Roped Fate

Roped Fate
Ch.82 : Reuni



Di bawah pohon rindang, Andi duduk santai sembari menunggu Shin datang untuk menghampirinya.


“Yo, Shin! kemarilah!” seru Andi santai.


Shin pun langsung menghampiri dan duduk di sampingnya.


“Aku tahu, kau pasti sudah mengetahui semua tentang kejadian sebelumnya kan?” ucap Andi santai.


“Begitulah, bukankah kau sudah diperingati untuk tidak melewati perbatasan, bahkan meskipun masih di area pinggiran, kau tak boleh mendekati area itu,” balas Shin yang tampak lebih tenang.


“Ya ... maaf tentang hal itu, aku hanya terlalu bersemangat dan jadi berkeliling terlalu jauh,” ucap Andi sedikit menyesal.


“Dan tentang rubah immortal itu ... apa kau yakin dia benar-benar tidak akan membuat masalah?” tambah Shin sedikit serius.


“Jangan khawatir, kurasa ucapannya bisa dipercaya ... lagi pula aku sudah menolongnya, selain itu juga tampaknya ia pribadi yang apatis, tentunya mencari masalah bukanlah pilihan yang tepat untuknya,” balas Andi santai.


“Baguslah kalau begitu, selama dia tak menyebabkan masalah ... selain itu kemampuan khusus yang diberkati rubah itu tampaknya sangat berguna dan cocok untukmu, aku cukup terkesan dengan keberuntunganmu, ahahaha ...,” ucap Shin dengan sedikit terkekeh.


“Aku bahkan lebih heran dengan kemampuanmu itu yang hampir mendekati Tuhan, bagaimana kau bisa melihat semua kejadian dengan begitu detail, sungguh mengkhawatirkanku,” balas Andi sembari mengerucutkan bibirnya.


“Ahahaha ... karena itu memang kemampuan khususku, tak ada yang perlu dikhawatirkan, aku tak selalu melihat setiap hal, jadi tak perlu berpikir aku akan ikut campur dalam urusan privasi, hehehe,” balas Shin sembari memasang ekspresi berseri.


“Dasar immortal error! ternyata kau bisa berbahaya juga, lain kali aku harus lebih waspada lagi,” sindir Andi.


“Ahahaha, baiklah kalau begitu lupakan saja tentang hal tadi, hanya saja kau tak perlu menceritakannya pada orang lain termasuk dua sahabatmu,” tambah Shin memberi peringatan.


“Tenang saja, aku tak akan memberitahu siapa pun yang berpotensi membahayakan diriku, bahkan temanku sendiri,” tegas Andi sembari tersenyum.


Beberapa menit berlalu mereka pun mengakhiri perbincangan tadi, kemudian kembali ke tempat Rein dan Hita beristirahat sebelumnya.


****


Di hari berikutnya, mereka bertiga tetap berlatih seperti biasa, baik di immortal maupun di pelatihan organisasi. Semakin hari teknik dasar bertarung mereka semakin berkembang.


Namun, setelah level pelatihan mereka naik, ketiganya pun jarang untuk bisa pergi menemui Shin. Semakin cepat perkembangan mereka maka semakin ketat pula latihan yang diberikan.


Bahkan kebebasan mereka pun perlahan terkekang, mereka juga dilarang untuk menggunakan nama asli ketika berinteraksi dengan kelompok exorcist lainnya. Sebagai gantinya mereka diberi kode nama dari organisasi untuk identitas masing-masing.


Tentu saja mereka tak senang akan hal itu, meski begitu mereka tetap akan mematuhi aturan organisasi, hanya saja identitas yang digunakan adalah nama pemberian dari sahabat immortalnya.


****


Beberapa bulan telah terlewatkan, meskipun masih anak-anak, kemampuan dasar mereka sudah cukup baik untuk bisa berlatih ke tahap berikutnya. Karena keadaan organisasi saat ini masih cukup stabil, mereka akhirnya mendapat kelonggaran waktu beristirahat.


Setelah cukup lama tak berjumpa dengan kawan immortalnya, akhirnya mereka bisa berkumpul kembali, Shin juga tampak senang. Sebelum waktu liburan mereka berakhir, sebisa mungkin ketiganya memanfaatkan waktunya untuk berlatih ke dunia immortal bersama Shin.


****


Namun, ketika waktu bersantai mereka telah berakhir, ketiganya pun kembali melanjutkan pelatihan exorcist seperti sebelumnya, hanya saja kali ini mereka tak memiliki kesempatan seperti sebelumnya. Selain pergi ke sekolah, mereka tak diizinkan memiliki kegiatan luar lainnya.


Selain biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari mereka juga dibiayai oleh pihak pengurus organisasi. Jadi, keseharian mereka yang telah dibayar itu tak bisa melanggar peraturan yang berlaku.


Setahun berlalu setelah peristiwa sebelumnya, mereka tak memiliki kebebasan sama sekali, bahkan untuk sekali saja mereka tak bisa bertemu dengan Shin. Kehidupan sosial mereka pun sangat terbatas, semakin lama pandangan mereka dipaksa untuk menyempit, yaitu fokus ke depan hanya untuk kepentingan organisasi saja.


‘Apakah benar seperti ini?’ tanya Andi pada dirinya sendiri.


Pada tahap ini, mereka mulai diperkenalkan suatu teknik segel khusus. Namun, sedikit mengejutkan bahwa ternyata segel yang diajarkan pada mereka adalah teknik segel iblis.


Segel iblis berbeda dengan segel biasa, energi yang digunakan bukanlah berasal dari energi spiritual yang murni, akan tetapi dari energi kegelapan dan iblis. Dengan menggunakan segel tersebut manusia telah membuat persetujuan dan meminjam kekuatan dari kegelapan itu sendiri.


Tak seperti segel biasa yang memiliki energi lebih terbatas dan menyesuaikan spiritual dari penggunanya, segel iblis memiliki energi yang tak terbatas. Namun, dampak negatif yang ditimbulkan juga bukanlah hal yang sepele, dengan energi yang sangat besar semakin banyak mereka menggunakan teknik tersebut maka semakin besar energi negatif yang terperangkap dalam tubuh mereka dan perlahan akan menghancurkan mental maupun fisik penggunanya.


Andi dan kedua temannya tentu tak memahami hal itu, mereka hanya mengikuti apa yang diinstruksikan oleh pengurus latihan.


****


Setelah berlatih selama tiga bulan, Andi dan kedua temannya mulai memahami teknik dasar segel iblis, meskipun latihan mereka berjalan dengan cukup baik, tetapi Andi selalu merasa gelisah dan khawatir.


Namun, di suatu ketika pada kegiatan mereka yang sangat ketat itu, tiba-tiba ada pemberitahuan hari libur sementara dalam waktu yang tak di tentukan.


Pada saat itu diberitakan bahwa iblis cahaya ungu kembali muncul di suatu tempat, para senior dan anggota inti lainnya dikumpulkan dan akan segera berangkat menuju lokasi di mana kelompok lainnya sedang bertarung saat itu untuk memberi bantuan.


Andi, Hita, dan Rein merasa sedikit lega dengan hari libur yang sangat jarang itu. Tentu saja ketiganya tidak diberitahu mengenai berita serangan iblis tersebut. Selain masih pemula, mereka juga hanya anggota luar yang tentunya tak bisa mengakses berita sekaligus misi penting di kelompok tersebut.


Tak ingin menyia-nyiakan waktu yang berharga, mereka bertiga berencana untuk segera menemui sahabat immortalnya.


“Aku harap Shin masih mau datang ke tempat itu,” gumam Hita.


“Tenang saja, Shin itu sangatlah pengertian ... dia pastinya sudah tau tentang kesibukan kita, aku yakin saat ini dia pasti masih menunggu kita di sana,” sahut Rein bersemangat.


“Kalau begitu kita pergi sekarang, meskipun waktu terbatas, setidaknya kita masih bisa bertemu dan bertukar kabar, sisanya masih ada esok hari,” ajak Andi dengan wajah yang berseri.


“Baiklah, ayo kita berangkat!” seru Rein dan Hita serempak.


****


Mereka bertiga akhirnya berangkat menuju hutan seperti sebelumnya. Beberapa waktu berlalu dan mereka pun sampai ke tempat tujuan. Mereka bertiga langsung berlari menaiki tangga kuil yang ada di sana. Saat sampai di atas, tampak Shin yang sedang berdiri menyambut ketiganya.


“Yo! Shin lama tak berjumpa ... bagaimana kabarmu?” pekik Rein dengan bersemangat.


“Baik, kalian bertiga bagaimana?” balas Shin lembut.


“Cukup baik, seperti yang kau lihat ... mungkin aku sudah menjadi lebih kuat lagi hehe,” sahut Rein yang masih tampak riang.


“Benar, meskipun hari-hari kami cukup berat dan melelahkan, tapi itu cukup terbayarkan bisa berlatih keras dan berjuang bersama-sama, apalagi hari libur kali ini sepertinya akan cukup lama, jadi kita berempat bisa berlatih bersama-sama lagi,” tambah Hita sembari tersenyum hangat.


“Wah, syukurlah kalau begitu ... lalu bagaimana denganmu?” tanya Shin lagi sembari melirik Andi.


“Yah, tidak terlalu buruk sih ... meskipun kenyataannya buruk, tapi bertemu denganmu hari ini kurasa adalah hal terbaik selama setahun ini, jadi ini cukup melegakan untuk sementara,” balas Andi dengan tatapan tajam.


“Woah, kritis seperti biasanya ... sepertinya aku mulai menyukaimu, hahaha,” goda Shin sembari terkekeh.


“Heh ... jadi sebelumnya kau tidak menyukaiku, begitu?” tanya Andi.


“Hehehe ... bagaimana kalau aku jawab selalu menyukaimu setiap saat, ya meskipun aku lebih menyukaimu saat kau kesal dan marah-marah tak jelas daripada terlalu serius seperti orang dewasa, menjadi anak-anak bukanlah hal yang buruk, aku ingin melihatmu bahagia juga dengan Rein dan Hita,” balas Shin hangat.


“A...agh, kalian berdua selalu saja seperti ini, entah kenapa hubungan kalian tidak biasa ... aku sedikit curiga hmm,” sindir Rein.


“Tentu saja ... Aku dan Chuyan sedikit berbeda, seperti yang kalian lihat kami sangatlah dekat, hehe ...,” sahut Shin dengan wajah yang berseri.


“Hmm ... okelah, kalau begitu aku dan Hita berkeliling dulu sambil membersihkan kuil, kalian berdua boleh ke pinggir, waktu dan tempat dipersilakan untuk berduaan, kalau sudah selesai reuni pribadi kalian, kita bisa berkumpul lagi, oke?” balas Rein sembari mengerucutkan bibirnya.


“Oke!” jawab Shin singkat.


Akhirnya Rein dan Hita pergi berkeliling kuil, sementara Shin dan Andi duduk di sekitar pinggiran area kuil untuk sekedar berbincang-bincang dan membahas tentang pengalamannya selama berlatih.


“Huft ... apakah sangat berat latihan kalian? tampaknya kau cukup gelisah,” tanya Shin penasaran.


“Tidak seberat itu, aku hanya merasa ada yang salah ... sangat berbeda dengan latihan di immortal, teknik segel yang kami giati selama tiga bulan terakhir ini kurasa tidak wajar, kulihat energi yang digunakan adalah kegelapan, aku tak yakin itu akan berdampak baik, kau tau sendiri kan tentang kemampuan istimewaku sebelumnya,” balas Andi sedikit murung.


“Tentu saja, setiap hal yang besar pastinya memiliki dampak baik sekaligus buruk dan kau tak bisa memilih salah satunya, kecuali kau memilih tidak sama sekali, jangan khawatir ... selama kau memahami kekuatan itu, gunakanlah dengan bijak dan kalau bisa jangan terlalu sering, energi positif dan negatif bukanlah sesuatu yang bisa dipisahkan, tetapi kau seimbangkan, mengerti?” terang Shin dengan tenang.


“Aku mengerti, tapi ... apa perlu kami lanjutkan berlatih di tempat itu lagi, dari awal saja latihannya sudah tak wajar, bagaimana kami akan menghadapi hal lain ke depannya, mereka benar-benar sudah tak waras, aku hanya khawatir saja,” balas Andi termenung.


Shin hanya mengernyitkan alisnya, ia tak yakin untuk memberi saran yang terlalu berpihak, meskipun dalam hatinya ingin mereka bertiga untuk berhenti, tetapi ia juga tak bisa membatasi keinginan ketiganya untuk menjadi lebih kuat, mengingat kejadian besar yang terjadi sebelumnya, ia juga khawatir tak bisa untuk selalu melindungi teman-temannya.


“Hmm ... kalau tentang tempat latihan aku tak bisa memutuskan, semua keputusan ditentukan kalian bertiga, kalau kau merasa tak bisa lagi ya mungkin bisa pindah, aku sendiri tak yakin sih prosesnya akan semudah itu ... tapi aku beritahu, teknik yang sedang kalian pelajari adalah teknik iblis yaitu energi kegelapan, sekali kalian menyentuh area kegelapan, untuk bisa bertahan di dunia immortal bukanlah hal yang mudah, tapi bukan berarti kalian tak bisa sama sekali ... hanya saja energi kegelapan akan lebih mudah terdeteksi di sana dan untuk kegelapan skala besar maka perlahan energi itu akan terkikis dan dinetralkan oleh energi alam yang ada di sana,” jelas Shin dengan singkat.


“Begitu rupanya, pantas saja aku merasa ada yang aneh ... ternyata dari awal langkah kami sudah salah, meskipun begitu aku masih ingin menjadi lebih kuat untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi dan juga orang lain yang membutuhkan pertolongan,” balas Andi yang semakin frustasi.


Shin pun berdiri dan menepuk-nepuk pundak Andi sembari tersenyum.


“Kita bisa saja membuat kesalahan ataupun memilih jalan yang salah, tapi selama kau memiliki tujuan yang baik, kurasa kau perlu memperjuangkan hal itu, bahkan mungkin akan mengorbankan banyak hal, apapun yang terjadi kedepannya, jangan berhenti menjadi pribadi yang baik, bukan berarti kau menjadi lemah, tapi bisa membedakan mana yang harus kau lakukan dan mana yang tidak, bahkan seandainya jika ada hari aku berubah menjadi sesuatu yang jahat, kau juga harus bisa membunuhku,” lirih Shin masih dengan senyuman hangatnya.


Andi sedikit tertegun dengan perkataan temannya yang cukup tak masuk akal baginya, ia pun berdiri dan memeluk Shin.


“Bodoh! mana mungkin aku membunuh sahabatku sendiri, meskipun saat kau membuat kesalahan yang besar, aku tak akan mampu melakukan hal buruk seperti itu, bahkan jika kau mengatakan itu hal yang benar,” ungkap Andi yang sedikit kesal.


Shin sedikit terkekeh dengan reaksi Andi yang sedikit terbawa emosi.


“Ahahaha, itu hanya sebagai contoh, aku sendiri tak ingin menjadi seperti itu, tapi kau harus mengerti dan bisa membedakan, ketika seseorang membuat kesalahan bahkan yang sangat besar, bukan berarti mereka jahat, tetapi ketika seseorang melakukan kejahatan itu sudah pasti mereka bersalah, kau tak boleh memiliki keraguan saat menghadapi mereka, meskipun kau orang yang baik, tak ada salahnya menjadi sedikit kejam, itu hal yang wajar karena kau adalah manusia,” tambah Shin.


“Apapun itu, aku pasti selalu mengusahakan yang terbaik, meskipun tidak terhitung baik akan tetap aku lakukan selama itu bisa melindungi orang-orang yang aku sayangi, aku tak ingin menjadi orang baik yang tak memiliki hati seperti yang kau harapkan,” protes Andi yang sedikit emosional.


“Ahahaha, baiklah ... aku percaya padamu, jangan khawatir aku juga akan selalu mendukung dan melindungi kalian, jika suatu saat salah satu dari kalian jatuh, datang saja padaku ... aku akan selalu ada untuk membantu,” tegas Shin dengan senyum ramahnya.


“Entah kenapa kau membuatku sedikit sedih, tapi terima kasih untuk semua hal yang sudah kau perjuangkan untuk kami,” balas Andi yang semakin emosional sembari memeluk sahabatnya itu.


Tak lama berselang, tampak Hita dan Rein yang sedang berdiri di depan sana sembari memasang muka masamnya.


“Oi ... oi ... sudah kuduga ada sesuatu diantara kalian, bisa-bisanya kalian bermesraan di tempat terbuka seperti ini,” pekik Rein dengan kencang.


“Bukankah ini hal yang biasa, kalian juga biasa, bukankah sebelumnya kita berpelukan dengan Shin bersama-sama, apanya yang salah?” protes Andi.


“Hmm ... lihatlah Hita! suami masa depanmu dari awal sudah belok, sudah tak ada harapan lagi, mending kau dengan aku saja,” ucap Rein yang cukup percaya diri.


“Hahh ... sejak kapan aku belok, ini bocah pikirannya makin liar saja, Shin sebaiknya kita beri hukuman apa ya, biar kapok,” balas Andi yang mulai jengkel.


“Hei ... sudahlah kalian, mending kita pindah dan ngobrol di tempat yang lebih nyaman, sebelum hari makin sore ... simpan saja debat kalian untuk hari esok,” lerai Hita dengan lembut.


“Baiklah, kalau begitu ayo kita pindah dan duduk di sana ... ada yang ingin aku bahas dengan kalian, sekaligus rencana untuk kegiatan esok hari, bukankah ada banyak hal yang bisa kita bahas hari ini, sudah lama tidak berkumpul seperti hari ini, bukan?” sahut Shin.


“Yosh! aku masih bersemangat ... kita rayakan reuni kali ini!” seru Rein bersemangat.


Akhirnya mereka berpindah ke tempat yang lebih nyaman untuk berdiskusi dan bersenang-senang sebanyak mungkin untuk merayakan reuni kali ini.


.


.


.


TBC