Roped Fate

Roped Fate
Ch.35 : Gedung Belakang Sekolah



Ruangan yang tampak begitu gelap dan sunyi, Sheerli berjalan dengan langkah perlahan. Ia baru menyadari bahwa ternyata ia telah datang ke tempat yang salah.


Gedung belakang sekolah memang sudah lama tidak digunakan, beberapa konstruksi bangunan juga sudah banyak yang rapuh, karenanya sedikit saja terdapat getaran dari suatu gerakan, pasti akan selalu ada benda-benda yang berjatuhan.


Sheerli merasa begitu ketakutan, saat ingin kembali dan mencari jalan keluar, ia kebingungan harus lewat di sebelah mana, karena terlalu panik sebelumnya ia pun tak sempat mengingat jalur perjalanannya.


Dengan langkah hati-hati dan waspada, ia terus memperhatikan sekitarnya. Tak lama kemudian, ketika mulai melewati suatu ruangan dekat tangga, tiba-tiba saja sesuatu melayang ke arahnya, untungnya ia berhasil menghindar, dan benda tajam tadi akhirnya menancap pada dinding di sebelahnya.


Sheerli mematung sejenak, badannya mulai gemetar dan kakinya terasa sangat lemah. Ia mulai berhanjak perlahan, lalu berlari sekuat tenaga, ia begitu panik hingga menabrak apapun yang menghalangi jalannya, dan menyebabkan kebisingan karena benda-benda di sekitar yang semakin banyak berjatuhan.


Sheerli pun berteriak untuk meminta pertolongan, ia terus berusaha mencari jalan keluar dari tempat itu. Namun, suara teriakannya tak dapat dijangkau dari luar karena semua teredam oleh sesuatu yang ada di dalamnya.


Tak lama kemudian, beberapa buah pisau kembali melayang ke arahnya. Hampir saja benda itu mengenainya, tapi berhasil diblokir oleh sepotong kayu yang melesat dari samping. Di sana terlihat seseorang yang sedang berdiri dengan ekspresi dingin yang kemudian berjalan mendatangi Sheerli.


“Hei ... apa yang kau lakukan di sini, kau mau cari mati?" tanya Rein dingin.


“A-aku ... selamatkan aku dari tempat mengerikan ini,” ucap Sheerli dengan terbata-bata.


“Kau memerintahku?” tanya Rein dengan tatapan menusuk.


“Bukan begitu, kau selamatkan saja aku dulu, nanti kita bicarakan lagi,” jawab Sheerli yang tampak terburu-buru.


“Hahh ... kenapa harus menyelamatkanmu, apa untungnya untukku?” sahut Rein acuh.


“Aku akan membayarmu nanti.”


“Kalau begitu, silahkan jadi makanan setan sana,” balas Rein yang mulai angkat kaki dari tempat itu.


“Kau ... tunggu, jangan pergi dulu.”


Sheerli berlari ke arah orang itu untuk mendapatkan perlindungan.


“Aku ke sini untuk beberapa urusan, kau jangan mengganggu, pergi sana! sudah baik aku menyelamatkanmu tadi,” ucap Rein dingin tanpa berbelas kasihan.


“Aku takut!”


Tiba-tiba getaran suara mulai berdengung di telinga Rein, ia kembali waspada sembari mempersiapkan beberapa segel. Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah yang sedang menuju ke tempat itu. Di saat yang bersamaan pula terdengar suara lain seperti benda yang jatuh yang tak jauh dari lokasi.


“Ada orang di sana.”


Beberapa orang pun datang menghampiri dan bergabung dengannya.


“Andi?” gumam Rein sedikit terkejut.


“Hei ... Rein kau di sini?”


“Iya, aku kebetulan lewat sini dan mendengar tikus kecil itu berteriak, jadi aku agak penasaran,” jelas Rein santai.


“Oke ... kita kesampingkan dulu itu, sekarang kita perlu mengalahkannya dahulu, dia sudah menunggu,” ucap Andi yang tampak serius.


“Baiklah, kau selesaikan di sini bersama pengikutmu, aku akan menyelesaikan urusan yang lainnya,” balas Rein sedikit terburu-buru.


“Eh, kau akan pergi?” tanya Andi sedikit kaget.


“Tenang saja Jiu, setelah urusanku selesai, aku akan kembali lagi untuk membantumu,” balas Rein dengan sedikit seringai di wajahnya.


“Tunggu! apa yang ingin kau lakukan?” tanya Andi lagi.


“Hanya sekedar membereskan tikus pengganggu, jangan khawatir! aku pergi dulu.”


Rein pun langsung pergi untuk menyelesaikan urusannya, sementara Andi mulai bersiap untuk menghadapi iblis yang sudah menunggu mereka dari tadi, walaupun makhluk itu masih belum menampakkan diri, tetapi Andi tahu bahwa iblis kali ini tergolong cukup kuat. Jika dikonversikan ke dalam level, diperkirakan ini adalah iblis level 6.


Sembari menunggu yang lainnya datang, Andi menyiapkan beberapa segel terlebih dahulu. Namun, sebelum itu ia meminta Riko dan Fuurin agar mengantar Sheerli yang dari tadi mematung di sana untuk segera pergi keluar dari tempat itu.


“Riko! kau dan nona Fuurin bawa dulu orang itu keluar, di sini sangat berbahaya,” perintah Andi.


“Baiklah ketua, tapi bagaimana denganmu?” tanya Riko.


“Tenang saja, aku bisa mengatasinya, lagi pula aku sudah menghubungi Ruri tadi, sebentar lagi mereka akan datang,” balas Andi tenang.


“Baiklah, kalau begitu ayo Fuurin! dan kau juga.”


Sheerli masih diam saja di sana, ia ketakutan sekaligus bingung. Namun, rasa bencinya juga tak bisa diabaikan dulu, ia ragu dan tak ingin ikut dengan mereka. Riko mulai kesal, ia pun langsung mendatangi orang itu dan menarik kerah bajunya.


“Kalau kau mau mati, jangan sampai menyusahkan orang lain dong, cepat pergi!” bentak Riko.


“Hufft ... bukankah itu terlalu kejam untuk seorang gadis, entah apa masalah mereka, tampaknya kedua orang itu begitu saling membenci,” gumam Andi sembari menghela napas.


.


.


Riko menyeret Sheerli sampai keluar dari gedung berhantu itu, lalu melemparnya sampai depan pintu.


“Sampah pengecut! pergi sana, cari genk sampah lu, sudah baik gue mau bantuin, ayo Fuurin kita kembali dan bantu ketua,” bentak Riko cukup kasar.


“Siap ... menunggu yang lainnya datang, mungkin kita bisa sedikit membantu,” balas Fuurin bersemangat.


Riko dan Fuurin kembali masuk ke dalam, sementara Sheerli masih duduk terdiam sembari mengepal tangannya.


‘Awas saja kalian, akan kubalas semuanya,’ bhatin Sheerli penuh amarah.


Ia pun meninggalkan tempat itu dan pergi ke UKS untuk membersihkan wajah serta merapikan penampilannya.


Selama perjalanan menuju ke tempat tadi, Riko dan Fuurin mengambil beberapa benda-benda di sekitarnya yang mungkin bisa dijadikan senjata untuk bertarung nantinya.


“Hei ... Fuurin, tempat ini ada penghalangnya,” ucap Riko sembari memperhatikan sekitar.


“Benar, sepertinya sudah dari sebelum kita sampai di sini,” balas Fuurin yang juga penasaran.


“Kurasa senior Rein lah yang melakukannya,” gumam Riko cukup yakin.


“Ngomong-ngomong apa yang ingin dilakukannya, kenapa ia membuat penghalang?” tanya Fuurin lagi


“Sudah jelas berburu iblis, dia mengaktifkan penghalang agar tak ada orang lain yang masuk begitu saja kecuali rekan exorcist,” jawab Riko santai.


“Ahh ...  begitu ya, dan si Sheerli pun jadi terjebak, ia sudah terlanjur bersembunyi sebelumnya.”


“Begitulah.”


Andi menggambar sebuah segel yang cukup besar di sekitarnya dengan ia sebagai pusatnya, ia mengaktifkan segel untuk memancing iblis itu keluar.


Tak lama kemudian muncul kegelapan yang mendekat ke arahnya, walaupun demikian, segel cahaya milik Andi pun juga tak bisa diremehkan, Riko dan Fuurin yang baru saja tiba di sana pun langsung bersembunyi sembari menyaksikan pertarungan itu, untuk sekarang memang masih belum ada yang bisa mereka lakukan. Namun, jika ketua berada dalam kesulitan, tentunya mereka juga akan membantu.


Cahaya yang terang memenuhi ruangan dan menyerang setiap materi kegelapan itu bertubi-tubi, Andi berencana untuk membuat iblis itu agar menampakkan wujudnya.


Ia mengeluarkan ratusan jarum yang disebarkan di udara. Dalam hal ini memanipulasi logam adalah keahliannya dan ia menggunakan jarum sebagai senjata khasnya.


Setelah semua tertata rapi, Andi mulai melepaskan jarum-jarumnya untuk menyerang seluruh kegelapan yang mengelilingi sekitarnya. Ketika jarum-jarum tersebut telah sampai pada sasarannya, Andi mulai meledakkan semuanya menjadi cahaya sekaligus mengubahnya menjadi petir dengan tegangan tinggi yang menyebabkan penghalang di sana hancur seketika, saat itu juga Fuurin langsung keluar untuk memperbarui segel penghalang.


Riko menatapnya takjub, Fuurin benar-benar sudah berlatih dengan baik, walau di sisi lain ia merasa agak iri.


‘Bagaimana bisa orang mencintai pertarungan dan bisa berlatih dengan mudahnya, itu sangat sulit kuterima.’


Beberapa saat setelah itu, para anggota lainnya pun tiba dan membantu Andi untuk menyelesaikan segel penetralan. Saat ini iblis itu sedang melemah, jadi mereka bisa menyelesaikannya lebih cepat.


Akhirnya, setelah cukup lama membuang-buang waktu di sana, iblis itu pun berhasil dinetralkan.


Fuurin dan Riko menghembus napas lega, walaupun mereka tak begitu banyak membantu, tapi mereka cukup senang bisa mengamati pertarungan itu dan Andi pun juga masih dalam keadaan baik.


Namun, di sini Riko sebenarnya sedikit penasaran, tampaknya Andi terlihat agak berlebihan hari ini, ia tak harus menggunakan kekuatan spirituanya sebanyak itu. Mungkin ia sedang terburu-buru, entah apa yang dipikirkannya, Riko selalu dibuat penasaran dan terus bertanya-tanya.


“Akhirnya selesai juga,” gumam Riko.


“Baiklah, kalian semua kembali ke kelas masing-masing, aku masih ada urusan,” pinta Andi dengan ekspresi agak cemas.


Andi pun langsung bergegas pergi dan meninggalkan yang lainnya. Riko hanya mengernyit, ia pun tak heran lagi.


‘Sudah kuduga, ternyata ia memang sedang buru-buru,’ bhatin Riko.


.


.


.


TBC