
Ketika mereka berdua sampai di kamar, Riko kembali mengambil dua benda koleksinya itu.
“Hei Tian, kemarin kau bilang bahwa dulu aku pernah menggunakan benda ini kan, lalu apa kau tahu siapa yang memberikannya padaku?” tanya Riko penasaran.
“Emm ... entahlah, aku tak terlalu ingat, mungkin ayahmu yang memberikannya dan dulu kau juga selalu berlatih bersama seseorang,” jelas Tian sembari mengingat-ingat.
“Seseorang?”
“Iya, dia adalah kakakmu.”
“Ah benar juga, aku kan punya seorang kakak laki-laki yah,” sahut Riko datar.
“Kalian biasanya latihan bersama ayahmu,” tambah Tian.
“Begitu yah, sayang sekali aku tak mengingat di bagian itu,” sambung Riko.
“Lalu ke mana sekarang dua orang itu?”
“Jangan tanyakan hal itu padaku, aku tak tahu jelas kejadiannya ... yang pasti saat kau mulai tinggal bersama kami usia kau sudah sekitar 9 tahun” jelas Tian.
“Begitu ya, lalu ibuku?” tanya Riko lagi.
“Kalau ibumu ... entahlah, aku tak ingat apapun tentang ibumu, kurasa dia sudah tak bersamamu sejak kau berusia 7 tahun, hanya saja aku belum pernah melihat wajahnya, ini hanya kata ibuku,” jelas Tian sembari mengingat-ingat.
“Jadi begitu ya, baiklah ... aku mengerti.”
‘Berarti pada malam mengerikan waktu itu, ibu sudah pergi akibat serangan iblis, dan tentunya setelah semua berlalu ayah menikah lagi dengan tante Diana, karenanya aku dan Rion menjadi saudara tiri,’ bhatin Rion hampa.
“Oiya, seingatku kau juga memiliki ibu tiri yang selalu menemanimu sewaktu latihan dulu,” tambah Tian lagi.
“Oh ... abaikan saja yang itu, aku hanya penasaran, bagaimana aku bisa menggunakan kedua benda ini?” tanya Riko penasaran.
“Kau dulu sangat rajin berlatih sampai mengabaikan semua orang, termasuk aku juga, matamu sangat dingin dan tajam ... rasanya dulu aku ingin memukulmu,” sahut Tian dengan muka masamnya.
“Heeh ... tapi kau sering melakukannya sekarang, kampret!”
“Hehehe ... anggap saja itu pembalasan atas yang dulu,” ucap Tian sambil terkekeh.
“Alasan, emang dasar lu nya aja yang sialan,” sahut Riko agak kesal.
“Yaudah, kesampingkan saja dulu yang itu ... sekarang apa lagi? udah lewat nih 2 menit.”
Riko kembali berpikir dan mengingat-ingat, apa saja yang perlu ia tanyakan lagi pada Tian.
“Emm ... apa yah? ahh ... bagaimana kesanmu waktu itu, apa aku bisa berlatih dengan baik dengan benda ini?” tanya Riko berseri-seri.
“Yeah ... kau melakukannya dengan sangat baik, tapi ambisimu itu rasanya kau seperti ingin membunuh seseorang, kau berlatih tanpa kenal lelah.”
“Ah ... begitu yah, aku mengerti.”
“Sudah ya, gue mau kembali dulu, udah kesiangan nih.”
“Okedeh, lu siap-siap aja sana ... gue mau latihan sekarang,” sahut Riko.
Tian yang sudah hampir keluar dari kamar Riko pun terhenti dan berbalik setelah mendengar pernyataan terakhir Riko.
“Eh, latihan? gak sekolah lu?” tanya Tian sedikit terkejut.
“Enggak lah, udah minta izin gue tadi tau, haha ... gue bebas seharian, hmm,” jawab Riko dengan nada mengejek Tian.
“Hem ... kalau begitu gue juga ikutan libur deh, penasaran mau awasin kakak gue latihan panahan.”
“Hah ... baru lu akui gue sebagai kakak, udah sana gak usah ikut-ikutan, gue mau fokus sendiri,” sahut Riko.
“Hmm ... gue minta izin dulu deh, sekalian selesaikan aktivitas pagi dan sarapan, habis itu baru deh gue ikut latihan, yaa ... kalau begitu gue pergi dulu ntar balik lagi, bye ....”
“Heeh ... adik stress, gak usah balik lagi deh.”
Akhirnya Tian langsung pergi untuk melanjutkan aktivitasnya, sedangkan Riko kembali fokus dengan senjata rahasianya.
Pertama, ia mulai menyiapkan sasaran bidikan yang akan ia tempelkan di dinding kamar. Kemudian, barulah ia mengambil kedua benda tadi.
Ketika ia melepaskan anak panah tersebut, tampak wajah yang berseri dan cukup puas, meskipun tak sampai di titik tengah. Namun, setidaknya ia masih bisa mengenai garis luarnya.
“Fyuh ... ternyata aku masih bisa menggunakan benda ini, meskipun tak banyak yang kuingat, tapi sepertinya benda ini adalah sesuatu yang istimewa bagiku,” gumam Riko merasa sedikit lega.
Akhirnya ia kembali melanjutkan latihan itu dan terus mencoba, tentunya tidak semudah itu ia bisa mencapai target sempurna, terkadang bidikannya juga meleset sesekali.
Meskipun begitu, ia tak mau menyerah juga sampai bidikannya benar-benar sempurna.
“Huft ... mengenai target dan titik tengah itu ternyata sangat sulit ya, meskipun tanganku sudah lihai dan terbiasa dengan benda ini, tapi tetap saja membuatnya tepat sasaran itu sangatlah sulit.”
Ia benar-benar terlalu fokus pada senjata hingga ia sampai lupa pada latihan gerakan beladiri dan keseimbangan tenaga dalam yang diajarkan oleh ketua Andi sebelumnya.
Ia hanya berlatih dan berlatih panahan saja, meskipun hanya memiki 5 buah anak panah, ia tak patah semangat dan berkali-kali memungut lagi anak panah tadi.
Tak lama kemudian mulai terdengar suara berisik yang menginterupsi kegiatan pribadinya itu.
“Kakak Riko! aku sudah selesai ... mau ikutan latihan, ya?” pekik Tian yang tampak bersemangat.
“Enggak! lu ikut-ikutan mulu, gue lebih senang sendiri,” bentak Riko .
“Ah, dasar! zaman udah berganti, lu masih saja dingin macam dulu, gak bolehin gue ikutan,” balas Tian.
“Habisnya lu ngeselin, berisik, terus ... suka ganggu orang lagi, gimana gue bisa tenang kalau lu ikut-ikutan mulu.”
“Okedeh, gue gak gangguin ... cuma ikut latihan aja, swear!”
“Yaudah, ikut saja ... tapi awas ganggu ya, gue langsung tendang lu dari sini,” ancam Riko.
“Siap, bos!”
Setelah cukup lama berdebat, akhirnya Riko mengizinkan Tian untuk ikut latihan.
Di sana Tian terlihat hanya mengamati Riko saja, ia juga tak berniat untuk mencoba ataupun mengganggunya. Hanya dengan menonton saja mungkin itu sudah cukup baginya untuk sekedar hiburan.
‘Baguslah, kakak Riko masih berbakat seperti dulu ... setidaknya dengan ini kegiatan berandalannya bisa diistirahatkan sementara,’ batin Tian.
Di saat Riko yang hanya fokus pada satu kegiatan saja, Tian pun melangkah ke arah jendela untuk melihat suasana luar di pagi itu.
Ia tampak menyeringai puas sembari menghirup udara segar dengan cahaya matahari yang masih hangat.
Setelah cukup lama berdiri di sana akhirnya ia kembali ke tempat di mana tadi ia mengamati kegiatan Riko.
“Hei kak Riko, aku sedikit penasaran ... kenapa kau tiba-tiba ingin berlatih panahan lagi?” tanya Tian.
“Itu urusan gue, lu anak kecil diam saja,” sahut Riko dengan cuek.
“Cih, selalu sombong seperti biasanya.”
“Emang, lagian ini bukan urusanmu juga ... jadi tak perlu ikut campur,” balas Riko sinis.
“Kalau aku mau ikut campur, bagaimana? kau tak bisa melarangku seenaknya,” balas Tian santai.
“Kalau begitu, kau juga tak bisa seenaknya ikut campur yang bukan urusanmu, oke?” timpal Riko acuh.
“Tch ... keras kepala.”
“Biarin, kan suka-suka gue.”
“Sudahlah, lanjutkan saja latihannya.”
Riko pun melanjutkan latihan itu, mungkin dalam hal akurasi memang ia sudah cukup baik, mungkin ia perlu menyesuaikan timing dan target, tentunya dalam objek yang bergerak, maka tingkat kesulitannya pun akan bertambah 3x lipat. Oleh karena itu ia juga perlu berlatih pada bagian itu.
.
.
.
TBC