
Riko dan Fuurin berjalan bersama karena kebetulan jalan rumah mereka searah. Walaupun biasanya Riko pulang naik taxi, tetapi untuk hari ini ia menyempatkan diri untuk berjalan kaki bersama Fuurin.
Ada beberapa hal yang ingin dikatakan Fuurin hari ini, bahkan sebelumnya ia juga sudah membahasnya dengan Andi.
“Riko, seharian ini mungkin kita telah banyak melewati hal-hal yang tak terduga, tapi ... untuk beberapa hal kau harus bisa lebih mengerti dan paham,” ucap Fuurin dengan nada agak khawatir.
“Iya, memangnya ada apa?” tanya Riko malas.
“Kau harus segera bergabung ke klub exorcist, ini demi kebaikanmu juga,” balas Fuurin yang sedikit serius.
“Sudah kubilang kan! aku tidak berminat.”
“Aku merasa ada yang aneh, seharian ini seperti ada orang yang sedang mengikutiku, dan ....”
“Jangan khawatir, kau hanya terlalu banyak berpikir dan terbawa suasana karena kejadian sebelumnya,” sahut Riko mencoba untuk menenangkan Fuurin yang masih khawatir.
“Tidak! aku merasa itu benar-benar nyata dan aura jahat itu ....”
“Kau terlalu berlebihan tau, jika kau merasa takut ... tetaplah bersamaku, aku pasti akan melindungimu.”
“Terima kasih, tapi selain itu ... ketua Andi memberitahuku bahwa beberapa buku koleksi penyegel iblis telah hilang, ini adalah hal yang sangat buruk, jika iblis itu kembali dibebaskan maka akan menjadi masalah yang sangat besar, kau tahu ... iblis yang tersegel di sana adalah iblis yang tidak mampu dinetralkan, itu artinya ... mereka adalah kumpulan iblis-iblis terkuat,” jelas Fuurin sembari termenung.
“Haahh ... bagaimana bisa begitu, pencuri sialan! bagaimana buku itu bisa sampai tercuri?” sahut Riko yang ikut terpengaruh dan mulai geram.
“Aku juga tidak mengerti dan aku tahu ketua bukanlah termasuk orang yang ceroboh, bahkan ia sudah menyimpan buku itu dengan segel khusus, tentu saja manusia biasa takkan bisa membukanya,” jawab Fuurin kebingunan.
“Jadi, menurutmu siapa pelakunya?” tanya Riko sembari melirik pada Fuurin.
“Aku tak tahu, siapapun tak ada yang tahu hanya pelaku dan Tuhan yang tahu itu.”
“Iya, gue juga tahu hal itu, hmm.”
“Sebenarnya aku berencana untuk segera mempelajari segel buku delapan teratai dan aku juga ingin kau belajar bersamaku,” pinta Fuurin memelas dengan mata berbinar.
“Huft ... kenapa semua malah jadi rumit begini sih, baiklah ... aku akan menemanimu latihan tapi aku tetap takkan bergabung dalam klub,” sahut Riko yang masih tetap pada pendiriannya.
“Tidak masalah ... yang penting kau mau datang, jika ingin ikut latihan juga boleh, hehehe.”
“Tidak! jangan tambah-tambahkan lagi, aku sudah terlalu memaksakan diri, oke!”
“Oke deh, hehehe.”
Mereka terlihat jauh lebih akrab dari sebelumnya, sembari bersenda gurau mereka berjalan bersama menyusuri jalanan di sore hari. Hingga sampai di suatu persimpangan jalan, akhirnya mereka mulai berpisah dan kembali ke rumah masing-masing. Di satu sisi, Fuurin kembali memikirkan hal tadi.
'Ini tidak benar ... aku tak boleh berprasangka buruk dulu sebelum ada bukti yang jelas.'
Jalanan pun terasa sepi dan perasaan itu kembali muncul.
'Aku merasakannya lagi, ada yang terespon dalam resonansi tubuhku, sungguh mengesalkan! perasaan ini sama seperti sebelumnya, sebenarnya makhluk apa yang terus mengikutiku seperti ini?' bhatin Fuurin yang terus merasa resah sepanjang perjalanannya.
Ia pun seketika mempercepat langkahnya dan menjadi semakin extra waspada.
Terlalu tegang ia memikirkan hal itu, hingga tak sadar ketika bunyi klakson mobil yang berhenti di depannya menjadi begitu mengejutkan.
BIP ... BIP ....
“Hyaaaaa ....”
“Oii ... kau kenapa sih, teriak-teriak macam tak pernah dengar klakson mobil aja,” teriak Juan dari jendela mobilnya.
“Kampret! gue yang kaget tau ... makanya jangan tiba-tiba gitu,” sahut Fuurin kesal.
“Hahaha ... kau sedang melamunkan siapa? hmm ... hati-hati saja, kalau sampai tertabrak kendaraan bisa gawat, Rikomu nanti jadi kesepian lho!” goda Juan.
“Haahh ... apa-apaan itu.”
“Hmm ... sudahlah, daripada jalan kaki kayak dikejar maling begitu, mendingan ikut aku! tenang saja aku akan mengantarmu dengan selamat,” ucap Juan menawarkan bantuan pada Fuurin.
“Huaaa ... ide yang bagus! terima kasih deh kalau begitu, tolong antarkan aku pulang,” balas Fuurin antusias.
“Heehhh ... langsung mau.”
“Kalau gak ikhlas jangan nawarin dong!”
“Siapa yang bilang gak ikhlas, cuma merasa aneh saja, biasanya cewek-cewek kan banyak perhitungan biar dibujuk dulu sampe bikin geregetan baru mau,” sindir Juan.
“Yaudah, biarin aja! yang penting sekarang jalan dulu.”
“Oke, ikan remora.”
“Jamur payung kau ....”
Mereka kembali tancap gas dan meninggalkan tempat itu.
“Hei, kau! kenapa mukamu kusut gitu, tampaknya kau sangat khawatir dari tadi, apa yang kau pikirkan?” tanya Juan penasaran.
“Bukan apa-apa, tadi itu sebenarnya aku merasa ada yang aneh, sama seperti sebelumnya di sekolah, rasanya seperti ada yang terus mengikutiku,” balas Fuurin yang tampak serius.
“Hehh ... benarkah?”
“Umn.”
Juan sedikit menyeringai sembari membuang muka ke jendela kaca mobil.
'Sepertinya akan ada banyak hal menarik tahun ini, mari kita lihat bagaimana nantinya.'
“Hei Juan, apa kau setiap hari dijemput sopirmu?” tanya Fuurin.
“Yup.”
“Hahh ... kau pikir aku tak pernah olahraga! kalau jalan kaki mah ... bisa setahun baru sampai, rumahku jauh kampret!” sahut Juan yang mulai geregetan.
“Hehehe ... sorry-sorry.”
Sesampainya di rumah, Fuurin melambaikan tangan sembari mengucapkan terima kasih.
.
.
Di sisi lain Riko yang sudah hampir sampai di rumahnya, tiba-tiba seseorang lewat dan menghampirinya.
“Yo! teman kecil ... kau berjalan sendiri, ayo! aku antar kau pulang,” ucap seseorang dari balik jendela mobil yang perlahan terbuka.
“Rumah gue udah dekat, tinggal beberapa belokan lagi sudah sampai, jadi ga usah tumpangannya,” balas Riko dengan cuek.
“Dingin sekali nona hantu, kalau begitu ... aku akan mengunjungi rumahmu sebentar boleh kan?” goda Andi sembari terkekeh.
“Jelas tidak, empat mata sialan!”
“Oke, bagaimana jika aku akan memasang penangkal iblis di rumahmu, kau masih tidak mau?” tanya Andi dengan tawarannya.
“Sialan!”
'Bagaimana ini ... kalau gue tolak, sayang sekali kan! jarang-jarang dapat service gratis, ya kali, kalau sewa exorcist lainnya pasti mahal kan? selain itu, rumor tentang segel buku iblis itu juga sebenarnya membuatku sedikit khawatir, bagaimana kalau mereka mendatangiku? aaa ... tidak! tidak! tapi kalau diterima ... gengsi dong! arghh ... bodo amat yang penting aman.'
“Bagaimana? kalau tak mau ... ya sudah, aku pergi sekarang,” tanya Andi lagi dengan sedikit menggodanya.
“Ehh .... tunggu sebentar! baiklah aku setuju ... tapi terpaksa sih,” balas Riko dengan ekspresi tsunderenya.
“Hhhh ... silahkan masuk mobilku, aku akan mengantarmu pulang.”
“Cihh ... terpaksa.”
Riko langsung masuk ke mobil Andi dan segera mengantarnya pulang. Wajah Riko terlihat kusut karena terpaksa harus ikut bersama seniornya.
Beberapa menit berlalu akhirnya mereka sampai, mobil Andi pun terparkir di luar.
Riko mempersilahkan tamunya masuk, kemudian duduk sejenak di ruang tamu, sementara Riko menyiapkan minuman dan makanan kecil untuk tamunya. Di sana ia tidak sendiri, ada bibi dan adik sepupu Riko yang akan menemani Andi berbincang-bincang sejenak.
Selesai menghidangkan makanan, lantas ia bergegas untuk ganti pakaian. Bibi terlihat senang, baru pertama kali Riko mengajak singgah temannya.
“Silahkan minumannya, maaf ... hanya ini yang bisa kami sediakan,” ucap bibi dengan ramah.
“Tidak masalah tante, terima kasih sudah repot-repot begini.”
“Tidak kok ... malah kami senang sekali, ini pertama kalinya Riko mengajak temannya ke rumah.”
“Benarkah! hahaha, syukurlah kalau begitu.”
“Oiya, namamu siapa nak?”
“Aku Andi tante, seniornya Riko.”
“Wah! seniornya ya, hebat sekali ... Riko bisa berteman dengan orang sepertimu.”
“Ah tidak juga, aku hanya orang biasa yang kebetulan mengenalnya.”
“Ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan Riko di sekolah, apakah ia masih jadi berandalan pembolos?” tanya bibi penasaran.
“Kalau itu sih masih, dia juga suka marah-marah tak jelas dan tadi ia juga mengacuhkanku, yah ... untungnya terakhir dia mau mendengarkan kata-kataku, hahaha ... tapi tante tenang saja aku pasti akan mencoba membantu anak tante yang bandel itu,” balas Andi lembut.
“Emm ... sebenarnya aku ini bibinya dan di sebelahku ini adik sepupunya,” lirih bibi sembari memperkenalkan anak perempuannya.
“Ahh ... begitu ya.”
“Hai ... aku Tian, adik sepupunya kakak Riko, salam kenal ya,” salam Tian yang cukup bersemangat.
“Hai Tian, aku Andi ... salam kenal juga,” balas Andi sembari tersenyum ramah.
Cukup lama menunggu, akhirnya Riko kembali setelah menyelesaikan ganti pakaiannya. Ia masih kecut seperti biasa, tetapi karena masih ada bibi dan adiknya di sana, ia jadi sedikit lebih memperhatikan sikapnya.
“Oii, ketua OSIS ... kau jangan terlalu banyak bicara, awas saja kau kalau bilang yang aneh-aneh pada bibiku.”
“Tenang saja, aku baru hanya memperkenalkan diri saja.”
“Haah ... sudahlah! kalau begitu cepat selesaikan urusanmu, agar aku bisa beristirahat tenang.”
“Oke, kita mulai dari kamarmu dulu, nanti aku jelaskan lagi selama proses berlangsung.”
“Okelah, ayo ikut denganku!”
Mereka pun pergi ke area pertama, yaitu kamar Riko untuk segera memulai penghubungan segel penangkal. Setelah menyelesaikannya, mereka kembali turun dan keluar untuk menandai setiap titik sudut di area rumahnya.
Tian merasa sedikit penasaran dengan kegiatan mereka, akhirnya ia memutuskan untuk mengintip apa yang sedang dilakukan kakaknya dan senior Andi. Ia memperhatikan dengan seksama dan merasa terkagum-kagum pada kegiatan mereka.
“Jadi ternyata ... kakak Andi itu seorang exorcist? Wah ... keren sekali, tentu saja aku tak akan melewatkan hal menarik ini.”
.
.
.
TBC