
Riko masih agak malu karena kejadian sebelumnya, terpaksa ia hanya diam saja dan mengikuti semua intruksi ketua klub. Hari ini mereka sedang mengadakan rapat klub, dan mereka berdua pun juga ikut di dalamnya.
Ketua mulai membahas dan menjelaskan beberapa kejadian aneh yang belakangan ini terjadi di suatu tempat, beberapa organisasi exorcist lainnya juga kini tengah menyelidiki tempat itu.
Hal ini memang biasa terjadi di sana, tapi saat pergantian tahun waktu ini telah tiba, kejadian misterius kembali terjadi. Sebenarnya bukan misterius lagi, ini sudah termasuk teror, karena jumlah orang hilang setiap bulannya sudah hampir mencapai 100 orang, tentu saja hal itu sudah tak dapat di toleransi lagi.
Saat ini beberapa organisasi exorcist di luar sana sedang berupaya untuk menanggulangi hal itu, mereka selalu siaga untuk berpatroli setiap malamnya. Berbeda dari klub exorcist di sekolah, mereka merupakan organisasi resmi yang telah diakui pemerintah.
Tentu saja Andi dan semua anggota klub tidak termasuk dalam kolompok itu. Namun, terkadang mereka juga ikut bekerjasama untuk membantu organisasi besar lainnya.
Meskipun dari segi kemampuan, Andi sendiri sebenarnya memiliki gaya bertarung yang agak berbeda dari exorcist lainnya. Dan walaupun kelompoknya belum meraih prestasi yang besar, tetapi sebenarnya mereka tak kalah hebat dari yang lainnya. Tentu saja karena mereka juga harus fokus dengan kegiatan sekolah.
Jika dibandingkan dengan yang lainnya, Andi sendiri sebenarnya memiliki energi spiritual yang melampaui semua orang dalam organisasi.
Namun, ia tak ingin terlalu jauh mengambil resiko yang mungkin akan membahayakan temen-temannya, terlebih lagi tandanya yang telah ia tetapkan untuk mengikat Riko juga tak bisa diabaikan begitu saja.
Ia harus memilih antara tetap bertarung dengan kekuatan penuh hingga menyakiti dirinya sendiri atau menyakiti diri sendiri untuk melindungi Riko. Tentu saja ia telah memikirkan resikonya, tetapi ia tetap memilih untuk membantu seseorang itu.
Mengenai energi spiritual, sebenarnya bukan hanya ia saja, tapi masih ada seseorang yang setingkat bahkan lebih tinggi darinya, hal itu dikarenakan kekuatan mereka berasal dari energi dunia yang sama.
Saat ini Andi sedang merundingkan untuk melakukan tindakan yang serius mengenai laporan kejadian itu. Namun, masih seperti tadi, mereka hanya akan menjadi pembantu pelaksana saja.
Walaupun begitu, Andi tetap mencoba untuk memecahkan misteri tersebut di luar dari status pekerjaannya.
“Aku berencana untuk ikut menyelidiki kasus yang baru-baru ini terjadi di blok A selatan, detailnya akan aku beritahu nanti, apa ada yang tidak setuju atau masih belum paham?” tanya Andi dengan serius.
“Oii, ketua! bukannya mau ikut ya, tapi gue agak kurang paham,” sahut Riko.
“Oke ... akan aku jelaskan, kuharap setidaknya dengan penjelasan ini kau bisa agar lebih berhati-hati lagi nanti.”
“Okelah, gue bakalan hati-hati.”
“Baiklah, membahas masalah blok A selatan, mungkin tempat itu masih agak jauh dari daerah kita, tapi bukan berarti tak ada kemungkinan itu akan merebak ke wilayah ini, itu adalah sebuah teror yang masih menjadi misteri, ketika penduduk di sana sedikit demi sedikit mulai menghilang, setidaknya rata-rata ada hampir sekitar 100 orang per bulannya,” jelas Andi dengan rinci.
“Hmm ... kok malah jadi horor banget sih,” gumam Riko sedikit merinding.
“Benar, itu sudah di luar batas normal, oleh karena itu organisasi exorcist dari beberapa wilayah mulai menyelidiki hal itu, jika benar ... kemungkinan itu bisa berhubungan dengan iblis atau semacamnya,” tambah Andi lagi.
“Lalu, bagaimana dari pihak kepolisian?”
“Mereka juga sudah menyelidikinya selama beberapa hari ini, tapi masih belum menemukan petunjuk, yang lebih parahnya lagi ... malahan mereka yang sedang menyelidiki pun juga ikut menghilang,” balas Andi serius.
“Huaa ... sampai segitunya kah, hei! ketua, bukankah itu terlalu berbahaya? kenapa kau malah menerima pekerjaan semacam bunuh diri begitu,” protes Riko.
“Lalu, untuk apa kita berlatih jika hanya untuk diam saja, lagi pula ... jika itu benar ulah iblis maka cepat atau lambat mereka akan berpindah ke kota ini, tentu saja itu masalah yang tak bisa diabaikan lagi, tapi tenang saja ... aku juga tak akan menempatkan yang lainnya dalam situasi yang berbahaya, jika memang ada hal yang penting, maka aku akan pergi sendiri untuk menyelidikinya,” tegas Andi tanpa keraguan dalam kata-katanya.
“Tapi aku ... aku ... arghhh ... kau bodoh sekali!”
Riko langsung pergi meninggalkan rapat klub exorcist. Mereka yang di sana pun jadi terheran-heran dengan tindakannya, Andi sedikit mengernyit.
‘Benar-benar childish,’ pikirnya.
“Rupanya anak itu masih ingin memberontak ya,” gumam Andi.
“Jangan begitu, sebenarnya tadi ia hanya sedang mengkhawatirkanmu, lihatlah! adikmu sudah mulai menyayangimu,” ucap Erick bermaksud menggodanya.
“Kaichou ... Riko orang yang baik, tenang saja! ia tak akan melakukan sesuatu yang buruk,” tambah Fuurin.
“Kuharap begitu, tapi dia bukanlah orang yang mudah dikendalikan begitu saja, dia tipe orang yang hanya akan mempercayai keyakinannya sendiri, karena itu aku jadi sedikit khawatir, bagaimana jika suatu saat ia memiliki keyakinan yang buruk, bahkan aku sendiri takkan bisa mengendalikannya,” balas Andi serius.
“Jangan khawatir, aku selalu percaya ... suatu saat nanti dia pasti akan menjadi orang yang lebih dari yang kau harapkan,” balas Fuurin optimis.
Angin musim ini berhembus, mereka semua terdiam. Kata-kata Fuurin kali ini benar-benar menjadi embun bagi ketegangan suasana sebelumnya. Andi kembali tersenyum lega.
“Itu cukup membantuku, terima kasih ....”
‘Ada begitu banyak hal yang ingin aku katakan padanya, mungkin itu tak berhak untukku, tapi bagaimana jika aku mencoba untuk mengacaukannya kembali dan menolak takdir yang sudah Tuhan berikan,’ tegas Andi dalam hati.
Akhirnya aktivitas klub kembali dilanjutkan dan perlahan mulai membahas tentang detail kejadian pada misi mereka berikutnya.
.
.
“Untuk apa coba? kau ingin mati konyol di sana? sementara kebaikanmu tak ada yang mengingatnya, bodoh kau empat mata sialan!” umpatnya kesal.
Pada akhirnya ia kembali menyendiri di tempat yang sepi, yaitu gedung belakang sekolah. Hembusan angin terasa begitu hampa, tampaknya ia terlalu memikirkan hal itu. Namun, sebenarnya ia sendiri juga bingung apa yang telah membuatnya menjadi begitu khawatir?
Cukup lama berdiri di sana, ia mulai menyadari sesuatu. Ada suatu keanehan yang membuatnya kembali waspada, itu tampak seperti ada yang sedang mengamatinya.
‘Jangan bilang ini iblis lagi, atau mungkin hanya penguntit saja?’ pikirnya.
Riko bukanlah tipe orang yang langsung kabur sebelum sempat memastikan sesuatu, seberapa banyak pun rasa takutnya, tapi rasa penasaran tetap yang paling tinggi.
Ia pergi memeriksa suatu lokasi tujuan yang paling mencurigakan, di sana aura gelap yang kuat tampak terlihat cukup jelas, tapi sebelum pergi memeriksanya, pertama ia mengambil sebilah kayu di dekatnya. Apabila itu benar sesuatu yang berbahaya, ia bisa langsung melawannya.
Ia semakin mendekat dan mendekat, walau sebenarnya ia sendiri juga sedang ketakutan, detak jantungnya juga semakin memburu. Namun, meski di hadapan iblis sekalipun harga dirinya tetap tidak bisa diturunkan, ia kembali berteriak dengan sombongnya, untuk memastikan apakah di balik tempat itu memang iblis atau manusia?
“Oii ... keluar kau makhluk sialan! jika kau masih belum menampakkan dirimu, maka aku yang akan menyerangmu duluan,” pekik Riko memberi peringatan.
Tak lama kemudian muncul seseorang dari balik dinding gedung sekolah. Riko sedikit terkejut, tampaknya orang itu adalah kenalannya.
“Hai Riko ... maaf ya ... jangan salah paham dulu, aku benar-benar tak bermaksud buruk,” ucap seseorang dari balik dinding.
“Hufft ... Lisa, aku kira tadi makhluk apaan, kau ini ... apa yang kau lakukan di tempat seperti ini, hmm ...,” tanya Riko curiga.
“Kau juga sama kan, yah ... tadi aku hanya sedang merasa bosan, jadi ingin pergi menyendiri, eh! malah lihat kamu di sini, tadi mau langsung temui kamu tapi aku agak canggung,” sahut Lisa.
“Huhh ... lain kali kalau mau datang ya datang saja, gak usah canggung! nanti malah gue yang jadi waspada.”
“Iya, maaf ... maaf ....”
.
.
Dari kejauhan, seseorang telah mengamati aktivitas mereka berdua di sana sejak tadi, sayangnya Riko tak menyadari hal itu. Namun, karena orang itu terlalu fokus mengamati mereka berdua, ia sampai tidak menyadari bahwa seseorang telah menangkapnya.
“Heeh ... tertangkap kau! tuan penguntit.”
Orang itu langsung menyeretnya ke belakang agar Riko tidak menyadari keberadaan mereka di sana.
“Hei ... bukankah sudah ku katakan sebelumnya, kau berhenti menyelidiki kami,” bentak Andi yang tampak marah.
“Tidak juga, aku hanya kebetulan lewat di sini dan melihat mereka berdua, jadi aku hanya mengamatinya saja, tidak bermaksud buruk,” jelas Juan.
“Baiklah ... lalu, apa yang sedang orang itu lakukan?” tanya Andi penasaran.
“Dia tadi menguntit Riko juga, makanya aku jadi penasaran,” sahut Juan yang semakin berbelit.
“Oh, dan kau sendiri si penguntit yang sedang menguntit seorang penguntit yang juga menguntit adikku!” sindir Andi.
“Sudah ku bilang, aku tak bermaksud buruk ah,” sangkal Juan yang mulai kesal dengan kecurigaan Andi yang berlebihan.
“Oke ... kalau begitu jangan berisik lagi! aku juga akan mengamati orang itu.”
“Ehh ... kalau begini bukankah kau juga sama, penguntit kok teriak penguntit.”
“Ini urusan exorcist, kau tak mengerti apa-apa.”
“Lagi-lagi exorcist, memangnya dia sudah mau bergabung, hah ....”
Tanpa banyak kompromi lagi, akhirnya dua orang itu sepakat berkomplot untuk menguntit Riko dan Lisa.
.
.
.
TBC