Roped Fate

Roped Fate
Ch.69 : Kontes Dimulai



Hari pun berganti menyambut pagi yang cerah. Riko terbangun lebih awal karena semangat dan ambisinya yang begitu besar. Ia benar-benar ingin menjadi lebih kuat lagi, karena itu ia tak ingin melewatkan waktu-waktu terpentingnya.


Ketika kedua anak elit Riko dan Rion sudah selesai bersiap-siap, mereka berdua pergi ke ruang latihan untuk melakukan pemanasan sebelum mereka berangkat ke tujuan, yaitu gedung acara kontes panahan tingkat exorcist.


Ketika mereka berdua sedang berkumpul dan berlatih di ruangan, tiba-tiba datang seseorang yang datang menginterupsi aktivitas keduanya.


"Riko! Rion!" seru pria paruh baya yang sedang berdiri di depan pintu.


"Paman Sen?" balas Rion datar.


"Ayah!" seru Riko yang lebih bersemangat.


Kemudian sang ayah pun datang menghampiri mereka berdua, begitu juga dengan kedua anak di sana terutama Riko yang langsung saja berlari dan memeluk ayahnya.


"Ayah! kenapa lama sekali baru pulang, aku sangat merindukanmu," rengek Riko yang begitu manja.


"Ayah masih banyak kesibukan, jadi tak bisa selalu menemuimu," jawab ayahnya dengan lembut.


"Hmm, kenapa ayah selalu sibuk sih! aku bosan sekali," protes Riko yang sedikit kesal.


"Kau sudah besar sekarang, anak laki-laki tidak boleh cengeng, kau harus menjadi kuat dan mandiri seperti kakakmu Rion, setidaknya sampai kesibukan ayahmu ini sedikit berkurang, ya?" pinta ayahnya.


"Baiklah, aku sudah lebih kuat kok ... hanya saja masih merindukanmu," jawab Riko agak sedih.


"Iya, ayah juga merindukanmu dan Rion ... jadi bersabarlah sampai urusan ayah selesai," balas sang ayah sembari mengusap-usap kepala Riko.


"Siap ayah!" seru Riko.


"Oiya, Rion bagaimana denganmu? apa semua persiapan sudah lengkap?" tanya ayahnya untuk memastikan kembali.


"Sudah paman ... baik perlengkapanku ataupun Riko, semuanya sudah lengkap, kami hanya perlu sedikit latihan pemanasan sebelum berangkat nanti," jawab Rion dengan intonasi yang tenang.


"Kenapa masih memanggilku paman, sekarang aku adalah ayahmu lho! sama seperti Riko, ayah juga menyayangimu ... jadi tak perlu sungkan," ujar ayahnya dengan lembut.


"Terima kasih, anda sangat baik ... tapi kuharap satu hal ... tolong jangan sayangi aku, dengan begitu aku sudah memaafkanmu dan perhatikanlah Riko dengan baik, dia lebih membutuhkanmu daripada aku," jawab Rion agak dingin.


"Jangan begitu nak, meskipun bukan anak kandung tapi ayah tetap adil pada kalian berdua," lirih sang ayah.


"Karena itu, lupakan saja ... aku bukan siapapun, jangan terlalu menganggap serius tentang diriku," balas Rion tenang tanpa emosi.


Melihat reaksi dan jawaban kurang menyenangkan dari kakak tirinya, Riko merasa sedikit kesal dengan sikapnya pada sang ayah.


"Rion, kau tak perlu begitu memikirkanku ... bersikaplah seperti biasa, aku tak akan marah ataupun sedih ... kau bisa anggap ayahku sebagai ayahmu juga dan jangan berdebat lagi," sela Riko yang merasa tak nyaman dengan reaksi Rion.


"Kau masih belum mengerti apapun, tapi sudahlah! jika kau memang menginginkan hal itu maka aku akan melakukannya, aku akan memanggilnya 'ayah' juga," balas Rion tenang.


"Baiklah, kalian jangan berdebat lagi ... sebelum kita berangkat, ayah ada sesuatu untuk kalian berdua," sela sang ayah.


Pada saat itu juga sang ayah pun langsung menunjukkan sepasang benda yang indah pada mereka berdua.


"Sepasang anting kristal? untuk apa ayah?" tanya Riko polos.


"Ayah menghadiahkan benda ini pada kalian berdua, satunya untuk Riko dan satunya lagi untuk Rion, terimalah!" seru sang ayah dengan senyuman hangat di wajahnya.


"Emm, baik ayah!" jawab Riko patuh.


Keduanya pun menerima benda itu dan berniat memakainya selama kontes berlangsung, benda tersebut menunjukkan tentang eratnya persaudaraan mereka.


"Pakailah! jangan khawatir, anting ini menggunakan sistem magnetic, jadi kalian bisa menggunakannya kapan saja," jelas sang ayah.


"Baiklah ayah!" jawab keduanya kompak.


Karena mereka berdua sudah menyetujuinya, sang ayah pun ikut membantu untuk langsung memakaikannya. Sebelah kanan untuk Riko dan sebelah kiri untuk Rion.


Beberapa waktu pun telah berlalu, setelah semua persiapan selesai dilakukan, mereka langsung bersiap untuk berangkat ke tujuan.


Hari ini Diana tidak ikut bersama mereka dalam perjalanan karena sebagai panitia khusus, ia mungkin akan lebih sibuk hingga harus datang jauh lebih awal dari mereka bertiga.


Sampai di tujuan, mereka langsung berjalan menuju aula depan. Tanpa memperhatikan sekitar Riko pun dibuat terkejut oleh kemunculan seseorang yang tiba-tiba berdiri di depannya.


"Yo! bocah bandel ... bagaimana harimu, sudah siapkah?" tanya seseorang itu.


"Heh, datang juga si bocah tengik ... dan ya, seperti yang kau lihat ... aku 100% siap," jawab Riko penuh percaya diri.


"Hmm, sombong seperti biasanya ya, lama-lama kau ini malah mirip seperti bocah perempuan yang sangat cerewet," sindir anak itu.


"Ahh, sudahlah! lihat saja pertandinganku nanti dan kau akan melihat betapa hebatnya diriku selama ini," balas Riko tanpa menurunkan semangatnya.


"Okelah ... aku percaya kau pasti akan menampilkan sesuatu yang luar biasa hari ini, ya ... meskipun aku sudah sering melihatnya saat kita latihan bersama," sahutnya agak malas.


"Kalau begitu langsung masuk saja biar gak buang-buang banyak waktu," ucap Riko yang langsung mengambil langkah maju.


Dengan semangat dan penuh percaya diri, Riko berjalan tegak menuju aula depan. Sang ayah pun juga kembali melanjutkan langkahnya, begitu pula dengan Rion. Namun, dalam beberapa langkahnya ketika ia melewati teman misterius Riko tadi, anak itu pun menepuk pundak Rion kemudian berbisik padanya.


"Hei, apakah keadaanmu baik hari ini?" tanya anak itu sebelum akhirnya pergi tanpa basa-basi lagi.


Rion hanya menatapnya dari kejauhan, meskipun ekspresinya hanya terlihat datar, ia cukup menanggapi perkataan anak tadi dalam pikirannya.


Hingga sebelum berbalik arah dan menyusul adik tirinya, dalam kekosongan ia pun menjawab.


Pembukaan kontes pun segera dilangsungkan, Riko dan Rion mulai bersiap sembari menunggu giliran mereka untuk tampil.


Pertandingan kontes sangatlah ketat, penampilan setiap kontestan pun juga sangat menarik, masing-masing dari mereka tentunya memiliki keunikannya tersendiri. Riko yang masih duduk menonton juga merasa sedikit gugup, mereka semua adalah saingan yang kuat, tentunya Riko tak ingin kalah di pertandingan ini.


"Lihatlah score peserta yang sedang tampil itu, benar-benar hebat bukan! kita tak boleh lengah sedikitpun," gumam Riko sembari memperhatikan salah seorang kontestan.


"Benar, kalau begitu berjuanglah! dua nomor urut setelah ini adalah kau, tetap fokus dan jangan lupakan ambisimu itu," jawab Rion sembari menyemangati Riko.


"Sudah jelas, aku pun juga tak ingin kalah dari pertandingan ini," sahut Riko tegas.


Beberapa menit telah berlalu, jumlah para kontestan yang belum tampil pun sudah semakin berkurang, kali ini adalah giliran Riko. Ia benar-benar gugup saat memasuki arena, tetapi meskipun begitu juga semangatnya masih berapi-api.


Ketika tampil, Riko terlihat begitu berhati-hati ... ia menarik anak panahnya dengan konsentrasi tinggi hingga sampai melepaskan anak panah pun penuh dengan perhitungan, sehingga setiap bidikannya sangat akurat sampai ke titik sasaran.


Dalam kerumunan banyak terdengar sorakan dari kerabat maupun temannya, terutama partner latihannya. Ia begitu bersemangat dan penuh dengan energi positif. Hal itu membuat Riko menjadi lebih tenang dan santai.


Score Riko saat ini adalah sempurna dan anak panah yang masih tersisa juga tinggal sedikit, jadi ia tak ingin mengacaukan bidikan terakhirnya.


Masih dalam keadaan yang cukup menegangkan, Riko kembali menarik napas dan mencoba memelankan tempo bidikannya.


Sampai sejauh ini ... Riko masih mempertahankan score yang sempurna, untuk itu dalam bidikan terakhir ia tak boleh meleset untuk mempertahankan score tertingginya.


Sambil berusaha menenangkan diri, Riko membenamkan dalam hatinya bahwa ia tak boleh kalah dalam pertandingannya sendiri, yaitu mencapai score sempurna. Meskipun jika kali ini ia sedikit meleset dari titik pusat sasaran, ia masih memiliki score yang tertinggi.


Namun, kemenangan yang ia harapkan adalah nilai yang sempurna tanpa ada yang meleset, karena itu ia mempertaruhkan semuanya pada anak panah terakhir.


"Dasar! anak itu ternyata tak hanya menyebalkan tapi juga gila, dia benar-benar serius jika menyangkut hal yang disukai, aku sangat terkesan ... ambisinya yang begitu besar sungguh mengerikan," gumam teman karibnya.


Setelah cukup lama menentukan bidikan, akhirnya Riko pun melepas anak panah terakhirnya. Bagaimana hasilnya?


Akhirnya penonton pun bersorak, Riko berhasil memecahkan target yang ia tentukan sendiri, yaitu nilai sempurna. Ia benar-benar membuat semua bidikannya tepat mengenai titik sasaran.


Kemudian ia memberi salam hormat dan terima kasih sebelum meninggalkan arena, lalu kembali menuju tempat duduk sebelumnya.


"Riko kau berhasil! kau memang yang terbaik!" seru Rion dengan bangga.


"Jangan senang dulu, kau mendapat nomor urut terakhir ... benar-benar tidak beruntung," jawab Riko yang sedikit tidak tenang.


"Penampilan terakhir adalah yang terburuk, saat tenaga dan emosimu terkuras pada penampilan peserta yang sudah tampil, tentu saja sebagai peserta terakhir akan mendapat tekanan yang sangat besar, selain itu kau juga sudah merasa lelah ... kemungkinan itu akan membuatmu tak bisa fokus dan tampil optimal," jawab seseorang yang tiba-tiba muncul dari keramaian.


"Eh, si curut tengik main nongol aja! permisi dulu kek," protes Riko.


"Ahahaha, tempat ini bebas dan terbuka ... yang lainnya juga saling berkerumun dan berkeliaran, aku bisa lewat di mana saja tanpa harus izin setiap mau lewat," balasnya menohok.


"Cih! bodo amat," sahut Riko agak kesal.


"Ya, sudahlah! apapun itu ... aku akan berusaha sebisa mungkin, memang posisiku kurang menguntungkan, tapi yang pasti aku akan bertanding dengan sungguh-sungguh," sela Rion dengan ekspresi datar.


"Harus menangkan posisi kedua, aku hanya tak ingin menjadi saksi saat kau dibunuh ibumu sendiri jika sampai kalah dalam kontes ini," tambah Riko yang sedikit khawatir.


"Um, jangan khawatir ... ibu mungkin akan menghukumku, tapi tak seburuk yang kau bayangkan ... kurasa dia hanya akan memberi peringatan dan latihan yang lebih ketat lagi," balas Rion santai.


"Kalau begitu berjuanglah, sisanya terserah kau saja," sahut Riko dengan acuh.


"Hmm, kedua bocah ini sifatnya memang merepotkan sekali ... bikin gregetan aja liatnya," gumam teman Riko tadi.


"Shh! jangan berisik lagi, kita perhatikan saja penampilan setiap peserta, terutama peserta yang sedang tampil saat ini ... scorenya sedang bersaing denganku, mungkin posisi kedua saat ini adalah dia, ini gawat! posisinya benar-benar hampir sempurna, Rion kau tak boleh kalah darinya!" seru Riko yang terlihat sedikit khawatir.


"Tenang saja, aku akan berusaha lebih keras lagi," lirih Rion dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.


"Okelah ... karena belum giliran kakakmu, jadi aku akan kembali bersantai di belakang, aku malas memperhatikan peserta lainnya, bye bye!" seru teman Riko tadi dengan intonasi yang agak malas.


"Terserahlah!" balas Riko singkat.


Setelah selesai dengan perdebatan singkat tadi, mereka kembali fokus memperhatikan setiap peserta yang sedang tampil.


Untuk posisi kedua saat ini sedang dipegang Ginz Leo, yaitu orang yang baru saja tampil memukau dengan score yang luar biasa. Meskipun belum bisa melampaui score Riko, tetapi dengan pencapaiannya itu peserta lainnya mungkin akan kesulitan untuk bisa merebut posisi kedua darinya.


Waktu yang terus bergulir mulai menurunkan asa bagi mereka yang sudah lama menunggu sembari menonton pertandingan dari berbagai peserta, hingga tiba sampai pada tahap akhir untuk peserta yang tidak beruntung.


Rion adalah peserta nomor urut terakhir, ia bahkan terlihat cukup kelelahan sebelum bertanding, selain itu juga dampak kesehatannya yang memang kurang baik sejak beberapa hari yang lalu membuat kondisinya menjadi lebih lemah dari biasanya.


"Rion, giliranmu!" seru Riko yang sedikit tegang.


"Um."


Akhirnya tiba giliran Rion untuk menampilkan keahliannya, ia pun langsung berjalan menuju arena dengan ekspresi yang tetap tenang.


.


.


.


TBC