
Riko dan Fuurin kembali ke kelas untuk beristirahat, padahal ini sudah jam istirahat, tetapi mereka tampaknya agak kelelahan sehingga harus berdiam diri di sana.
Siswa yang lain terlihat cukup kesal melihat kedekatan mereka berdua. Riko mengabaikan hal yang sudah biasa terjadi itu, ia tertidur di meja dengan santainya.
Dalam tidur santainya, ia kembali terganggu dengan suara berisik seseorang yang sedang berlari ke kelas.
“Panas ... panas ... panas ... semuanya minggir!”
BRUAKHHH ....
KRIK ... KRIK ... KRIK ....
“Uwahhhh ... panas, sialan kau bocah kurang ajar, beraninya kau!” teriak Riko kesal.
Orang itu tersandung dan tak sengaja menumpahkan kuah makanannya pada Riko yang sedang beristirahat santai. Murid disekitarnya hanya terkekeh melihat hal itu dan ada beberapa yang mengoceh sambil menyindirnya, Riko pun tampak semakin kesal.
Fuurin berusaha menenangkannya, tetapi ia tetap berapi-api, akhirnya perkelahian kembali terjadi akibat mereka yang terus berkata buruk hingga mendesak amarahnya semakin memuncak.
“Hey ... hentikan! jangan berkelahi lagi, kalian akan mendapat masalah jika guru sampai datang lagi,” ucap si biang kerok tadi.
Riko teringat lagi, baru saja ia telah membuat keributan di kantin dan baru beberapa menit berlalu sekarang sudah berkelahi lagi. Jika begini terus ia akan benar-benar dikeluarkan dari sekolah.
Ia perlahan menarik napas dan mencoba untuk menenangkan diri. Lalu ia kembali melirik pada siswa yang telah menumpahkan makanan padanya tadi.
“Gara-gara kau ...,” ucap Riko geram sembari melirik ke arahnya.
“Ini salahku, tapi benar-benar tidak sengaja, sungguh,” jawab si biang kerok dengan yakin.
“Kalau ga sengaja kenapa harus gue yang di tumpahkan,” sahut Riko yang masih kesal.
“Tempat dudukku ada di belakangmu, jadi wajar jika aku lewat di areamu, lagi pula kau tidur tadi jelek sekali, kakimu tergeletak sembarangan, aku yang sedang fokus pada mangkuk makanan tentu saja tak menyadarinya hingga tersandung oleh kakimu, aku juga rugi loh! lihat makananku jadi berserakan,” jelas siswa itu sambil melirik tumpahan makanannya tadi.
Riko menatap orang itu dengan sangat tajam hingga nyali orang itu jadi menciut.
“Ada apa menatapku seperti itu, jangan bilang kau mau membunuhku, ahahaha ... aku minta maaf deh tadi benar-benar ga sengaja,” balas siswa tadi yang mencoba berdamai dan meyakinkan Riko.
Riko kembali memperhatikan aura sekitar orang itu terlihat tenang, kemudian ia menghela napas lalu menepuk-nepuk pundak orang itu. Ia pun menjadi kebingungan sekaligus merinding, takutnya Riko akan menyiksanya habis-habisan.
Namun, setelah ia kembali memperhatikan ekspresi Riko tampaknya tidak begitu menyeramkan, ditambah lagi ia terlihat sedang merogoh sakunya untuk mengambil sejumlah uang.
“Ini uang ganti rugi makananmu, sekarang sudah impas kan, kau jangan protes lagi,” ucap Riko sembari menyodorkan sejumlah uang.
“Bu-bukan begitu maksudku, aku tidak minta ganti rugi kok, sungguh! lagi pula aku sudah menumpahkan kuah makanan tadi padamu, mana mungkin aku minta ganti rugi,” balas siswa itu canggung.
“Berisik kau jamur payung,” ucap Riko acuh.
“Eh? jamur payung?”
Tanpa basa-basi lagi Riko langsung menyelipkan uang tadi ke saku siswa itu dan langsung pergi untuk membersihkan pakaiannya dari tumpahan kuah tadi. Siswa itu mencoba mengejar tapi dihentikan oleh Fuurin.
“Kau terima saja dan jangan mengganggunya lagi,” ucap Fuurin sedikit serius.
“Oke deh kalau begitu, tapi aku jadi ga enak nih,” balasnya bimbang.
“Sudahlah tak apa, Riko bukanlah jenis orang yang akan menghiraukan orang sepertimu, jadi percuma saja kau mengejarnya, kau tak berarti apa-apa,” ucap Fuurin dengan santai tanpa memperhatikan perkataannya.
“Oke aku mengerti, tapi kata-katamu benar-benar membuat hatiku sakit, kejam sekali, huhuhu ...,” balas siswa itu sedikit dramatis.
“Aku hanya memberitahumu dengan cara yang paling mudah dipahami orang, itu saja kok! ga ada maksud lain,” sahut Fuurin dengan percaya diri.
“Okelah ... lalu kau sendiri sekarang mau apa?”
“Sudah jelas, aku akan menyusulnya,” ucap Fuurin dengan wajah yang berseri.
“Kau melarangku tapi kau sendiri mendatanginya, apa-apaan kau ini sih,” balasnya sembari menghela napas heran.
“Aku temannya, dan dia lebih membutuhkanku, jadi yang lain minggir saja.”
“Hahh ... kau itu kan perempuan, ya kali dia membutuhkan bantuanmu saat pergi ke toilet, aneh! lagi pula aku juga tak bermaksud untuk mencarinya, hanya saja aku merasa ga enak jika menerima uangnya begitu saja, ingat ya! diluar hal itu aku benar-benar tidak membutuhkannya,” tegas siswa itu.
“Terserahlah, yang pasti kau terima saja uangnya! dia orangnya ga suka ribet, oke.”
“Oke! bye-bye deh, semoga usahamu sukses dan tidak ditendangnya nanti.”
“Gak mungkin ditendang, aku sahabat terbaiknya.”
“Terserah kau saja.”
Akhinya siswa itu kembali lagi ke kelas dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Sedangkan Fuurin, ia berlari-larian menuju toilet. Ketika hampir sampai, akhirnya ia berhasil menemukan Riko.
“Oii ... Riko, tunggu aku!” teriak Fuurin.
“Hey, apa yang kau lakukan disini?” tanya Riko yang tampak agak kesal dengan tingkah temannya itu.
“Aku berhasil menyusulmu, kau pasti butuh bantuan, jadi ... biarkan aku membantumu,” balas Fuurin dengan sangat antusias.
“Memangnya kau bisa bantu apa? bodoh! tak mungkin kan kau mau bantu aku melepaskan pakaian,” sahut Riko kesal.
“Ya ... gak gitu juga sih.”
“Terus lu ngapain di sini, ganggu orang saja.”
“Aku bilang tadi mau membantumu kan!”
“Tapi sayang, saat ini kau sedang tidak berguna, tunggu di luar saja, kalau kau ikut ... orang-orang malah akan berpikir yang aneh-aneh lagi.”
“Hehehe ... oke deh, gue tunggu di luar aja.”
Fuurin duduk sendiri di luar, ia tampaknya sedang menelpon seseorang. Di tempat itu memang selalu agak sepi dan juga banyak dinding tinggi di dekatnya, jadi wajar saja jika terdapat suara, tentu akan sedikit menggema. Fuurin masih berbicara dengan seseorang di telepon, tetapi rasanya ia tidak bisa fokus, perasaan tidak enak terus menghampirinya setiap saat. Ia pun kembali memberitahu rekannya di telepon.
“Kaichou ... aku merasa seperti ada yang sedang memperhatikanku, maaf ya ... aku tutup dulu teleponnya,” ucap Fuurin yang tampak khawatir.
“Nona Fuu__”
TUT ... TUT ... TUT ....
Fuurin langsung berlari menuju kelas untuk memastikan sesuatu, ia sampai lupa bahwa temannya masih di dalam.
Sesampainya di kelas, ia langsung menemui seseorang.
"Apaan sih! kau yang tadi menyuruhku kembali, kenapa sekarang malah protes sih! aneh, hehehe ... apa jangan-jangan kau beneran sudah ditendang sahabat baikmu itu kan, hahaha ...,” balas siswa tadi sembari terkekeh.
“Haahhh ... benar juga dia masih ada di sana, ini gawat! aku harus segera ke sana, kalau kau mau ikut silahkan saja, bye-bye ...,” sahut Fuurin yang kembali panik.
Fuurin pun kembali tancap gas ke tempat sebelumny, ia khawatir jika terjadi sesuatu pada temannya. Di sisi lain siswa tadi melihat Fuurin yang tak jelas begitu, hanya bisa terdiam saking herannya.
“Haah ... sebenarnya apa maksud si ikan remora itu?” gumam siswa itu semakin heran.
Riko yang sudah selesai membersihkan pakaiannya tadi langsung keluar dan mendapati Fuurinnya yang sudah hilang radar. Ia agak kesal karena temannya itu langsung pergi meninggalkannya tanpa permisi dulu.
.
.
Di perjalanan Fuurin sempat tersandung hingga ia terpaksa harus memelankan langkahnya, ia sangat kesal tapi tetap melanjutkan perjalanannya. Sampai di tujuan ia kembali panik, karena ternyata Riko sudah tidak ada di sana. Ia mulai mencari-cari di sekitar, tetapi masih tak menemukannya.
Fuurin menjadi semakin khawatir dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke ruang klub, mungkin mereka bisa membantunya.
Fuurin kembali berlari, walaupun dalam tempo yang agak lambat ia terus berusaha, jika bukan karena kakinya yang sakit mungkin sekarang ia sudah hampir sampai.
Ia begitu terburu-buru karena bel sudah berbunyi.
“Ini adalah jam pelajaran terakhir, aku harus segera menemukannya,” gumamnya.
Karena terlalu panik ia pun tak sengaja menabrak seseorang.
BRUKHHH ....
“Maaf ... aku tak sengaja, aku sedang buru-buru.”
Setelah Fuurin menatap dengan jelas wajah orang itu, ia pun kembali terperanjat, rasanya kakinya menjadi kaku seketika. Ia bernapas dengan tempo pas-pasan.
‘*S*iapa orang ini, apa aku pernah bertemu dengannya?’
Dalam kebimbangannya, suasana kembali terpecah dengan suara lantang yang mengejutkannya.
“Oii ... ikan remora! kenapa kau masih di sana? cepatlah! bel masuk sudah berbunyi tuh,” teriak siswa tadi.
“Oh ... si jamur tadi, kau bantu aku dulu! cepat, kakiku sakit sekali,” rengek Fuurin.
“Ehh ... giliran perlu bantuan kau panggil aku, okelah! aku datang.”
Siswa itu langsung menghampiri Fuurin dan hendak membantunya.
“Hei kau ... ngapain masih diam saja cepat jalan!” seru siswa itu.
“Aku kan minta bantuanmu, masa disuruh jalan lagi, bukan bantuan dong namanya.”
“Terus? maksudmu aku harus menggendongmu gitu, ye ... enak aja kau.”
"Ya, ngga gitu juga sih!"
Sebelum melanjutkan obrolan mereka lagi, tiba-tiba orang tadi menyela.
“Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu, lain kali kau perhatikan langkahmu,” balas seorang siswi yang tak sengaja ditabrak Fuurin sebelumnya.
“Ma-ma-maaf ... aku benar-benar tidak sengaja,” balas Fuurin canggung.
“Tidak masalah, kamu hati-hati lain kali ya! sepertinya kakimu cukup parah, sebaiknya segera diobati,” balasnya tenang.
“Terima kasih, lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi, maaf ya.”
Fuurin membungkukkan badannya sebagai permintaan maaf di sepanjang perjalanan orang itu.
“Hei ... yang tadi itu ....”
“Aku tak sengaja menabraknya.”
“Makanya kau jangan lari-larian seperti itu, memangnya ada apa sih? aneh sekali,” tanya siswa tadi yang masih penasaran.
“Riko hilang! aku tadi meninggalkannya yang masih di dalam toilet, aku benar-benar lupa ... setelah memastikan sesuatu ke kelas dan aku baru ingat Riko masih di sana, tapi setelah aku mencarinya ke sana lagi ternyata dia sudah tidak ada, aku jadi bingung sampai-sampai tak sengaja menabrak orang tadi, itu sangat menyeramkan,” jelas Fuurin dengan cemas.
“Ehh ... kau ini bodoh atau gimana sih! kalau dia sudah gak ada di sana, itu artinya sudah pergi, dia punya kaki masa gak bisa jalan, duhh ... gimana sih kau ini.”
“Iya juga sih, tapi aku merasa ada yang tidak beres.”
“Ahh ... benar juga memangnya kau gak ikut masuk ke toilet dengannya, kau kan sahabat terbaiknya, masa ga boleh, hahaha ...,” goda siswa itu.
“Diam kau! aku lagi serius nih, sekarang kau antarkan dulu aku ke ruang klub exorcist,” perintah Fuurin dengan tanpa ragu.
“Kau pikir aku kendaraan pribadimu, enak aja minta diantar ke sana-sini, ogah! aku hanya akan membawamu kembali ke kelas, tapi sepertinya aku perlu membawamu ke ruang UKS dulu deh.”
“Tidak mau, aku ingin menemui seseorang di klub itu, cepat antarkan aku ke sana.”
“Hmm ... kenapa kau tak beristirahat saja di UKS, lalu kau hubungi saja orangnya dan suruh ia pergi ke sana untuk menemuimu.”
“Ehh ... benar juga ya! ternyata kau cukup pintar juga, padahal cuma jamur payung,” balas Fuurin yang cukup terkesan.
“Hahh ... kau ini jelmaan apaan sih, bikin orang kesal saja.”
Akhirnya mereka pergi ke UKS untuk merawat kakinya yang sakit tadi. Ia juga sudah menghubungi Andi, mungkin sebentar lagi ia akan sampai di sana. Sembari menunggu ketua Andi datang, siswa itu mencoba untuk sedikit membantu perawatan kaki Fuurin yang sakit tadi.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya terdengar suara ketukan pintu dari luar, siswa itu segera menuju pintu untuk segera membukakannya, ia ingin segera kembali ke kelas setelah menyelesaikan urusannya dengan Fuurin. Namun, setelah melihat siapa yang ada dibalik pintu itu ia kembali terkejut seakan tak percaya.
“Ketua OSIS?”
‘Ikan remora sialan! kenapa kau selalu dikelilingi orang-orang penting dan berkuasa sih, gue jadi iri kan!’
.
.
.
TBC