Rion selalu memakluminya dan akhirnya ikut menyelesaikan sisanya.
Setelah selesai, Rion pun merasa sedikit aneh karena perban pada lengannya terlalu tebal dan berantakan. Ia tak ingin menyinggung perasaan adiknya, jadi ia hanya membiarkannya seperti itu.
“Sudah selesai! meskipun masih berantakan tapi sudah tertutup sempurna, sekarang kau bisa beristirahat dengan tenang, yosh!” seru Riko yang cukup bersemangat.
“Ah, terima kasih kalau begitu kau juga istirahat dulu,” jawab Rion dengan lembut.
“Enggaklah, aku masih sehat dan ini masih belum jam tidur, kenapa harus tidur awal? aku bahkan belum mandi, kau sajalah! yang sakit itu kan cuma kau ... aku mau mandi dulu, selamat tidur kalau begitu dan satu lagi tadi si curut tengik titip salam dan meminta kau untuk tidak terlalu memaksakan diri, aku tak begitu mengerti tapi yang dia katakan ada benarnya juga, jadi kau jangan ke mana-mana lagi, harus sembuh dulu ... baru lanjut musuhan lagi,” balas Riko yang mulai cerewet sebelum pergi ke kamar mandi.
“Okelah, kalau bertemu dengan orang itu lagi ... jangan lupa sampaikan pesan terima kasihku untuknya, dia sudah banyak membantu terutama untukmu,” balas Rion dengan ekspresi tenangnya.
“Oke!” jawab Riko singkat.
Riko pun langsung melanjutkan aktivitasnya, begitu pula dengan Rion yang segera beristirahat untuk memulihkan keadaannya.
.
.
.
TBC