Roped Fate

Roped Fate
Ch.24 : Jamur Beracun



Suara itu perlahan meredam, butiran debu halus mulai menghilang dibawa hembusan angin, Rein tertawa puas atas keberhasilannya. Andi masih mematung di tempat ketika teman baiknya datang mendekatinya.


Terlihat darah pada tangannya yang masih mengalir akibat goresan tadi, ia kembali tersenyum seperti biasanya, tanda pada dahinya pun sudah mulai menghilang. Riko kembali penasaran dengan tanda itu, tetapi sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu.


Yang lainnya mulai datang menghampiri dan membantunya di sana. Rein pun semakin mendekat hingga kini ia tengah berdiri di hadapan Andi.


“Kenapa Jiu? kau terlihat begitu putus asa,” tanya Rein santai.


“Kau ... bagaimana bisa tanda itu?” balas Andi yang masih kebingungan.


“Sudah ku katakan sebelumnya kan, aku takkan mati semudah itu,” sahut Rein dengan senyuman getir.


“Kenapa kau melakukan hal itu? segel terlarang itu ... aku benar-benar tak bisa mempercayainya, kau ini ... kau benar-benar membuatku khawatir, kau melenyapkannya begitu saja, kau tahu itu akan sangat membahayakan dirimu sendiri,” ujar Andi yang tampak sangat khawatir.


“Aku tahu itu memang barang yang cukup berharga, tetapi makhluk itu hampir saja membunuh Jiu-ku, aku pun tak bisa mengampuninya lagi, melenyapkannya adalah pilihan terbaik,” jelas Rein dengan kata-kata yang ambigu.


“Apa maksudmu itu?”


BRUAGHHHH ....


Tiba-tiba Rein memuntahkan seteguk darah pekat dan mulai merasakan sakit pada dadanya.


“Rein!”


“Tenang saja! tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja, ini hanya sedikit sengatan dari penyakit sialan ini, aku sudah terbiasa ... hanya perlu beristirahat sebentar, aku akan kembali pulih,” sangkal Rein sembari menahan sakit di dadanya.


“Aku ... aku minta maaf, ini salahku ... maafkan aku atas segalanya yang pernah terjadi baik itu di masa lalu maupun sekarang,” ucap Andi sembari menundukan kepalanya.


Riko sedikit mengernyit heran, ketuanya benar-benar tak seperti orang yang ia kenal biasanya, mungkin inikah sisi lemah Andi?


“Apa yang kau bicarakan, kau tak perlu meminta maaf, cukup diam dan tetap di sisiku, maka aku sudah memaafkanmu ... tentunya aku juga akan berterima kasih kemudian di masa depan,” bisik Rein dengan seringai di wajahnya.


Andi masih tak mengerti dengan jalan pikiran Rein, ia selalu saja memiliki maksud tersembunyi pada setiap perkataannya. Namun, Andi tak ingin berprasangka buruk dulu padanya, terlebih lagi mengingat penyakitnya saat ini, mungkin saja ia ingin meninggalkan sesuatu yang berarti, entah itu nyata atau palsu. Ia hanya berpikir tentang masa lalu yang pernah ia lihat sebelumnya adalah bukan kenangan yang baik.


Rein mulai berhanjak pergi dari tempat itu, karena semuanya urusan telah diselesaikan, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


“Baiklah, semua sudah berakhir, aku akan kembali untuk beristirahat dan kalian bisa kembali juga, sampai jumpa lagi ya!” seru Rein sembari melambaikan tangannya.


“Tunggu senior ... bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Riko.


“Tentu saja tidak, kau bantu yang lainnya saja, saat ini kau lebih berguna untuk mereka, lain kali saja ya,” balas Rein lembut.


“Lalu bagaimana dengan lukamu itu?” tanya Riko yang tampak khawatir.


“Ini masalah kecil, aku bisa menyelesaikannya sendiri, kau tak perlu khawatir.”


“Hmm ... baiklah.”


Riko menghela napas dalam yang kemudian dibalas dengan senyuman ramah Rein, lalu menepuk-nepuk pundak dan mengelus kepalanya.


“Kau anak yang baik, tak perlu merasa bersalah dan tak enak hati, takdir itu sudah ditentukan Tuhan, kau hanya bidak yang tak bersalah, jangan putus asa ... bukan salahmu.”


Riko merasa sedikit terhibur dengan kata-katanya dan berterima kasih. Sebelum Rein akan pergi, ia mengambil sisa darah pada tangannya untuk membuat segel teleportasi. Lagi-lagi Andi dibuat terkejut olehnya.


‘Separah ini kah? dia benar-benar telah menyimpang dari batas manusia biasa.’


“Ketua! yang tadi itu ...,” ucap Ruri ragu.


“Biarkan saja, aku percaya padanya,” balas Andi tegas.


Setelah menyelesaikan semua urusan di sana, akhirnya mereka bersiap untuk kembali keluar dari segel penghalang night zone menuju ke dunia nyata.


Mortal : Return ~ night zone ‖Back


~teleport ‖~Bebaskan~


Dalam sekejap mereka telah kembali ke dunia nyata dan berkumpul di ruang klub. Riko menarik napas yang dalam, akhirnya ia bisa menghirup udara segar kembali, setelah melewati dunia pengap berdarah dengan pertarungan antara hidup dan mati, walaupun ia tak ikut berkontribusi dalam pertarungan, tetapi hanya dengan melihat kejadiannya saja, itu telah menguras tenaga dan menyiksa keselarasan jantungnya.


Hari ini Riko telah mendapat banyak pengalaman baru, ia pun akan mencoba untuk memulai hari yang baru, ia sadar di dunia ini ada begitu banyak hal yang telah ia remehkan.


‘Penderitaan, semua orang pasti pernah mengalami yang namanya menderita, kau bukanlah satu-satunya orang yang paling menderita,’ pikirnya tegas.


Riko pun mulai menyadari, bahwa ia masih begitu lemah untuk bertingkah menjadi orang yang sombong.


Ia kembali mengangkat wajahnya, dengan memasang ekspresi tegas tanpa keraguan lagi. Saat itu pun ia telah memutuskan untuk berusaha dan akan berlatih agar bisa menjadi lebih kuat, melihatnya seperti itu Andi pun ikut tersenyum, meskipun saat ini ia masih belum mau berbicara dengannya.


****


Hari ini mereka semua beristirahat untuk merawat luka-lukanya. Kegiatan klub untuk sementara ditutup, anggota junior pun diliburkan dalam beberapa hari, sembari menunggu keadaan mereka agar lebih membaik.


Mendengar hal itu Fuurin kembali panik, apakah sesuatu yang buruk telah terjadi pada rekan-rekan klubnya?


Melihat tingkah Fuurin yang terlalu panik dan berlebihan, membuat Juan merasa gerah. Jika sudah begitu, sebaiknya ia mengajaknya segera untuk mengunjungi teman klubnya di sana. Sebagian dari mereka sedang dirawat di ruang UKS dan sisanya lagi di ruang klub.


“Hei, ikan remora ... jika kau mengkhawatirkan mereka, kenapa tak kunjungi saja,” ucap Juan malas.


“Yup, ayo kita jenguk mereka, tapi di mana?” tanya Fuurin.


“Jelas UKS lah, di mana lagi? atau tidak di ruang klub, hanya dua pilihan itulah yang paling memungkinkan.”


“Oke ... kita ke UKS sekarang!”


Mereka segera berangkat untuk menemui rekan-rekan klubnya. Sampai di tujuan, keduanya langsung masuk untuk melihat keadaannya.


“Woahh ... Riko, kau baik-baik saja kan?” tanya Fuurin khawatir.


“Iya, aku baik-baik saja,” balas Riko singkat.


“Yang lain bagaimana? ketua juga? kenapa dia tak ada di sini?”


“Oh, dia dan beberapa senior lainnya sedang beristirahat di ruang klub, soalnya di sini sudah penuh pasiennya,” jelas Riko yang tampak enggan berkomentar banyak.


“Pfttt ... memangnya apa yang sedang kalian lakukan, kenapa malah jadi tumbang masal begini?” sela Juan sembari menahan tawanya.


“Sebenarnya, tadi kami sedang makan-makan bersama, entah dapat makanan dari mana, kami pun keracunan makanan,” jelas Ran.


“Whaa .... keracunan macam apa sampai mengenaskan babak belur begini, wajah kalian juga sangat kusut dan berantakan, apakah ada macam makanan semenakjubkan itu?” tanya Juan curiga.


‘Hmm ... kalau bikin alasan yang benar dong! biar masuk akal sedikit, senior satu ini kok konyol sekali,’ protes Riko dalam hati.


“Hmm ... itu dia masalahnya, setelah mengkonsumsi makanan itu ... tiba-tiba kami jadi berhalusinasi dan akhirnya perang saling menghajar satu sama lain,” tambah Nana.


“Haahh .. makanan jenis apa? hati-hati lho!” balas Juan curiga.


“Eh jamur payung, kau jangan berpikir yang aneh-aneh dulu, mungkin saja makanan mereka tak sengaja tercampur racun alami, contohnya, seperti jamur beracun, atau apalah,” sela Riko.


“Ah, benar juga ... aku baru ingat, salah satu makanan yang kami sajikan tadi adalah soup jamur tiram, mungkin saja si penjual tak sengaja mengambil jamur liar sembarangan dan mencampurnya bersama soup tadi, ahahaha ... aku baru ingat,” jelas Nana agak canggung.


“Oh.. seperti itu, lalu sekarang bagaimana keadaan yang lainnya?” tanya Juan lagi.


“Tidak ada masalah yang serius, kami hanya perlu beristirahat,” balas Nana ramah.


“Syukurlah kalau begitu, aku sekarang jadi lebih tenang,” ucap Fuurin lebih tenang.


Setelah cukup lama di sana untuk membantu para senior, Fuurin dan Juan akhirnya permisi undur diri, mereka akan menjenguk ketua setelahnya.


“Oke ... kurasa semuanya sudah dalam keadaan baik, sekarang aku akan menjenguk ketua dulu,” ucap Fuurin.


“Oh iya ... kebetulan kami juga akan beristirahat, kalian kunjungi saja ketua, keadaannya sedikit lebih tidak menguntungkan dari kami, jadi kalian rawatlah dia dengan baik,” tambah Miki.


“Siap, senior!”


Di sisi lain Juan sedang bersemangat untuk menjenguk sekaligus cari muka di depan para seniornya di sana, kebetulan yang di sana adalah orang-orang terkenal dan popular. Namun, sebelum berangkat ... Juan kembali teringat untuk menanyakan pada Riko.


“Hei ... tuan berandal tidak ikut?” tanya Juan iseng.


“Sialan! siapa yang kau sebut berandal?” sahut Riko kesal.


Juan menepuk pundak Riko, sembari menatapnya remeh.


“Siapa lagi kalau bukan adikku ini, hahaha.”


“Cihh ... aku tidak pernah ingat punya kakak jamur beracun seperti kau,” balas Riko sinis.


“Heehh ....”


“Hmm ... kalian berdua pergi saja, aku masih tetap di sini,” ucap Riko agak cuek.


“Lho! memangnya kenapa?” tanya Fuurin.


“Si empat mata lagi gak mau ngomong sama gue, argghhh ... kesal!” balas Riko sembari membuang muka.


“Ehh ... dulu-dulunya kau yang minta dia menjauh, sekarang sudah diabaikan, eh ... baru merasa kesepian, pfttt ... kau ini seperti nona saja, hhhh,” ejek Juan sembari terkekeh.


“Diam! kau jamur brengsek ... sekarang masalahnya beda lagi, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dengan orang itu,” sahut Riko dengan intonasi tak terima.


“Aku jadi penasaran, kenapa dia bisa sampai sekesal itu? padahal sebelumnya ia sangat menyukaimu, aku yakin ... kau pasti sudah melakukan hal yang keterlaluan,” goda Juan lagi.


“Memang aku yang salah sih, tapi aku tak akan meminta maaf padanya,” sahut Riko acuh.


“Haahh ... tsundere”


“Pfttt ....” Fuurin mencoba menahan tawanya.


“Kampret ... kalian pergi saja sana, pokoknya aku tak mau menyapanya lebih dulu.”


Dalam bayangan Riko, Andi akan menginjak-injaknya, menghina dan menertawainya serta menjadikan ia sebagai anjing dan menyuruhnya untuk melakukan hal yang aneh-aneh agar ia mau diampuni, tentu saja ia tak mengharapkan hal itu, seakan harga dirinya sebagai berandalan sekolah akan tercoreng.


Riko pun segera mengusir mereka berdua, agar ia bisa kembali beristirahat dengan tenang. Di luar Juan dan Fuurin terdiam heran dengan tindakan aneh Riko, tetapi mereka hanya mengabaikannya, kemudian kembali melanjutkan perjalanan untuk pergi ke ruang klub exorcist.


‘Semua yang terjadi memang tak selalu dapat diprediksi, dan aku akan mencari tahu ada masalah apa antara mereka berdua, tak biasanya ia bersikap seperti itu, hmm ... lihatlah ketua! kau tak selalu bisa mengatasinya, bukan?’ bhatin Juan merasa sedikit puas.


.


.


.


TBC