
Keesokan harinya, keadaan Rion pun sudah mulai membaik, meskipun belum sembuh total tetapi ia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.
Karena sibuk menemani Rion kemarin, Riko pun melewatkan waktu latihannya untuk sehari. Sebenarnya ia tak begitu mempermasalahkan soal latihan, hanya saja yang membuat ia khawatir adalah tentang teman latihannya.
Biasanya Riko selalu datang berlatih ke tengah hutan bersama teman barunya yang selalu ada menunggu di sana. Namun, karena ada suatu halangan yang mendadak kemarin, ia pun belum sempat memberi kabar sebelumnya. Riko berpikir mungkin temannya itu akan menunggu ia sampai seharian di sana.
'Arghhh ... gawat! dia pasti kesal karena aku tak memberitahunya soal kemarin, aku harus segera ke sana,' bhatin Riko yang sedang berjalan cepat menuju tempat latihan biasanya.
Riko cukup penasaran apakah teman barunya akan datang lagi ke tempat itu setelah ia sendiri tak datang kemarin dan tidak memberi kabar.
Cukup tergesa-gesa berjalan cepat ke tempat latihan, dari kejauhan Riko melihat seseorang yang tak asing lagi sedang berlatih sendiri di sana.
'Heh ... si bocah iseng itu sedang apa di sana? sedang latihan kah? sendiri? hmm,' bhatin Riko yang sedikit bingung.
Akhirnya setelah cukup lama mengamati dari kejauhan, Riko pun langsung datang menemuinya. Anak itu pun juga menyadari keberadaan Riko yang tengah berjalan menuju tempat ia berdiri sekarang.
“Oi bocah bandel! datang juga kau ...,” teriaknya sembari melambaikan tangan.
“Yo! aku akan mulai latihan lagi, maaf untuk kemarin karena tak memberitahumu, aku ada halangan mendadak jadi tak sempat, kau pasti menungguku seharian ... hmm, kasihan sekali,” ucap Riko dengan intonasi yang menyebalkan seperti biasa.
“Yah, sudah kuduga sih ... orang sepertimu tak akan bisa lepas dari mulut toksik, tapi tenang saja ... aku sudah tahu dan tidak sampai menunggumu kok, lagi pula aku memang selalu ke tempat ini untuk berlatih, jadi tak ada waktu yang tersia-siakan,” balas anak itu dengan santai.
“Oh, ngomong-ngomong kau ini benar-benar seorang exorcist? mengejutkan sekali ... bocah tengik sepertimu sungguh berbakat di usiamu sekarang, kok jadi iri ya ... hmm,” ungkap Riko cukup bersemangat.
“Ya, sudah kukatakan sebelumnya kan, aku ini memang seorang exorcist yang hebat kau tahu ...,” balasnya dengan intonasi agak sombong.
“Okelah, sekarang aku percaya bahwa kau memang seorang exorcist ... ngomong-ngomong apakah kau bisa mengajariku untuk bertarung? aku juga ingin menjadi seorang exorcist yang hebat demi membasmi semua iblis jahat di dunia ini!” seru Riko penuh dengan ambisi.
“Tentu saja! kau bisa berlatih bersamaku di sini ... tapi sebelum itu kau selesaikan dulu latihan panahanmu dan menangkan kontes itu, setelahnya aku pasti akan mengajarimu bagaimana cara bertarung, lagi pula kau sudah memiliki keterampilan dasar untuk menggunakan senjatamu sendiri, jadi aku yakin kau akan menguasainya dengan cepat,” balas anak itu dengan yakin.
“Baiklah, aku pasti akan berusaha dan berlatih lebih keras lagi agar suatu hari bisa menjadi exorcist terhebat di dunia!” seru Riko dengan ekspresi tegas di wajahnya.
“Yosh, aku juga berjanji akan membantumu untuk mencapai tujuan dan ambisimu itu, kau bisa bergantung padaku ... lagi pula kau juga memiliki energi spiritual yang sangat unik dan mungkin akan sangat dibutuhkan dalam dunia exorcist, jadi aku yakin suatu hari nanti kau pasti akan menjadi orang yang terpandang dalam perkumpulan exorcist,” jawabnya dengan yakin.
“Hmm, mungkinkah ... apa aku bisa berlatih dengan baik?” tanya Riko dalam keraguannya.
“Tak perlu khawatir, ada aku yang akan ikut membantumu, selain itu aku masih punya dua sahabat yang tak kalah hebatnya, saat ini mereka sedang sibuk jadi tak bisa ikut berlatih ... mungkin lain kali aku akan mengajak mereka juga, jangan khawatir mereka berdua sangat baik kok!” tambah anak itu dengan wajah berseri.
Anak itu menunjukkan ekspresi yang begitu bersemangat saat membahas teman-temannya, sehingga membuat Riko merasa aneh ketika melihat seseorang begitu berekspresi yang menurutnya itu seperti orang bodoh.
“Hmm ... sepertinya mereka sangat penting bagimu, sampai-sampai kau bisa memasang ekspresi menjijikan seperti itu,” sindir Riko sinis.
“Sialan, bisa tidak kau tak perlu menambahkan racun pada setiap ucapanmu, mengesalkan sekali ...,” balasnya kecut.
“Hahaha ... kurasa tidak, ini adalah berkat dari lahir jadi tak bisa dihilangkan begitu saja,” sahut Riko polos.
“Berkat kampret! itu aib namanya dongo!” balasnya pedas.
“Heeeh, masa sih? siapa yang memberitahumu?” tanya Riko lagi.
Jawaban Riko selalu sukses membuat orang lain merasa kesal dan gemas ingin menghukumnya.
“Anak siapa sih ini setan kecil, aku karungin saja kau bawa ke laut, huft ... sudahlah, sebaiknya kita lanjut latihan saja agar tak banyak membuang-buang waktu,” sahut anak itu sembari menghela napas.
“Oke!”
Cukup dengan perdebatan mereka, akhirnya latihan pun dimulai. Riko cukup bersemangat seperti biasanya, akurasinya juga semakin meningkat. Karena kontes tinggal satu hari lagi, ia pun memastikan untuk bisa berlatih dengan serius hari ini.
“Hei, curut tengik! ini adalah hari terakhirku untuk berlatih, esok adalah hari yang begitu menegangkan untuk merebut posisi pertama di kontes itu ... emm, ngomong-ngomong apa kau bisa datang ke acara kontes besok? yah ... untuk sekedar menonton saja,” tanya Riko yang sedikit berharap.
“Baiklah, tenang saja ... aku sendiri juga penasaran kok dengan penampilanmu dan juga orang yang ingin kau kalahkan itu,” balasnya tenang sambil menatap ke arah Riko.
“Baguslah kalau begitu, latihanku selama ini ... tak akan kubiarkan menjadi sia-sia, aku harus bisa!” seru Riko dengan tegas.
Setelah itu mereka pun melanjutkan kembali latihan tadi sampai hari sebelum sore.
Beberapa waktu telah berlalu, jam pun sudah menunjukkan pukul 15:00, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon rindang sambil berbincang-bincang.
“Huft, sungguh melelahkan tapi juga menyenangkan ... memiliki seorang teman ternyata tak begitu buruk yah,” gumam Riko sembari berbaring pada rumput hijau di bawah pohon.
“Memang benar, asalkan mereka bisa kau percaya ... tapi jika tidak, lebih baik tak memiliki teman sama sekali daripada banyak teman tapi palsu, mereka hanya membebankan pikiranmu, kau tetap kesepian ...,” balas anak itu dengan intonasi yang santai.
“Ah benar juga ... kalau begitu apa berarti aku mempercayaimu?” tanya Riko sedikit ragu.
“Entahlah, itu tergantung sudut pandangmu sendiri, apakah bisa mempercayaiku atau tidak ... tapi jika kau bertanya padaku, tentu saja aku bisa dipercaya ... karena aku tak akan pernah meninggalkan temanku selama mereka tidak mengkhianatiku,” jelasnya sambil menatap langit.
“Hmm, okelah ... apapun itu,” jawab Riko singkat.
Cukup lama berbaring di tempat itu, mereka pun mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di sana.
“Hei, entah kenapa perasaanku agak gelisah ya? bahkan langit yang cerah terasa mencekam, kira-kira apa yang sedang terjadi?” tanya Riko dengan perasaan tak tenang.
“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Riko lagi.
“Jangan khawatir, setelah urusanku selesai ... aku juga akan pulang kok, sekarang kau pulang sendiri saja, kau juga sudah hafal dengan jalan pulang kan, jadi segeralah pulang!” sahutnya sambil bangkit dan berdiri dengan tegak.
“Baiklah, kalau begitu aku akan pulang sebelum sore ... sampai jumpa besok ya!” seru Riko dengan langkah yang sedikit ragu.
“Oke, sampai jumpa besok,” jawabnya singkat.
Riko pun segera pergi dengan langkah yang sedikit buru-buru, dalam perjalanannya ia sempat berhenti dan seperti mendengar suara dedaunan yang bergemerisik. Namun, saat ia memperhatikannya kembali ternyata tak ada hal aneh apapun di dekatnya saat ini, hanya saja perasaannya menjadi sedikit tidak tenang, jadi ia segera mempercepat kembali langkahnya.
Sampai di pinggir hutan, Riko merasa sedikit lebih lega. Namun, ia masih harus melanjutkan kembali perjalanannya sampai ke rumah.
'Harusnya aku masih memiliki waktu yang cukup sebelum jadwal yang ditentukan, tapi entah kenapa aku tak bisa tenang memikirkan itu, arghhh!’ bhatin Riko gelisah.
Riko terus memikirkan berbagai hal tak penting di kepalanya, karena perasaannya sedang tak tenang saat ini, ia pun berlari sekencang-kencangnya di sepanjang jalan.
Beberapa menit berlalu, akhirnya ia pun hampir sampai di tujuan. Kemudian ia berlari menuju taman tempat biasanya ia dan Rion berkumpul sebelum pulang bersama.
“Hah ... hah ... hah, akhirnya sampai juga, huft ... kira-kira si Rion apakah masih berlatih saat ini?” gumam Riko penasaran.
Karena ia tak melihat Rion di taman depan, akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya ke daerah tengah.
Cukup lama berputar-putar di tempat itu, tetapi ia masih belum menemukan keberadaan saudara tirinya itu.
'Hei! apa-apaan ini ... kenapa Rion tidak ada di sini, lalu perlengkapan latihannya juga tak ada ... sebenarnya ke mana orang itu pergi?’
Dalam hati Riko terus bertanya-tanya, permainan apalagi yang sedang dilakukan saudaranya itu.
Di sisi lain, teman latihan Riko tampaknya masih berkeliaran saja di tengah hutan, ia berdiri dengan ekspresi dingin di sekitar genangan berwarna merah terang, dedaunan pun tampak rontok dan layu dipenuhi warna hitam, begitu pula dengan rumput yang sebelumnya hijau menjadi hitam berdebu, tak hanya itu ... udara yang seharusnya bersih, kini menjadi gelap pekat dan berkabut.
Ia pun berjalan dengan normal seperti biasa sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
.
.
Riko yang masih menunggu Rion pun sudah semakin kesal, ia menunggu sudah hampir setengah jam tetapi belum ada tanda-tanda kemunculannya.
'Ini sudah mulai sore, tak biasanya Rion seperti ini ... apakah telah terjadi sesuatu dengannya?’ bhatin Riko yang terus bertanya-tanya.
Meskipun ia membenci saudaranya, tetapi ia juga terkadang mengkhawatirkannya ... Rion selalu bersikap baik padanya, jadi ia sendiri sebenarnya tak ingin jika sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.
Karena terlalu banyak berpikir, Riko pun langsung bangkit dari duduknya dan pergi meneriakkan nama saudara tirinya.
“Rion! Rion! ... kau ada di mana sekarang? kenapa lama sekali? cepat jawab aku, oii ... Riooonnnn!” teriak Riko dengan lantang.
Karena tak ada jawaban sama sekali, Riko pun menjadi semakin panik, ia berlari-larian ke sana kemari dengan meneriakkan nama 'Rion'.
Sudah cukup lama mencari, tetapi ia tak menemukan petunjuk sama sekali. Karena merasa takut dan kecewa akhirnya ia menangis sembari terduduk di pinggiran taman.
Tak lama kemudian terdengar suara seseorang yang sedang memanggil namanya sekaligus menyadarkan ia dari kepiluannya saat ini.
“Riko? apa yang sedang terjadi, mengapa kau menangis?”
Kemudian Riko pun tersadar dan mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang ada di hadapannya saat ini.
“Kau! kau sialan brengsek ... dari mana saja dari tadi aku mencarimu ke mana-mana, tapi tak menemukanmu di mana pun, kau sialan!” teriak Riko mencoba menahan emosinya.
“Maafkan aku, sebenarnya hari ini aku tidak ambil latihan karena mendapat tugas khusus dari ibu ... jadi tadi aku tak sempat datang kemari, aku pikir akan menjemputmu lagi ke sini jika sudah tepat jam, tapi siapa sangka kau pulang lebih awal ... maaf Riko, aku telat menjemputmu,” libur Rion lembut.
“Berisik! aku tak peduli dengan alasanmu, kau sangat menyebalkan,” balas Riko dengan suara yang tertahan.
Riko sebenarnya cukup lega, tetapi ia juga kesal. Sehingga perasaan yang tak karuan membuatnya tak bisa menahan tangisannya lagi.
Melihat hal itu, membuat Rion merasa sedikit bersalah. Ia pun berusaha untuk menenangkan adiknya yang sangat cerewet itu, dengan mengusap-usap kepalanya sembari meminta maaf, kemudian Rion memeluknya dengan tulus.
Beberapa saat setelah merasa lebih tenang, Riko pun kembali berlagak dan menantang Rion.
“Huh ... awas saja kau ya! aku akan membalasnya besok, lihat saja! tunggu pembalasanku,” pekik Riko sembari menunjuk ke arah Rion.
Setelah mendeklarasikan tantangannya, Riko pun langsung pergi mendahului Rion. Sementara Rion hanya tersenyum lemah melihat kelakuan saudara tirinya.
.
.
.
TBC