
Dalam perjalanan pulang, Fuurin dan Juan pergi bersama. Karena hari ini Riko tidak masuk sekolah, jadi Juan cukup merasa kasihan jika membiarkan Fuurin pulang seorang diri. Seperti biasa mereka cukup akrab dan banyak berbincang-bincang, meskipun terkadang mereka juga berkelahi dan adu mulut.
“Oii Juan, ngomong-ngomong hari ini Riko tidak masuk sekolah jadi sepi yah,” ucap Fuurin dengan nada yang malas.
“Haah ... kenapa? baru sehari saja kau sudah merindukannya, hmm,” goda Juan sembari menoleh dengan tatapan curiga.
“Habisnya, sehari saja itu sudah seperti berepisode-episode tau!” seru Fuurin dengan tekanan nada yang agak tinggi.
“Pftt ... jadi berapa episode untuk orang yang sedang jatuh cinta?” tanya Juan penuh maksud sembari menahan tawanya.
“Siapa juga yang suka, kebanyakan flashback, sialan!” balas Fuurin kesal sambil berusaha menonjok wajah menyebalkan Juan.
Sopir Juan pun menghela napas singkat, mereka berdua memang selalu seperti itu. Namun, itu menunjukkan bahwa mereka berdua memang cukup akrab.
Tak lama kemudian mobil mereka tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
“Oii Juan! ini sopirmu kenapa sih tiba-tiba berhenti, bikin kaget saja,” teriak Fuurin kesal.
“Hmm, sepertinya ada sedikit gangguan di depan sana,” sahut Juan tenang dengan tatapan yang tajam.
“Maaf tuan muda Juan dan nona Fuurin, sepertinya ada seorang nona di depan sana yang sedang kesulitan, saya coba periksa dulu,” sela sopir Juan yang tampak agak khawatir.
“Tak perlu khawatir, kita tidak menabraknya sama sekali, jadi tak ada yg perlu ditakutkan ... biar aku dan Fuurin saja yang melihatnya,
mungkin dia hanya terjatuh saja,” jawab Juan masih dengan reaksi santainya.
“Kalau begitu ayo kita lihat nona itu, mungkin dia perlu bantuan,” timpal Fuurin.
Mereka berdua akhirnya keluar dari mobil dan pergi menuju tempat orang yang sedang terduduk di depan sana.
“Hei nona! apa kau baik-baik saja?” tanya Fuurin sembari berjalan cepat ke tempat orang tadi.
Gadis itu pun menoleh ke arah dua orang yang sedang berjalan ke arahnya.
Fuurin cukup terkejut saat melihat wajahnya yang tak asing lagi, tetapi ia tetap datang untuk membantunya.
“Eh, Lisa?”
“Kau ... teman sekelasnya Riko kan? kebetulan sekali ya,” ucap Lisa cukup ramah.
“Iya, ngomong-ngomong kau sedang apa di sini?” tanya Fuurin penasaran.
“Tadi aku sempat terserempet sepeda motor yang ugal-ugalan, jadi kakiku masih sedikit sakit dan aku sedang berusaha berdiri dari tadi,” jelas Lisa.
“Begitu ya, baiklah! kalau begitu mari aku bantu kau berjalan sampai ke pinggir sana,” ucap Fuurin.
Ia pun membantu Lisa sampai ke pingggir jalan dan duduk di bangku jalanan. Juan terdiam malas dan hanya mengikuti alur mereka berdua saja. Sebelum itu, Fuurin juga membantunya untuk membereskan buku-buku dan beberapa benda yang sedang dibawa oleh Lisa.
Fuurin pun teringat kalau ia masih menyimpan bubuk herbal yang sempat diberikan oleh senior Ran sebelumnya. Lalu ia menggunakan itu untuk membantu mengobati kaki Lisa yg sedikit lecet.
“Terima kasih sudah membantuku hari ini, oiya ... ini tadi aku membeli makanan, kebetulan sedang ada promo diskon dan aku membeli lebih ... rencananya mau aku berikan tetangga, tapi sebagai ucapan terima kasih aku berikan kalian berdua, ini makanan favoritku lho! kalian pasti suka,” ucap Lisa bersemangat.
“Eeh, tidak usah lho! aku ikhlas bantuin kok,” balas Fuurin.
“Tidak masalah, terima saja ... aku senang,” tambah Lisa.
“Baiklah kalau begitu, ngomong-ngomong kau mau pulang kan? bagaimana kalau ikut bersama kami saja, Juan meskipun menyebalkan tapi dia baik lho!” ajak Fuurin ramah.
“Tidak usah repot-repot, nanti aku naik taxi saja,” balas Lisa santai.
“Aku sih tidak masalah kalau kau mau ikut, sekalian agar aku tahu di mana tempat tinggalmu,” sela Juan.
“Ah, tidak usah ... terima kasih untuk hari ini, aku naik taxi saja,” jawab Lisa agak canggung.
Tak lama kemudian, akhirnya taxi pun berhenti di sana, lalu Lisa pun segera datang dan berangkat pulang.
“Sampai jumpa, semoga hari kalian menyenangkan ... aku pulang duluan ya,” teriak Lisa sembari melambaikan tangannya.
Fuurin pun hanya membalas dengan melambaikan tangannya juga. Setelah taxi melaju dan benar-benar hilang dari pandangan, mereka berdua pun mulai bergerak menuju mobil, Juan masih terdiam dan berjalan santai di depan Fuurin.
“Oii Juan, bagaimana dengan ini?” tanya Fuurin sambil mengangkat kotak makanan tadi.
Juan pun berhenti, lalu mengambil kedua kotak makanan tersebut.
“Oke, sekarang apa rencanamu?” tanya Fuurin agak malas.
Juan masih saja terdiam dan cuek, ia berjalan cukup santai menuju tempat sampah.
“Heeh, Juan sekali yahh ... sayang sekali makanannya,” sahut Fuurin.
“Huftt ... lagipula untuk apa juga kau menolongnya, dia itu musuh dan kita sudah sepakat untuk menyingkirkannya bukan, dia juga hanya parasit di antara kau dan Riko, sebaiknya biarkan saja tadi,” ungkap Juan agak kesal.
“Oii ... oii ... kau jangan berbicara seakan-akan aku itu orang jahat, dan yahh ... memang benar dia musuh, tapi mengabaikan orang seperti itu juga tak baik tau! aku hanya menolongnya atas dasar kemanusiaan saja,” balas Fuurin dengan tegas.
“Baiklah, lupakan saja ... ayo kita kembali ke mobil, dan satu hal yang perlu aku ingatkan agar kau jangan menerima hal apapun itu darinya, mengerti!” pinta Juan dengan cukup serius.
“Okeh, siap tuan jamur.”
Akhirnya perjalanan mereka pun kembali dilanjutkan. Sesampainya mengantar Fuurin, Juan dan sopirnya langsung kembali menuju perjalanan pulang.
.
.
Fuurin terlihat cukup bersemangat hari ini, melihat hal itu sang ibu pun menghampiri dan mengajaknya berbincang-bincang sejenak.
“Bagaimana sekolahmu hari ini? seperti kamu terlihat cukup ceria,” tanya sang ibu.
“Ya cukup baik, dan sore nanti aku ada tugas kelompok bersama teman sekelas, kemungkinan akan lama ... jadi, aku berencana untuk menginap di sana semalam saja, boleh kan bu?” tanya Fuurin penuh harap.
“Boleh saja ... tapi jangan banyak merepotkan temanmu ya, dan berhati-hatilah,” lirih sang ibu.
“Baik bu, tentu saja aku akan berhati-hati.”
Di tengah perbincangan Fuurin dan ibunya, tiba-tiba datang sang ayah untuk ikut bergabung.
“Oh Fuurin ... sudah pulang ya, mandi dulu sana, setelah itu kita makan bersama,” ucap sang ayah.
“Yosh! kalau begitu aku mandi dulu.”
Fuurin pun langsung meluncur ke kamar mandi dengan cukup bersemangat.
Setelah menyelesaikan kegiatannya, ia pun bersiap-siap untuk belajar dan mengerjakan PR. Sekitar satu jam telah berlalu akhirnya ia selesai juga, sang ibu pun sudah memanggilnya dan ia segera datang ke ruang makan untuk makan bersama.
Mereka terlihat sangat dekat dan penuh dengan keceriaan, cukup banyak yang hal yang Fuurin ceritakan. Namun, terakhir ia juga perlu membahas tentang kegiatannya setelah ini.
“Ayah, hari ini aku ada kerja kelompok di rumah teman dan sekalian akan menginap di sana,” ungkap Fuurin.
“Iya boleh-boleh saja, tapi ingat untuk menjauhi hal-hal berbahaya, kau jangan melakukan hal yang aneh-aneh, mengerti!” seru sang ayah.
“Okedeh! tidak perlu khawatir,” balas Fuurin dengan percaya diri.
“Hmm baiklah ... ayah ingin mengingatkan lagi, meskipun kau sudah tahu banyak tentang exorcist, tapi jangan terlalu banyak terlibat hal-hal yang berbahaya, itu saja.”
“Arghh ... aku ingin belajar lebih banyak lagi tentang exorcist dan menjadi lebih kuat, tentu saja untuk melindungi diri sendiri, kalian berdua dan orang lain,” jawab Fuurin dengan tegas.
“Ayah hanya mengkhawatirkan keadaanmu saja, kau mengerti kan? apalagi tentang berita-berita mengejutkan saat ini, ada banyak sekali misteri berbahaya yang sebaiknya kau hindari di luar sana,” jelas ayahnya.
“Karena itu aku harus menjadi lebih kuat, dan jangan khawatir apapun yang terjadi itu adalah takdir ... meskipun aku memilih selamat di kota A, mungkin saja akan tersesat di kota B ... jadi jalan apapun yang kupilih, hasil akhir tetaplah sama.”
“Huh baiklah, yang terpenting tetaplah berhati-hati,” sahut ayahnya yang mulai melemah.
“Jangan lupa jaga kesehatan dan tidur yang teratur, pola makanmu juga harus dijaga ya,” tambah ibunya sembari mengusap-usap kepala Fuurin.
“Huft ... hei kalian, aku cuma menginap sehari bukannya piknik selama seminggu, jangan cengeng begitulah! aku cuma pergi ke rumah teman saja kok,” ucap Fuurin sembari menghela napas.
“Baiklah, kalau begitu nanti ayah antarkan kamu ke rumah teman.”
“Tidak usah, aku pergi sendiri saja.”
“Hmm ... baiklah, jaga dirimu baik-baik ya,” sahut ayahnya dengan pasrah.
“Siap!”
Mereka pun kembali melanjutkan makan sore dan beraktivitas seperti biasa.
.
.
.
TBC