
Hari semakin gelap dengan mendung disertai petir dan gemuruh guntur, tiga orang itu mulai bersiap melawan koloni iblis. Andi mengeluarkan ribuan jarumnya untuk memusnahkan setiap koloni iblis yang kini tengah menghalangi jalannya. Serangan bertubi-tubi dengan skala yang besar, berhasil membuka jalan menuju iblis utama.
Dengan gesit Andi melompat sembari menerjang setiap bagian tubuh iblis, ia mengalirkan energi spiritualnya dalam setiap pukulannya serta jarum-jarumnya. Rangkaian ribuan jarum berkumpul membentuk halo, Andi mengalirkan elemen petir pada setiap rangkaiannya dan melepaskan serangannya dengan gelombang kecepatan yang tak terkira.
Namun, sebelum berhasil melepaskan serangan tersebut, iblis itu sudah lebih dulu melakukan serangan balasan dengan kibasan angin, akibatnya rangkaian serangan berhasil dihancurkan, walaupun demikian saat serangan yang sudah terlepas tadi, tentunya akan ada beberapa bagian yang gagal dihentikan oleh iblis itu.
Karena rangkaian serangan Andi memiliki sudut 360°, sebagian dari serangan yang gagal pun tetap berhasil mengenai bagian belakang iblis.
Di saat iblis itu mulai melemah, Andi pun mengambil kesempatan untuk memberi tanda pada bagian tubuh iblis yang terkoyak akibat serangan sebelumnya. Ia memberi segel penghancur dengan kertas mantra, lalu meledakkannya dari jauh.
Kertas yang bertuliskan petir dalam aksara kuno mulai memancarkan cahaya dan menghasilkan energi listrik yang besar, tak hanya sampai di sana, Andi mulai menyusul serangannya dengan jarum cahaya.
Kilatan cahaya yang sangat terang disertai ledakan yang dasyat membuat kedua orang di sana menjadi takjub dengan kehebatannya. Riko dan Fuurin pun juga tak mau kalah, mereka berdua jadi semakin bersemangat untuk menghabisi bagian mereka. Jika hanya koloni iblis, mungkin itu bukanlah masalah besar bagi Riko. Dengan naluri berandalannya, ia bisa menumpas semua koloni iblis yang datang mendekatinya.
Walaupun sebenarnya ia tidak tertarik untuk ikut menjadi tokoh heroik, tapi saat berhasil menghancurkan beberapa koloni kecil itu, perasaan puas mulai terasa.
“Bukan untuk menyelamatkan orang lain, tapi bisa menghancurkan sesuatu itu jauh lebih menyenangkan, ahahaha ...,” tawa Riko dengan puas.
“Hei ... Riko, mereka belum habis semua, kau jangan senang dulu! yang ada malah kalah nantinya,” sindir Fuurin.
“Haah ... sudah tahu kali, makanya gue tambah semangat, itung-itung buat olahraga lah,” sahut Riko dengan percaya diri.
“Terserah kau saja, lihat! yang utama aja masih ada, kalau tenagamu sudah melemah, habislah kau,” sahut Fuurin.
“Apaan sih, kan ada ketua.”
Kabut asap pun mulai menghilang, mereka berdua langsung melihat ke arah iblis utama, lagi-lagi mereka dibuat terkejut oleh penampakan iblis tersebut. Keadaannya memang terlihat cukup parah, akan tetapi mereka beregenerasi dengan sangat cepat untuk membentuk sel-sel yang baru.
Ini memang situasi yang tidak baik, Riko kembali mendecih kesal.
“Tchh ... makhluk itu benar-benar sudah tak masuk akal lagi, sialan.”
“Tampaknya iblis itu hanya bisa disegel saja dengan formasi buku segel, tapi sekarang kita sedang kekurangan orang untuk membuat formasi itu, makhluk itu sangat kuat,” sahut Fuurin.
“Yah ... mau bagaimana lagi, kita fokus saja bertarung sampai akhir, mungkin saja bantuan akan segera datang,” ucap Riko yang sedikit berharap.
“Kau benar, ketua pasti sudah menghubungi yang lainnya dengan telepati,” balas Fuurin lebih tenang.
“Baguslah kalau begitu.”
Keduanya kembali fokus untuk meneruskan pertarungan mereka. Kertas mantra milik Riko pun sudah mulai berkurang, karena sudah cukup banyak ia gunakan untuk melawan koloni iblis pohon itu. Ia mengikat kertas mantra pada ujung dahan kayu yang ia gunakan sebagai senjata, gunanya untuk meningkatkan kualitas serangannya, mungkin dari segi kekuatan spiritual Riko memang masih belum memadai, tetapi dalam hal fisik tentunya ia cukup yakin bahwa ia juga bisa mengalahkan koloni iblis tersebut.
Sedangkan Fuurin, ia juga terus berjuang melawan koloni iblis dengan menggunakan kekuatan spiritualnya. Dengan elemen anginnya, Fuurin mencoba untuk menciptakan pedang angin, walaupun masih belum sempurna, tetapi itu cukup membantunya untuk melawan para koloni iblis pohon.
“Heeh ... kau hebat juga yah! dengan mudahnya bisa menyempurnakan jurusmu dalam waktu yang singkat,” ucap Riko cukup kagum.
“Itu hanya dari sudut pandangmu saja, bahkan kau tak tahu seperti apa usahaku untuk mencapai garis awal, aku sudah berlatih dari umur 6 tahun dan sampai sekarang baru hanya bisa menguasai spiritual yang lemah, kau pikir itu mudah, hmm,” jawab Fuurin dengan nada sedikit kesal.
“Ya ... aku hanya kesal saja, rasanya semua begitu sulit, aku sendiri bahkan belum bisa mencapai angka 0,1,” balas Riko sedikit putus asa.
“Apapun yang ingin kau capai, tak akan bisa kau dapatkan tanpa kerja keras, bahkan sudah berusaha pun belum tentu membuahkan hasil, apalagi jika hanya berharap,” tambah Fuurin agak dingin.
“Yah ... mungkin kau benar, tapi aku tak akan pernah mau berhenti dan menerima begitu saja hasil yang takdir berikan, setidaknya aku adalah orang yang telah berjuang,” balas Riko sembari melesat maju dan menghempas semua koloni yang ada di depannya.
“Aku hanyalah orang bodoh yang tidak berharga, akan kuhabisi kalian semua yang menjadi dinding penghalang, ahahahaha, matilah kau makhluk menjijikan ...,” ucap Riko dengan tawa iblisnya.
Fuurin menarik sudut bibirnya dan memberi tatapan tegas.
“Aku juga, tentunya tak akan kalah,” timpal Fuurin.
Alhasil, dalam sekali kibasan ia berhasil memotong puluhan koloni iblis. Melihat hal itu, Riko pun tak mau kalah juga, ia semakin ganas menyerang dan menghancurkan iblis pohon. Serangan bertubi-tubi dari mereka berdua sudah hampir berhasil memusnahkan seluruh koloni. Riko menghabiskan kertas mantranya untuk serangan terakhir, ia penasaran untuk mencoba membakarnya.
Riko mulai menyalakan api, lalu segera kabur dari tempat itu. Ia ingin melihat seperti apa proses peledakan itu terjadi, ketika api telah mencapai bagian tengahnya, kertas itu langsung memancarkan cahaya yang terang, ia merasa sedikit deg-degan, walaupun kertas itu bukan miliknya, tetapi tetap saja ia yang telah menggunakannya.
‘Apakah itu akan berhasil?’ ia terus bertanya-tanya dalam hati dan berharap itu akan berakhir keren.
Tak lama kemudian, muncul semacam tali petir yang menjerat makhluk itu dan perlahan menghancurkannya menjadi beberapa potongan. Riko tercengang, bagaimana bisa seperti itu?
“Lho! kenapa tidak meledak?” tanya Riko bingung.
“Memangnya kau pikir itu semacam kertas peledak, haah ... jelas bukan lah!” sahut Fuurin.
“Lalu, bagaimana?” tanya Riko kebingungan.
“Itu kertas yang ditulis oleh ketua, tentu saja setiap kertas memiliki cara kerja yang berbeda-beda tergantung mantra yang ditulisnya ... jadi, dalam kertas tadi itu adalah semacam jurus yang diciptakan oleh ketua, lalu ia menuliskannya pada kertas mantra tersebut, sehingga dalam beberapa hal itu bisa mempermudah serangan nantinya,” jelas Fuurin.
“Kalau sudah tahu begitu, kenapa kau tak bilang dari tadi, kampret! gue kan gak perlu repot-repot membantai mereka semua, arghhh ...,” keluh Riko kesal.
“Hehe ... biar olahraga dikit lah, lagi pula kalau kau terlalu banyak menggunakannya, maka ketua juga akan cepat kehabisan tenaga, karena setiap jurus yang kau keluarkan dari kertas mantra, itu akan menghabiskan energi pemiliknya,” jelas Fuurin lagi.
“Oh ... ada kelemahannya juga ya, okelah, gak jadi deh ... percuma saja, gak keren kan kalau menang pakai kekuatan orang lain,” sahut Riko percaya diri.
“Siap, sekarang mereka sudah habis, waktunya bantu ketua,” ucap Fuurin bersemangat.
“Baiklah! ayo pergi.”
Setelah menyelesaikan bagian mereka, akhirnya keduanya pergi ke tempat Andi bertarung, mungkin mereka bisa memberi sedikit bantuan di sana.
“Kaichouuu ...,” teriak Fuurin sembari berlari ke arah ketua Andi.
“Woah ... kalian sudah berhasil menghabisi semuanya? hebat juga kalian berdua,” puji Andi.
“Ah, tidak juga ... itu hanya koloni kecil, karena musuh yang sebenarnya adalah yang berada tepat di depan kita,” sahut Riko dengan wajah tegas dan fokus ke sasaran.
“Emm ... tapi sepertinya dia sudah sekarat, tuh lihat!” sela Fuurin sembari menunjuk ke arah iblis utama.
“Walaupun begitu, kalian tak boleh menurunkan kewaspadaan kalian, selama makhluk itu masih ada, belum bisa dipastikan siapa yang akan menang,” sahut Andi tanpa menurunkan kewaspadaannya.
“Okelah!” jawab Riko malas.
“Selain itu, regenerasinya juga sangat cepat, walaupun sekarang sudah mulai melemah, tapi jangan pernah meremehkannya,” tambah Andi lagi.
“Baik! aku mengerti,” jawab Fuurin tegas.
“Ayo bersiap! iblis itu sudah mulai bergerak.”
Mereka bertiga kembali bergabung dengan posisi formasi segitiga yang saling mengisi di setiap arah sudut.
.
.
.
TBC