Roped Fate

Roped Fate
Ch.47 : Kode Angka



Suasana yang begitu menegangkan saat itu membuat Fuurin begitu deg-degan, dari balik persembunyiannya ia terus mengawasi iblis itu. Ketika sudah mulai menjauh, ia pun keluar dari tempat itu dan langsung berlari untuk mencari bantuan.


.


.


Riko dan Juan berlari sejauh-jauhnya untuk menghindari iblis tersebut. Mereka pergi ke arah gedung kosong, mungkin itu cukup menyeramkan, tetapi setidaknya tempat itu cukup memungkinkan untuk bersembunyi.


“Hei ... Riko, bukankah tempat ini berbahaya, kenapa kau malah masuk ke sini sih,” protes Juan.


“Memangnya kau pikir kita bisa ke mana lagi? jalan di belakang sudah buntu semua, kalau lewat depan takutnya tertangkap,” sahut Riko yang masih terus berlari.


“Oke deh, tapi semoga saja di dalam sana gak ada iblis lainnya lagi, hmm,” gumam Juan yang tak punya pilihan lain lagi.


“Itu pikirkan nanti, untuk sekarang yang penting kita bisa bersembunyi dulu.”


Mereka berdua berjalan dengan langkah perlahan ke dalam gedung kosong itu, sambil melihat-lihat di sekitarnya mereka terus waspada. Saat angin dingin mulai berhembus pelan, keduanya kembali merinding.


Dengan spontan mereka langsung berlari lebih jauh ke setiap ruangan. Sudah cukup jauh berlari, mereka pun mulai kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk bersembunyi.


Dari balik tempat persembunyiannya, Riko terus mengintai keadaan di luar yang dipenuhi dengan energi negatif. Tak lama kemudian, angin kembali berhembus dengan kuat hingga memporak-porandakan tempat mereka bersembunyi.


Keduanya langsung menutup mata mereka dengan rapat sembari menutup kepala dan wajahnya dengan kedua tangan masing-masing agar benda-benda sekitar tak sampai melukai wajah mereka. Hembusan ingin itu terlalu kuat, bahkan mereka berdua hampir tak bisa berkutik.


Beberapa saat kemudian, angin pun mulai mereda. Riko perlahan membuka matanya dan mendapati seluruh ruangan menjadi hancur. Ketika melihat suatu benda yang masih mengambang di udara, ia pun penasaran dan mendekati benda yang perlahan turun hingga sampai pada telapak tangan Riko yang terbuka bebas.


Juan pun ikut penasaran, kemudian ia mendekat ke arah Riko untuk melihat benda itu. Ia sedikit mengernyit ketika melihat sesuatu yang sedang dalam genggaman Riko.


“Eh, ini ... kelopak bunga?” tanya Juan bingung.


“Dua kelopak mawar, putih dan ungu?” tambah Riko.


“Kenapa ada benda seperti ini di tempat begini, bukankah itu aneh?” ucap Juan yang tampak keheranan.


“Entahlah ....”


Riko pun kembali memperhatikan aura sekitar yang sudah kembali normal. Namun, ia masih heran dengan hal apa yang telah terjadi, mengapa semua menjadi begitu misterius.


“Ini sangat aneh ... bagaimana bisa semua menjadi seperti angin berlalu, mereka datang tiba-tiba, lalu pergi begitu saja, apa maksudnya coba,” keluh Riko.


“Ya ... sudah bagus mereka berlalu, kalau tidak ... habislah kita,” sahut Juan.


“Aku tahu itu, cuma aneh saja ... ini seperti bukan kebetulan biasa.”


“Iya, tahu sih! tapi yang terpenting kita harus pergi dulu dari sini, masalah benda itu ... kita bahas lagi nanti dengan yang lain, kau bawa saja dulu benda itu,” ucap Juan dengan terburu-buru.


“Okelah, mungkin kau benar ... iblis itu memang benar-benar sudah pergi, tapi tempat ini juga berbahaya, jadi ... ayo kita pergi!”


“Oke.”


Mereka langsung pergi dari tempat itu dan mencari jalan keluar. Dalam perjalanannya mereka tak sengaja menemukan tetesan darah yang pada lantai yang kotor. Mereka kembali panik dan langsung berlari sekencang-kencangnya.


Tak lama kemudian, Andi dan rekan klub lainnya seperti Fuurin, Ruri, dan Erick pun datang menemui mereka berdua. Keduanya sempat terkejut dengan kehadiran para exorcist itu secara tiba-tiba, bahkan mereka hampir saja menabrak rekan-rekan klub di depannya.


“Haa ... haah ... kalian ini! muncul kok tiba-tiba, hampir saja tertabrak,” protes Riko dengan napas yang masih terengah-engah.


“Hah ... salah siapa? kalian sendiri yang lari-larian, kenapa salahkan kami,” sahut Fuurin.


“Hei-hei ... sudahlah! kita datang untuk memberi bantuan, kau jangan protes terus,” sela Andi.


“Huftt ... bosan!”


“Oke ... ayo segera kembali, seperti kalian berdua masih tampak shock dan ketakutan hmm ...,” ajak Andi santai.


“Empat mata sialan!”


“Kami tidak ketakutan kok, cuma waspada saja,” sambung Juan.


“Hahaha ... masa sih,” goda Fuurin.


Akhirnya mereka semua kembali berkumpul, lalu melanjutkan perjalanan untuk pergi keluar dari tempat itu. Saat ini mereka semua mengabaikan urusan kelas dan lebih serius untuk membahas semuanya kembali di klub exorcist. Riko tampak agak kesal, karena ia sudah bolos hampir sehari full jam pelajaran.


“Ahh ... bolos lagi nih, seharian ini gue sama sekali belum mengikuti pelajaran di kelas, hmm,” keluh Riko.


“Mau bagaimana lagi, masalah mana mau diajak kompromi, lagi pula kau sudah biasa bolos, kenapa malah bingung begitu,” sindir Ruri.


“Senior model, gue sedang dalam tahap berubah menjadi siswa yang baik, mana bisa enggak bingung, dongo!” sahut Riko acuh.


“Hah ... haha, jelek sekali,” sindir Riko sambil membuang muka.


“Bocah kurang ajar! berani kau katakan itu sekali lagi, gue segel lu di buku iblis, arghh ....”


“Jelek ... hahaha ....”


Riko pun langsung berlari dan berputar-putar di sekitar rekan-rekan lainnya, lalu ia berlari ke belakang Andi sembari menjulurkan lidahnya untuk mengolok-olok senior Ruri.


“Awas kau, bocah Riko!”


Sambil bercanda, bertengkar dan saling mengganggu mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju klub exorcist untuk membahas permasalahan sebelumnya.


****


Sampai di depan klub exorcist, mereka kembali dibuat terkejut oleh sebuah anak panah yang tertancap pada pintu depan klub exorcist.


Andi langsung mencabut benda itu dan melihatnya. Di sana ia menemukan sebuah kertas dengan pesan singkat yang ditempelkan pada batang panah. Yang lainnya pun ikut penasaran untuk melihat isi dari pesan tersebut.


Dalam secarik kertas, di sana tertulis sebuah kode angka yang tergolong sederhana.


( 360°/1 > 23:56:4 // ᴄ 1 \= 7/7 )


“Kode ini  ...,” gumam Andi.


“Ketua ... ini maksudnya apa ya?” tanya Fuurin kebingungan.


“Kita bahas di dalam saja, sepertinya seseorang sengaja memberi petunjuk pada kita,” balas Andi singkat.


“Baiklah!”


Mereka semua langsung masuk ke dalam dan duduk di ruang utama untuk membicarakan hal tadi.


“Dalam pesan ini ada dua kode petunjuk yang sengaja di tunjukkan pada kita, aku masih belum tahu apa motifnya dan apa maksud dari kode ini, karena itu kita perlu mencari tahu semuanya,” jelas Andi.


“Baiklah, tapi bisakah kau jelaskan sedikit apa yang kau tahu?” pinta Riko.


“Baiklah, mari kita pecahkan bersama-sama ... yang pertama '360°' biasanya ini mengacu pada sebuah sudut lingkaran dan sisanya ... ini seperti mengarah pada waktu,” ucap Andi.


“Benar! angka ini ... mungkin seperti waktu rotasi bumi? dan '1 >' ... itu mungkin angka di atas rotasi yang membentuk sudut 360° adalah genap satu hari yaitu 24 jam,” sahut Juan.


Andi pun mencoba menerjemahkannya kode pertama ke dalam kata-kata yang lebih mudah dimengerti sembari memikirkan jawabnya.


“Itu berarti ‘lingkaran dalam satu hari’ yaitu ....”


“Jam?” jawab Riko.


“Ah ... kau benar, jam.”


“ Lalu sisanya?”


“Ini cukup jelas ... ada satuan cahaya di depannya dan angka satu, yaitu satu cahaya sama dengan tujuh, sama artinya dengan satu cahaya yang bisa diuraikan menjadi tujuh ....” jelas Andi perlahan.


“Cahaya putih?” sahut Erick.


“Tepat sekali! dan '7/7' itu adalah warna terakhir dari ketujuh uraian warna putih yaitu warna ungu,” balas Andi cukup yakin.


“Ungu?” tanya Ruri.


“Tunggu sebentar! aku baru ingat sesuatu ... tadi, saat kami diserang iblis angin dalam gedung lama, saat setelah hembusan angin yang kuat berhenti, tiba-tiba makhluk itu langsung menghilang dan meninggalkan dua kelopak mawar yaitu berwarna putih dan ungu, tidakkah ini terasa aneh,” ucap Riko penasaran.


“Dan, dalam perjalanan kami juga menemukan tetesan darah di lantai,” sambung Juan.


“Heh ... jadi seperti itu ya? oke, sudah bisa dipastikan ... kalian semua bersiap-siaplah untuk misi besok, ini adalah sebuah tantangan,” ucap Andi serius.


“Baik, ketua!” jawab para anggota exorcist lainnya secara serentak.


Mereka semua kembali memasang ekspresi serius, walaupun beberapa di antaranya masih ada yang belum begitu paham, tetapi mereka yakin bahwa itu adalah sesuatu yang tak bisa diremehkan.


.


.


.


TBC